Salah kaprah dalam reaksi pencurian budaya

Kekayaan budaya kita begitu berlimpah namun sedikit sekali yang kita kenal, kita mengenalnya pun berkat upaya orang luar Indonesia yang tertarik untuk mempelajari atau menikmatinya.
Adalah manusiawi jika kita lupa atau tidak memperhatikan akan apa yang kita miliki, kebanyakan kita lebih memperhatikan apa yang dimiliki orang lain, bahkan ingin memilikinya juga.

Banyak contohnya, di musik ada budaya jazz, di senitari ada balet, senilukis ada pop art dsb… terlalu banyak untuk dirinci. Tentu kita tidak merasa mencuri budaya orang lain bukan? Dan juga tidak ada yang merasa kecolongan atau menuduh kita mencuri budaya mereka.

Jika reog berkembang di Malaysia dan sebagian orang Malaysia menganggapnya sebagai budaya mereka, itu bukanlah kasus pencurian. Orang Malaysia yang mengira itu adalah budaya mereka barangkali karena sejak lahir mereka sudah mengenal dan bergaul dengan reog di komunitasnya, dan tiba-tiba melihat di televisi kok ada reog juga di Ponorogo. Orang lain lalu memanfaatkan ini untuk memancing emosi dan mempermalukan bangsa kita.

Langkah-langkah mendaftarkan kebudayaan agar tidak dicuri bangsa lain rasanya rada kekanak-kanakan, karena inti permasalahannya bukanlah itu. Misal saya di rumah mempunyai pohon mangga Indramayu yang terkenal lezat, tapi tidak diperlihara baik. Lalu tetangga sebelah meminta izin untuk mencangkok, yang kemudian ia urus dengan serius. Bertahun-tahun kemudian ia mempunyai perkebunan dan menjadi eksportir mangga Indramayu terkemuka. Saya hanya bisa gigit jari karena sebelumnya tidak menyadari, memelihara, dan memanfaatkan nilai-nilai tinggi akan hal-hal yang saya miliki.

Masalah pencurian budaya kira-kira analoginya seperti itu. Permasalahan utamanya adalah budaya yang kita miliki tidak diberi ruang untuk hidup dan berkembang. Musik pop dan jazz jauh lebih banyak memiliki ruang ruang itu, bahkan hinga detilnya, seperti gaya main gitaris Slash misalnya dipujapuji, diadopsi dan dikembangkan.

Budaya yang hidup adalah budaya di mana para pelaku budaya bisa memperoleh penghasilan yang dapat memenuhi hajat hidupnya dengan aktifitas budayanya itu. Seorang pelukis bisa hidup dari lukisannya karena diminati banyak orang, bagaimana masyarakat bisa menaruh minat tentu ada upaya-upaya tersendiri yang perlu dilakukan.
Kita tidak bisa menyebut angklung sebagai budaya kita yang hidup, karena yang mengandalkan hidupnya dari kesenian angklung tidak bisa hidup dengan layak, maka ia tidak bisa memelihara dan mengembangkan keseniannya. Juga tidak tampak adanya upaya untuk memberinya ruang hidup. Lama-kelamaan peminat pun tidak akan ada lagi dan nasib selanjutnya bisa diperkirakan.

Gamelan masih lumayan, peminatnya di luar negeri lumayan banyak, dan seperti budaya kita lainnya, ia terpelihara berkat adanya minat untuk meneliti, mendokumentasi bahkan menjadikannya kurikulum di universitas Amerika puluhan tahun lalu, tapi itulah, inisiatif itu datangnya hanya dari para ilmuwan luarnegeri.
Belakangan ini gamelan sudah mulai hadir tiap hari di televisi, meski hanya sebagai elemen pelengkap acara banyolan. Ini saja patut disyukuri karena dengan demikian acara ini membantu menghidupkan budaya tradisional, para pelakunya bisa memperoleh penghasilan dari aktifitasnya dan punya peluang untuk memelihara dan mengembangkannya. Apakah honorarium yang mereka terima sudah layak atau belum, itu masalah nanti yang akan terkoreksi sendiri sejalan dengan perkembangannya.
Sayangnya, wayang kulit dan wayang orang sudah tidak punya acara reguler lagi di layar kaca, padahal itu merupakan bantuan yang tidak ternilai dalam menghidupkan budaya.

Lain lagi dengan layang-layang. Budaya sehari-hari yang kurang mendapat perhatian, namun beberapa minggu lalu telah diselenggarakan festival internasionalnya. Ini merupakan salah satu bentuk aktifitas yang bisa menghidupkan budaya layang-layang, apalagi di selatan Jakarta sudah ada museum layang-layang. Betapa senangnya kita jika museum itu dikunjungi orang-orang mancanegara. Perlu bantuan media massa untuk mengekspos keragaman dan nilai-nilai yang terkandung dalam budaya kita itu.

Tanpa kita sadari sebenarnya kita sendiri yang membunuh budaya kita, dengan tidak memberi ruang untuk hidup bahkan melarangnya. Petasan adalah budaya yang setengah hidup, para pelakunya tidak bisa hidup lagi dari membuat petasan. Padahal setiap pesta pernikahan adat Cina dan Betawi, misalnya, membutuhkan petasan. Hari ini, dalam menyambut Ramadhan juga di banyak tempat dilakukan penyulutan petasan. Tetapi pemahaman yang berkembang di masyarakat, memiliki dan membuat petasan adalah melanggar hukum. Banyak yang sudah ditangkap belakangan ini, dengan berbagai macam kerugian sebagai akibatnya. Terlihat bahwa para pengamat hanya menyoal demokratis atau tidak demokratis jika itu menyangkut kebutuhan masyarakat elite.
Sementara dasar hukum penangkapannya tidak dijelaskan, maka jika secara sporadis di acara-acara budaya tetap dilakukan penyulutan petasan kita tidak tahu apakah itu pelanggaran hukum yang dibiarkan atau bukan.

Suka atau tidak suka, petasan adalah bagian dari budaya kita yang layak untuk dipelihara. Dengan pelarangan dan penangkapan bukan tidak mungkin generasi berikut hanya bisa gigit jari melihat kita suatu saat nanti mengimpor petasan dari Cina dengan pemborosan milyaran dollar.
Para anggota legilatif dan eksekutif pasti cukup pandai untuk membuat aturan agar petasan tidak digunakan untuk hal-hal yang negatif. Misalnya dengan pendaftaran para produsen petasan, batas ukuran tidak berbahaya yang boleh diproduksi, tempat atau waktu yang dianggap layak untuk menyulut petasan, dsb.
Pemeliharaan budaya petasan sambil membatasi penggunaanya bisa dilakukan dengan misalnya, mengadakan festival petasan internasional, seperti halnya dengan layang-layang.

Pemerintah —tigkat negara atau pun desa— yang baik dan dicintai rakyat adalah yang mengakomodir kebutuhan budaya masyarakat, agar bisa menghidupi diri mereka sendiri, dan mengaturnya agar tidak mencederai hak masyarakat lainnya.

Mendaftarkan hak intelektual kebudayaan tidak akan ada arti lebih, ia hanya budaya yang eksis di atas kertas jika budaya itu sendiri tidak diberi ruang untuk hidup dan berkembang seperti yang dinikmati oleh budaya musik pop dan dangdut.

Selamat menjalankan ibadah puasa, semoga dengan berpuasa kita diberi pandangan-pandangan yang lebih arif.

Puisi di sebuah Ruang Keluarga

Photo by Zen RS

Photo by Zen RS

Sebuah cerita yang mirip anekdot dikisahkan Reda Gaudiamo beberapa saat sebelum ia dan pasangannya, Ari Malibu, melantunkan musikalisasi puisi “Aku Ingin” karya Sapardi.

“Sepasang pengantin yang memilih puisi ini dalam undangan pernikahahannya menganggap sajak “Aku Ingin” sebagai karya Kahlil Gibran. Saya bilang padanya bahwa itu sajak Sapardi. Tapi dia tak percaya. Katanya, gak mungkin sajak puisi sebagus ini ditulis orang Indonesia.”

Para penonton yang menyesaki pertunjukan musikalisasi puisi di Newseum Cafe tergelak ramai-ramai. Tapi Reda belum menyelesaikan kisahnya.

Setelah gelak tawa mereda, ia menutup kisah yang ia alami langsung itu: “Akhirnya, pasangan pengantin itu mencetak puisi ‘Aku Ingin’ di undangannya… tetap keukeuh dengan menyebutnya sebagai karya Kahlil Gibran.”
Saya tersenyum. Para penonton kembali tergelak-gelak, kali ini lebih kuat. Ruangan Newseum Cafe yang sesak oleh penonton terasa berdentam. Lalu, Ari mulai memetik gitarnya perlahan. Sejurus kemudian, para penonton bersorak, beberapa di antaranya bersuit-suit. Sepertinya ini lagu yang paling ditunggu….

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Para penonton yang hadir ikut bernyanyi. Tidak laki, tidak perempuan. Tidak muda, tidak tua —kendati mayoritas yang hadir memang banyak yang sudah berkeluarga. Beberapa ibu-ibu datang bersama anaknya. Di panggung sebelah kiri, seorang ibu terlihat menidurkan anaknya yang masih kecil. Di belakang, bapak-bapak berdiri di baris paling ujung, sebagian duduk di dekat meja bar.

Bukan hanya Sapardi yang malam itu sajak-sajaknya dinyanyikan. Ada juga puisi Abdul Hadi WM, Toto Sudarto, dan puisi beberapa penyair yang lain. Semuanya dilantunkan dengan manis oleh Reda Gaudiamo dengan alunan suara gitar yang dipetik Ari Malibu. Kebanyakan gitar dibawakan dengan petikan, sehingga lebih sering terdengar denting daripada cabikan. Terasa pas dengan puisi-puisi Sapardi yang memang sering menggunakan bahasa yang sederhana, kendati seringkali punya metafora yang berlapis.

Malam itu, puisi hadir sebagai bagian sebuah “keluarga”. Keluarga di sini bukan hanya merujuk pada penonton yang rata-rata sudah berkeluarga, tapi sepanjang konser terasa benar betapa Ari-Reda dan para penonton yang hadir sudah menjalin hubungan yang lama dan intim. Banyak di antara mereka yang disebutkan satu per satu namanya oleh Reda tiap kali hendak menyanyikan sebuah puisi, kadang disebutkan bahwa puisi ini sengaja dinyanyikan karena seseorang telah memesannya melalui sms. Dari Maria Andriana, redaktur senior Antara, saya tahu bahwa banyak di antara mereka sudah saling mengenal sedari jaman kuliah.

Suasana kekeluargaan terasa komplit sewaktu Boni, seorang anak perempuan lincah dan cerdas berusia enam tahun, membacakan di luar kepala puisi karangan ayahnya sendiri selama 15 menit. Sewaktu Boni kelar membacakan puisi, seisi cafe kembali bersorak dan bertempik —dalam pendengaran saya terasa seperti sorak para orang tua yang menyaksikan pentas anaknya.

Photo by Zen RS

Photo by Zen RS

Puisi, sekali lagi, malam itu terasa sebagai bagian sebuah keluarga. Ia hidup dengan hangat di ruang tamu, ruang keluarga dan kamar-kamar tidur. Seperti dibacakan dalam sebuah reuni. Semuanya terasa bahagia, hangat, dan juga puas. Puisi benar-benar seperti coklat, mungkin juga kue tart —atau apalah anda menyebut segala sesuatu yang manis lagi menyenangkan. Puisi tak hadir sebagai sesosok mahluk yang menganggu, nyawa yang melata di malam-malam penuh kepulan asap, vodka dan racauan kasar para bohemian.
Tentu tak ada yang salah dengan itu, karena puisi tak harus tampil serius, tak mesti hadir untuk dipikirkan dengan kening berkerut. Setiap orang boleh dan bisa memperlakukan puisi sekebutuhan dirinya masing-masing. Juga mungkin tak diperlukan semacam “makelar makna”, para kritikus dengan pedang penilaian yang berkilat-kilat.

Nikmati sajalah puisi. Sembari berdendang dan menggoyangkan kaki, selaykanya mendengar sebuah nomer lagu, tentunya. Ya, karena ini memang musikalisasi puisi, bukan diskusi tentang puisi. [Zen RS]

Dini Hari di Kota Tua….

Foto: Zen RS

Jalanan masih amat lengang. Tengah malam sudah lama lewat, sementara subuh masih jauh.

Saya berdiri tepat di depan Museum Bank Mandiri. Di sebelahnya berdiri Museum Bank Indonesia dan di sebelahnya lagi berderet-deret bangunan-bangunan tua, terus tembus hingga ke Taman Fatahillah. Di seberang tempat saya berdiri, Stasiun Beos terlihat jelas dengan muka bagian atapnya yang membentuk setengah lingkaran.

Lalu hal sama kembali terulang: bangunan-bangunan tua itu seperti lebih jujur mengatakan usia yang sebenarnya…. Selalu begitu. Di mana pun. Tidak hanya di Malioboro dan Kota Baru di Jogja, Jl. Braga dan Jl. Asia Afrika di Bandung, Tulangan di Surabaya, Besuki di Banyuwangi, kawasan Panjunan atau Pelabuhan Cirebon hingga Kota Lama atau Pasar Johar di Semarang. Bangunan-bangunan tua di semua titik-titik itu terasa lebih jujur mengutarakan usia yang sebenarnya pada titimangsa dini hari macam ini.

Kelupas semen di dindingnya, coklat kusam di tiang-tiangnya atau hitam pekat di lantainya tak lagi tertutupi oleh hiruk pikuk aktivitas orang-orang yang berlalu lalang atau bising kendaraan yang melaju. Semuanya terlihat lebih jelas. Lengang dan hening makin menyempurnakan aura ketuaan dan kelampauan mereka.

Gerimis mempercepat kelam, juga mempesiang malam. Dengan gegas yang tak tertahan, saya memburu halte tak jauh dari Museum Bank Mandiri. Letaknya lebih dekat dengan Museum Bank Indonesia. Di situ tertulis”Halte Batavia”. Deretan gedung tua di belakang Museum Fatahillah dan jalan sempit menuju Taman Fatahillah makin dekat jaraknya.

Kali ini saya tak sendiri. Seorang ibu pengasong minuman instan duduk beralas tikar bersama seorang perempuan yang lebih muda. Ada dua orang lelaki di sana, seorang tak jelas siapa dan satunya lagi seorang pengemudi bajaj yang kendaraannya terparkir tak jauh dari situ. Saya pesan segelas kopi. Warna hitam air kopi berikut uap panasnya yang mengepul tampak jelas dari balik gelas minuman plastik transparan. Kopinya tak enak. Bau kaporit terlalu menyengat.

Lamat-lamat saya dengar orang-orang di halte ini sedang mencandai perempuan muda yang mengawani ibu pengasong minuman. Status suaminya yang hanya tukang ojek sepeda menjadi obyek candaan yang riuh. Saya tak ikuti perbincangan itu. Rokok di tangan saya rasanya lebih nikmat dihisap pada dini hari yang dingin oleh gerimis ini.

Gerimis belum reda, tapi terlihat makin tipis rintiknya. Saya segera beranjak dari sana. Saya tak melintas jalan untuk langsung menuju Taman Fatahillah, melainkan berbelok ke kiri, ke arah barat. Di kanan kiri bangunan-bangunan tua betul-betul terlihat lebih kusam. Tak sampai 5 menit, saya sudah bertemu dengan Kali Besar. Groot Rivier.

Dulu, pada paruh kedua abad-17 hingga paruh pertama abad-18, sungai ini menjadi salah satu urat nadi Batavia. Kali Besar ketika itu membelah wilayah Kota Batavia bagian Barat [Westly der Stadt], menjadi dua bagian. Di wilayah ini, orang-orang Eropa dari kelas menengah ke bawah banyak tinggal, macam orang Portugis, juga orang-orang Cina. Kali Besar pula yang menjadi saksi bagaimana orang-orang Cina dibantai dan rumah-rumah mereka di sepanjang Kali Besar ini dibakar dalam peristiwa kelam yang terjadi pada 1740.

Tadinya saya berniat melintasi Kali Besar untuk menelusuri sisi baratnya, mencoba duduk-duduk di bangku-bangku taman yang sengaja di pasang di sana, mungkin akan menyenangkan duduk di salah satu bangku tepat di depan Hotel Batavia yang tampak benderang dari kejauhan. Di sisi barat Kali Besar, ada bangunan Toko Merah yang legendaris, dibangun atas perintah Baron van Imhoff, bekas Gubernur Jenderal VOC. Tak banyak yang pernah masuk ke dalamnya. Robert Tambunan, Ketua Perusahaan Perdagangan Indonesia, pernah menawari saya untuk membuka akses ke Toko Merah, tapi pastilah tidak malam ini.

Tapi saya tak jadi melintasi Kali Besar untuk menelusuri sisi barat trotoarnya. Beberapa langkah menjelang jembatan, Saya memilih berbelok ke kanan, ke arah utara. Terdengar suara musik dangdut menggema dengan keras. Saya tertarik menuju ke sana. Dari jauh, tampak kerumunan orang, beberapa sedang berjoget.

Ah, ternyata itu tempat minum-minum kelas kaki lima. Ada belasan lelaki dan beberapa perempuan paruh baya dengan penampilan menor. Suasananya khas trotoar. Suara pas-pasan seorang biduan jalanan sudah lebih cukup mengundang lelaki-lelaki setengah mabuk ini untuk berjoget dahsyat. Sisanya duduk-duduk di kursi. Tak ada lagi tempat duduk di sana. Tatapan mata tak bersahabat beberapa lelaki membuat saya lebih yakin untuk meneruskan perjalanan. Lain kali saya akan singgah untuk menenggak bir di sini, kata saya dalam hati.

Sempat saya melirik ke arah barat, di seberang Kali Besar. Di sana ada diskotik yang masih menyala lampu-lampunya. Namanya Athena Discothique. Taksi-taksi masih berjejer di gerbangnya. “Gila juga,” pikir saya, “Ini nyaris jam setengah empat, dan dangdut masih berkumandang di mana-mana, seperti janjian kencan dengan adzan.”

Saya terus bergerak ke utara. Dari kejauhan, Jembatan Kota Intan –yang disebut-sebut sebagai bangunan tertua yang masih tertinggal di kawasan ini—melambai seperti minta disambangi. Bangunan ini dibangun pada 1628, tapi hanya pondasinya yang menancap ke kali itu yang masih asli. Nyala lampu di tiang-tiangnya juga warna merah besi-besinya terlihat jelas.

Tapi kali ini tak saya ikuti lambaiannya. Masih belasan meter dari jembatan itu, saya memilih berbelok ke kanan, ke arah timur, menuju Taman Fatahillah. Saya memasuki gang tak begitu luas yang diapit [lagi-lagi] bangunan-bangunan tua. Beberapa mobil terparkir di situ. Baru beberapa langkah, terlihat ada aliran air di sesela batu andesit. Saya bersijingkat. “Ini pasti sisa gerimis tadi,” pikir saya.

Lalu terdengar suara cekikikan, sepertinya suara dua perempuan. Beberapa langkah kemudian, di sela mobil-mobil yang terparkir di sisi kanan gang, terlihat dua perempuan sedang berjongkok. Mereka memelorotkan celananya. Sial, itu tadi ternyata air kencing. Menyaksikan saya bersungut-sungut, dua perempuan itu makin kencang menebarkan cekikik yang kali ini terasa lebih menjengkelkan daripada yang pertama ku dengar tadi.

Saya perhatikan lebih lekat dinding-dinding bangunan-bangunan tua di kanan kiri gang. Lampu-lampu redup di beberapa atapnya menebarkan warna merah bersemu kuning. Suasana tak begitu gelap, tapi jauh dari benderang. Gedung-gedung ini terhubung tanpa putus sehingga tak ada celah di antara satu sama lain. Bentuknya seragam. Di dinding bawah terlihat jendela kaca besar yang bentuknya persegi panjang dengan bagian atas membentuk elips setengah lingkaran. Kacanya tebal, bercorak kotak-kotak dengan bintik-bintik yang kasar.

Sempat saya berdiri sebentar di salah satu pintu bangunan itu. Menyandar di dindingnya. Ada hawa dingin yang pelan-pelan merambati punggung saya. Kretek ku hisap kuat-kuat mencoba menawarkannya. Sempat kulihat atap bangunan itu. Terlihat renta dan rapuh. Juga sedikit mencekam. Tak ada siapa-siapa lagi di sepanjang gang ini. Candrian, arkeolog sekaligus Ketua UPT Kota Tua, satu waktu pernah menawari saya untuk ikut aksi gila Hendra, sorang stafnya, yang kerap “memburu hantu” yang katanya sering berkeliaran di gedung-gedung ini malam-malam.

Tak sampai kretek habis, saya sudah bergerak terus ke timur. Tak sampai dua puluh meter, saya pun tiba di Taman Fatahillah. Dari sisi baratnya, terlihat jalan pedestrian yang dua kali lebih lapang dari gang yang baru saja ku lewati. Menengok ke arah selatan, tampak ruas jalan yang menuju arah Glodok. Halte Batavia yang tadi saya singgahi terlihat cukup jelas. Lampu-lampu di jalan pedestrian ini lebih terang dari gang tadi. Ruasnya yang lebih lapang membuat jalan ini terasa lebih benderang dan tidak pengap.

Taman Fatahillah sendiri terasa benar-benar lengang. Hanya setelah bergerak ke tengahnya sajalah lamat-lamat saya bisa mendengar percakapan beberapa anak muda yang sedang duduk-duduk di depan Museum Fatahillah, tepat di sisi selatan Taman Fatahillah. Di sisi utara, Café Batavia terlihat juga lebih terang, kendati tentu saja sudah tak lagi beroperasi di waktu dini hari macam ini.

Saya berdiri tepat di tengah Taman Fatahillah, dekat sebuah bangunan kecil. Diperkirakan dulu di situlah berdiri air mancur di tengah Staadhuisplein (nama lama Taman Fatahillah). Perkiraan itu diambil dari lukisan cat air yang dibuat oleh Johannes Rach, seorang berkebangsaan Denmark yang meninggal di Batavia pada 1783. Dari lukisan itulah dilakukan penggalian di tengah Taman Fatahillah. Hasilnya, memang ditemukan bekas saluran air yang tampaknya dulu menjadi pemasok bagi air mancur di Staadhuisplein.

Di hamparan batu andesit yang menjadi alas Taman Fatahillah, memancar cahaya warna-warni yang membentuk garis silang menyilang sedemikian rupa. Lagi-lagi, garis-garis yang terbentuk oleh semburat cahaya lampu yang ditanam di sesela andesit ini menyerupai garis-garis yang ada di gambar buatan Rach. Garis-garis itu tak lain adalah jalan setapak tempat orang-orang dulu melintasi Staadhuisplein.

Saya menapaki garis-garis cahaya itu. Dari ujung ke ujung. Dari garis yang satu ke garis yang lain. Saya membayangkan kalau saya sedang menapaktilasi tanah yang dulu pernah diinjak para Gubernur VOC yang mengangkangi Mataram dan Jawa itu.

Nama Staadhuisplein sendiri diambil dari Staadhuis, semacam Balai Kota. Jadi, Staadhuisplein kira-kira seperti alun-alun, semacam city hall. Staadhuis sendiri kini menjadi Museum Sejarah Jakarta atau Museum Taman Fatahillah. Dari Staadhuis inilah keputusan-keputusan penting diambil. Jika terjadi eksekusi mati, para jaksa dan perangkat pengadilan akan menyaksikannya dari ketinggian lantai dua bangunan. Di lantai dasar, terdapat penjara bawah tanah yang pengap. Pembangkang terkenal dari Madura, Untung Suropati, pernah mendekam di situ, juga Pangeran Diponegoro sebelum dibuang ke Ambon.

Foto: Zen RS

Bekas bangunan Staadhuis tampak terang benderang. Tata lampu yang diatur dengan cermat membuat bangunan ini terlihat sungguh cantik. Lampu-lampu yang ditanam di tanah dan memancar ke atas membuat dinding-dindingnya bercahaya sedemikian rupa. Pilar-pilar dan jendelanya yang tinggi terlihat anggun.

Saya mencoba mencari kemungkinan lain: Inikah sisa-sisa keindahan Batavia pada abad-abad lampau? Ketika itu, semenjak pertengahan abad-18, Batavia tampil sebagai kota dagang yang representatif nyaris dalam segala hal. Ia seperti copy yang sempurna atas Amsterdam. Julukan “Koningen van Oosten” (Ratu dari Timur) pun melekat padanya. Penjelajah legendaris dari Inggris, James Cook, yang singgah pada 1770, juga terpesona. Ia bahkan memberi sebutan lain bagi Batavia: “The Pearl of Orient” (Mutiara dari Timur).

Tapi tak lama setelah Cook singgah di Batavia, terutama menjelang pergantian abad, kota ini pelan-pelan mulai diintai maut. Wabah kolera dan pes melela di mana-mana, membikin ribuan penghuninya jatuh bertumbangan tanpa nyawa tanpa atma. Seiring runtuhnya VOC pada 1799 karena wabah korupsi, Batavia yang satu ini pun mulai ambruk karena wabah yang sebenar-benarnya wabah. Tak ada lagi Koningen van Oosten [Ratu dari Timur], yang ada hanya Grar de Hollanders [Kuburan Belanda].

Dini hari ini saya hanya menyaksikan sepotong kecil sisa-sisa wajah indah tak terpermanai Sang Ratu dari Timur.

Lalu, menjelang Subuh, saya bergerak menuju dinding di sisi barat Staadhuis atau Museum Fatahillah sekarang. Pada salah satu canopy yang menaungi pintu kecil di sana, saya melihat seorang lelaki tua tertidur dengan nyamannya. Di depannya, berdiri dengan tenang sebiji sepeda tua. Di bawah stangnya terdapat triplek bertuliskan kalimat: “Sepeda Ojek Disewakan Buat Aksi Foto-Foto. Hub Bpk Sugeng Purwito”.

Dini hari begini dia pasti tak melayani pengunjung, sebab tak ada pengunjung, selain saya yang iseng keluyuran malam-malam.

Waktu kian mendekati subuh. Kumandang ayat suci al-Qur’an yang kerap dilantunkan menjelang adzan sudah mulai membekam pendengaran. Rancak musik dangdut tak lagi terdengar. Tapi, beberapa anak muda yang duduk-duduk di depan gerbang Musuem Fatahillah terdengar bernyanyi. Diiringi petikan dawai gitar yang sedikit sember, sebuah syair lagu tua yang cukup akrab terbantun perlahan: “Andai kan kau datang kembali….”

Sayang saya tak bisa berjanji, karena dengan cermin pun saya sedang enggan berbagi! [Zen RS]

Antara Minat Baca dan Sinetron

Semalam, 2 Desember, di Newseum Cafe diselenggarakan diskusi mengenai Budaya Tulisan, Pers dan terbentuknya suatu Bangsa, dalam rangka menyambut Hari Pers Kebangsaan.
Hadir sebagai narasumber adalah Sirtjo Koolhof, dari Radio Nederland Wereldomroep. Ia pemimpin redaksi Indonesia, juga pustakawan KITLV Belanda yang fasih berbahasa Indonesia —bahkan juga bahasa Jawa dan bahasa Bugis.

Banyak hal menarik diungkap Sirtjo yang mungkin luput dari pengamatan kita. Salah satunya ketika menjawab pertanyaan tentang kurangnya minat baca orang Indonesia.
Menurut Sirtjo, selain tradisi lisan yang sangat kuat mengakar di masyarakat Indonesia, faktor hubungan sosial ternyata juga banyak berpengaruh.
Orang Eropa umumnya sangat individual, lebih suka melakukan segalanya sendiri karena berbagai alasan. Misalnya keberadaan orang lain akan menyulitkan untuk fokus pada pekerjaannya, atau karena enggan mengambil waktu orang lain demi kepentingan diri sendiri, dll. Karena itu umumnya orang Eropa lebih suka belanja sendiri, ke toko buku sendiri, bahkan ke bioskop sendirian.

Jadi agak menyentak kesadaran ketika Sirtjo mengatakan: “Saya selama di Indonesia tidak pernah bisa sendirian.” Ia tidak bisa membaca buku kecuali mengunci diri di kamarnya. Tentu mereka yang “menemani” memang berniat untuk membuat Sirtjo nyaman dan betah, tidak merasa kesepian di negeri orang. Atau mungkin juga karena sangat antusias ingin mengetahui pengalaman Sirtjo, banyak yang tidak memperhatikan kebutuhan privasinya.

Jika anda pernah tinggal di Eropa atau Amerika sedikitnya selama beberapa bulan, dan tidak bermasyarakat dengan orang Indonesia lainnya, maka kebiasaan itu akan berpengaruh pada anda.
Orang Indonesia pada umumnya sangat suka melakukan segalanya bersama seseorang atau beramai-ramai. Dinas ke luar kota, pergi belanja, ke bioskop, bahkan ke toilet pun minta ditemani.

Di Jakarta dan di kota-kota besar lain di Indonesia mungkin cukup banyak orang Indonesia yang lebih individual, namun di tempat lain kesendirian bisa menjadi hal yang aneh dan mengkhawatirkan di mana kebersamaan adalah hal yang disukai semua orang di sekitarnya. Jika ada yang membangun rumah maka masyarakat akan membantu beramai-ramai. Menonton TV akan lebih menyenangkan beramai-ramai. Demikian juga dengan makan dan minum, bahkan membaca koran pun beramai-ramai.
Tapi membaca buku sangat berbeda, tidak mau diganggu, dan orang pun segan mengganggu. Semakin sering membaca buku, bisa terjadi semakin jarang orang yang menghampirinya. Dan kemungkinan inilah salah satu penyebab minat baca masyarakat Indonesia sangat kurang. Mereka tidak mau terpisahkan dari kehidupan sosialnya.

Di sisi lain menurut Taufik Rahzen, kehadiran televisi juga semakin memperkuat tradisi lisan dan menjauhkan masyarakat dari buku. Tradisi wayang kulit, lenong dll kini tergantikan perannya oleh televisi. Barangkali karena itulah sinetron jauh lebih disukai masyarakat kebanyakan dibanding mata acara lainnya.

Memang, tradisi mendengarkan tetua bercerita, menonton wayang kulit yang sarat makna, atau stambul Dardanella yang penuh petuah dalam menjalani kehidupan sehari-hari, semua itu menggambarkan kebutuhan masyarakat kebanyakan akan panutan dan bimbingan.
Jika minat baca begitu kecil, sedangkan pengaruh tradisi lisan masih sangat besar, maka sudah sepatutnya Pemerintah dan para intelektual merumuskan kriteria yang tepat sinetron seperti apa yang layak untuk ditayangkan secara nasional. Sebaiknya sinetron di luar kriteria itu hanya bisa ditayangkan di TV kabel.

Bagi kita di kota-kota besar sinetron tidak begitu terasa pengaruhnya karena kehidupan sosial dan cara pandang yang jauh berbeda. Namun bagi masyarakat kebanyakan di daerah-daerah, juga bagi anak-anak secara umum yang masih belum bisa membedakan antara baik dan buruk, maka sinetron bisa dijadikan sarana mereka untuk mempelajari kehidupan nyata sehari-hari, bagaimana berperilaku. Tak ubahnya seperti tradisi lisan yang pernah ada.

Pasti di beberapa perguruan tinggi sudah ada penelitian mengenai pengaruh sinetron terhadap perilaku masyarakat yang bisa dijadikan dasar untuk menyikapi sinetron. Perilaku melenceng anak-anak sekolah sekarang agaknya dipengaruhi sinetron remaja.
Ungkapan-ungkapan kasar tak berbudaya, anak-anak Sekolah Dasar dianggap tidak trendy kalau belum punya pacar, segala perbuatan negatif dari berbohong, fitnah keji, selingkuh, kekerasan dan sebagainya ada di sana. Kita yang tidak menyukai sinetron tidak mau menontonnya dan karena itu tidak menyadari bahayanya.

Juga sudah saatnya penayangan kekerasan diberi batasan seperti halnya dengan sex. Tayangan berita-berita demo anarkis, kekerasan di antara anggota kelompok, di institusi pendidikan, di kafe, di mana saja, selama ini dibiarkan untuk ditayangkan secara vulgar di jam-jam yang rentan. Ini sedikit banyak menanamkan pendidikan cara-cara kekerasan yang bisa digunakan saat dikuasai emosi.[]

Obama is MY president, seru McCain….

Sangat mengagumkan. Andaikan saja para kandidat Presiden kita yang kalah juga seperti McCain, demi kebaikan dan kemajuan bangsa, mendukung dan menyambut ajakan “Bersama Kita Bisa” …
Seruan yang diucapkannya, “Obama is my President” berhasil mengubah gemuruh ledekan atas kemenangan Obama menjadi tepuktangan. Karena jauh di dalam lubuk hati mereka, saya yakin mereka membutuhkan pijakan dan tauladan untuk bersikap yang patut dan benar, dan McCain memberikan itu.

Sebuah cermin yang luar biasa, jika kita melihat ke dalamnya duh betapa buruk wajah politicking kita yang tega mengorbankan massa, bangsa dan masa depannya.
Berikut ini pidato McCain dan transkripsinya.


Thank you for coming here on this beautiful Arizona evening. My friends, we have come to the end of a long journey. The American people have spoken, and they have spoken clearly.

A little while ago, I had the honor of calling Senator Barack Obama to congratulate him on being elected the next president of the country that we both love.

In a contest as long and difficult as this campaign has been, his success alone commands my respect for his ability and perseverance. But that he managed to do so by inspiring the hopes of so many millions of Americans who had once wrongly believed that they had little at stake or little influence in the election of an American president is something I deeply admire and commend him for achieving.

This is an historic election, and I recognize the special significance it has for African-Americans and for the special pride that must be theirs tonight.
I’ve always believed that America offers opportunities to all who have the industry and will to seize it. Senator Obama believes that, too.

But we both recognize that, though we have come a long way from the old injustices that once stained our nation’s reputation and denied some Americans the full blessings of American citizenship, the memory of them still had the power to wound.

A century ago, President Theodore Roosevelt’s invitation of Booker T. Washington to dine at the White House was taken as an outrage in many quarters.
America today is a world away from the cruel and frightful bigotry of that time. There is no better evidence of this than the election of an African-American to the presidency of the United States.

Let there be no reason now … Let there be no reason now for any American to fail to cherish their citizenship in this, the greatest nation on Earth.
Senator Obama has achieved a great thing for himself and for his country. I applaud him for it, and offer him my sincere sympathy that his beloved grandmother did not live to see this day. Though our faith assures us she is at rest in the presence of her creator and so very proud of the good man she helped raise.

Senator Obama and I have had and argued our differences, and he has prevailed. No doubt many of those differences remain.

These are difficult times for our country. And I pledge to him tonight to do all in my power to help him lead us through the many challenges we face.

I urge all Americans … I urge all Americans who supported me to join me in not just congratulating him, but offering our next president our good will and earnest effort to find ways to come together to find the necessary compromises to bridge our differences and help restore our prosperity, defend our security in a dangerous world, and leave our children and grandchildren a stronger, better country than we inherited.

Whatever our differences, we are fellow Americans. And please believe me when I say no association has ever meant more to me than that.

It is natural. It’s natural, tonight, to feel some disappointment. But tomorrow, we must move beyond it and work together to get our country moving again.
We fought — we fought as hard as we could. And though we feel short, the failure is mine, not yours.

I am so deeply grateful to all of you for the great honor of your support and for all you have done for me. I wish the outcome had been different, my friends.
The road was a difficult one from the outset, but your support and friendship never wavered. I cannot adequately express how deeply indebted I am to you.

I’m especially grateful to my wife, Cindy, my children, my dear mother and all my family, and to the many old and dear friends who have stood by my side through the many ups and downs of this long campaign.

I have always been a fortunate man, and never more so for the love and encouragement you have given me.
I am also very thankful to Governor Sarah Palin, one of the best campaigners I’ve ever seen, and an impressive new voice in our party for reform and the principles that have always been our greatest strength … her husband Todd and their five beautiful children … for their tireless dedication to our cause, and the courage and grace they showed in the rough and tumble of a presidential campaign.

I don’t know what more we could have done to try to win this election. I’ll leave that to others to determine. Every candidate makes mistakes, and I’m sure I made my share of them. But I won’t spend a moment of the future regretting what might have been.

This campaign was and will remain the great honor of my life, and my heart is filled with nothing but gratitude for the experience and to the American people for giving me a fair hearing before deciding that Senator Obama and my old friend Senator Joe Biden should have the honor of leading us for the next four years.

I would not be an American worthy of the name should I regret a fate that has allowed me the extraordinary privilege of serving this country for a half a century.
Today, I was a candidate for the highest office in the country I love so much. And tonight, I remain her servant. That is blessing enough for anyone, and I thank the people of Arizona for it.

Tonight more than any night, I hold in my heart nothing but love for this country and for all its citizens, whether they supported me or Senator Obama .

I wish Godspeed to the man who was my former opponent and will be my president. And I call on all Americans, as I have often in this campaign, to not despair of our present difficulties, but to believe, always, in the promise and greatness of America, because nothing is inevitable here.

Americans never quit. We never surrender. We never hide from history. We make history.

Thank you, and God bless you, and God bless America.

Dari Bung Hatta, 63 tahun lalu

Maklumat Pemerintah
PARTAI POLITIK

Anjuran Pemerintah tentang Pembentukan Partai-partai Politik

Berhubung dengan usul Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat kepada rakyat seluas-luasnya untuk mendirikan partai-partai politik, dengan retriksi bahwa partai-partai politik itu hendaknya memperkuat perjuangan kita mempertahankan kemerdekaan dan menjamin keamanan masyarakat. Pemerintah menyatakan pendiriannya yang telah diambil beberapa waktu yang lalu, bahwa:

1. Pemerintah menyukai timbulnya partai-partai politik, karena dengan adanya partai-partai itulah dapat dipimpin ke jalan yang teratur segala aliran paham yang ada dalam masyarakat.

2. Pemerintah berharap supaya partai-partai politik itu tersusun, sebelumnya dilangsungkan pemilihan anggota Badan-badan Perwakilan Rakyat pada bulan Januari 1946.

Jakarta, 3 November 1945
Wakil Presiden
Mohammad Hatta

Jakarta mengabaikan sepeda

Meski wacana perlunya jalur sepeda di Jakarta belum juga dilontarkan pemerintah ke publik, mengapa para pengamat tidak memulai sendiri saja dulu. Kalau tidak dibahas publik, bisa saja kebijakan yang dikeluarkan akan mengundang protes banyak pihak, atau malah tak ada yang protes karena tidak tahu mudaratnya. Nanti begitu mulai dibangun, baru deh protes kiri kanan, pengelola dan pemerintah pun pusing seperti yang terjadi pada kasus busway, persis setahun lalu.

Sedangkan kalau mulai dibahas oleh publik dari sekarang —meski jalur sepeda baru akan direalisir 50 tahun lagi, misalnya — publik sudah lebih aware dan paham, dan kalau dikeluarkan suatu kebijakan, kita sudah bisa menilai apakah akan membuat kesemrawutan atau memang pas dan sangat efisien.

Berhubung saya bukan ahlinya, kita tengok pendapat orang saja —belumlah begitu penting tentang apakah ia akan cocok atau tidak bagi kita, yang penting bolanya ada yang ‘nendang…. tinggal digocak-gocek lagi supaya masuk ke gol.

Cuma, ada satu hal mendasar yang perlu disepakati dulu :
bahwa jalan-jalan raya adalah ruang publik. Ia bukan milik para pengendara, tapi milik publik. Kalau sudah sepakat bahwa jalan adalah ruang publik, mari kita sepakati bahwa pejalan kaki adalah komponen terbesar dari publik. Jika kita menggunakan jalan raya dengan kendaraan kita, maka status kita adalah tamu —pengunjung yang sekedar mampir. Kita harus bersikap sopan dan berhati-hati agar tidak melukai tuan rumah. Pejalan kaki harrus diberi prioritas.

Janganlah bersikap seperti sebagian besar pengendara sepeda motor Jakarta, berani-beraninya menggunakan trotoar —malah lebih galak jika ditegur. Jika ada pejalan kaki berada di sekitar kita saat berkendara, perlambatlah kendaraan, jangan malah menancap gas jika melihat mereka ingin menyeberang. Bersikaplah manusiawi, kendaraan yang anda kuasai bisa berubah jadi senjata pembunuh manusia.

AndySinger

AndySinger

Cara pikir bahwa Jakarta macet karena jumlah jalan tidak sesuai dengan pertumbuhan jumlah kendaraan, juga tidak manusiawi. Sehingga keputusan-keputusan yang dibuat adalah dengan memperbanyak jalan untuk kendaraan. Kota kita menjadi kota untuk kendaraan, bukan untuk manusia.

Itulah jadinya jika izin mengemudi bisa dibeli tanpa harus memahami hal-hal mendasar tentang etika berlalulintas. Tidak ada statistiknya, tapi bisa dipastikan lebih 50% pengguna jalan tidak melalui pendidikan mengemudi yang sesuai etika. Tanpa disadari, Itu berlangsung puluhan tahun sehingga sebagian besar generasi yang sedang mengurus kota ini dan penduduknya juga, tidak tahu etika lalulintas, tidak manusiawi, lupa akan Pancasila.

Maka yang tahu akan kebenaran tinggal segelintir, jadi minoritas. Alam demokrasi membuat suaranya menjadi ganjil. Barangkali dari situ SBY mendapat ide untuk meminta kita agar berfikir out of the box, agar bisa melihat lebih jernih.
Kasihan bapak presiden kita itu sebetulnya, apa pun yang dikatakannya —tak peduli benar atau salah— pasti ramai-ramai dikeroyok sehingga terkucilkan dan hal yang benar menjadi terlihat aneh bagi publik. Padahal, jika dari dulu pekerjaan setiap presiden —dari Habibie hingga SBY— tidak diganggu, sehingga bisa konsentrasi pada hal-hal yang lebih makro, barangkali kita akan lebih cepat bangkit dari krisis. Toh ia tidak kelihatan korup, malah partai dan dpr jauh lebih mata duitan.

Travel Time bersepeda di Philadelphia

Travel Time bersepeda di Philadelphia

Sekarang kita tengok ke New York dulu deh, di sana sudah ada 180 km jalur sepeda, tapi sedang mengonsep jaringan jalur sepeda, yang berarti akan menambah ratusan kilometer lagi. Problemnya mungkin agak sama: macet dan lahan untuk jalur sepeda tidak ada. Kita pasti bisa belajar banyak dari sana.

Mungkin yang pertama dilakukan adalah studi untuk melihat potensi sepeda dalam mengurangi kemacetan dan polusi. Ada data ridership sepeda, yang begitu kecil dan tidak memberi indikasi bahwa moda ini punya potensi. Lalu bukan berarti mereka mengabaikan sepeda, justru diupayakan agar potensi sepeda diperbesar. Dari survey diperoleh data bahwa selain pemuda, lelaki, sedikit sekali yang berani naik sepeda di tengah kondisi lalulintas seperti sekarang. Hasil survey mengatakan jalan-jalan perlu dibenahi agar wanita, anak-anak, dan orangtua merasa aman untuk bersepeda.

Poling pada 1970an menegaskan perlunya jalur khusus untuk sepeda. Poling 1992 menunjukkan dari setiap empat orang ada satu yang mau bersepeda ke kantor jika jalur sepeda tersedia. Survey 1990 di Manhattan mengatakan 49% pengusaha dan karyawan yang tinggal dalam radius 16 km dari kantornya, akan menggunakan sepeda jika disediakan jalur yang aman disertai kelengkapan infrastruktur lainnya. Di 6th Avenue, jumlah pesepeda jauh lebih banyak dibanding avenue lain, karena di sana ada jalur sepeda. Dari semua survey, ada korelasi antara tingkat penggunaan sepeda dengan keberadaan jalur sepeda.

Jadi, please jangan katakan bahwa jalur sepeda baru akan dibangun jika jumlah pesepeda di Jakarta mencapai satu juta orang. Gunakanlah survey dan studi, doronglah masyarakat menggunakan sepeda dengan menyediakan fasilitasnya. [tulisan sudah pernah dimuat di rubrik Batavia Bikeway]

Tulisan terkait:

Kring kring kring ada sepeda
Busway dan bikeway
Car free day. Mengapa sepi?
Becak Art Trip
Intro to car-free
Facebook Cause: Bike Lane and Bike Parking Pool for Greener Jakarta
Jalur Sepeda Taman Suropati-Monas

Merdesa atau Mati

Jika pekik “MERDEKA” pernah begitu menggetarkan di jalanan Jakarta pada tahun-tahun pertama kemerdekaan, maka imaji apa yang mencuat dari grafiti bertuliskan kata “MERDESA” yang muncul di beberapa dinding di tepian jalanan Jakarta?

Yulian Firdaus

Foto: Yulian Firdaus

Pada salah satu malam flaneur saya di jalanan Jakarta, grafiti itu saya jumpai di sebuah kolong jembatan kereta api di sebelah utara kota tua yang menuju arah Pelabuhan Sunda Kelapa. Di sana tertulis: “MERDESA ATAU MATI”.

Salah tulis? Saya yakin tidak. Sebab, saya menemukannya kembali di dinding sebelah timur Hotel Sriwijaya di Jalan Veteran 1, Jakarta Pusat. Letaknya tak jauh dari Stasiun Juanda, hanya 50 meter dari Halte Busway Juanda. Di sebelah timurnya, melintang Ciliwung. Di timurnya lagi, menjulang Istiqlal yang agung.

Tapi di situ, tak tertulis kalimat “MERDESA ATAU MATI”, melainkan kalimat “MERDESA = HIDUP LAYAK”.
Ada banyak alasan kenapa saya tertarik dengan grafiti “Merdesa”, terutama grafiti yang saya lihat di Jalan Veteran.

Pertama, saya hampir tiap hari melewatinya, terutama saat hari masih begitu dini, antara jam 2 hingga jam 4 pagi. Itulah jam-jam krusial bagi perut saya, sewaktu lapar mulai menghajar, dan persediaan kretek biasanya sudah mengempis. Dalam perjalanan menuju warung kopi yang menyediakan indomie rebus dan rokok, saya tak pernah alpa menengok grafiti itu.

Jika sudah begini, rasa-rasanya, grafiti “Merdesa” berbunyi lebih nyaring karena –inilah alasan keduanya—tak jauh dari situ selalu ada belasan orang yang tidur berjejer, beralas kadang sarung kadang kardus, berbantal tangan sendiri dan berselimut spanduk-spanduk yang tak jelas asal-usulnya. Di sekitarnya, terparkir beberapa sepeda yang di jok belakangnya terpasang termos air dan pada stangnya bergelantungan berjenis-jenis minuman sachet. Bukan hanya itu, selalu ada beberapa gerobak terparkir, kadang tanpa isi kadang penuh dengan kertas, kardus dan botol-botol plastik minuman.
Merekalah paria di ibukota: para pemulung, manusia gerobak, pedagang minuman keliling, gelandangan dan kadang orang gila.

Zen RS

Foto: Zen RS

Sebelumnya, di sekitar situ, hanya ada beberapa mobil carteran yang biasa parkir dengan sopir yang terlelap di dalamnya. Saya tak ingat persis sejak kapan mereka menjadikan trotoar Jalan Veteran sebagai tempat tidur di waktu malam. Tapi belum lama, mungkin sekitar Juni atau Juli. Mereka mulai berdatangan saat menjelang Maghrib dan lenyap tanpa meninggalkan sampah saat hari belum berangkat terang. Datang dan pergi begitu saja, tapi pasti selalu kembali pada malam hari.
Ada seorang ibu-ibu yang selalu tidur memeluk dua anaknya yang masih kecil, ada seorang lelaki tua dengan misai tak terurus yang selalu berbaring mepet dengan tembok, ada seorang pemuda yang selalu tidur dengan dua kaki yang tegak dengan lutut menantang langit, ada seorang perempuan paruh baya yang selalu tidur dengan memegang korek kuping.

Saya mengingatnya dengan baik karena hampir tiap malam saya melewati mereka dan selalu saja mereka semua sedang lelap. Saya mengingatnya dengan baik sekuat ingatan saya pada beberapa lelaki yang selalu main catur di sana jika malam belum terlalu larut.
Sesekali saya dengar ada yang membawa radio kecil yang melantunkan tembang-tembang berbahasa Jawa dengan alunan gendhing yang ganjil tapi pasti selalu berhasil meninabobokan mereka, membawa mereka ke alam mimpi, entah memimpikan apa, mungkin memimpikan kampung halaman mereka di Jawa, kembali ke desa, bukan untuk merdeka, tapi untuk “Merdesa”
Jika melewati mereka pada jam-jam yang masih sore, terlihat betapa satu sama lain dari mereka seperti tak saling mengenal. Selain para lelaki yang main catur, jarang saya lihat mereka bercakap-cakap. Semua sibuk dengan dirinya sendiri. Acuh-acuh saja.

Satu waktu, sekira jam satu malam, saya melihat sosok besar di bawah selimut spanduk bergerak-gerak. Makin dekat saya makin sadar di bawah selimut spanduk itu ada dua orang, dengan suara yang tak jelas, tapi masih kelewat jelas untuk mengetahui bahwa keduanya sedang sama-sama “membuang hajat”. Keduanya menghentikan aktivitasnya saat langkah kaki saya terdengar jelas, tapi kembali kasak-kusuk begitu langkah kaki saya menjauh.
Itukah artinya “Merdesa = Hidup Layak”? Saya tidak tahu.

Pernah saya bertanya pada salah satu di antara mereka. Saat itu masih sekitar jam 10 malam dan banyak dari mereka yang masih terjaga. Dengan memesan segelas kopi susu pada salah satu dari mereka, saya duduk di trotoar persis di sebelah salah seorang di antara mereka. Saya bertanya padanya siapa yang menulis grafiti dan apa artinya grafiti itu.
“Mboten ngertos, Mas.”
Saya manggut-manggut. Seseorang yang duduknya agak jauh tiba-tiba menyahut: “Katanya itu ditulis pas subuh-subuh. Tapi ndak tahu siapa. Yang jelas bukan saya, kok. Mana ada duit buat beli cat (baca: pylox).”
“Trotoar  kan panjang, Mas. Tapi, kok, mereka tidurnya persis di dekat-dekat tulisan “Merdesa” itu ya?”
Lelaki yang duduk agak jauh itu mengangkat bahu. Tapi pedagang kopi di sebelah saya menyahut sembari mengarahkan telunjuknya ke arah selatan: “Daripada tidur di sebelah sana, mending di situ, Mas!”
Saya melihat arah yang ditunjuknya. Saya tergelak. Di sana ada grafiti dengan ukuran lebih besar tapi letaknya lebih bawah. Tulisannya: “Ko***l”. Saya tergelak. Sembari menawarkan sebatang kretek, saya menyahut: “Lha kan sama aja, toh? Sama-sama tulisan, kok.”
“Lha kalau sampeyan ke sini sama anaknya, dan dia nanya itu tulisan apa, apa sampeyan gak keblinger jawabnya?”

Lelaki pedagang kopi pamit hendak berjualan. Saya membayar. Ia berlalu ke arah selatan, menuju Monas, mengendarai sepeda mini, dengan suara kreot-kreot yang nyaring. Saya melihat punggungnya menjauh, punggungnya terlhat mengecil, terus mengecil, makin kecil, benar-benar kecil, lalu lenyap.
Inikah artinya menjadi “orang kecil”, terus mengecil, makin mengecil, selalu kecil, lalu lenyap?
(Lagi-lagi) saya tak tahu. Yang saya tahu –inilah alasan ketiganya–, 500 meter ke arah barat dari trotoar itu, Istana Negara berdiri dengan gagah, segagah Monas yang menjulang dengan pucuk bersepuh emas.

Saya ingat Soe Hok Gie. Pada halaman-halaman awal catatan hariannya, ia pernah melihat seorang gelandangan memakan sisa-sisa makanan yang ditemukannya di jalan. Gie, seingat saya, lantas menulis dengan memaparkan kontras seperti yang juga saya rasakan: semua pemandangan itu terjadi tak jauh dari Istana Negara.
Saya beranjak dari trotoar dengan menghabiskan sisa kopi susu yang saya beli barusan. Sekali tenggak habis. Tiba-tiba rasanya sedikit lebih pahit.

Tyas

Foto: Tyas

Saya berjalan ke selatan, searah menuju Monas, dan dengan sengaja melewati beberapa lelaki yang sedang main catur di bawah lampu yang memancarkan tempias keemasan. Ada beberapa sisa nasi bungkus di sana, salah satunya masih terbuka dan terlihat masih menyisakan makanan dengan sekerat tempe di sana.
Saya mendengar salah satu dari mereka berteriak: “Skak”. Saya menoleh sebentar, salah satunya tertawa terbahak, sementara lawannya duduk bertopang dagu, berpikir keras bagaimana caranya meloloskan “Raja” dari ancaman maut (Skak Mat)**.
Hidup memang bukan catur, tapi dalam hidup dan pertaruhan nasib, selalu ada situasi di mana nasib tiba-tiba menyodorkan “skak”*. Jika akhirnya “Skak” menjadi “Skak Mat”, apa boleh buat… barangkali itulah hidup: serangkaian pertarungan menghadapi “Skak”, sebelum akhirnya berhenti karena harus menerima “Skak Mat”.
Post-script:
*Skak: Posisi Raja terancam
* Skak Mat: Raja benar-benar tak terselamatkan dan dengan itu permainan pun berakhir. [zen rs]

Lihat juga:

Merdesa!! :D
Merdesa menurut Kamus Besar
Merdesa dalam bahasa Inggris

Krisis Air Minum nih wahai para politisi…

Sulit mendapatkan galon air minum pada hari-hari terakhir ini di Jakarta.
Ini mengingatkan pada peringatan yang berulang kali didengungkan oleh berbagai pihak sejak dekade lalu, bahwa dunia di ambang krisis akan air, bahwa bisa terjadi peperangan yang disebabkan oleh air, bahkan pada dasarnya kebanyakan perang memang terjadi karena perebutan wilayah yang kaya akan air. Bukan karena minyak.

Sepuluh tahun lalu mantan Sekretaris Jenderal PBB, Boutros-Ghali, mengingatkan PBB bahwa akan terjadi konflik atas sumber-sumber alam, terutama air. “Setiap orang tahu bahwa populasi kita menanjak pesat, tapi pertumbuhan air minum tidak seimbang.”
Guna menghindari pendeknya akal jika terjadi krisis, beberapa relawan bergabung membangun situs worldwaterwars.com sejak 1999, menyebarkan berbagai opini, peringatan, anjuran dll yang berkaitan dengan air minum.
International Network Archives pada Juli 2003 memproduksi enam infografika, salah satunya: Glass Half Empty, the coming water wars, yang menyajikan data kompleks distribusi air dunia dengan sangat menarik dan jelas.

Kavin Watkins
dari UNDP dan Anders Berntell dari Stockholm International Water Institute menganjurkan empat langkah untuk menghindari konflik akan air:

1. Pemerintah harus menghentikan perlakuan seakan-akan air adalah sumber yang tak akan pernah habis jika dieksploitasi tanpa referensi terhadap keberlanjutan ekologis. Kebijakan penggunaan air, konservasi, efisiensi tehnologi agroindustri dsb.

2. Negara-negara (Pemerintah Daerah) harus menghindari unilateralisme. Di hulu untuk setiap perubahan besar dalam sistem sungai, atau penggunaan air tanah yang berlebihan, perlu dinegosiasikan, bukan ditentukan berdasarkan pajak.

3. Pemerintah seharusnya melihat jauh melampaui batas negara (Propinsi) untuk melaksanakan kerjasama pengelolaan sumber air. Mendirikan institusi perairan yang kuat untuk memberi kerangka bagi identifikasi dan eksploitasi peluang kerjasama. Karena sungai-sungai di Uni Eropa melintasi beberapa negara, peraturan-peraturan di sana bisa menjadi acuan yang sangat baik.

4. Para pemimpin politik harus melibatkan diri. Diskusi tentang pengelolaan air lintas batas selalu didominasi oleh para ahli tehnis. Setinggi apa pun tingkat keahlian, dedikasi, dan profesionalisme mereka, absennya para pemimpin politik membuat jangkauan kerjasama cenderung sangat terbatas.

Banyak peringatan dan anjuran lain yang bermunculan di dunia luput dari perhatian kita selama sepuluh tahun terakhir ini. Sejak reformasi hingga kini kita masih hanyut dalam euforia demokrasi. Kaum intelektual dan potensi-potensi bangsa lebih banyak bermain politik dan kekuasaan.
Seribu kepala punya seribu ide, masing-masing membangun partainya sendiri-sendiri demi idenya itu dan mendorong massa untuk mempertahankannya.
Kenapa tidak duduk bersama merumuskan masa depan bangsa dan negara yang hingga kini hanya diurus secara sporadis?

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.