Category Archives: budaya

Akar-rumput akan membasmi politik uang.

Sebelum melangkah, kita perlu ketahu istilah kiri dan kanan dalam dunia politik. Jika kita telusuri Wikipedia, spektrum dalam dunia politik yang berbasis persamaan hak digolongkan ke dalam sayap kiri, sedangkan sayap kanan merupakan spektrum dari pandangan akan pentingnya perbedaan kelas dalam masyarakat, hierarki sosial.

Sisi paling ekstrim dari sayap kanan berbentuk fasisme, sedangkan di ekstrim kiri ada komunisme. Dari sini kita bisa faham mengapa di Indonesia pihak yang condong ke kiri akan diserang dan dituduh beraliran komunis. Masyarakat pun ditakut-takuti dengan hantu komunisme, bahaya laten komunis, yang belum tentu bisa dibuktikan, yang justru mengindikasikan dimanfaatkannya ketakutan itu sebagai perisai pelindung kesenjangan sosial.

Continue reading Akar-rumput akan membasmi politik uang.
Advertisements

Play Me, I’m Yours

Sudah sepuluh tahun ini Luke Jerram membawa instalasi “Play Me, I’m Yours” berkeliling dunia. Bermula pada 2008 di Birmingham, Inggris, 15 piano ditempatkan di berbagai lokasi umum seperti stasiun, taman, mall dsb selama 2-3 minggu.
Seusai acara, piano-piano tersebut dihadiahkan ke sekolah-sekolah atau komunitas di area sekitar.

Idenya muncul saat ia menunggu cucian di sebuah laundry beberapa akhir pekan. Ia mengamati bahwa setiap minggu datang orang-orang yang sama, tapi tak ada yang ngobrol. Dan tiba-tiba ia pun tersadar bahwa:
“Di dalam sebuah kota pasti ada ratusan invisible communities, komunitas yang tak terlihat, secara reguler mereka bersama menghabiskan waktu dalam kebisuan. Dengan menempatkan piano di ruang kebisuan, ia menjadi solusi masalah, berperan sebagai pemicu percakapan dan membawa dinamika dalam ruang publik. Ada beberapa perkawinan terwujud berkat proyek ini.”

Continue reading Play Me, I’m Yours

Salah kaprah dalam reaksi pencurian budaya

Kekayaan budaya kita begitu berlimpah namun sedikit sekali yang kita kenal, kita mengenalnya pun berkat upaya orang luar Indonesia yang tertarik untuk mempelajari atau menikmatinya.
Adalah manusiawi jika kita lupa atau tidak memperhatikan akan apa yang kita miliki, kebanyakan kita lebih memperhatikan apa yang dimiliki orang lain, bahkan ingin memilikinya juga.

Banyak contohnya, di musik ada budaya jazz, di senitari ada balet, senilukis ada pop art dsb… terlalu banyak untuk dirinci. Tentu kita tidak merasa mencuri budaya orang lain bukan? Dan juga tidak ada yang merasa kecolongan atau menuduh kita mencuri budaya mereka.

Jika reog berkembang di Malaysia dan sebagian orang Malaysia menganggapnya sebagai budaya mereka, itu bukanlah kasus pencurian. Orang Malaysia yang mengira itu adalah budaya mereka barangkali karena sejak lahir mereka sudah mengenal dan bergaul dengan reog di komunitasnya, dan tiba-tiba melihat di televisi kok ada reog juga di Ponorogo. Orang lain lalu memanfaatkan ini untuk memancing emosi dan mempermalukan bangsa kita.

Continue reading Salah kaprah dalam reaksi pencurian budaya

Puisi di sebuah Ruang Keluarga

Photo by Zen RS
Photo by Zen RS

Sebuah cerita yang mirip anekdot dikisahkan Reda Gaudiamo beberapa saat sebelum ia dan pasangannya, Ari Malibu, melantunkan musikalisasi puisi “Aku Ingin” karya Sapardi.

“Sepasang pengantin yang memilih puisi ini dalam undangan pernikahahannya menganggap sajak “Aku Ingin” sebagai karya Kahlil Gibran. Saya bilang padanya bahwa itu sajak Sapardi. Tapi dia tak percaya. Katanya, gak mungkin sajak puisi sebagus ini ditulis orang Indonesia.”

Para penonton yang menyesaki pertunjukan musikalisasi puisi di Newseum Cafe tergelak ramai-ramai. Tapi Reda belum menyelesaikan kisahnya.

Continue reading Puisi di sebuah Ruang Keluarga

Antara Minat Baca dan Sinetron

Semalam, 2 Desember, di Newseum Cafe diselenggarakan diskusi mengenai Budaya Tulisan, Pers dan terbentuknya suatu Bangsa, dalam rangka menyambut Hari Pers Kebangsaan.
Hadir sebagai narasumber adalah Sirtjo Koolhof, dari Radio Nederland Wereldomroep. Ia pemimpin redaksi Indonesia, juga pustakawan KITLV Belanda yang fasih berbahasa Indonesia —bahkan juga bahasa Jawa dan bahasa Bugis.

Banyak hal menarik diungkap Sirtjo yang mungkin luput dari pengamatan kita. Salah satunya ketika menjawab pertanyaan tentang kurangnya minat baca orang Indonesia.
Menurut Sirtjo, selain tradisi lisan yang sangat kuat mengakar di masyarakat Indonesia, faktor hubungan sosial ternyata juga banyak berpengaruh.
Orang Eropa umumnya sangat individual, lebih suka melakukan segalanya sendiri karena berbagai alasan. Misalnya keberadaan orang lain akan menyulitkan untuk fokus pada pekerjaannya, atau karena enggan mengambil waktu orang lain demi kepentingan diri sendiri, dll. Karena itu umumnya orang Eropa lebih suka belanja sendiri, ke toko buku sendiri, bahkan ke bioskop sendirian.

Continue reading Antara Minat Baca dan Sinetron

Obama is MY president, seru McCain….

Sangat mengagumkan. Andaikan saja para kandidat Presiden kita yang kalah juga seperti McCain, demi kebaikan dan kemajuan bangsa, mendukung dan menyambut ajakan “Bersama Kita Bisa” …
Seruan yang diucapkannya, “Obama is my President” berhasil mengubah gemuruh ledekan atas kemenangan Obama menjadi tepuktangan. Karena jauh di dalam lubuk hati mereka, saya yakin mereka membutuhkan pijakan dan tauladan untuk bersikap yang patut dan benar, dan McCain memberikan itu.

Continue reading Obama is MY president, seru McCain….

Jakarta mengabaikan sepeda

Meski wacana perlunya jalur sepeda di Jakarta belum juga dilontarkan pemerintah ke publik, mengapa para pengamat tidak memulai sendiri saja dulu. Kalau tidak dibahas publik, bisa saja kebijakan yang dikeluarkan akan mengundang protes banyak pihak, atau malah tak ada yang protes karena tidak tahu mudaratnya. Nanti begitu mulai dibangun, baru deh protes kiri kanan, pengelola dan pemerintah pun pusing seperti yang terjadi pada kasus busway, persis setahun lalu.

Continue reading Jakarta mengabaikan sepeda