Salah kaprah dalam reaksi pencurian budaya

Kekayaan budaya kita begitu berlimpah namun sedikit sekali yang kita kenal, kita mengenalnya pun berkat upaya orang luar Indonesia yang tertarik untuk mempelajari atau menikmatinya.
Adalah manusiawi jika kita lupa atau tidak memperhatikan akan apa yang kita miliki, kebanyakan kita lebih memperhatikan apa yang dimiliki orang lain, bahkan ingin memilikinya juga.

Banyak contohnya, di musik ada budaya jazz, di senitari ada balet, senilukis ada pop art dsb… terlalu banyak untuk dirinci. Tentu kita tidak merasa mencuri budaya orang lain bukan? Dan juga tidak ada yang merasa kecolongan atau menuduh kita mencuri budaya mereka.

Jika reog berkembang di Malaysia dan sebagian orang Malaysia menganggapnya sebagai budaya mereka, itu bukanlah kasus pencurian. Orang Malaysia yang mengira itu adalah budaya mereka barangkali karena sejak lahir mereka sudah mengenal dan bergaul dengan reog di komunitasnya, dan tiba-tiba melihat di televisi kok ada reog juga di Ponorogo. Orang lain lalu memanfaatkan ini untuk memancing emosi dan mempermalukan bangsa kita.

Langkah-langkah mendaftarkan kebudayaan agar tidak dicuri bangsa lain rasanya rada kekanak-kanakan, karena inti permasalahannya bukanlah itu. Misal saya di rumah mempunyai pohon mangga Indramayu yang terkenal lezat, tapi tidak diperlihara baik. Lalu tetangga sebelah meminta izin untuk mencangkok, yang kemudian ia urus dengan serius. Bertahun-tahun kemudian ia mempunyai perkebunan dan menjadi eksportir mangga Indramayu terkemuka. Saya hanya bisa gigit jari karena sebelumnya tidak menyadari, memelihara, dan memanfaatkan nilai-nilai tinggi akan hal-hal yang saya miliki.

Masalah pencurian budaya kira-kira analoginya seperti itu. Permasalahan utamanya adalah budaya yang kita miliki tidak diberi ruang untuk hidup dan berkembang. Musik pop dan jazz jauh lebih banyak memiliki ruang ruang itu, bahkan hinga detilnya, seperti gaya main gitaris Slash misalnya dipujapuji, diadopsi dan dikembangkan.

Budaya yang hidup adalah budaya di mana para pelaku budaya bisa memperoleh penghasilan yang dapat memenuhi hajat hidupnya dengan aktifitas budayanya itu. Seorang pelukis bisa hidup dari lukisannya karena diminati banyak orang, bagaimana masyarakat bisa menaruh minat tentu ada upaya-upaya tersendiri yang perlu dilakukan.
Kita tidak bisa menyebut angklung sebagai budaya kita yang hidup, karena yang mengandalkan hidupnya dari kesenian angklung tidak bisa hidup dengan layak, maka ia tidak bisa memelihara dan mengembangkan keseniannya. Juga tidak tampak adanya upaya untuk memberinya ruang hidup. Lama-kelamaan peminat pun tidak akan ada lagi dan nasib selanjutnya bisa diperkirakan.

Gamelan masih lumayan, peminatnya di luar negeri lumayan banyak, dan seperti budaya kita lainnya, ia terpelihara berkat adanya minat untuk meneliti, mendokumentasi bahkan menjadikannya kurikulum di universitas Amerika puluhan tahun lalu, tapi itulah, inisiatif itu datangnya hanya dari para ilmuwan luarnegeri.
Belakangan ini gamelan sudah mulai hadir tiap hari di televisi, meski hanya sebagai elemen pelengkap acara banyolan. Ini saja patut disyukuri karena dengan demikian acara ini membantu menghidupkan budaya tradisional, para pelakunya bisa memperoleh penghasilan dari aktifitasnya dan punya peluang untuk memelihara dan mengembangkannya. Apakah honorarium yang mereka terima sudah layak atau belum, itu masalah nanti yang akan terkoreksi sendiri sejalan dengan perkembangannya.
Sayangnya, wayang kulit dan wayang orang sudah tidak punya acara reguler lagi di layar kaca, padahal itu merupakan bantuan yang tidak ternilai dalam menghidupkan budaya.

Lain lagi dengan layang-layang. Budaya sehari-hari yang kurang mendapat perhatian, namun beberapa minggu lalu telah diselenggarakan festival internasionalnya. Ini merupakan salah satu bentuk aktifitas yang bisa menghidupkan budaya layang-layang, apalagi di selatan Jakarta sudah ada museum layang-layang. Betapa senangnya kita jika museum itu dikunjungi orang-orang mancanegara. Perlu bantuan media massa untuk mengekspos keragaman dan nilai-nilai yang terkandung dalam budaya kita itu.

Tanpa kita sadari sebenarnya kita sendiri yang membunuh budaya kita, dengan tidak memberi ruang untuk hidup bahkan melarangnya. Petasan adalah budaya yang setengah hidup, para pelakunya tidak bisa hidup lagi dari membuat petasan. Padahal setiap pesta pernikahan adat Cina dan Betawi, misalnya, membutuhkan petasan. Hari ini, dalam menyambut Ramadhan juga di banyak tempat dilakukan penyulutan petasan. Tetapi pemahaman yang berkembang di masyarakat, memiliki dan membuat petasan adalah melanggar hukum. Banyak yang sudah ditangkap belakangan ini, dengan berbagai macam kerugian sebagai akibatnya. Terlihat bahwa para pengamat hanya menyoal demokratis atau tidak demokratis jika itu menyangkut kebutuhan masyarakat elite.
Sementara dasar hukum penangkapannya tidak dijelaskan, maka jika secara sporadis di acara-acara budaya tetap dilakukan penyulutan petasan kita tidak tahu apakah itu pelanggaran hukum yang dibiarkan atau bukan.

Suka atau tidak suka, petasan adalah bagian dari budaya kita yang layak untuk dipelihara. Dengan pelarangan dan penangkapan bukan tidak mungkin generasi berikut hanya bisa gigit jari melihat kita suatu saat nanti mengimpor petasan dari Cina dengan pemborosan milyaran dollar.
Para anggota legilatif dan eksekutif pasti cukup pandai untuk membuat aturan agar petasan tidak digunakan untuk hal-hal yang negatif. Misalnya dengan pendaftaran para produsen petasan, batas ukuran tidak berbahaya yang boleh diproduksi, tempat atau waktu yang dianggap layak untuk menyulut petasan, dsb.
Pemeliharaan budaya petasan sambil membatasi penggunaanya bisa dilakukan dengan misalnya, mengadakan festival petasan internasional, seperti halnya dengan layang-layang.

Pemerintah —tigkat negara atau pun desa— yang baik dan dicintai rakyat adalah yang mengakomodir kebutuhan budaya masyarakat, agar bisa menghidupi diri mereka sendiri, dan mengaturnya agar tidak mencederai hak masyarakat lainnya.

Mendaftarkan hak intelektual kebudayaan tidak akan ada arti lebih, ia hanya budaya yang eksis di atas kertas jika budaya itu sendiri tidak diberi ruang untuk hidup dan berkembang seperti yang dinikmati oleh budaya musik pop dan dangdut.

Selamat menjalankan ibadah puasa, semoga dengan berpuasa kita diberi pandangan-pandangan yang lebih arif.

Advertisements

Puisi di sebuah Ruang Keluarga

Photo by Zen RS

Photo by Zen RS

Sebuah cerita yang mirip anekdot dikisahkan Reda Gaudiamo beberapa saat sebelum ia dan pasangannya, Ari Malibu, melantunkan musikalisasi puisi “Aku Ingin” karya Sapardi.

“Sepasang pengantin yang memilih puisi ini dalam undangan pernikahahannya menganggap sajak “Aku Ingin” sebagai karya Kahlil Gibran. Saya bilang padanya bahwa itu sajak Sapardi. Tapi dia tak percaya. Katanya, gak mungkin sajak puisi sebagus ini ditulis orang Indonesia.”

Para penonton yang menyesaki pertunjukan musikalisasi puisi di Newseum Cafe tergelak ramai-ramai. Tapi Reda belum menyelesaikan kisahnya.

Setelah gelak tawa mereda, ia menutup kisah yang ia alami langsung itu: “Akhirnya, pasangan pengantin itu mencetak puisi ‘Aku Ingin’ di undangannya… tetap keukeuh dengan menyebutnya sebagai karya Kahlil Gibran.”
Saya tersenyum. Para penonton kembali tergelak-gelak, kali ini lebih kuat. Ruangan Newseum Cafe yang sesak oleh penonton terasa berdentam. Lalu, Ari mulai memetik gitarnya perlahan. Sejurus kemudian, para penonton bersorak, beberapa di antaranya bersuit-suit. Sepertinya ini lagu yang paling ditunggu….

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Para penonton yang hadir ikut bernyanyi. Tidak laki, tidak perempuan. Tidak muda, tidak tua —kendati mayoritas yang hadir memang banyak yang sudah berkeluarga. Beberapa ibu-ibu datang bersama anaknya. Di panggung sebelah kiri, seorang ibu terlihat menidurkan anaknya yang masih kecil. Di belakang, bapak-bapak berdiri di baris paling ujung, sebagian duduk di dekat meja bar.

Bukan hanya Sapardi yang malam itu sajak-sajaknya dinyanyikan. Ada juga puisi Abdul Hadi WM, Toto Sudarto, dan puisi beberapa penyair yang lain. Semuanya dilantunkan dengan manis oleh Reda Gaudiamo dengan alunan suara gitar yang dipetik Ari Malibu. Kebanyakan gitar dibawakan dengan petikan, sehingga lebih sering terdengar denting daripada cabikan. Terasa pas dengan puisi-puisi Sapardi yang memang sering menggunakan bahasa yang sederhana, kendati seringkali punya metafora yang berlapis.

Malam itu, puisi hadir sebagai bagian sebuah “keluarga”. Keluarga di sini bukan hanya merujuk pada penonton yang rata-rata sudah berkeluarga, tapi sepanjang konser terasa benar betapa Ari-Reda dan para penonton yang hadir sudah menjalin hubungan yang lama dan intim. Banyak di antara mereka yang disebutkan satu per satu namanya oleh Reda tiap kali hendak menyanyikan sebuah puisi, kadang disebutkan bahwa puisi ini sengaja dinyanyikan karena seseorang telah memesannya melalui sms. Dari Maria Andriana, redaktur senior Antara, saya tahu bahwa banyak di antara mereka sudah saling mengenal sedari jaman kuliah.

Suasana kekeluargaan terasa komplit sewaktu Boni, seorang anak perempuan lincah dan cerdas berusia enam tahun, membacakan di luar kepala puisi karangan ayahnya sendiri selama 15 menit. Sewaktu Boni kelar membacakan puisi, seisi cafe kembali bersorak dan bertempik —dalam pendengaran saya terasa seperti sorak para orang tua yang menyaksikan pentas anaknya.

Photo by Zen RS

Photo by Zen RS

Puisi, sekali lagi, malam itu terasa sebagai bagian sebuah keluarga. Ia hidup dengan hangat di ruang tamu, ruang keluarga dan kamar-kamar tidur. Seperti dibacakan dalam sebuah reuni. Semuanya terasa bahagia, hangat, dan juga puas. Puisi benar-benar seperti coklat, mungkin juga kue tart —atau apalah anda menyebut segala sesuatu yang manis lagi menyenangkan. Puisi tak hadir sebagai sesosok mahluk yang menganggu, nyawa yang melata di malam-malam penuh kepulan asap, vodka dan racauan kasar para bohemian.
Tentu tak ada yang salah dengan itu, karena puisi tak harus tampil serius, tak mesti hadir untuk dipikirkan dengan kening berkerut. Setiap orang boleh dan bisa memperlakukan puisi sekebutuhan dirinya masing-masing. Juga mungkin tak diperlukan semacam “makelar makna”, para kritikus dengan pedang penilaian yang berkilat-kilat.

Nikmati sajalah puisi. Sembari berdendang dan menggoyangkan kaki, selaykanya mendengar sebuah nomer lagu, tentunya. Ya, karena ini memang musikalisasi puisi, bukan diskusi tentang puisi. [Zen RS]

Antara Minat Baca dan Sinetron

Semalam, 2 Desember, di Newseum Cafe diselenggarakan diskusi mengenai Budaya Tulisan, Pers dan terbentuknya suatu Bangsa, dalam rangka menyambut Hari Pers Kebangsaan.
Hadir sebagai narasumber adalah Sirtjo Koolhof, dari Radio Nederland Wereldomroep. Ia pemimpin redaksi Indonesia, juga pustakawan KITLV Belanda yang fasih berbahasa Indonesia —bahkan juga bahasa Jawa dan bahasa Bugis.

Banyak hal menarik diungkap Sirtjo yang mungkin luput dari pengamatan kita. Salah satunya ketika menjawab pertanyaan tentang kurangnya minat baca orang Indonesia.
Menurut Sirtjo, selain tradisi lisan yang sangat kuat mengakar di masyarakat Indonesia, faktor hubungan sosial ternyata juga banyak berpengaruh.
Orang Eropa umumnya sangat individual, lebih suka melakukan segalanya sendiri karena berbagai alasan. Misalnya keberadaan orang lain akan menyulitkan untuk fokus pada pekerjaannya, atau karena enggan mengambil waktu orang lain demi kepentingan diri sendiri, dll. Karena itu umumnya orang Eropa lebih suka belanja sendiri, ke toko buku sendiri, bahkan ke bioskop sendirian.

Jadi agak menyentak kesadaran ketika Sirtjo mengatakan: “Saya selama di Indonesia tidak pernah bisa sendirian.” Ia tidak bisa membaca buku kecuali mengunci diri di kamarnya. Tentu mereka yang “menemani” memang berniat untuk membuat Sirtjo nyaman dan betah, tidak merasa kesepian di negeri orang. Atau mungkin juga karena sangat antusias ingin mengetahui pengalaman Sirtjo, banyak yang tidak memperhatikan kebutuhan privasinya.

Jika anda pernah tinggal di Eropa atau Amerika sedikitnya selama beberapa bulan, dan tidak bermasyarakat dengan orang Indonesia lainnya, maka kebiasaan itu akan berpengaruh pada anda.
Orang Indonesia pada umumnya sangat suka melakukan segalanya bersama seseorang atau beramai-ramai. Dinas ke luar kota, pergi belanja, ke bioskop, bahkan ke toilet pun minta ditemani.

Di Jakarta dan di kota-kota besar lain di Indonesia mungkin cukup banyak orang Indonesia yang lebih individual, namun di tempat lain kesendirian bisa menjadi hal yang aneh dan mengkhawatirkan di mana kebersamaan adalah hal yang disukai semua orang di sekitarnya. Jika ada yang membangun rumah maka masyarakat akan membantu beramai-ramai. Menonton TV akan lebih menyenangkan beramai-ramai. Demikian juga dengan makan dan minum, bahkan membaca koran pun beramai-ramai.
Tapi membaca buku sangat berbeda, tidak mau diganggu, dan orang pun segan mengganggu. Semakin sering membaca buku, bisa terjadi semakin jarang orang yang menghampirinya. Dan kemungkinan inilah salah satu penyebab minat baca masyarakat Indonesia sangat kurang. Mereka tidak mau terpisahkan dari kehidupan sosialnya.

Di sisi lain menurut Taufik Rahzen, kehadiran televisi juga semakin memperkuat tradisi lisan dan menjauhkan masyarakat dari buku. Tradisi wayang kulit, lenong dll kini tergantikan perannya oleh televisi. Barangkali karena itulah sinetron jauh lebih disukai masyarakat kebanyakan dibanding mata acara lainnya.

Memang, tradisi mendengarkan tetua bercerita, menonton wayang kulit yang sarat makna, atau stambul Dardanella yang penuh petuah dalam menjalani kehidupan sehari-hari, semua itu menggambarkan kebutuhan masyarakat kebanyakan akan panutan dan bimbingan.
Jika minat baca begitu kecil, sedangkan pengaruh tradisi lisan masih sangat besar, maka sudah sepatutnya Pemerintah dan para intelektual merumuskan kriteria yang tepat sinetron seperti apa yang layak untuk ditayangkan secara nasional. Sebaiknya sinetron di luar kriteria itu hanya bisa ditayangkan di TV kabel.

Bagi kita di kota-kota besar sinetron tidak begitu terasa pengaruhnya karena kehidupan sosial dan cara pandang yang jauh berbeda. Namun bagi masyarakat kebanyakan di daerah-daerah, juga bagi anak-anak secara umum yang masih belum bisa membedakan antara baik dan buruk, maka sinetron bisa dijadikan sarana mereka untuk mempelajari kehidupan nyata sehari-hari, bagaimana berperilaku. Tak ubahnya seperti tradisi lisan yang pernah ada.

Pasti di beberapa perguruan tinggi sudah ada penelitian mengenai pengaruh sinetron terhadap perilaku masyarakat yang bisa dijadikan dasar untuk menyikapi sinetron. Perilaku melenceng anak-anak sekolah sekarang agaknya dipengaruhi sinetron remaja.
Ungkapan-ungkapan kasar tak berbudaya, anak-anak Sekolah Dasar dianggap tidak trendy kalau belum punya pacar, segala perbuatan negatif dari berbohong, fitnah keji, selingkuh, kekerasan dan sebagainya ada di sana. Kita yang tidak menyukai sinetron tidak mau menontonnya dan karena itu tidak menyadari bahayanya.

Juga sudah saatnya penayangan kekerasan diberi batasan seperti halnya dengan sex. Tayangan berita-berita demo anarkis, kekerasan di antara anggota kelompok, di institusi pendidikan, di kafe, di mana saja, selama ini dibiarkan untuk ditayangkan secara vulgar di jam-jam yang rentan. Ini sedikit banyak menanamkan pendidikan cara-cara kekerasan yang bisa digunakan saat dikuasai emosi.[]

Obama is MY president, seru McCain….

Sangat mengagumkan. Andaikan saja para kandidat Presiden kita yang kalah juga seperti McCain, demi kebaikan dan kemajuan bangsa, mendukung dan menyambut ajakan “Bersama Kita Bisa” …
Seruan yang diucapkannya, “Obama is my President” berhasil mengubah gemuruh ledekan atas kemenangan Obama menjadi tepuktangan. Karena jauh di dalam lubuk hati mereka, saya yakin mereka membutuhkan pijakan dan tauladan untuk bersikap yang patut dan benar, dan McCain memberikan itu.

Sebuah cermin yang luar biasa, jika kita melihat ke dalamnya duh betapa buruk wajah politicking kita yang tega mengorbankan massa, bangsa dan masa depannya.
Berikut ini pidato McCain dan transkripsinya.


Thank you for coming here on this beautiful Arizona evening. My friends, we have come to the end of a long journey. The American people have spoken, and they have spoken clearly.

A little while ago, I had the honor of calling Senator Barack Obama to congratulate him on being elected the next president of the country that we both love.

In a contest as long and difficult as this campaign has been, his success alone commands my respect for his ability and perseverance. But that he managed to do so by inspiring the hopes of so many millions of Americans who had once wrongly believed that they had little at stake or little influence in the election of an American president is something I deeply admire and commend him for achieving.

This is an historic election, and I recognize the special significance it has for African-Americans and for the special pride that must be theirs tonight.
I’ve always believed that America offers opportunities to all who have the industry and will to seize it. Senator Obama believes that, too.

But we both recognize that, though we have come a long way from the old injustices that once stained our nation’s reputation and denied some Americans the full blessings of American citizenship, the memory of them still had the power to wound.

A century ago, President Theodore Roosevelt’s invitation of Booker T. Washington to dine at the White House was taken as an outrage in many quarters.
America today is a world away from the cruel and frightful bigotry of that time. There is no better evidence of this than the election of an African-American to the presidency of the United States.

Let there be no reason now … Let there be no reason now for any American to fail to cherish their citizenship in this, the greatest nation on Earth.
Senator Obama has achieved a great thing for himself and for his country. I applaud him for it, and offer him my sincere sympathy that his beloved grandmother did not live to see this day. Though our faith assures us she is at rest in the presence of her creator and so very proud of the good man she helped raise.

Senator Obama and I have had and argued our differences, and he has prevailed. No doubt many of those differences remain.

These are difficult times for our country. And I pledge to him tonight to do all in my power to help him lead us through the many challenges we face.

I urge all Americans … I urge all Americans who supported me to join me in not just congratulating him, but offering our next president our good will and earnest effort to find ways to come together to find the necessary compromises to bridge our differences and help restore our prosperity, defend our security in a dangerous world, and leave our children and grandchildren a stronger, better country than we inherited.

Whatever our differences, we are fellow Americans. And please believe me when I say no association has ever meant more to me than that.

It is natural. It’s natural, tonight, to feel some disappointment. But tomorrow, we must move beyond it and work together to get our country moving again.
We fought — we fought as hard as we could. And though we feel short, the failure is mine, not yours.

I am so deeply grateful to all of you for the great honor of your support and for all you have done for me. I wish the outcome had been different, my friends.
The road was a difficult one from the outset, but your support and friendship never wavered. I cannot adequately express how deeply indebted I am to you.

I’m especially grateful to my wife, Cindy, my children, my dear mother and all my family, and to the many old and dear friends who have stood by my side through the many ups and downs of this long campaign.

I have always been a fortunate man, and never more so for the love and encouragement you have given me.
I am also very thankful to Governor Sarah Palin, one of the best campaigners I’ve ever seen, and an impressive new voice in our party for reform and the principles that have always been our greatest strength … her husband Todd and their five beautiful children … for their tireless dedication to our cause, and the courage and grace they showed in the rough and tumble of a presidential campaign.

I don’t know what more we could have done to try to win this election. I’ll leave that to others to determine. Every candidate makes mistakes, and I’m sure I made my share of them. But I won’t spend a moment of the future regretting what might have been.

This campaign was and will remain the great honor of my life, and my heart is filled with nothing but gratitude for the experience and to the American people for giving me a fair hearing before deciding that Senator Obama and my old friend Senator Joe Biden should have the honor of leading us for the next four years.

I would not be an American worthy of the name should I regret a fate that has allowed me the extraordinary privilege of serving this country for a half a century.
Today, I was a candidate for the highest office in the country I love so much. And tonight, I remain her servant. That is blessing enough for anyone, and I thank the people of Arizona for it.

Tonight more than any night, I hold in my heart nothing but love for this country and for all its citizens, whether they supported me or Senator Obama .

I wish Godspeed to the man who was my former opponent and will be my president. And I call on all Americans, as I have often in this campaign, to not despair of our present difficulties, but to believe, always, in the promise and greatness of America, because nothing is inevitable here.

Americans never quit. We never surrender. We never hide from history. We make history.

Thank you, and God bless you, and God bless America.

Jakarta mengabaikan sepeda

Meski wacana perlunya jalur sepeda di Jakarta belum juga dilontarkan pemerintah ke publik, mengapa para pengamat tidak memulai sendiri saja dulu. Kalau tidak dibahas publik, bisa saja kebijakan yang dikeluarkan akan mengundang protes banyak pihak, atau malah tak ada yang protes karena tidak tahu mudaratnya. Nanti begitu mulai dibangun, baru deh protes kiri kanan, pengelola dan pemerintah pun pusing seperti yang terjadi pada kasus busway, persis setahun lalu.

Sedangkan kalau mulai dibahas oleh publik dari sekarang —meski jalur sepeda baru akan direalisir 50 tahun lagi, misalnya — publik sudah lebih aware dan paham, dan kalau dikeluarkan suatu kebijakan, kita sudah bisa menilai apakah akan membuat kesemrawutan atau memang pas dan sangat efisien.

Berhubung saya bukan ahlinya, kita tengok pendapat orang saja —belumlah begitu penting tentang apakah ia akan cocok atau tidak bagi kita, yang penting bolanya ada yang ‘nendang…. tinggal digocak-gocek lagi supaya masuk ke gol.

Cuma, ada satu hal mendasar yang perlu disepakati dulu :
bahwa jalan-jalan raya adalah ruang publik. Ia bukan milik para pengendara, tapi milik publik. Kalau sudah sepakat bahwa jalan adalah ruang publik, mari kita sepakati bahwa pejalan kaki adalah komponen terbesar dari publik. Jika kita menggunakan jalan raya dengan kendaraan kita, maka status kita adalah tamu —pengunjung yang sekedar mampir. Kita harus bersikap sopan dan berhati-hati agar tidak melukai tuan rumah. Pejalan kaki harrus diberi prioritas.

Janganlah bersikap seperti sebagian besar pengendara sepeda motor Jakarta, berani-beraninya menggunakan trotoar —malah lebih galak jika ditegur. Jika ada pejalan kaki berada di sekitar kita saat berkendara, perlambatlah kendaraan, jangan malah menancap gas jika melihat mereka ingin menyeberang. Bersikaplah manusiawi, kendaraan yang anda kuasai bisa berubah jadi senjata pembunuh manusia.

AndySinger

AndySinger

Cara pikir bahwa Jakarta macet karena jumlah jalan tidak sesuai dengan pertumbuhan jumlah kendaraan, juga tidak manusiawi. Sehingga keputusan-keputusan yang dibuat adalah dengan memperbanyak jalan untuk kendaraan. Kota kita menjadi kota untuk kendaraan, bukan untuk manusia.

Itulah jadinya jika izin mengemudi bisa dibeli tanpa harus memahami hal-hal mendasar tentang etika berlalulintas. Tidak ada statistiknya, tapi bisa dipastikan lebih 50% pengguna jalan tidak melalui pendidikan mengemudi yang sesuai etika. Tanpa disadari, Itu berlangsung puluhan tahun sehingga sebagian besar generasi yang sedang mengurus kota ini dan penduduknya juga, tidak tahu etika lalulintas, tidak manusiawi, lupa akan Pancasila.

Maka yang tahu akan kebenaran tinggal segelintir, jadi minoritas. Alam demokrasi membuat suaranya menjadi ganjil. Barangkali dari situ SBY mendapat ide untuk meminta kita agar berfikir out of the box, agar bisa melihat lebih jernih.
Kasihan bapak presiden kita itu sebetulnya, apa pun yang dikatakannya —tak peduli benar atau salah— pasti ramai-ramai dikeroyok sehingga terkucilkan dan hal yang benar menjadi terlihat aneh bagi publik. Padahal, jika dari dulu pekerjaan setiap presiden —dari Habibie hingga SBY— tidak diganggu, sehingga bisa konsentrasi pada hal-hal yang lebih makro, barangkali kita akan lebih cepat bangkit dari krisis. Toh ia tidak kelihatan korup, malah partai dan dpr jauh lebih mata duitan.

Travel Time bersepeda di Philadelphia

Travel Time bersepeda di Philadelphia

Sekarang kita tengok ke New York dulu deh, di sana sudah ada 180 km jalur sepeda, tapi sedang mengonsep jaringan jalur sepeda, yang berarti akan menambah ratusan kilometer lagi. Problemnya mungkin agak sama: macet dan lahan untuk jalur sepeda tidak ada. Kita pasti bisa belajar banyak dari sana.

Mungkin yang pertama dilakukan adalah studi untuk melihat potensi sepeda dalam mengurangi kemacetan dan polusi. Ada data ridership sepeda, yang begitu kecil dan tidak memberi indikasi bahwa moda ini punya potensi. Lalu bukan berarti mereka mengabaikan sepeda, justru diupayakan agar potensi sepeda diperbesar. Dari survey diperoleh data bahwa selain pemuda, lelaki, sedikit sekali yang berani naik sepeda di tengah kondisi lalulintas seperti sekarang. Hasil survey mengatakan jalan-jalan perlu dibenahi agar wanita, anak-anak, dan orangtua merasa aman untuk bersepeda.

Poling pada 1970an menegaskan perlunya jalur khusus untuk sepeda. Poling 1992 menunjukkan dari setiap empat orang ada satu yang mau bersepeda ke kantor jika jalur sepeda tersedia. Survey 1990 di Manhattan mengatakan 49% pengusaha dan karyawan yang tinggal dalam radius 16 km dari kantornya, akan menggunakan sepeda jika disediakan jalur yang aman disertai kelengkapan infrastruktur lainnya. Di 6th Avenue, jumlah pesepeda jauh lebih banyak dibanding avenue lain, karena di sana ada jalur sepeda. Dari semua survey, ada korelasi antara tingkat penggunaan sepeda dengan keberadaan jalur sepeda.

Jadi, please jangan katakan bahwa jalur sepeda baru akan dibangun jika jumlah pesepeda di Jakarta mencapai satu juta orang. Gunakanlah survey dan studi, doronglah masyarakat menggunakan sepeda dengan menyediakan fasilitasnya. [tulisan sudah pernah dimuat di rubrik Batavia Bikeway]

Tulisan terkait:

Kring kring kring ada sepeda
Busway dan bikeway
Car free day. Mengapa sepi?
Becak Art Trip
Intro to car-free
Facebook Cause: Bike Lane and Bike Parking Pool for Greener Jakarta
Jalur Sepeda Taman Suropati-Monas

Merdesa atau Mati

Jika pekik “MERDEKA” pernah begitu menggetarkan di jalanan Jakarta pada tahun-tahun pertama kemerdekaan, maka imaji apa yang mencuat dari grafiti bertuliskan kata “MERDESA” yang muncul di beberapa dinding di tepian jalanan Jakarta?

Yulian Firdaus

Foto: Yulian Firdaus

Pada salah satu malam flaneur saya di jalanan Jakarta, grafiti itu saya jumpai di sebuah kolong jembatan kereta api di sebelah utara kota tua yang menuju arah Pelabuhan Sunda Kelapa. Di sana tertulis: “MERDESA ATAU MATI”.

Salah tulis? Saya yakin tidak. Sebab, saya menemukannya kembali di dinding sebelah timur Hotel Sriwijaya di Jalan Veteran 1, Jakarta Pusat. Letaknya tak jauh dari Stasiun Juanda, hanya 50 meter dari Halte Busway Juanda. Di sebelah timurnya, melintang Ciliwung. Di timurnya lagi, menjulang Istiqlal yang agung.

Tapi di situ, tak tertulis kalimat “MERDESA ATAU MATI”, melainkan kalimat “MERDESA = HIDUP LAYAK”.
Ada banyak alasan kenapa saya tertarik dengan grafiti “Merdesa”, terutama grafiti yang saya lihat di Jalan Veteran.

Pertama, saya hampir tiap hari melewatinya, terutama saat hari masih begitu dini, antara jam 2 hingga jam 4 pagi. Itulah jam-jam krusial bagi perut saya, sewaktu lapar mulai menghajar, dan persediaan kretek biasanya sudah mengempis. Dalam perjalanan menuju warung kopi yang menyediakan indomie rebus dan rokok, saya tak pernah alpa menengok grafiti itu.

Jika sudah begini, rasa-rasanya, grafiti “Merdesa” berbunyi lebih nyaring karena –inilah alasan keduanya—tak jauh dari situ selalu ada belasan orang yang tidur berjejer, beralas kadang sarung kadang kardus, berbantal tangan sendiri dan berselimut spanduk-spanduk yang tak jelas asal-usulnya. Di sekitarnya, terparkir beberapa sepeda yang di jok belakangnya terpasang termos air dan pada stangnya bergelantungan berjenis-jenis minuman sachet. Bukan hanya itu, selalu ada beberapa gerobak terparkir, kadang tanpa isi kadang penuh dengan kertas, kardus dan botol-botol plastik minuman.
Merekalah paria di ibukota: para pemulung, manusia gerobak, pedagang minuman keliling, gelandangan dan kadang orang gila.

Zen RS

Foto: Zen RS

Sebelumnya, di sekitar situ, hanya ada beberapa mobil carteran yang biasa parkir dengan sopir yang terlelap di dalamnya. Saya tak ingat persis sejak kapan mereka menjadikan trotoar Jalan Veteran sebagai tempat tidur di waktu malam. Tapi belum lama, mungkin sekitar Juni atau Juli. Mereka mulai berdatangan saat menjelang Maghrib dan lenyap tanpa meninggalkan sampah saat hari belum berangkat terang. Datang dan pergi begitu saja, tapi pasti selalu kembali pada malam hari.
Ada seorang ibu-ibu yang selalu tidur memeluk dua anaknya yang masih kecil, ada seorang lelaki tua dengan misai tak terurus yang selalu berbaring mepet dengan tembok, ada seorang pemuda yang selalu tidur dengan dua kaki yang tegak dengan lutut menantang langit, ada seorang perempuan paruh baya yang selalu tidur dengan memegang korek kuping.

Saya mengingatnya dengan baik karena hampir tiap malam saya melewati mereka dan selalu saja mereka semua sedang lelap. Saya mengingatnya dengan baik sekuat ingatan saya pada beberapa lelaki yang selalu main catur di sana jika malam belum terlalu larut.
Sesekali saya dengar ada yang membawa radio kecil yang melantunkan tembang-tembang berbahasa Jawa dengan alunan gendhing yang ganjil tapi pasti selalu berhasil meninabobokan mereka, membawa mereka ke alam mimpi, entah memimpikan apa, mungkin memimpikan kampung halaman mereka di Jawa, kembali ke desa, bukan untuk merdeka, tapi untuk “Merdesa”
Jika melewati mereka pada jam-jam yang masih sore, terlihat betapa satu sama lain dari mereka seperti tak saling mengenal. Selain para lelaki yang main catur, jarang saya lihat mereka bercakap-cakap. Semua sibuk dengan dirinya sendiri. Acuh-acuh saja.

Satu waktu, sekira jam satu malam, saya melihat sosok besar di bawah selimut spanduk bergerak-gerak. Makin dekat saya makin sadar di bawah selimut spanduk itu ada dua orang, dengan suara yang tak jelas, tapi masih kelewat jelas untuk mengetahui bahwa keduanya sedang sama-sama “membuang hajat”. Keduanya menghentikan aktivitasnya saat langkah kaki saya terdengar jelas, tapi kembali kasak-kusuk begitu langkah kaki saya menjauh.
Itukah artinya “Merdesa = Hidup Layak”? Saya tidak tahu.

Pernah saya bertanya pada salah satu di antara mereka. Saat itu masih sekitar jam 10 malam dan banyak dari mereka yang masih terjaga. Dengan memesan segelas kopi susu pada salah satu dari mereka, saya duduk di trotoar persis di sebelah salah seorang di antara mereka. Saya bertanya padanya siapa yang menulis grafiti dan apa artinya grafiti itu.
“Mboten ngertos, Mas.”
Saya manggut-manggut. Seseorang yang duduknya agak jauh tiba-tiba menyahut: “Katanya itu ditulis pas subuh-subuh. Tapi ndak tahu siapa. Yang jelas bukan saya, kok. Mana ada duit buat beli cat (baca: pylox).”
“Trotoar  kan panjang, Mas. Tapi, kok, mereka tidurnya persis di dekat-dekat tulisan “Merdesa” itu ya?”
Lelaki yang duduk agak jauh itu mengangkat bahu. Tapi pedagang kopi di sebelah saya menyahut sembari mengarahkan telunjuknya ke arah selatan: “Daripada tidur di sebelah sana, mending di situ, Mas!”
Saya melihat arah yang ditunjuknya. Saya tergelak. Di sana ada grafiti dengan ukuran lebih besar tapi letaknya lebih bawah. Tulisannya: “Ko***l”. Saya tergelak. Sembari menawarkan sebatang kretek, saya menyahut: “Lha kan sama aja, toh? Sama-sama tulisan, kok.”
“Lha kalau sampeyan ke sini sama anaknya, dan dia nanya itu tulisan apa, apa sampeyan gak keblinger jawabnya?”

Lelaki pedagang kopi pamit hendak berjualan. Saya membayar. Ia berlalu ke arah selatan, menuju Monas, mengendarai sepeda mini, dengan suara kreot-kreot yang nyaring. Saya melihat punggungnya menjauh, punggungnya terlhat mengecil, terus mengecil, makin kecil, benar-benar kecil, lalu lenyap.
Inikah artinya menjadi “orang kecil”, terus mengecil, makin mengecil, selalu kecil, lalu lenyap?
(Lagi-lagi) saya tak tahu. Yang saya tahu –inilah alasan ketiganya–, 500 meter ke arah barat dari trotoar itu, Istana Negara berdiri dengan gagah, segagah Monas yang menjulang dengan pucuk bersepuh emas.

Saya ingat Soe Hok Gie. Pada halaman-halaman awal catatan hariannya, ia pernah melihat seorang gelandangan memakan sisa-sisa makanan yang ditemukannya di jalan. Gie, seingat saya, lantas menulis dengan memaparkan kontras seperti yang juga saya rasakan: semua pemandangan itu terjadi tak jauh dari Istana Negara.
Saya beranjak dari trotoar dengan menghabiskan sisa kopi susu yang saya beli barusan. Sekali tenggak habis. Tiba-tiba rasanya sedikit lebih pahit.

Tyas

Foto: Tyas

Saya berjalan ke selatan, searah menuju Monas, dan dengan sengaja melewati beberapa lelaki yang sedang main catur di bawah lampu yang memancarkan tempias keemasan. Ada beberapa sisa nasi bungkus di sana, salah satunya masih terbuka dan terlihat masih menyisakan makanan dengan sekerat tempe di sana.
Saya mendengar salah satu dari mereka berteriak: “Skak”. Saya menoleh sebentar, salah satunya tertawa terbahak, sementara lawannya duduk bertopang dagu, berpikir keras bagaimana caranya meloloskan “Raja” dari ancaman maut (Skak Mat)**.
Hidup memang bukan catur, tapi dalam hidup dan pertaruhan nasib, selalu ada situasi di mana nasib tiba-tiba menyodorkan “skak”*. Jika akhirnya “Skak” menjadi “Skak Mat”, apa boleh buat… barangkali itulah hidup: serangkaian pertarungan menghadapi “Skak”, sebelum akhirnya berhenti karena harus menerima “Skak Mat”.
Post-script:
*Skak: Posisi Raja terancam
* Skak Mat: Raja benar-benar tak terselamatkan dan dengan itu permainan pun berakhir. [zen rs]

Lihat juga:

Merdesa!! :D
Merdesa menurut Kamus Besar
Merdesa dalam bahasa Inggris

Newseum Cafe goes to visual art


Sudah enam minggu ini Newseum Cafe menjadi tempat obrolan soal visual art. Diawali dengan paparan Taufik Rahzen pada akhir Juli lalu, tentang Inovasi dan Invensi dalam senirupa —sejak corat coret di dinding gua hingga Cai Guo-Qiang yang melukis menggunakan bubuk mesiu.

Continue reading