Antara Minat Baca dan Sinetron

Semalam, 2 Desember, di Newseum Cafe diselenggarakan diskusi mengenai Budaya Tulisan, Pers dan terbentuknya suatu Bangsa, dalam rangka menyambut Hari Pers Kebangsaan.
Hadir sebagai narasumber adalah Sirtjo Koolhof, dari Radio Nederland Wereldomroep. Ia pemimpin redaksi Indonesia, juga pustakawan KITLV Belanda yang fasih berbahasa Indonesia —bahkan juga bahasa Jawa dan bahasa Bugis.

Banyak hal menarik diungkap Sirtjo yang mungkin luput dari pengamatan kita. Salah satunya ketika menjawab pertanyaan tentang kurangnya minat baca orang Indonesia.
Menurut Sirtjo, selain tradisi lisan yang sangat kuat mengakar di masyarakat Indonesia, faktor hubungan sosial ternyata juga banyak berpengaruh.
Orang Eropa umumnya sangat individual, lebih suka melakukan segalanya sendiri karena berbagai alasan. Misalnya keberadaan orang lain akan menyulitkan untuk fokus pada pekerjaannya, atau karena enggan mengambil waktu orang lain demi kepentingan diri sendiri, dll. Karena itu umumnya orang Eropa lebih suka belanja sendiri, ke toko buku sendiri, bahkan ke bioskop sendirian.

Jadi agak menyentak kesadaran ketika Sirtjo mengatakan: “Saya selama di Indonesia tidak pernah bisa sendirian.” Ia tidak bisa membaca buku kecuali mengunci diri di kamarnya. Tentu mereka yang “menemani” memang berniat untuk membuat Sirtjo nyaman dan betah, tidak merasa kesepian di negeri orang. Atau mungkin juga karena sangat antusias ingin mengetahui pengalaman Sirtjo, banyak yang tidak memperhatikan kebutuhan privasinya.

Jika anda pernah tinggal di Eropa atau Amerika sedikitnya selama beberapa bulan, dan tidak bermasyarakat dengan orang Indonesia lainnya, maka kebiasaan itu akan berpengaruh pada anda.
Orang Indonesia pada umumnya sangat suka melakukan segalanya bersama seseorang atau beramai-ramai. Dinas ke luar kota, pergi belanja, ke bioskop, bahkan ke toilet pun minta ditemani.

Di Jakarta dan di kota-kota besar lain di Indonesia mungkin cukup banyak orang Indonesia yang lebih individual, namun di tempat lain kesendirian bisa menjadi hal yang aneh dan mengkhawatirkan di mana kebersamaan adalah hal yang disukai semua orang di sekitarnya. Jika ada yang membangun rumah maka masyarakat akan membantu beramai-ramai. Menonton TV akan lebih menyenangkan beramai-ramai. Demikian juga dengan makan dan minum, bahkan membaca koran pun beramai-ramai.
Tapi membaca buku sangat berbeda, tidak mau diganggu, dan orang pun segan mengganggu. Semakin sering membaca buku, bisa terjadi semakin jarang orang yang menghampirinya. Dan kemungkinan inilah salah satu penyebab minat baca masyarakat Indonesia sangat kurang. Mereka tidak mau terpisahkan dari kehidupan sosialnya.

Di sisi lain menurut Taufik Rahzen, kehadiran televisi juga semakin memperkuat tradisi lisan dan menjauhkan masyarakat dari buku. Tradisi wayang kulit, lenong dll kini tergantikan perannya oleh televisi. Barangkali karena itulah sinetron jauh lebih disukai masyarakat kebanyakan dibanding mata acara lainnya.

Memang, tradisi mendengarkan tetua bercerita, menonton wayang kulit yang sarat makna, atau stambul Dardanella yang penuh petuah dalam menjalani kehidupan sehari-hari, semua itu menggambarkan kebutuhan masyarakat kebanyakan akan panutan dan bimbingan.
Jika minat baca begitu kecil, sedangkan pengaruh tradisi lisan masih sangat besar, maka sudah sepatutnya Pemerintah dan para intelektual merumuskan kriteria yang tepat sinetron seperti apa yang layak untuk ditayangkan secara nasional. Sebaiknya sinetron di luar kriteria itu hanya bisa ditayangkan di TV kabel.

Bagi kita di kota-kota besar sinetron tidak begitu terasa pengaruhnya karena kehidupan sosial dan cara pandang yang jauh berbeda. Namun bagi masyarakat kebanyakan di daerah-daerah, juga bagi anak-anak secara umum yang masih belum bisa membedakan antara baik dan buruk, maka sinetron bisa dijadikan sarana mereka untuk mempelajari kehidupan nyata sehari-hari, bagaimana berperilaku. Tak ubahnya seperti tradisi lisan yang pernah ada.

Pasti di beberapa perguruan tinggi sudah ada penelitian mengenai pengaruh sinetron terhadap perilaku masyarakat yang bisa dijadikan dasar untuk menyikapi sinetron. Perilaku melenceng anak-anak sekolah sekarang agaknya dipengaruhi sinetron remaja.
Ungkapan-ungkapan kasar tak berbudaya, anak-anak Sekolah Dasar dianggap tidak trendy kalau belum punya pacar, segala perbuatan negatif dari berbohong, fitnah keji, selingkuh, kekerasan dan sebagainya ada di sana. Kita yang tidak menyukai sinetron tidak mau menontonnya dan karena itu tidak menyadari bahayanya.

Juga sudah saatnya penayangan kekerasan diberi batasan seperti halnya dengan sex. Tayangan berita-berita demo anarkis, kekerasan di antara anggota kelompok, di institusi pendidikan, di kafe, di mana saja, selama ini dibiarkan untuk ditayangkan secara vulgar di jam-jam yang rentan. Ini sedikit banyak menanamkan pendidikan cara-cara kekerasan yang bisa digunakan saat dikuasai emosi.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: