Dini Hari di Kota Tua….

Foto: Zen RS

Jalanan masih amat lengang. Tengah malam sudah lama lewat, sementara subuh masih jauh.

Saya berdiri tepat di depan Museum Bank Mandiri. Di sebelahnya berdiri Museum Bank Indonesia dan di sebelahnya lagi berderet-deret bangunan-bangunan tua, terus tembus hingga ke Taman Fatahillah. Di seberang tempat saya berdiri, Stasiun Beos terlihat jelas dengan muka bagian atapnya yang membentuk setengah lingkaran.

Lalu hal sama kembali terulang: bangunan-bangunan tua itu seperti lebih jujur mengatakan usia yang sebenarnya…. Selalu begitu. Di mana pun. Tidak hanya di Malioboro dan Kota Baru di Jogja, Jl. Braga dan Jl. Asia Afrika di Bandung, Tulangan di Surabaya, Besuki di Banyuwangi, kawasan Panjunan atau Pelabuhan Cirebon hingga Kota Lama atau Pasar Johar di Semarang. Bangunan-bangunan tua di semua titik-titik itu terasa lebih jujur mengutarakan usia yang sebenarnya pada titimangsa dini hari macam ini.

Kelupas semen di dindingnya, coklat kusam di tiang-tiangnya atau hitam pekat di lantainya tak lagi tertutupi oleh hiruk pikuk aktivitas orang-orang yang berlalu lalang atau bising kendaraan yang melaju. Semuanya terlihat lebih jelas. Lengang dan hening makin menyempurnakan aura ketuaan dan kelampauan mereka.

Gerimis mempercepat kelam, juga mempesiang malam. Dengan gegas yang tak tertahan, saya memburu halte tak jauh dari Museum Bank Mandiri. Letaknya lebih dekat dengan Museum Bank Indonesia. Di situ tertulis”Halte Batavia”. Deretan gedung tua di belakang Museum Fatahillah dan jalan sempit menuju Taman Fatahillah makin dekat jaraknya.

Kali ini saya tak sendiri. Seorang ibu pengasong minuman instan duduk beralas tikar bersama seorang perempuan yang lebih muda. Ada dua orang lelaki di sana, seorang tak jelas siapa dan satunya lagi seorang pengemudi bajaj yang kendaraannya terparkir tak jauh dari situ. Saya pesan segelas kopi. Warna hitam air kopi berikut uap panasnya yang mengepul tampak jelas dari balik gelas minuman plastik transparan. Kopinya tak enak. Bau kaporit terlalu menyengat.

Lamat-lamat saya dengar orang-orang di halte ini sedang mencandai perempuan muda yang mengawani ibu pengasong minuman. Status suaminya yang hanya tukang ojek sepeda menjadi obyek candaan yang riuh. Saya tak ikuti perbincangan itu. Rokok di tangan saya rasanya lebih nikmat dihisap pada dini hari yang dingin oleh gerimis ini.

Gerimis belum reda, tapi terlihat makin tipis rintiknya. Saya segera beranjak dari sana. Saya tak melintas jalan untuk langsung menuju Taman Fatahillah, melainkan berbelok ke kiri, ke arah barat. Di kanan kiri bangunan-bangunan tua betul-betul terlihat lebih kusam. Tak sampai 5 menit, saya sudah bertemu dengan Kali Besar. Groot Rivier.

Dulu, pada paruh kedua abad-17 hingga paruh pertama abad-18, sungai ini menjadi salah satu urat nadi Batavia. Kali Besar ketika itu membelah wilayah Kota Batavia bagian Barat [Westly der Stadt], menjadi dua bagian. Di wilayah ini, orang-orang Eropa dari kelas menengah ke bawah banyak tinggal, macam orang Portugis, juga orang-orang Cina. Kali Besar pula yang menjadi saksi bagaimana orang-orang Cina dibantai dan rumah-rumah mereka di sepanjang Kali Besar ini dibakar dalam peristiwa kelam yang terjadi pada 1740.

Tadinya saya berniat melintasi Kali Besar untuk menelusuri sisi baratnya, mencoba duduk-duduk di bangku-bangku taman yang sengaja di pasang di sana, mungkin akan menyenangkan duduk di salah satu bangku tepat di depan Hotel Batavia yang tampak benderang dari kejauhan. Di sisi barat Kali Besar, ada bangunan Toko Merah yang legendaris, dibangun atas perintah Baron van Imhoff, bekas Gubernur Jenderal VOC. Tak banyak yang pernah masuk ke dalamnya. Robert Tambunan, Ketua Perusahaan Perdagangan Indonesia, pernah menawari saya untuk membuka akses ke Toko Merah, tapi pastilah tidak malam ini.

Tapi saya tak jadi melintasi Kali Besar untuk menelusuri sisi barat trotoarnya. Beberapa langkah menjelang jembatan, Saya memilih berbelok ke kanan, ke arah utara. Terdengar suara musik dangdut menggema dengan keras. Saya tertarik menuju ke sana. Dari jauh, tampak kerumunan orang, beberapa sedang berjoget.

Ah, ternyata itu tempat minum-minum kelas kaki lima. Ada belasan lelaki dan beberapa perempuan paruh baya dengan penampilan menor. Suasananya khas trotoar. Suara pas-pasan seorang biduan jalanan sudah lebih cukup mengundang lelaki-lelaki setengah mabuk ini untuk berjoget dahsyat. Sisanya duduk-duduk di kursi. Tak ada lagi tempat duduk di sana. Tatapan mata tak bersahabat beberapa lelaki membuat saya lebih yakin untuk meneruskan perjalanan. Lain kali saya akan singgah untuk menenggak bir di sini, kata saya dalam hati.

Sempat saya melirik ke arah barat, di seberang Kali Besar. Di sana ada diskotik yang masih menyala lampu-lampunya. Namanya Athena Discothique. Taksi-taksi masih berjejer di gerbangnya. “Gila juga,” pikir saya, “Ini nyaris jam setengah empat, dan dangdut masih berkumandang di mana-mana, seperti janjian kencan dengan adzan.”

Saya terus bergerak ke utara. Dari kejauhan, Jembatan Kota Intan –yang disebut-sebut sebagai bangunan tertua yang masih tertinggal di kawasan ini—melambai seperti minta disambangi. Bangunan ini dibangun pada 1628, tapi hanya pondasinya yang menancap ke kali itu yang masih asli. Nyala lampu di tiang-tiangnya juga warna merah besi-besinya terlihat jelas.

Tapi kali ini tak saya ikuti lambaiannya. Masih belasan meter dari jembatan itu, saya memilih berbelok ke kanan, ke arah timur, menuju Taman Fatahillah. Saya memasuki gang tak begitu luas yang diapit [lagi-lagi] bangunan-bangunan tua. Beberapa mobil terparkir di situ. Baru beberapa langkah, terlihat ada aliran air di sesela batu andesit. Saya bersijingkat. “Ini pasti sisa gerimis tadi,” pikir saya.

Lalu terdengar suara cekikikan, sepertinya suara dua perempuan. Beberapa langkah kemudian, di sela mobil-mobil yang terparkir di sisi kanan gang, terlihat dua perempuan sedang berjongkok. Mereka memelorotkan celananya. Sial, itu tadi ternyata air kencing. Menyaksikan saya bersungut-sungut, dua perempuan itu makin kencang menebarkan cekikik yang kali ini terasa lebih menjengkelkan daripada yang pertama ku dengar tadi.

Saya perhatikan lebih lekat dinding-dinding bangunan-bangunan tua di kanan kiri gang. Lampu-lampu redup di beberapa atapnya menebarkan warna merah bersemu kuning. Suasana tak begitu gelap, tapi jauh dari benderang. Gedung-gedung ini terhubung tanpa putus sehingga tak ada celah di antara satu sama lain. Bentuknya seragam. Di dinding bawah terlihat jendela kaca besar yang bentuknya persegi panjang dengan bagian atas membentuk elips setengah lingkaran. Kacanya tebal, bercorak kotak-kotak dengan bintik-bintik yang kasar.

Sempat saya berdiri sebentar di salah satu pintu bangunan itu. Menyandar di dindingnya. Ada hawa dingin yang pelan-pelan merambati punggung saya. Kretek ku hisap kuat-kuat mencoba menawarkannya. Sempat kulihat atap bangunan itu. Terlihat renta dan rapuh. Juga sedikit mencekam. Tak ada siapa-siapa lagi di sepanjang gang ini. Candrian, arkeolog sekaligus Ketua UPT Kota Tua, satu waktu pernah menawari saya untuk ikut aksi gila Hendra, sorang stafnya, yang kerap “memburu hantu” yang katanya sering berkeliaran di gedung-gedung ini malam-malam.

Tak sampai kretek habis, saya sudah bergerak terus ke timur. Tak sampai dua puluh meter, saya pun tiba di Taman Fatahillah. Dari sisi baratnya, terlihat jalan pedestrian yang dua kali lebih lapang dari gang yang baru saja ku lewati. Menengok ke arah selatan, tampak ruas jalan yang menuju arah Glodok. Halte Batavia yang tadi saya singgahi terlihat cukup jelas. Lampu-lampu di jalan pedestrian ini lebih terang dari gang tadi. Ruasnya yang lebih lapang membuat jalan ini terasa lebih benderang dan tidak pengap.

Taman Fatahillah sendiri terasa benar-benar lengang. Hanya setelah bergerak ke tengahnya sajalah lamat-lamat saya bisa mendengar percakapan beberapa anak muda yang sedang duduk-duduk di depan Museum Fatahillah, tepat di sisi selatan Taman Fatahillah. Di sisi utara, Café Batavia terlihat juga lebih terang, kendati tentu saja sudah tak lagi beroperasi di waktu dini hari macam ini.

Saya berdiri tepat di tengah Taman Fatahillah, dekat sebuah bangunan kecil. Diperkirakan dulu di situlah berdiri air mancur di tengah Staadhuisplein (nama lama Taman Fatahillah). Perkiraan itu diambil dari lukisan cat air yang dibuat oleh Johannes Rach, seorang berkebangsaan Denmark yang meninggal di Batavia pada 1783. Dari lukisan itulah dilakukan penggalian di tengah Taman Fatahillah. Hasilnya, memang ditemukan bekas saluran air yang tampaknya dulu menjadi pemasok bagi air mancur di Staadhuisplein.

Di hamparan batu andesit yang menjadi alas Taman Fatahillah, memancar cahaya warna-warni yang membentuk garis silang menyilang sedemikian rupa. Lagi-lagi, garis-garis yang terbentuk oleh semburat cahaya lampu yang ditanam di sesela andesit ini menyerupai garis-garis yang ada di gambar buatan Rach. Garis-garis itu tak lain adalah jalan setapak tempat orang-orang dulu melintasi Staadhuisplein.

Saya menapaki garis-garis cahaya itu. Dari ujung ke ujung. Dari garis yang satu ke garis yang lain. Saya membayangkan kalau saya sedang menapaktilasi tanah yang dulu pernah diinjak para Gubernur VOC yang mengangkangi Mataram dan Jawa itu.

Nama Staadhuisplein sendiri diambil dari Staadhuis, semacam Balai Kota. Jadi, Staadhuisplein kira-kira seperti alun-alun, semacam city hall. Staadhuis sendiri kini menjadi Museum Sejarah Jakarta atau Museum Taman Fatahillah. Dari Staadhuis inilah keputusan-keputusan penting diambil. Jika terjadi eksekusi mati, para jaksa dan perangkat pengadilan akan menyaksikannya dari ketinggian lantai dua bangunan. Di lantai dasar, terdapat penjara bawah tanah yang pengap. Pembangkang terkenal dari Madura, Untung Suropati, pernah mendekam di situ, juga Pangeran Diponegoro sebelum dibuang ke Ambon.

Foto: Zen RS

Bekas bangunan Staadhuis tampak terang benderang. Tata lampu yang diatur dengan cermat membuat bangunan ini terlihat sungguh cantik. Lampu-lampu yang ditanam di tanah dan memancar ke atas membuat dinding-dindingnya bercahaya sedemikian rupa. Pilar-pilar dan jendelanya yang tinggi terlihat anggun.

Saya mencoba mencari kemungkinan lain: Inikah sisa-sisa keindahan Batavia pada abad-abad lampau? Ketika itu, semenjak pertengahan abad-18, Batavia tampil sebagai kota dagang yang representatif nyaris dalam segala hal. Ia seperti copy yang sempurna atas Amsterdam. Julukan “Koningen van Oosten” (Ratu dari Timur) pun melekat padanya. Penjelajah legendaris dari Inggris, James Cook, yang singgah pada 1770, juga terpesona. Ia bahkan memberi sebutan lain bagi Batavia: “The Pearl of Orient” (Mutiara dari Timur).

Tapi tak lama setelah Cook singgah di Batavia, terutama menjelang pergantian abad, kota ini pelan-pelan mulai diintai maut. Wabah kolera dan pes melela di mana-mana, membikin ribuan penghuninya jatuh bertumbangan tanpa nyawa tanpa atma. Seiring runtuhnya VOC pada 1799 karena wabah korupsi, Batavia yang satu ini pun mulai ambruk karena wabah yang sebenar-benarnya wabah. Tak ada lagi Koningen van Oosten [Ratu dari Timur], yang ada hanya Grar de Hollanders [Kuburan Belanda].

Dini hari ini saya hanya menyaksikan sepotong kecil sisa-sisa wajah indah tak terpermanai Sang Ratu dari Timur.

Lalu, menjelang Subuh, saya bergerak menuju dinding di sisi barat Staadhuis atau Museum Fatahillah sekarang. Pada salah satu canopy yang menaungi pintu kecil di sana, saya melihat seorang lelaki tua tertidur dengan nyamannya. Di depannya, berdiri dengan tenang sebiji sepeda tua. Di bawah stangnya terdapat triplek bertuliskan kalimat: “Sepeda Ojek Disewakan Buat Aksi Foto-Foto. Hub Bpk Sugeng Purwito”.

Dini hari begini dia pasti tak melayani pengunjung, sebab tak ada pengunjung, selain saya yang iseng keluyuran malam-malam.

Waktu kian mendekati subuh. Kumandang ayat suci al-Qur’an yang kerap dilantunkan menjelang adzan sudah mulai membekam pendengaran. Rancak musik dangdut tak lagi terdengar. Tapi, beberapa anak muda yang duduk-duduk di depan gerbang Musuem Fatahillah terdengar bernyanyi. Diiringi petikan dawai gitar yang sedikit sember, sebuah syair lagu tua yang cukup akrab terbantun perlahan: “Andai kan kau datang kembali….”

Sayang saya tak bisa berjanji, karena dengan cermin pun saya sedang enggan berbagi! [Zen RS]

4 Responses

  1. wuih,,,kere,,,,n jadi nged masa lalu…

  2. Keep blogging….aku seneng postingannya…

    main2 yah ke “rumahku”

  3. KOta tua is the best to visit

  4. mantap banget, memang keren kota tua..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: