Category Archives: pentas

Play Me, I’m Yours

Sudah sepuluh tahun ini Luke Jerram membawa instalasi “Play Me, I’m Yours” berkeliling dunia. Bermula pada 2008 di Birmingham, Inggris, 15 piano ditempatkan di berbagai lokasi umum seperti stasiun, taman, mall dsb selama 2-3 minggu.
Seusai acara, piano-piano tersebut dihadiahkan ke sekolah-sekolah atau komunitas di area sekitar.

Idenya muncul saat ia menunggu cucian di sebuah laundry beberapa akhir pekan. Ia mengamati bahwa setiap minggu datang orang-orang yang sama, tapi tak ada yang ngobrol. Dan tiba-tiba ia pun tersadar bahwa:
“Di dalam sebuah kota pasti ada ratusan invisible communities, komunitas yang tak terlihat, secara reguler mereka bersama menghabiskan waktu dalam kebisuan. Dengan menempatkan piano di ruang kebisuan, ia menjadi solusi masalah, berperan sebagai pemicu percakapan dan membawa dinamika dalam ruang publik. Ada beberapa perkawinan terwujud berkat proyek ini.”

Continue reading Play Me, I’m Yours
Advertisements

Antara Turah, Laskar Pelangi dan Endgame.

Sebuah berita bagus menghentak kebosanan pada kegaduhan politik:
Film Turah akan berangkat mewakili Indonesia menuju Piala Oscar 2018.

Turah mengangkat kehidupan desa Tirang di wilayah Tegal yang masih belum bisa menikmati air bersih dan listrik. Mengenai sebab terpilihnya film ini, Christine Hakim menyatakan: “Kekuatannya, kejujuran, dan kesederhanaannya, dari segi tematik dan penggarapannya. Pesannya kuat, di antara kemunafikan kehidupan. Gantung diri sebagai kekalahan, menjadi cermin untuk kita semua.”
Sementara Wicaksono Wisnu Legowo, sang sutradara, terkesan dengan dampak filmnya yang membuat banyak orang menjadikan desa Tirang sebagai tujuan wisata: “Jadi ada suasana baru, beberapa kali banyak yang datang ke Tirang. Saya merasa seperti membuat Laskar Pelangi, bahwa film itu impact-nya ke sana.”

Continue reading Antara Turah, Laskar Pelangi dan Endgame.

Puisi di sebuah Ruang Keluarga

Photo by Zen RS
Photo by Zen RS

Sebuah cerita yang mirip anekdot dikisahkan Reda Gaudiamo beberapa saat sebelum ia dan pasangannya, Ari Malibu, melantunkan musikalisasi puisi “Aku Ingin” karya Sapardi.

“Sepasang pengantin yang memilih puisi ini dalam undangan pernikahahannya menganggap sajak “Aku Ingin” sebagai karya Kahlil Gibran. Saya bilang padanya bahwa itu sajak Sapardi. Tapi dia tak percaya. Katanya, gak mungkin sajak puisi sebagus ini ditulis orang Indonesia.”

Para penonton yang menyesaki pertunjukan musikalisasi puisi di Newseum Cafe tergelak ramai-ramai. Tapi Reda belum menyelesaikan kisahnya.

Continue reading Puisi di sebuah Ruang Keluarga

Dardanella. Opera Melayu

Di Usmar Ismail Hall pada 29 Mei lalu digelar La Serva Padrona oleh Indonesia Opera Society bersama Istituto Italiano di Cultura. Sebuah pementasan yang mendapat standing ovation panjang. Bintang utamanyya Massimo di Stefano dan Linda Sitinjak, keduanya pemain opera nomor satu di Italia dan di Indonesia.

Meski tidak ada kaitannya, peristiwa budaya Ini membangunkan ingatan pada Opera Melayu dan Dardanella. Dari hasil pencarian, laporan pers mencatat baru pada 1934 Dardanella mementaskan lakon-lakonnya di Jakarta, di gedung Thalia —di era 1940an Thalia yang berlokasi di jalan Hayam Wuruk dikenal sebagai bioskop.

Continue reading Dardanella. Opera Melayu

Andjar Asmara. Inspirator Usmar Ismail.

Publik Kota Kecil Lebih Menikmati Pertunjukan

Berikut ini penuturan Abisin Abas, alias Andjar Asmara, sang penulis skenario cerita-cerita dalam pentas Dardanella.

Selama saya bekerja pada Dardanella ini, makin sehari makin besarlah keyakinan saya, bahwa tonil Melayu mempunyai harapan yang baik dimasa yang akan datang.
Bagi saya sendiri arti penting tonil ialah sipatnya sebagai pendidik budi pekerti. Dan peran tonil untuk character forming itu tiada boleh kita abaikan.

Tuan sendiri tentu tahu. bahwa apabila kita telah amat lama membaca atau mendengar sesuatu cerita, seringlah kita lupa segala seluk beluk cerita itu, tetapi yang tinggal melekat dl kalbu kita hanyalah ingatan tentang sari cerita itu, baik buruknya sesuatu hal, sesuatu perbuatan yang terlukis dalam cerita itu.
Dengan tonilpun demikian halnya. Dalam tiap-tiap lakon senantiasa saya gambarkan sesuatu perjuangan antara baik dan buruk, antara nafsu dan keinsafan akan yang benar dan baik.

Continue reading Andjar Asmara. Inspirator Usmar Ismail.

Dewi Dja menembus Hollywood

Dewi Dja seorang wanita luar biasa. Ia kuasai banyak bahasa. Kemampuannya berakting dan menari mempesona banyak orang. Sejak 1930an ia mengelilingi dunia dengan nama Devi Dja and her Bali-Java Dancers —with Native Gamelan Orchestra. Performansinya terdiri dari 14 adegan individual tari Jawa dan tari Bali.

Di Amerika ia membuka sekolah tari. Muridnya kini banyak yang memiliki studio ternama di Hollywood.
Dewi Dja adalah orang Indonesia pertama yang menembus Hollywood. Ia menari atau menjadi koreografer untuk film Road to Singapore (1940), Road to Morocco (1942), The Moon and Sixpence (1942), The Picture of Dorian Gray (1945), Three Came Home (1950) dan Road to Bali (1952).

Di depan gedung PBB, ia ikut para mahasiswa berdemo menyokong kemerdekaan Indonesia. Bung Karno menjemputnya di bandara saat ia pulang. Continue reading Dewi Dja menembus Hollywood

Mata Hari. Mata-mata atau penari?

Kisah hidupnya berubah-ubah sepanjang 100 tahun.

Matahari pagi itu muncul jam 06.11.
Semua yang hadir mengenakan mantel tebal,
menahan dinginnya pagi Oktober 1917.

“Ce n’est pas nécessaire“ tolaknya dengan nada dan gaya seorang Lady,
saat sang komandan regu menawarkan penutup mata.

Jam 06.15 duabelas tembakan mengelegar.
Mata Hari tak ada lagi.

Duabelas tahun sebelumnya, 13 Maret 1905, ia dikerumuni penggemar dan wartawan. Performansi tarinya di Museum Guimet, Paris, merupakan inovasi yang menghebohkan kalangan elite Paris. Berlatar patung Dewa Shiwa, terbalut dalam kostum mirip wayang, ia menari setengah telanjang.
Sang penari bercerita bahwa namanya Mata Hari, dari bahasa Sansekerta diterjemahkan sebagai “the eye of the dawn”. Bahwa dirinya berasal dari India Selatan, dari keluarga kasta Brahma, bahwa sejak kecil dirinya dididik untuk menari di candi Shiwa. Bahwa tari-tarian yang tak pernah dipertunjukkan di luar candi adalah keahliannya.
Continue reading Mata Hari. Mata-mata atau penari?