Category Archives: Arsip 2007

1908, 1928, 1968, 1998, 2008

Wajah baru Bataviase Nouvelles hari ini, selain menyambut hari baru setelah Seabad Kebangkitan Nasional juga menandai momment ketika blogstat menunjukkan angka 99.009 hits [selangkah sebelum hits ke seratus ribu, sekedar refleksi membiasakan untuk siaga sebelum terjadi].

Di puncak peringatan seabad Kebangkitan Nasional kita kehilangan Sophan Sophiaan; SK Trimurti; dan Ali Sadikin, tokoh-tokoh bangsa yang konsisten lurus dan bersih dalam upaya membangun Indonesia yang lebih baik. Mereka akan selalu dikenang bangsa ini terutama karena keberhasilan untuk tetap lurus hingga akhir hayat meski berada di pusat pusaran berbagai godaan. Terimakasih. Dengan berat hati namun penuh keikhlasan, kami panjatkan selamat jalan menuju Sang Pencipta .

Semoga kehilangan tokoh-tokoh bangsa di seabad kebangkitan bangsa ini bukanlah tanda-tanda bahwa bangsa kita akan kehilangan sesuatu yang lebih besar lagi. Kita tahu bahwa Sang Pencipta menciptakan segala sesuatu dengan keteraturan. Dengan hukum-hukum alam, sunatullah, yang kita pahami dengan sangat lambannya melalui pengalaman-pengalaman para rasulullah sejak Nabi Ibrahim mau pun melalui para ilmuwan seperti Archimedes, Galileo, Ibn Saud, Newton…

Sedang apakah anak-anak muda bangsa ini sekarang?
Seratus tahun lalu mereka —usia 19 hingga 27 tahun— dengan keterbatasan ilmu dan infrastruktur mampu menyatukan visi untuk mengangkat derajad bangsanya. Dimulai dari komunitas-komunitas terdekatnya di Jawa, faham pun berkembang meluas ke seluruh negeri. Proses yang memakan 20 tahun untuk bersama-sama menyatakan tekad dalam bentuk Sumpah Pemuda di Oktober 1928.

Kini, meski kemajuan teknologi informasi memberi kemungkinan percepatan ratusan atau ribuan kali lipat, ternyata kita tidak beranjak jauh dari sepuluh tahun lalu. Mengapa?
Barangkali karena reformasi hanya diisi oleh pertengkaran para orang tua yang tidak memiliki lagi sifat-sifat kesatria, sibuk mencari posisi di kekuasaan, sementara orang muda kembali sibuk merancang sendiri masa depannya nanti.
Padahal perkembangan global membutuhkan kontribusi para orang muda yang bersifat kesatria dan berdaya kreatif untuk merancang masa depan bangsa seabad ke depan.
Para orang tua jadilah mentor dan menjaga rambu-rambu, bukankah untuk belajar menggunakan handphone canggih atau notebook dan hotspot saja sudah malas. Padahal setiap bulan muncul model baru.
Lalu bagaimana mempelajari segala kebutuhan infrastruktur yang tepat untuk menghadapi permasalahan global dan karakter-karakter khas otonomi dalam perkembangannya yang semakin hari semakin pesat?

Sejarah membuktikan bahwa bangsa ini bisa berkembang jika kaum muda intelektual bergerak. 1908 dan 1928 adalah tonggaknya. 1968 dan 1998 adalah ketika Sidang Istimewa para wakil rakyat yang mandul tiba-tiba menjadi kuat ketika dipengaruhi oleh pergerakan kaum muda.

2008 adalah seabad Kebangkitan Nasional. Ayolah anak muda, bangun!
Mari kita jadikan 2028, seabad Sumpah Pemuda nanti sebagai tonggak kejayaan bangsa.

Advertisements

Siapakah yang bertepuktangan?


Harga BBM belum diumumkan, dampaknya sudah tersebarkan oleh media massa. Demo di mana-mana, penimbunan BBM, kenaikan harga bahan-bahan pokok, jeritan kaum miskin…

Tak terhindarkan lagi.
Semoga ini bukan pengulangan peristiwa 10 tahun lalu.
Semoga saja demo-demo yang mengatas namakan rakyat ini tetap menjaga misinya membela dan melindungi rakyat. Semoga para koordinator demo bisa menjaga demonya untuk tidak berbuat anarki.
Dan semoga para polisi —yang diberi tugas untuk menjaga ketertiban dan melindungi masyarakat dari perbuatan anarki— mampu menahan emosi.

Semoga juga para koordinator demo dan kepolisian tahu bahwa dalam setiap demo selalu ada provokator. Bahwa provokator berusaha memancing emosi polisi untuk berbuat kekerasan. Bahwa provokator berteriak dari dalam kerumunan mendorong-dorong untuk menghancurkan saja suatu obyek, lalu diam-diam menjauh. Bahwa provokator bisa menyusup di dalam kerumunan pendemo. Bahwa provokator juga bisa berada di antara polisi. Bahwa provokator dibayar oleh mereka yang ingin memperoleh manfaat politis dari suatu kematian dalam demo.

Semoga para koordinator demo dan kepolisian tahu cara mengenali provokator di antara mereka. Jika tidak, maka rakyat yang dibela dan dilindungi oleh pendemo, juga oleh polisi, akan semakin menderita. Dan yang berpesta lagi-lagi mereka yang berhasil mengelabui pendemo dan polisi.

Semoga para koordinator demo sadar bahwa polisi juga pemuda-pemuda aset bangsa yang hadir di situ karena tugas. Bahwa mereka sebenarnya juga rakyat, orangtua mereka juga rakyat yang memeiliki penderitaan yang sama ditambah rasa was was akan nasib anak mereka ketika berhadapan dengan rakyat.

Kekuatiran seperti ini pernah hinggap Ketika mengikuti 100ribu manusia yang turun ke jalan-jalan di pusat kota Beograd, menentang pemerintahan Milosevic,
Tapi para koordinator demo dan tim satgas mereka ternyata piawai dalam menjaga ketertiban massanya.
Di dalam kerumunan massa, sesekali tampak di sana sini sekelompok satgas menggelandang atau mengejar seseorang. Sangat mungkin orang itu adalah provokator.
Di beberapa tempat kadang terlihat sebagian besar massa tiba-tiba duduk dengan serentak, menyisakan seseorang yang masih berdiri keheranan. Sesaat kemudian ia digelandang ke luar dari kerumunan.

100ribu manusia turun ke jalan selama dua hari. Tak ada anarkisme. Sangat berbeda dengan demo sebelumnya yang menewaskan seorang mahasiswa dan seorang polisi.
Mereka belajar dari pengalaman.
Semoga kita juga mampu belajar untuk tidak mengorbankan siapa pun.
Amin.

Emansipasi atas nama para ayah

Besok Hari Kartini. Ketika sebagian kalangan bangsa ini mempermasalahkannya, bangsa lain malah menjadikan Kartini sebagai inspirasi untuk hari ini dan hari-hari mendatang.
Ketika tahun lalu pemerintah kota Den Haag menganugerahi Kartini Prize kepada Rahma El Hamdaoui, dan The Royal Holland Society of Sciences menganugerahi Kayin Leung dengan Raden Ajeng Kartini Prize, di Indonesia tak ada yang tergugah akan refleksi yang terpantulkan.

Yang membaca surat-surat ibu Kartini sudah pasti memahami fenomena langka yang dimiliki bangsa kita (dianggap oleh Watson CW sebagai salah satu pemicu terbangunnya identitas nasional – Of Self and Nation: Autobiography and the Representation of Modern Indonesia – 2000) 6 tahun sebelum Kebangkitan Nasional. Sayangnya tidak dikembangkan untuk membekali generasi-generasi berikutnya. Continue reading Emansipasi atas nama para ayah

Televisi menebar kerusuhan dan perilaku negatif

Judul yang provokatif memang. Maaf, ini karena rasa prihatin dan was-was yang sudah memuncak. Beberapa hari belakangan ini di layar kaca semakin sering ditonjolkan aksi-aksi demo kekerasan, dan seperti biasa: lengkap, sangat detil, dan berulangkali ditayangkan. Seakan mengajarkan pada masyarakat ala buku panduan yang berembel-embel HOW TO.

Meski tidak mampu membuktikan, hati kecil yakin sekali bahwa aksi demo dibumbui kekerasan di negeri ini merupakan kontribusi televisi. Juga kekerasan-kekerasan lain di luar demo. Ditayangkan tanpa pandang waktu atau siapa yang menyaksikan. Menyerahkan pada orang rumah untuk menyensor apa yang dilihat anak? Di tengah kesibukan dan stress akibat macet? Di tengah mahalnya hiburan di luar televisi?
Sungguh tidak mungkin. Hanya mereka yang punya uang akan punya peluang untuk memilih kemana moral anak-anaknya diarahkan.

Sadarkah anda bahwa kebebasan informasi sebetulnya hanya dinikmati oleh berita-berita negatif. Berita-berita baik —bahkan panduan moral yang dirindukan jutaan orang— bisa ditenggelamkan oleh infotainment. Continue reading Televisi menebar kerusuhan dan perilaku negatif

Hari ini Hari Meteorologi Sedunia

Sejak 1950 setiap 23 Maret adalah World Meteorological Day, tahun ini slogannya Observing our planet for a better future. Di Kantor PBB di Jenewa acara peringatan akan dilaksanakan lusa, 25 Maret 2008.

Sekedar ingin tahu, apa sih acaranya:

Dr Rajendra Pachauri, penerima Nobel Perdamaian 2007 dijadwalkan berbicara selama 30 menit tentang  perubahan iklim: harnessing knowledge towards a better future. Lalu pemutaran film Observing our planet. Securing our future. Juga ada pameran foto “Four Elements in Nature” dan pembacaan puisi Punctuated by poems dari sebuah buku antologi puisi dan tulisan ilmiah tentang perubahan iklim: Feeling the pressure.

Patriot dan Politick

Semalam Cinemax memutar film Running Mates (2000) tentang dilema kandidat presiden dalam menentukan pasangan sebagai wakilpresiden, diproduseri oleh Gerald Rafshoon, mantan direktur komunikasi Gedung Putih era Jimmy Carter.

Ada satu kalimat yang dua kali diucapkan oleh juru kampanye Lauren, di awal dan di akhir film: “I am a patriot, Sir.”  Dan terbersit pertanyaan: adakah patriot di arena politik kita masa kini?

Kata patriot muncul 400 tahun lalu di Prancis, patriote, berasal dari kata Latin patriota dan Yunani patriotes, asal katanya patria, pater, bapak.
Menurut definisi Merriam-Webster, patriot adalah “seseorang yang mencintai negaranya, mendukung pemerintah dan haluan negaranya.”
Menurut Encarta: “orang yang dengan kebanggaan mendukung atau membela negara dan haluan negaranya.”

Melihat apa yang dicontohkan oleh kebanyakan politikus kita, terkesan bukanlah sikap-sikap patriot, tetapi lebih mengarah pada perilaku seorang politick.

Urban Dictionary menjelaskan politick adalah “seseorang yang memasuki karir politik untuk kepentingan pribadi dengan mengorbankan kepentingan orang lain. Parasit dalam sistem politik yang menyebabkan berbagai keburukan.”

The Patriotic Post mengurainya sebagai “seorang politikus yang mengutamakan kepentingannya sendiri daripada kepentingan mereka yang diwakilinya. Para politikus ini menggerogoti sumber-sumber berharga untuk menghidupi teman-teman dan keluarganya”.

Dalam Running Mates, kandidat presiden ditawari 100 juta dollar jika memilih Morris sebagai pasangannya…