Merdesa atau Mati

Jika pekik “MERDEKA” pernah begitu menggetarkan di jalanan Jakarta pada tahun-tahun pertama kemerdekaan, maka imaji apa yang mencuat dari grafiti bertuliskan kata “MERDESA” yang muncul di beberapa dinding di tepian jalanan Jakarta?

Yulian Firdaus

Foto: Yulian Firdaus

Pada salah satu malam flaneur saya di jalanan Jakarta, grafiti itu saya jumpai di sebuah kolong jembatan kereta api di sebelah utara kota tua yang menuju arah Pelabuhan Sunda Kelapa. Di sana tertulis: “MERDESA ATAU MATI”.

Salah tulis? Saya yakin tidak. Sebab, saya menemukannya kembali di dinding sebelah timur Hotel Sriwijaya di Jalan Veteran 1, Jakarta Pusat. Letaknya tak jauh dari Stasiun Juanda, hanya 50 meter dari Halte Busway Juanda. Di sebelah timurnya, melintang Ciliwung. Di timurnya lagi, menjulang Istiqlal yang agung.

Tapi di situ, tak tertulis kalimat “MERDESA ATAU MATI”, melainkan kalimat “MERDESA = HIDUP LAYAK”.
Ada banyak alasan kenapa saya tertarik dengan grafiti “Merdesa”, terutama grafiti yang saya lihat di Jalan Veteran.

Pertama, saya hampir tiap hari melewatinya, terutama saat hari masih begitu dini, antara jam 2 hingga jam 4 pagi. Itulah jam-jam krusial bagi perut saya, sewaktu lapar mulai menghajar, dan persediaan kretek biasanya sudah mengempis. Dalam perjalanan menuju warung kopi yang menyediakan indomie rebus dan rokok, saya tak pernah alpa menengok grafiti itu.

Jika sudah begini, rasa-rasanya, grafiti “Merdesa” berbunyi lebih nyaring karena –inilah alasan keduanya—tak jauh dari situ selalu ada belasan orang yang tidur berjejer, beralas kadang sarung kadang kardus, berbantal tangan sendiri dan berselimut spanduk-spanduk yang tak jelas asal-usulnya. Di sekitarnya, terparkir beberapa sepeda yang di jok belakangnya terpasang termos air dan pada stangnya bergelantungan berjenis-jenis minuman sachet. Bukan hanya itu, selalu ada beberapa gerobak terparkir, kadang tanpa isi kadang penuh dengan kertas, kardus dan botol-botol plastik minuman.
Merekalah paria di ibukota: para pemulung, manusia gerobak, pedagang minuman keliling, gelandangan dan kadang orang gila.

Zen RS

Foto: Zen RS

Sebelumnya, di sekitar situ, hanya ada beberapa mobil carteran yang biasa parkir dengan sopir yang terlelap di dalamnya. Saya tak ingat persis sejak kapan mereka menjadikan trotoar Jalan Veteran sebagai tempat tidur di waktu malam. Tapi belum lama, mungkin sekitar Juni atau Juli. Mereka mulai berdatangan saat menjelang Maghrib dan lenyap tanpa meninggalkan sampah saat hari belum berangkat terang. Datang dan pergi begitu saja, tapi pasti selalu kembali pada malam hari.
Ada seorang ibu-ibu yang selalu tidur memeluk dua anaknya yang masih kecil, ada seorang lelaki tua dengan misai tak terurus yang selalu berbaring mepet dengan tembok, ada seorang pemuda yang selalu tidur dengan dua kaki yang tegak dengan lutut menantang langit, ada seorang perempuan paruh baya yang selalu tidur dengan memegang korek kuping.

Saya mengingatnya dengan baik karena hampir tiap malam saya melewati mereka dan selalu saja mereka semua sedang lelap. Saya mengingatnya dengan baik sekuat ingatan saya pada beberapa lelaki yang selalu main catur di sana jika malam belum terlalu larut.
Sesekali saya dengar ada yang membawa radio kecil yang melantunkan tembang-tembang berbahasa Jawa dengan alunan gendhing yang ganjil tapi pasti selalu berhasil meninabobokan mereka, membawa mereka ke alam mimpi, entah memimpikan apa, mungkin memimpikan kampung halaman mereka di Jawa, kembali ke desa, bukan untuk merdeka, tapi untuk “Merdesa”
Jika melewati mereka pada jam-jam yang masih sore, terlihat betapa satu sama lain dari mereka seperti tak saling mengenal. Selain para lelaki yang main catur, jarang saya lihat mereka bercakap-cakap. Semua sibuk dengan dirinya sendiri. Acuh-acuh saja.

Satu waktu, sekira jam satu malam, saya melihat sosok besar di bawah selimut spanduk bergerak-gerak. Makin dekat saya makin sadar di bawah selimut spanduk itu ada dua orang, dengan suara yang tak jelas, tapi masih kelewat jelas untuk mengetahui bahwa keduanya sedang sama-sama “membuang hajat”. Keduanya menghentikan aktivitasnya saat langkah kaki saya terdengar jelas, tapi kembali kasak-kusuk begitu langkah kaki saya menjauh.
Itukah artinya “Merdesa = Hidup Layak”? Saya tidak tahu.

Pernah saya bertanya pada salah satu di antara mereka. Saat itu masih sekitar jam 10 malam dan banyak dari mereka yang masih terjaga. Dengan memesan segelas kopi susu pada salah satu dari mereka, saya duduk di trotoar persis di sebelah salah seorang di antara mereka. Saya bertanya padanya siapa yang menulis grafiti dan apa artinya grafiti itu.
“Mboten ngertos, Mas.”
Saya manggut-manggut. Seseorang yang duduknya agak jauh tiba-tiba menyahut: “Katanya itu ditulis pas subuh-subuh. Tapi ndak tahu siapa. Yang jelas bukan saya, kok. Mana ada duit buat beli cat (baca: pylox).”
“Trotoar  kan panjang, Mas. Tapi, kok, mereka tidurnya persis di dekat-dekat tulisan “Merdesa” itu ya?”
Lelaki yang duduk agak jauh itu mengangkat bahu. Tapi pedagang kopi di sebelah saya menyahut sembari mengarahkan telunjuknya ke arah selatan: “Daripada tidur di sebelah sana, mending di situ, Mas!”
Saya melihat arah yang ditunjuknya. Saya tergelak. Di sana ada grafiti dengan ukuran lebih besar tapi letaknya lebih bawah. Tulisannya: “Ko***l”. Saya tergelak. Sembari menawarkan sebatang kretek, saya menyahut: “Lha kan sama aja, toh? Sama-sama tulisan, kok.”
“Lha kalau sampeyan ke sini sama anaknya, dan dia nanya itu tulisan apa, apa sampeyan gak keblinger jawabnya?”

Lelaki pedagang kopi pamit hendak berjualan. Saya membayar. Ia berlalu ke arah selatan, menuju Monas, mengendarai sepeda mini, dengan suara kreot-kreot yang nyaring. Saya melihat punggungnya menjauh, punggungnya terlhat mengecil, terus mengecil, makin kecil, benar-benar kecil, lalu lenyap.
Inikah artinya menjadi “orang kecil”, terus mengecil, makin mengecil, selalu kecil, lalu lenyap?
(Lagi-lagi) saya tak tahu. Yang saya tahu –inilah alasan ketiganya–, 500 meter ke arah barat dari trotoar itu, Istana Negara berdiri dengan gagah, segagah Monas yang menjulang dengan pucuk bersepuh emas.

Saya ingat Soe Hok Gie. Pada halaman-halaman awal catatan hariannya, ia pernah melihat seorang gelandangan memakan sisa-sisa makanan yang ditemukannya di jalan. Gie, seingat saya, lantas menulis dengan memaparkan kontras seperti yang juga saya rasakan: semua pemandangan itu terjadi tak jauh dari Istana Negara.
Saya beranjak dari trotoar dengan menghabiskan sisa kopi susu yang saya beli barusan. Sekali tenggak habis. Tiba-tiba rasanya sedikit lebih pahit.

Tyas

Foto: Tyas

Saya berjalan ke selatan, searah menuju Monas, dan dengan sengaja melewati beberapa lelaki yang sedang main catur di bawah lampu yang memancarkan tempias keemasan. Ada beberapa sisa nasi bungkus di sana, salah satunya masih terbuka dan terlihat masih menyisakan makanan dengan sekerat tempe di sana.
Saya mendengar salah satu dari mereka berteriak: “Skak”. Saya menoleh sebentar, salah satunya tertawa terbahak, sementara lawannya duduk bertopang dagu, berpikir keras bagaimana caranya meloloskan “Raja” dari ancaman maut (Skak Mat)**.
Hidup memang bukan catur, tapi dalam hidup dan pertaruhan nasib, selalu ada situasi di mana nasib tiba-tiba menyodorkan “skak”*. Jika akhirnya “Skak” menjadi “Skak Mat”, apa boleh buat… barangkali itulah hidup: serangkaian pertarungan menghadapi “Skak”, sebelum akhirnya berhenti karena harus menerima “Skak Mat”.
Post-script:
*Skak: Posisi Raja terancam
* Skak Mat: Raja benar-benar tak terselamatkan dan dengan itu permainan pun berakhir. [zen rs]

Lihat juga:

Merdesa!! :D
Merdesa menurut Kamus Besar
Merdesa dalam bahasa Inggris

Krisis Air Minum nih wahai para politisi…

Sulit mendapatkan galon air minum pada hari-hari terakhir ini di Jakarta.
Ini mengingatkan pada peringatan yang berulang kali didengungkan oleh berbagai pihak sejak dekade lalu, bahwa dunia di ambang krisis akan air, bahwa bisa terjadi peperangan yang disebabkan oleh air, bahkan pada dasarnya kebanyakan perang memang terjadi karena perebutan wilayah yang kaya akan air. Bukan karena minyak.

Sepuluh tahun lalu mantan Sekretaris Jenderal PBB, Boutros-Ghali, mengingatkan PBB bahwa akan terjadi konflik atas sumber-sumber alam, terutama air. “Setiap orang tahu bahwa populasi kita menanjak pesat, tapi pertumbuhan air minum tidak seimbang.”
Guna menghindari pendeknya akal jika terjadi krisis, beberapa relawan bergabung membangun situs worldwaterwars.com sejak 1999, menyebarkan berbagai opini, peringatan, anjuran dll yang berkaitan dengan air minum.
International Network Archives pada Juli 2003 memproduksi enam infografika, salah satunya: Glass Half Empty, the coming water wars, yang menyajikan data kompleks distribusi air dunia dengan sangat menarik dan jelas.

Kavin Watkins
dari UNDP dan Anders Berntell dari Stockholm International Water Institute menganjurkan empat langkah untuk menghindari konflik akan air:

1. Pemerintah harus menghentikan perlakuan seakan-akan air adalah sumber yang tak akan pernah habis jika dieksploitasi tanpa referensi terhadap keberlanjutan ekologis. Kebijakan penggunaan air, konservasi, efisiensi tehnologi agroindustri dsb.

2. Negara-negara (Pemerintah Daerah) harus menghindari unilateralisme. Di hulu untuk setiap perubahan besar dalam sistem sungai, atau penggunaan air tanah yang berlebihan, perlu dinegosiasikan, bukan ditentukan berdasarkan pajak.

3. Pemerintah seharusnya melihat jauh melampaui batas negara (Propinsi) untuk melaksanakan kerjasama pengelolaan sumber air. Mendirikan institusi perairan yang kuat untuk memberi kerangka bagi identifikasi dan eksploitasi peluang kerjasama. Karena sungai-sungai di Uni Eropa melintasi beberapa negara, peraturan-peraturan di sana bisa menjadi acuan yang sangat baik.

4. Para pemimpin politik harus melibatkan diri. Diskusi tentang pengelolaan air lintas batas selalu didominasi oleh para ahli tehnis. Setinggi apa pun tingkat keahlian, dedikasi, dan profesionalisme mereka, absennya para pemimpin politik membuat jangkauan kerjasama cenderung sangat terbatas.

Banyak peringatan dan anjuran lain yang bermunculan di dunia luput dari perhatian kita selama sepuluh tahun terakhir ini. Sejak reformasi hingga kini kita masih hanyut dalam euforia demokrasi. Kaum intelektual dan potensi-potensi bangsa lebih banyak bermain politik dan kekuasaan.
Seribu kepala punya seribu ide, masing-masing membangun partainya sendiri-sendiri demi idenya itu dan mendorong massa untuk mempertahankannya.
Kenapa tidak duduk bersama merumuskan masa depan bangsa dan negara yang hingga kini hanya diurus secara sporadis?

Mari berpakaian organik

Ada satu jenis pohon yang secara tradisi dari dulu selalu dimanfaatkan, tapi sangat diabaikan Indonesia modern. Padahal dunia di sekitar kita justru sudah meliriknya sebagai salah satu solusi bagi masalah perubahan iklim.

Ia kini bisa menjadi pakaian organik, pakaian yang dibuat dari bahan-bahan non-kimiawi. Ia pohon yang tumbuh paling cepat di muka bumi. Dalam satu jam bisa tumbuh lima sentimeter. Untuk itu ia hanya butuh tetesan air hujan —sekurangnya 75 cm, hingga hujan deras 600 cm per tahun.

Ada sekitar 1.500 jenis dari 75 marga tumbuh di semua benua. Di Indonesia tumbuh 37 jenis dari 9 marga, tercatat di Departemen Kehutanan.

Jika pohon komersil lain butuh 25-70 tahun untuk dipetik manfaatnya, maka ia perlu 2-5 tahun saja, sekali lagi, hanya dari tetesan air hujan. Di Costa Rica seribu rumah dibangun dari 60 hektar pohon ini, untuk jumlah rumah yang sama dengan kayu biasa akan butuh 500an hektar pohon. Lebih kuat dari jati. Jika disapu lapisan tertentu, ia bisa lebih kuat dari baja. Mampu menahan beban hingga 4.000 kg/cm2.
Jika masih berupa tunas, lumayan sedap untuk dimasak.

 

Continue reading

Babu ‘ngeblog, majikan ‘ngapain?

Membanggakan sekali jika 10 persen saja para TKI yang menjadi pembantu di luar sana punya kualitas seperti Rie Rie ini. Blognya berisi celotehan, cerpen, serial, puisi —mudah-mudahan ada penerbit yang tertarik sehingga karyanya bisa dinikmati khalayak yang lebih luas lagi. Banyak tulisan yang membuat terpana, membuka mata hati. Ah, seandainya setiap orang tidak saling merendahkan maka tidak butuh kepribadian kuat seperti Rie Rie untuk menulis apa adanya sesuai isi hati dan cara pandang masing-masing. Dan barangkali antar kita nanti akan bisa lebih saling memahami dan saling bantu.

Segar, cerdas, pedas kadang membuat trenyuh, juga amarah pada para penanggungjawab nasib mereka. Continue reading

Newseum Cafe goes to visual art


Sudah enam minggu ini Newseum Cafe menjadi tempat obrolan soal visual art. Diawali dengan paparan Taufik Rahzen pada akhir Juli lalu, tentang Inovasi dan Invensi dalam senirupa —sejak corat coret di dinding gua hingga Cai Guo-Qiang yang melukis menggunakan bubuk mesiu.

Continue reading

Marhabban Yaa Ramadhan

Ramadhan selamat datang! Serasa cepat sekali Anda tiba, serasa belum cukup signifikan perbaikan selama setahun belakangan ini. Apakah kecepatan ponsel, internet, processor, informasi dsb itu juga membuat waktu berputar lebih cepat, ya…

Ada satu ayat Al Quran yang menebar harum cendana di Istiqlal saat tarawih malam tadi dan tiba-tiba saja membuat hati meringis, mata basah dan perasaan sejuk, galau, syukur, sesal entah apa lagi :

Transliterasinya:

Wa ‘Idhā Qīla LahumĀminū KamāĀmana An-Nāsu
Qālū ‘Anu’uminu KamāĀmana As-Sufahā‘u ‘Alā ‘Innahum
Humu As-Sufahā‘u Wa Lakin Lā Ya`lamūna

artinya kira-kira: Continue reading

Menakutkan…

“Anda sudah kalah,” ujar seorang teman. Lho, memangnya kapan kita menang? Kalah apa?

“Shaya shungguh tidak shuka ini: dyulu shaya shnang shkali —menikmatyi, kagoom— jika shaya lihat baniyak orang ke masjid, indah shkali jubah-jubah putih di lapanggan hijaw, nikmat shkali dengar azan magrib. Apalagi bulan puasa. Wah, enak.”

Saya mulai meraba maksudnya.
Dan ia melanjutkan keluhannya: “sekarang kalau melihat orang-orang ramai-ramai menyeberang jalan, kalau hari jumat —mereka mau ke masjid— saya takut.
Kalau lihat cuma 2-3 orang di jalan, tapi pakai itu topi putih, saya juga takut.
Saya sedih, dengar azan tidak indah lagi.”

Saya mengerti, takut yang ia maksud adalah rasa was-was.
“Anda sudah kalah sekarang. Tidak akan ada lagi generasi muda intelektual di antara mereka,”
pungkasnya. Aduh, saya lupa kalau ia seorang mubaligh.