Antara Minat Baca dan Sinetron

Semalam, 2 Desember, di Newseum Cafe diselenggarakan diskusi mengenai Budaya Tulisan, Pers dan terbentuknya suatu Bangsa, dalam rangka menyambut Hari Pers Kebangsaan.
Hadir sebagai narasumber adalah Sirtjo Koolhof, dari Radio Nederland Wereldomroep. Ia pemimpin redaksi Indonesia, juga pustakawan KITLV Belanda yang fasih berbahasa Indonesia —bahkan juga bahasa Jawa dan bahasa Bugis.

Banyak hal menarik diungkap Sirtjo yang mungkin luput dari pengamatan kita. Salah satunya ketika menjawab pertanyaan tentang kurangnya minat baca orang Indonesia.
Menurut Sirtjo, selain tradisi lisan yang sangat kuat mengakar di masyarakat Indonesia, faktor hubungan sosial ternyata juga banyak berpengaruh.
Orang Eropa umumnya sangat individual, lebih suka melakukan segalanya sendiri karena berbagai alasan. Misalnya keberadaan orang lain akan menyulitkan untuk fokus pada pekerjaannya, atau karena enggan mengambil waktu orang lain demi kepentingan diri sendiri, dll. Karena itu umumnya orang Eropa lebih suka belanja sendiri, ke toko buku sendiri, bahkan ke bioskop sendirian.

Continue reading Antara Minat Baca dan Sinetron
Advertisements

Obama is MY president, seru McCain….

Sangat mengagumkan. Andaikan saja para kandidat Presiden kita yang kalah juga seperti McCain, demi kebaikan dan kemajuan bangsa, mendukung dan menyambut ajakan “Bersama Kita Bisa” …
Seruan yang diucapkannya, “Obama is my President” berhasil mengubah gemuruh ledekan atas kemenangan Obama menjadi tepuktangan. Karena jauh di dalam lubuk hati mereka, saya yakin mereka membutuhkan pijakan dan tauladan untuk bersikap yang patut dan benar, dan McCain memberikan itu.

Continue reading Obama is MY president, seru McCain….

Dari Bung Hatta, 63 tahun lalu

Maklumat Pemerintah
PARTAI POLITIK

Anjuran Pemerintah tentang Pembentukan Partai-partai Politik

Berhubung dengan usul Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat kepada rakyat seluas-luasnya untuk mendirikan partai-partai politik, dengan retriksi bahwa partai-partai politik itu hendaknya memperkuat perjuangan kita mempertahankan kemerdekaan dan menjamin keamanan masyarakat. Pemerintah menyatakan pendiriannya yang telah diambil beberapa waktu yang lalu, bahwa:

Continue reading Dari Bung Hatta, 63 tahun lalu

Jakarta mengabaikan sepeda

Meski wacana perlunya jalur sepeda di Jakarta belum juga dilontarkan pemerintah ke publik, mengapa para pengamat tidak memulai sendiri saja dulu. Kalau tidak dibahas publik, bisa saja kebijakan yang dikeluarkan akan mengundang protes banyak pihak, atau malah tak ada yang protes karena tidak tahu mudaratnya. Nanti begitu mulai dibangun, baru deh protes kiri kanan, pengelola dan pemerintah pun pusing seperti yang terjadi pada kasus busway, persis setahun lalu.

Continue reading Jakarta mengabaikan sepeda

Merdesa atau Mati

Jika pekik “MERDEKA” pernah begitu menggetarkan di jalanan Jakarta pada tahun-tahun pertama kemerdekaan, maka imaji apa yang mencuat dari grafiti bertuliskan kata “MERDESA” yang muncul di beberapa dinding di tepian jalanan Jakarta?

Pada salah satu malam flaneur saya di jalanan Jakarta, grafiti itu saya jumpai di sebuah kolong jembatan kereta api di sebelah utara kota tua yang menuju arah Pelabuhan Sunda Kelapa. Di sana tertulis: “MERDESA ATAU MATI”.

Continue reading Merdesa atau Mati

Krisis Air Minum nih wahai para politisi…


Sulit mendapatkan galon air minum pada hari-hari terakhir ini di Jakarta.
Ini mengingatkan pada peringatan yang berulang kali didengungkan oleh berbagai pihak sejak dekade lalu, bahwa dunia di ambang krisis akan air, bahwa bisa terjadi peperangan yang disebabkan oleh air, bahkan pada dasarnya kebanyakan perang memang terjadi karena perebutan wilayah yang kaya akan air. Bukan karena minyak.

Continue reading Krisis Air Minum nih wahai para politisi…

Mari berpakaian organik

Ada satu jenis pohon yang secara tradisi dari dulu selalu dimanfaatkan, tapi sangat diabaikan Indonesia modern. Padahal dunia di sekitar kita justru sudah meliriknya sebagai salah satu solusi bagi masalah perubahan iklim.

Ia kini bisa menjadi pakaian organik, pakaian yang dibuat dari bahan-bahan non-kimiawi. Ia pohon yang tumbuh paling cepat di muka bumi. Dalam satu jam bisa tumbuh lima sentimeter. Untuk itu ia hanya butuh tetesan air hujan —sekurangnya 75 cm, hingga hujan deras 600 cm per tahun.

Ada sekitar 1.500 jenis dari 75 marga tumbuh di semua benua. Di Indonesia tumbuh 37 jenis dari 9 marga, tercatat di Departemen Kehutanan.

Jika pohon komersil lain butuh 25-70 tahun untuk dipetik manfaatnya, maka ia perlu 2-5 tahun saja, sekali lagi, hanya dari tetesan air hujan. Di Costa Rica seribu rumah dibangun dari 60 hektar pohon ini, untuk jumlah rumah yang sama dengan kayu biasa akan butuh 500an hektar pohon. Lebih kuat dari jati. Jika disapu lapisan tertentu, ia bisa lebih kuat dari baja. Mampu menahan beban hingga 4.000 kg/cm2.
Jika masih berupa tunas, lumayan sedap untuk dimasak.

 

Continue reading Mari berpakaian organik