Merdesa atau Mati

Jika pekik “MERDEKA” pernah begitu menggetarkan di jalanan Jakarta pada tahun-tahun pertama kemerdekaan, maka imaji apa yang mencuat dari grafiti bertuliskan kata “MERDESA” yang muncul di beberapa dinding di tepian jalanan Jakarta? Pada salah satu malam flaneur saya di jalanan Jakarta, grafiti itu saya jumpai di sebuah kolong jembatan kereta api di sebelah utara kota…

Krisis Air Minum nih wahai para politisi…

Sulit mendapatkan galon air minum pada hari-hari terakhir ini di Jakarta. Ini mengingatkan pada peringatan yang berulang kali didengungkan oleh berbagai pihak sejak dekade lalu, bahwa dunia di ambang krisis akan air, bahwa bisa terjadi peperangan yang disebabkan oleh air, bahkan pada dasarnya kebanyakan perang memang terjadi karena perebutan wilayah yang kaya akan air. Bukan…

Mari berpakaian organik

Ada satu jenis pohon yang secara tradisi dari dulu selalu dimanfaatkan, tapi sangat diabaikan Indonesia modern. Padahal dunia di sekitar kita justru sudah meliriknya sebagai salah satu solusi bagi masalah perubahan iklim. Ia kini bisa menjadi pakaian organik, pakaian yang dibuat dari bahan-bahan non-kimiawi. Ia pohon yang tumbuh paling cepat di muka bumi. Dalam satu…

Babu ‘ngeblog, majikan ‘ngapain?

Membanggakan sekali jika 10 persen saja para TKI yang menjadi pembantu di luar sana punya kualitas seperti Rie Rie ini. Blognya berisi celotehan, cerpen, serial, puisi —mudah-mudahan ada penerbit yang tertarik sehingga karyanya bisa dinikmati khalayak yang lebih luas lagi. Banyak tulisan yang membuat terpana, membuka mata hati. Ah, seandainya setiap orang tidak saling merendahkan…

Newseum Cafe goes to visual art

Sudah enam minggu ini Newseum Cafe menjadi tempat obrolan soal visual art. Diawali dengan paparan Taufik Rahzen pada akhir Juli lalu, tentang Inovasi dan Invensi dalam senirupa —sejak corat coret di dinding gua hingga Cai Guo-Qiang yang melukis menggunakan bubuk mesiu.

Marhabban Yaa Ramadhan

Ramadhan selamat datang! Serasa cepat sekali Anda tiba, serasa belum cukup signifikan perbaikan selama setahun belakangan ini. Apakah kecepatan ponsel, internet, processor, informasi dsb itu juga membuat waktu berputar lebih cepat, ya… Ada satu ayat Al Quran yang menebar harum cendana di Istiqlal saat tarawih malam tadi dan tiba-tiba saja membuat hati meringis, mata basah…

Menakutkan…

“Anda sudah kalah,” ujar seorang teman. Lho, memangnya kapan kita menang? Kalah apa? “Shaya shungguh tidak shuka ini: dyulu shaya shnang shkali —menikmatyi, kagoom— jika shaya lihat baniyak orang ke masjid, indah shkali jubah-jubah putih di lapanggan hijaw, nikmat shkali dengar azan magrib. Apalagi bulan puasa. Wah, enak.” Saya mulai meraba maksudnya. Dan ia melanjutkan…

Dardanella. Opera Melayu

Di Usmar Ismail Hall pada 29 Mei lalu digelar La Serva Padrona oleh Indonesia Opera Society bersama Istituto Italiano di Cultura. Sebuah pementasan yang mendapat standing ovation panjang. Bintang utamanyya Massimo di Stefano dan Linda Sitinjak, keduanya pemain opera nomor satu di Italia dan di Indonesia. Meski tidak ada kaitannya, peristiwa budaya Ini membangunkan ingatan…

Andjar Asmara. Inspirator Usmar Ismail.

Publik Kota Kecil Lebih Menikmati Pertunjukan Berikut ini penuturan Abisin Abas, alias Andjar Asmara, sang penulis skenario cerita-cerita dalam pentas Dardanella. Selama saya bekerja pada Dardanella ini, makin sehari makin besarlah keyakinan saya, bahwa tonil Melayu mempunyai harapan yang baik dimasa yang akan datang. Bagi saya sendiri arti penting tonil ialah sipatnya sebagai pendidik budi…