Krisis Air Minum nih wahai para politisi…

Sulit mendapatkan galon air minum pada hari-hari terakhir ini di Jakarta.
Ini mengingatkan pada peringatan yang berulang kali didengungkan oleh berbagai pihak sejak dekade lalu, bahwa dunia di ambang krisis akan air, bahwa bisa terjadi peperangan yang disebabkan oleh air, bahkan pada dasarnya kebanyakan perang memang terjadi karena perebutan wilayah yang kaya akan air. Bukan karena minyak.

Sepuluh tahun lalu mantan Sekretaris Jenderal PBB, Boutros-Ghali, mengingatkan PBB bahwa akan terjadi konflik atas sumber-sumber alam, terutama air. “Setiap orang tahu bahwa populasi kita menanjak pesat, tapi pertumbuhan air minum tidak seimbang.”
Guna menghindari pendeknya akal jika terjadi krisis, beberapa relawan bergabung membangun situs worldwaterwars.com sejak 1999, menyebarkan berbagai opini, peringatan, anjuran dll yang berkaitan dengan air minum.
International Network Archives pada Juli 2003 memproduksi enam infografika, salah satunya: Glass Half Empty, the coming water wars, yang menyajikan data kompleks distribusi air dunia dengan sangat menarik dan jelas.

Kavin Watkins
dari UNDP dan Anders Berntell dari Stockholm International Water Institute menganjurkan empat langkah untuk menghindari konflik akan air:

1. Pemerintah harus menghentikan perlakuan seakan-akan air adalah sumber yang tak akan pernah habis jika dieksploitasi tanpa referensi terhadap keberlanjutan ekologis. Kebijakan penggunaan air, konservasi, efisiensi tehnologi agroindustri dsb.

2. Negara-negara (Pemerintah Daerah) harus menghindari unilateralisme. Di hulu untuk setiap perubahan besar dalam sistem sungai, atau penggunaan air tanah yang berlebihan, perlu dinegosiasikan, bukan ditentukan berdasarkan pajak.

3. Pemerintah seharusnya melihat jauh melampaui batas negara (Propinsi) untuk melaksanakan kerjasama pengelolaan sumber air. Mendirikan institusi perairan yang kuat untuk memberi kerangka bagi identifikasi dan eksploitasi peluang kerjasama. Karena sungai-sungai di Uni Eropa melintasi beberapa negara, peraturan-peraturan di sana bisa menjadi acuan yang sangat baik.

4. Para pemimpin politik harus melibatkan diri. Diskusi tentang pengelolaan air lintas batas selalu didominasi oleh para ahli tehnis. Setinggi apa pun tingkat keahlian, dedikasi, dan profesionalisme mereka, absennya para pemimpin politik membuat jangkauan kerjasama cenderung sangat terbatas.

Banyak peringatan dan anjuran lain yang bermunculan di dunia luput dari perhatian kita selama sepuluh tahun terakhir ini. Sejak reformasi hingga kini kita masih hanyut dalam euforia demokrasi. Kaum intelektual dan potensi-potensi bangsa lebih banyak bermain politik dan kekuasaan.
Seribu kepala punya seribu ide, masing-masing membangun partainya sendiri-sendiri demi idenya itu dan mendorong massa untuk mempertahankannya.
Kenapa tidak duduk bersama merumuskan masa depan bangsa dan negara yang hingga kini hanya diurus secara sporadis?

One Response

  1. tepat sekali. beberapa waktu lalu pun kami pernah mengadakan sebuah diskusi yang mengundang beberapa partai politik untuk membahas mengenai air minum dan sanitasi…

    dan hasilnya sudah bisa ditebak :)

    http://ampl.or.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: