Category Archives: transportasi

Jakarta mengabaikan sepeda

Meski wacana perlunya jalur sepeda di Jakarta belum juga dilontarkan pemerintah ke publik, mengapa para pengamat tidak memulai sendiri saja dulu. Kalau tidak dibahas publik, bisa saja kebijakan yang dikeluarkan akan mengundang protes banyak pihak, atau malah tak ada yang protes karena tidak tahu mudaratnya. Nanti begitu mulai dibangun, baru deh protes kiri kanan, pengelola dan pemerintah pun pusing seperti yang terjadi pada kasus busway, persis setahun lalu.

Continue reading Jakarta mengabaikan sepeda
Advertisements

Koperasi transportasi-publik ala Amerika

Jika dilandasi niat baik dan pengetahuan luas, pembentukan korporasi transportasi ternyata bisa lebih beradab dan memihak rakyat.

Beberapa negara bagian Amerika Serikat mengizinkan perusahaan-perusahaan swasta dan pemerintah membentuk korporasi nirlaba untuk perancangan dan pengembangan proyek-proyek transportasi.
Pada Agustus 2005 Parlemen negara bagian Missouri, Amerika Serikat, mengesahkan pembentukan korporasi transportasi. Struktur legislasi ini kemudian menjadi contoh bagi yang lain.

Dinyatakan peran Korporasi Transportasi antara lain:

  • secepatnya menyelenggarakan sistem transportasi berlajur khusus
  • menjalankan fungsi-fungsi yang biasanya dilaksanakan oleh Departemen Perhubungan, sehingga mengurangi beban tugas dan anggaran belanja
  • mempromosikan dan mengembangkan fasilitas dan sistem transportasi publik, sehingga mengembangkan perekonomian negara dan meningkatkan kualitas hidup.

Ditekankan bahwa korporasi transportasi “tidak akan bertindak sebagai agen atau instrumen dari interes swasta meski banyak interes swasta boleh mengambil manfaat sebagaimana juga masyarakat umum.”

Minimal 3 voters (apakah ini berarti golput tidak berhak…) boleh membentuk korporasi transportasi, mengajukan rancangan dan spesifikasi proyeknya termasuk data finansial. Korporasi dikelola oleh sebuah dewan direksi dan direksi penasehat yang tidak digaji.
Pembentukan korporasi harus melalui public hearing, diumumkan pada masyarakat, juga kepada para pemilik properti di area sasaran, dan harus melalui persetujuan pemerintah daerah, kota, mau pun desa.

Proyek juga harus merupakan suatu kebutuhan, penambahan yang diharapkan, atau melengkapi sistem transportasi negara, korporasi juga harus memiliki dana yang cukup untuk membiayai proyek itu.
Beberapa metode pendanaan -dalam koridor hukum- boleh digunakan koporasi, seperti penerbitan berbagai jenis obligasi, dengan jaminan dalam berbagai bentuk.

Untuk lebih jelasnya, simaklah buku “Alternative Funding Strategies for Improving Transportation Facilities” yang bisa diunduh dari folder PDF dalam BOX di kolom kiri.

Apakah ini adaptasi dari sistem koperasi Bung Hatta —yang dipuja-puji semua ekonom, tapi tak pernah dikembangkan agar bisa digunakan di level pemerintah? hiks…

Kring kring kring ada sepeda

Hari ini banyak keprihatinan. Dari ulah DPR – DPRD (menyerobot jalur busway, kasus slankers, suap, selingkuh, timbunan senjata), ribut partai dan calon partai hingga gembok celana. Pasti sudah banyak komentar.
Tulisan ini tidak ke sana, hanya ungkapan kekecewaan atas keputusan Pemerintah untuk membangun lagi jalan tol-dalam-kota.

Disebut-sebut bahwa setiap hari beraktivitas di Jakarta asekitar 3.500.000 kendaraan bermotor. Dalam kemacetan, kendaraan rodaempat menghabiskan sekitar 5 liter BBM, sedangkan rodadua 1 liter. Misal dari 3,5juta itu dua juta rodaempat dan 1,5 juta rodadua, maka kendaraan Jakarta menghabiskan 2×5 + 1,5×2 = 13 juta liter BBM. Setiap hari…

Misal lagi, 1/3 dari mereka beralih ke sepeda, maka kita akan menghemat lebih 4 juta liter BBM. Setiap hari…
Belum dihitung penghematan yang dicapai oleh duapertiga pengendara sisanya, karena untuk setiap pengurangan kemacetan ada pengurangan pemborosan bahanbakar.

Ada kelebihan lain dari sepeda, karena tidak menggunakan bahan bakar, maka sepeda tidak mengemisikan gas beracun dan gas yang mengakibatkan pemanasan global. Polusi berkurang, kita menghirup udara yang agak lebih bersih.
Maka sepeda memberi kontribusi pada kesehatan kota dan individu. Ini dipertegas lagi dengan manfaat dari pergerakan tubuh, olahraga.

Ketiga kelebihan yang tak terbantahkan itu disebut oleh Presiden saat mengantar rombongan Bicycle for Earth Goes to Bali pada 11 November 2007.

Kelebihan lainnya lagi: siapa saja —kaya miskin, pria wanita, tua muda— bisa bersepeda. Tersedia beragam jenis sepeda untuk semua, dari harga ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah. Buat yang kuatir, jika bersepeda digolongkan sebagai orang tak mampu, gunakan saja sepeda yang harganya 30juta. Terlalu mahal? Coba di pasar Rumput. Bukan, bukan untuk membeli rumput untuk bahanbakar kuda tunggangan. Tapi di sana ada ratusan, bahkan bisa jadi ada seribu-duaribu sepeda bekas, jika mujur bisa dapat sepeda murah dengan kondisi 90% baru. Continue reading Kring kring kring ada sepeda

Jalan-jalan dari pedestrian ke partai…

“Tuhan menciptakan manusia sebagai mahluk berjalan —sebagai pedestrian.
Ikan berenang, burung harus terbang, rusa perlu berlari-lari, maka kita pun harus berjalan. Bukan berjalan untuk bertahan hidup, tapi untuk bersenang-senang.”

Itu kutipan kata-kata Enrique Penalosa yang membuat trotoar lebar-lebar lebih dari lima kaki, malah ada yang lebih lebar dari jalan mobil, nun jauh di sana, di Bogota.

Oya, selagi ingat: anak-anak sekarang bingung jika ditanya kenapa para pedagang di pinggir jalan disebut pedagang kakil lima. Begini adik-adik: dulu, standar lebar trotoar adalah lima kaki, sehingga trotoar disebut juga kakilima. Karena itu pedagangnya berkaki lima. Sekarang kita tidak punya atau tidak tahu standar (juga di banyak hal, tidak hanya trotoar) sehingga tak heran kalau muncul generasi bingung… ups, maaf maksudnya, sebagian generasi muda jadi bingung.

Kembali ke lapt… eh, pedestrian.
Ada satu hal yang kurang disadari para pengambil keputusan (dpr, pemerintah) dan masyarakat, hal yang sangat mendasar, yang sangat mempengaruhi salah kaprahnya tertib lalulintas kita : bahwa jalan raya adalah sebuah ruang publik.
Sebagai ruang publik, kita semua harus berbagi. Karena pejalan kaki jauh lebih banyak jumlahnya dari pengendara, maka hak terbesar dimiliki pihak pejalan kaki, bukan pemilik uang pengendara. Para pengendara hanya lewat, atau statusnya sebagai tamu. Berarti mereka harus bersikap sopan terhadap tuan rumah, para pejalan kaki, pedestrian. Jangan malah menancap gas begitu melihat pedestrian ingin menyeberang… hanya karena malas menginjak kopling ganti persneling.

Continue reading Jalan-jalan dari pedestrian ke partai…

Becak Art Trip

Meski tradisinya kita yang punya, tapi yang mampu melihat nilainya hanya mereka yang tidak punya. Tak heran jika program naik becak keliling kota lebih banyak ada di luar negeri. Ini becak-becak di Heidelberg, Jerman. Ada juga di Perancis, Amerika, Australia…

Bagaimana di Indonesia? Di Jakarta tidak mungkin ada, karena peraturan daerah melarang mereka beroperasi di jalan-jalan. Tapi ternyata di Jogja ada, bahkan berpotensi menjadi atraksi wisata, ini iklannya :

GANDUNG JOGJA ART TRIP

merupakan program terbaru dari eorang pengemudi becak asli Jogja.
Anda akan menemukan sebuah pengalaman paling menakjubkan ketika anda bertandang ke kota Yogyakarta bersama Gandung.

Bila anda ingin menikmati petualangan mengunjungi galeri,museum dan studio seniman di Jogja maka anda tinggal kontak ke Hp: 0819.0423.237781

Informasi lengkapnya ada di Pameran Gang.

Langkah walikota ketika negaranya bandel

141 negara menyetujui Protokol Kyoto pada Februari 2005 untuk mengurangi emisi gas – efek rumahkaca hingga 2012. Amerika Serikat tidak ikut menandatanganinya.

Namun Greg Nickels, walikota Seattle, sudah merasakan sendiri dampak pemanasan global mulai menggoyang kotanya. Tahun itu salju tidak turun sebanyak biasanya. Cadangan air yang berasal dari lelehan salju menjadi berkurang. Demikian juga dengan suplai listrik tenaga airnya.
Tak ayal ia pun berpikir keras untuk menyelamatkan masa depan kotanya. Continue reading Langkah walikota ketika negaranya bandel

Intro to car-free

“Apakah suatu argumen menuntut persetujuan atau tidak, bukan hanya tergantung pada logika yang menyertainya, tapi lebih pada nuansa opini yang ditopangnya.” Carl Becker, 1938

Andy Singer dalam kumpulan 100 karyanya berjudul “CARtoons” dengan elegan menyodorkan berbagai hal absurd yang sudah wajar wajar saja dalam keseharian kita… | zeroCar