Jakarta mengabaikan sepeda

Meski wacana perlunya jalur sepeda di Jakarta belum juga dilontarkan pemerintah ke publik, mengapa para pengamat tidak memulai sendiri saja dulu. Kalau tidak dibahas publik, bisa saja kebijakan yang dikeluarkan akan mengundang protes banyak pihak, atau malah tak ada yang protes karena tidak tahu mudaratnya. Nanti begitu mulai dibangun, baru deh protes kiri kanan, pengelola dan pemerintah pun pusing seperti yang terjadi pada kasus busway, persis setahun lalu.

Sedangkan kalau mulai dibahas oleh publik dari sekarang —meski jalur sepeda baru akan direalisir 50 tahun lagi, misalnya — publik sudah lebih aware dan paham, dan kalau dikeluarkan suatu kebijakan, kita sudah bisa menilai apakah akan membuat kesemrawutan atau memang pas dan sangat efisien.

Berhubung saya bukan ahlinya, kita tengok pendapat orang saja —belumlah begitu penting tentang apakah ia akan cocok atau tidak bagi kita, yang penting bolanya ada yang ‘nendang…. tinggal digocak-gocek lagi supaya masuk ke gol.

Cuma, ada satu hal mendasar yang perlu disepakati dulu :
bahwa jalan-jalan raya adalah ruang publik. Ia bukan milik para pengendara, tapi milik publik. Kalau sudah sepakat bahwa jalan adalah ruang publik, mari kita sepakati bahwa pejalan kaki adalah komponen terbesar dari publik. Jika kita menggunakan jalan raya dengan kendaraan kita, maka status kita adalah tamu —pengunjung yang sekedar mampir. Kita harus bersikap sopan dan berhati-hati agar tidak melukai tuan rumah. Pejalan kaki harrus diberi prioritas.

Janganlah bersikap seperti sebagian besar pengendara sepeda motor Jakarta, berani-beraninya menggunakan trotoar —malah lebih galak jika ditegur. Jika ada pejalan kaki berada di sekitar kita saat berkendara, perlambatlah kendaraan, jangan malah menancap gas jika melihat mereka ingin menyeberang. Bersikaplah manusiawi, kendaraan yang anda kuasai bisa berubah jadi senjata pembunuh manusia.

AndySinger

AndySinger

Cara pikir bahwa Jakarta macet karena jumlah jalan tidak sesuai dengan pertumbuhan jumlah kendaraan, juga tidak manusiawi. Sehingga keputusan-keputusan yang dibuat adalah dengan memperbanyak jalan untuk kendaraan. Kota kita menjadi kota untuk kendaraan, bukan untuk manusia.

Itulah jadinya jika izin mengemudi bisa dibeli tanpa harus memahami hal-hal mendasar tentang etika berlalulintas. Tidak ada statistiknya, tapi bisa dipastikan lebih 50% pengguna jalan tidak melalui pendidikan mengemudi yang sesuai etika. Tanpa disadari, Itu berlangsung puluhan tahun sehingga sebagian besar generasi yang sedang mengurus kota ini dan penduduknya juga, tidak tahu etika lalulintas, tidak manusiawi, lupa akan Pancasila.

Maka yang tahu akan kebenaran tinggal segelintir, jadi minoritas. Alam demokrasi membuat suaranya menjadi ganjil. Barangkali dari situ SBY mendapat ide untuk meminta kita agar berfikir out of the box, agar bisa melihat lebih jernih.
Kasihan bapak presiden kita itu sebetulnya, apa pun yang dikatakannya —tak peduli benar atau salah— pasti ramai-ramai dikeroyok sehingga terkucilkan dan hal yang benar menjadi terlihat aneh bagi publik. Padahal, jika dari dulu pekerjaan setiap presiden —dari Habibie hingga SBY— tidak diganggu, sehingga bisa konsentrasi pada hal-hal yang lebih makro, barangkali kita akan lebih cepat bangkit dari krisis. Toh ia tidak kelihatan korup, malah partai dan dpr jauh lebih mata duitan.

Travel Time bersepeda di Philadelphia

Travel Time bersepeda di Philadelphia

Sekarang kita tengok ke New York dulu deh, di sana sudah ada 180 km jalur sepeda, tapi sedang mengonsep jaringan jalur sepeda, yang berarti akan menambah ratusan kilometer lagi. Problemnya mungkin agak sama: macet dan lahan untuk jalur sepeda tidak ada. Kita pasti bisa belajar banyak dari sana.

Mungkin yang pertama dilakukan adalah studi untuk melihat potensi sepeda dalam mengurangi kemacetan dan polusi. Ada data ridership sepeda, yang begitu kecil dan tidak memberi indikasi bahwa moda ini punya potensi. Lalu bukan berarti mereka mengabaikan sepeda, justru diupayakan agar potensi sepeda diperbesar. Dari survey diperoleh data bahwa selain pemuda, lelaki, sedikit sekali yang berani naik sepeda di tengah kondisi lalulintas seperti sekarang. Hasil survey mengatakan jalan-jalan perlu dibenahi agar wanita, anak-anak, dan orangtua merasa aman untuk bersepeda.

Poling pada 1970an menegaskan perlunya jalur khusus untuk sepeda. Poling 1992 menunjukkan dari setiap empat orang ada satu yang mau bersepeda ke kantor jika jalur sepeda tersedia. Survey 1990 di Manhattan mengatakan 49% pengusaha dan karyawan yang tinggal dalam radius 16 km dari kantornya, akan menggunakan sepeda jika disediakan jalur yang aman disertai kelengkapan infrastruktur lainnya. Di 6th Avenue, jumlah pesepeda jauh lebih banyak dibanding avenue lain, karena di sana ada jalur sepeda. Dari semua survey, ada korelasi antara tingkat penggunaan sepeda dengan keberadaan jalur sepeda.

Jadi, please jangan katakan bahwa jalur sepeda baru akan dibangun jika jumlah pesepeda di Jakarta mencapai satu juta orang. Gunakanlah survey dan studi, doronglah masyarakat menggunakan sepeda dengan menyediakan fasilitasnya. [tulisan sudah pernah dimuat di rubrik Batavia Bikeway]

Tulisan terkait:

Kring kring kring ada sepeda
Busway dan bikeway
Car free day. Mengapa sepi?
Becak Art Trip
Intro to car-free
Facebook Cause: Bike Lane and Bike Parking Pool for Greener Jakarta
Jalur Sepeda Taman Suropati-Monas

Merdesa atau Mati

Jika pekik “MERDEKA” pernah begitu menggetarkan di jalanan Jakarta pada tahun-tahun pertama kemerdekaan, maka imaji apa yang mencuat dari grafiti bertuliskan kata “MERDESA” yang muncul di beberapa dinding di tepian jalanan Jakarta?

Yulian Firdaus

Foto: Yulian Firdaus

Pada salah satu malam flaneur saya di jalanan Jakarta, grafiti itu saya jumpai di sebuah kolong jembatan kereta api di sebelah utara kota tua yang menuju arah Pelabuhan Sunda Kelapa. Di sana tertulis: “MERDESA ATAU MATI”.

Salah tulis? Saya yakin tidak. Sebab, saya menemukannya kembali di dinding sebelah timur Hotel Sriwijaya di Jalan Veteran 1, Jakarta Pusat. Letaknya tak jauh dari Stasiun Juanda, hanya 50 meter dari Halte Busway Juanda. Di sebelah timurnya, melintang Ciliwung. Di timurnya lagi, menjulang Istiqlal yang agung.

Tapi di situ, tak tertulis kalimat “MERDESA ATAU MATI”, melainkan kalimat “MERDESA = HIDUP LAYAK”.
Ada banyak alasan kenapa saya tertarik dengan grafiti “Merdesa”, terutama grafiti yang saya lihat di Jalan Veteran.

Pertama, saya hampir tiap hari melewatinya, terutama saat hari masih begitu dini, antara jam 2 hingga jam 4 pagi. Itulah jam-jam krusial bagi perut saya, sewaktu lapar mulai menghajar, dan persediaan kretek biasanya sudah mengempis. Dalam perjalanan menuju warung kopi yang menyediakan indomie rebus dan rokok, saya tak pernah alpa menengok grafiti itu.

Jika sudah begini, rasa-rasanya, grafiti “Merdesa” berbunyi lebih nyaring karena –inilah alasan keduanya—tak jauh dari situ selalu ada belasan orang yang tidur berjejer, beralas kadang sarung kadang kardus, berbantal tangan sendiri dan berselimut spanduk-spanduk yang tak jelas asal-usulnya. Di sekitarnya, terparkir beberapa sepeda yang di jok belakangnya terpasang termos air dan pada stangnya bergelantungan berjenis-jenis minuman sachet. Bukan hanya itu, selalu ada beberapa gerobak terparkir, kadang tanpa isi kadang penuh dengan kertas, kardus dan botol-botol plastik minuman.
Merekalah paria di ibukota: para pemulung, manusia gerobak, pedagang minuman keliling, gelandangan dan kadang orang gila.

Zen RS

Foto: Zen RS

Sebelumnya, di sekitar situ, hanya ada beberapa mobil carteran yang biasa parkir dengan sopir yang terlelap di dalamnya. Saya tak ingat persis sejak kapan mereka menjadikan trotoar Jalan Veteran sebagai tempat tidur di waktu malam. Tapi belum lama, mungkin sekitar Juni atau Juli. Mereka mulai berdatangan saat menjelang Maghrib dan lenyap tanpa meninggalkan sampah saat hari belum berangkat terang. Datang dan pergi begitu saja, tapi pasti selalu kembali pada malam hari.
Ada seorang ibu-ibu yang selalu tidur memeluk dua anaknya yang masih kecil, ada seorang lelaki tua dengan misai tak terurus yang selalu berbaring mepet dengan tembok, ada seorang pemuda yang selalu tidur dengan dua kaki yang tegak dengan lutut menantang langit, ada seorang perempuan paruh baya yang selalu tidur dengan memegang korek kuping.

Saya mengingatnya dengan baik karena hampir tiap malam saya melewati mereka dan selalu saja mereka semua sedang lelap. Saya mengingatnya dengan baik sekuat ingatan saya pada beberapa lelaki yang selalu main catur di sana jika malam belum terlalu larut.
Sesekali saya dengar ada yang membawa radio kecil yang melantunkan tembang-tembang berbahasa Jawa dengan alunan gendhing yang ganjil tapi pasti selalu berhasil meninabobokan mereka, membawa mereka ke alam mimpi, entah memimpikan apa, mungkin memimpikan kampung halaman mereka di Jawa, kembali ke desa, bukan untuk merdeka, tapi untuk “Merdesa”
Jika melewati mereka pada jam-jam yang masih sore, terlihat betapa satu sama lain dari mereka seperti tak saling mengenal. Selain para lelaki yang main catur, jarang saya lihat mereka bercakap-cakap. Semua sibuk dengan dirinya sendiri. Acuh-acuh saja.

Satu waktu, sekira jam satu malam, saya melihat sosok besar di bawah selimut spanduk bergerak-gerak. Makin dekat saya makin sadar di bawah selimut spanduk itu ada dua orang, dengan suara yang tak jelas, tapi masih kelewat jelas untuk mengetahui bahwa keduanya sedang sama-sama “membuang hajat”. Keduanya menghentikan aktivitasnya saat langkah kaki saya terdengar jelas, tapi kembali kasak-kusuk begitu langkah kaki saya menjauh.
Itukah artinya “Merdesa = Hidup Layak”? Saya tidak tahu.

Pernah saya bertanya pada salah satu di antara mereka. Saat itu masih sekitar jam 10 malam dan banyak dari mereka yang masih terjaga. Dengan memesan segelas kopi susu pada salah satu dari mereka, saya duduk di trotoar persis di sebelah salah seorang di antara mereka. Saya bertanya padanya siapa yang menulis grafiti dan apa artinya grafiti itu.
“Mboten ngertos, Mas.”
Saya manggut-manggut. Seseorang yang duduknya agak jauh tiba-tiba menyahut: “Katanya itu ditulis pas subuh-subuh. Tapi ndak tahu siapa. Yang jelas bukan saya, kok. Mana ada duit buat beli cat (baca: pylox).”
“Trotoar  kan panjang, Mas. Tapi, kok, mereka tidurnya persis di dekat-dekat tulisan “Merdesa” itu ya?”
Lelaki yang duduk agak jauh itu mengangkat bahu. Tapi pedagang kopi di sebelah saya menyahut sembari mengarahkan telunjuknya ke arah selatan: “Daripada tidur di sebelah sana, mending di situ, Mas!”
Saya melihat arah yang ditunjuknya. Saya tergelak. Di sana ada grafiti dengan ukuran lebih besar tapi letaknya lebih bawah. Tulisannya: “Ko***l”. Saya tergelak. Sembari menawarkan sebatang kretek, saya menyahut: “Lha kan sama aja, toh? Sama-sama tulisan, kok.”
“Lha kalau sampeyan ke sini sama anaknya, dan dia nanya itu tulisan apa, apa sampeyan gak keblinger jawabnya?”

Lelaki pedagang kopi pamit hendak berjualan. Saya membayar. Ia berlalu ke arah selatan, menuju Monas, mengendarai sepeda mini, dengan suara kreot-kreot yang nyaring. Saya melihat punggungnya menjauh, punggungnya terlhat mengecil, terus mengecil, makin kecil, benar-benar kecil, lalu lenyap.
Inikah artinya menjadi “orang kecil”, terus mengecil, makin mengecil, selalu kecil, lalu lenyap?
(Lagi-lagi) saya tak tahu. Yang saya tahu –inilah alasan ketiganya–, 500 meter ke arah barat dari trotoar itu, Istana Negara berdiri dengan gagah, segagah Monas yang menjulang dengan pucuk bersepuh emas.

Saya ingat Soe Hok Gie. Pada halaman-halaman awal catatan hariannya, ia pernah melihat seorang gelandangan memakan sisa-sisa makanan yang ditemukannya di jalan. Gie, seingat saya, lantas menulis dengan memaparkan kontras seperti yang juga saya rasakan: semua pemandangan itu terjadi tak jauh dari Istana Negara.
Saya beranjak dari trotoar dengan menghabiskan sisa kopi susu yang saya beli barusan. Sekali tenggak habis. Tiba-tiba rasanya sedikit lebih pahit.

Tyas

Foto: Tyas

Saya berjalan ke selatan, searah menuju Monas, dan dengan sengaja melewati beberapa lelaki yang sedang main catur di bawah lampu yang memancarkan tempias keemasan. Ada beberapa sisa nasi bungkus di sana, salah satunya masih terbuka dan terlihat masih menyisakan makanan dengan sekerat tempe di sana.
Saya mendengar salah satu dari mereka berteriak: “Skak”. Saya menoleh sebentar, salah satunya tertawa terbahak, sementara lawannya duduk bertopang dagu, berpikir keras bagaimana caranya meloloskan “Raja” dari ancaman maut (Skak Mat)**.
Hidup memang bukan catur, tapi dalam hidup dan pertaruhan nasib, selalu ada situasi di mana nasib tiba-tiba menyodorkan “skak”*. Jika akhirnya “Skak” menjadi “Skak Mat”, apa boleh buat… barangkali itulah hidup: serangkaian pertarungan menghadapi “Skak”, sebelum akhirnya berhenti karena harus menerima “Skak Mat”.
Post-script:
*Skak: Posisi Raja terancam
* Skak Mat: Raja benar-benar tak terselamatkan dan dengan itu permainan pun berakhir. [zen rs]

Lihat juga:

Merdesa!! :D
Merdesa menurut Kamus Besar
Merdesa dalam bahasa Inggris

Krisis Air Minum nih wahai para politisi…

Sulit mendapatkan galon air minum pada hari-hari terakhir ini di Jakarta.
Ini mengingatkan pada peringatan yang berulang kali didengungkan oleh berbagai pihak sejak dekade lalu, bahwa dunia di ambang krisis akan air, bahwa bisa terjadi peperangan yang disebabkan oleh air, bahkan pada dasarnya kebanyakan perang memang terjadi karena perebutan wilayah yang kaya akan air. Bukan karena minyak.

Sepuluh tahun lalu mantan Sekretaris Jenderal PBB, Boutros-Ghali, mengingatkan PBB bahwa akan terjadi konflik atas sumber-sumber alam, terutama air. “Setiap orang tahu bahwa populasi kita menanjak pesat, tapi pertumbuhan air minum tidak seimbang.”
Guna menghindari pendeknya akal jika terjadi krisis, beberapa relawan bergabung membangun situs worldwaterwars.com sejak 1999, menyebarkan berbagai opini, peringatan, anjuran dll yang berkaitan dengan air minum.
International Network Archives pada Juli 2003 memproduksi enam infografika, salah satunya: Glass Half Empty, the coming water wars, yang menyajikan data kompleks distribusi air dunia dengan sangat menarik dan jelas.

Kavin Watkins
dari UNDP dan Anders Berntell dari Stockholm International Water Institute menganjurkan empat langkah untuk menghindari konflik akan air:

1. Pemerintah harus menghentikan perlakuan seakan-akan air adalah sumber yang tak akan pernah habis jika dieksploitasi tanpa referensi terhadap keberlanjutan ekologis. Kebijakan penggunaan air, konservasi, efisiensi tehnologi agroindustri dsb.

2. Negara-negara (Pemerintah Daerah) harus menghindari unilateralisme. Di hulu untuk setiap perubahan besar dalam sistem sungai, atau penggunaan air tanah yang berlebihan, perlu dinegosiasikan, bukan ditentukan berdasarkan pajak.

3. Pemerintah seharusnya melihat jauh melampaui batas negara (Propinsi) untuk melaksanakan kerjasama pengelolaan sumber air. Mendirikan institusi perairan yang kuat untuk memberi kerangka bagi identifikasi dan eksploitasi peluang kerjasama. Karena sungai-sungai di Uni Eropa melintasi beberapa negara, peraturan-peraturan di sana bisa menjadi acuan yang sangat baik.

4. Para pemimpin politik harus melibatkan diri. Diskusi tentang pengelolaan air lintas batas selalu didominasi oleh para ahli tehnis. Setinggi apa pun tingkat keahlian, dedikasi, dan profesionalisme mereka, absennya para pemimpin politik membuat jangkauan kerjasama cenderung sangat terbatas.

Banyak peringatan dan anjuran lain yang bermunculan di dunia luput dari perhatian kita selama sepuluh tahun terakhir ini. Sejak reformasi hingga kini kita masih hanyut dalam euforia demokrasi. Kaum intelektual dan potensi-potensi bangsa lebih banyak bermain politik dan kekuasaan.
Seribu kepala punya seribu ide, masing-masing membangun partainya sendiri-sendiri demi idenya itu dan mendorong massa untuk mempertahankannya.
Kenapa tidak duduk bersama merumuskan masa depan bangsa dan negara yang hingga kini hanya diurus secara sporadis?

Mari berpakaian organik

Ada satu jenis pohon yang secara tradisi dari dulu selalu dimanfaatkan, tapi sangat diabaikan Indonesia modern. Padahal dunia di sekitar kita justru sudah meliriknya sebagai salah satu solusi bagi masalah perubahan iklim.

Ia kini bisa menjadi pakaian organik, pakaian yang dibuat dari bahan-bahan non-kimiawi. Ia pohon yang tumbuh paling cepat di muka bumi. Dalam satu jam bisa tumbuh lima sentimeter. Untuk itu ia hanya butuh tetesan air hujan —sekurangnya 75 cm, hingga hujan deras 600 cm per tahun.

Ada sekitar 1.500 jenis dari 75 marga tumbuh di semua benua. Di Indonesia tumbuh 37 jenis dari 9 marga, tercatat di Departemen Kehutanan.

Jika pohon komersil lain butuh 25-70 tahun untuk dipetik manfaatnya, maka ia perlu 2-5 tahun saja, sekali lagi, hanya dari tetesan air hujan. Di Costa Rica seribu rumah dibangun dari 60 hektar pohon ini, untuk jumlah rumah yang sama dengan kayu biasa akan butuh 500an hektar pohon. Lebih kuat dari jati. Jika disapu lapisan tertentu, ia bisa lebih kuat dari baja. Mampu menahan beban hingga 4.000 kg/cm2.
Jika masih berupa tunas, lumayan sedap untuk dimasak.

 

Continue reading

Blue Energy, sang BBM sintetik

9 Januri 2008, ada sebuah komentar menanggapi tulisan Blue Energy – Mimpi masa depan yang sudah terasa di Indonesia ! :

baca soal energi alternatif ini, saya malah ngeri dengan keselamatan tim yang membuatnya.
anggaplah semua ini benar dan benar2 ada, benar2 berjalan. apa disangka tidak ada satupun orang dari perusahaan minyak yg mengamati ini?
kuatnya lobi perusahaan minyak udah bukan rahasia lagi.
saya malah takut orang2 yg ada di balik tim ini bakal menghilang misterius sebelum sempat mengembangkan jerih payahnya..
mudah2an sikap diam yg diambil oleh teman2 tim blue energy ini salah satunya untuk keamanan tsb, mudah2an jg pihak pemerintah sudah membaca akan perlunya perlindungan atas keselamatan mereka2 ini.
semoga ini memang jalan keluar untuk semua masalah bangsa ini. semoga. | Komentar oleh beq

Ini mengingatkan pada kisah Tesla. Di halaman Fakultas Tehnik Beograd, Serbia, dan di pembangkit listrik Niagara, Amerika, berdiri patung Nikola Tesla. Ia penemu listrik yang sebenarnya, juga ratusan inovasi lainnya yang tercatat di kantor patent. Setelah berbulan-bulan mengamati dan mengkalkulasi perilaku petir di alam, ia menceritakan bahwa suatu saat nanti listrik akan bisa diperoleh dengan cuma-cuma. Hanya dengan antena dan dekoder, orang bisa menangkap dan menggunakan energi dari alam semesta.

Tidak lama kemudian rumah dan seluruh berkas penelitiannya musnah dibakar orang. Tidak diketahui siapa pelakunya, namun orang bisa mengira bahwa para industrialis pasti terlibat.

Heboh “menghilangnya” Joko Suprapto, inovator Blue Energy, mengingatkan kembali bahwa bangsa ini sebetulnya memiliki potensi luarbiasa. Siapa tahu ada yang mampu melanjutkan penelitian Nikola Tesla. Sayangnya infrastruktur —baik yang lahir mau pun yang bathin— tidak mendorong dan memupuk agar setiap potensi yang ada bisa tumbuh dengan leluasa.

Continue reading

Hari Bumi yang mengusik kenyamanan…

Judulnya meminjam istilah Al Gore, An Inconvenient Truth. Jika ada yang belum menonton, sempatkanlah menyaksikannya lewat HBO dan CineMax malam ini, disajikan untuk menyambut Hari Bumi.

Keputusan untuk mengusir delman dari Taman Monumen Nasional terasa mengusik-usik hati, bertentangan dengan cita-cita Kartini dan konsep berwawasan lingkungan. Tetapi tetap ditahan untuk tidak menuliskannya, demi menghormati dan menghargai wanita pertama yang menjadi walikota Jakarta. Juga karena Gubernur telah menganjurkan agar segera dicarikan solusi mengatasi masalah kotoran kuda dan mengizinkan delman kembali beroperasi.

Lihatlah betapa hal-hal yang alami kini sudah dianggap mengusik kenyamanan. Padahal ia diciptakan untuk menjaga keseimbangan ekologi. Kotoran kuda pasti bermanfaat bagi tumbuhan dan mahluk-mahluk mikro yang membuat bumi ini layak dihuni manusia.

Menjadi tuan rumah Konperensi Pemanasan Global ternyata berpengaruh positif terhadap kesadaran publik. Hari Bumi tahun ini lebih terasa dibanding sebelumnya. Anak-anak hingga orangtua, para pejalan kaki hingga media massa, semakin sadar dan semakin kritis.

Kini tinggal para bapak-bapak dan ibu-ibu di pemerintahan dan parlemen, untuk mengaplikasikan dalam peraturan dan pelaksanaan di segala bidang. Agar publik bisa dengan leluasa menerapkan apa yang dianjurkan dalam An Inconvenient Truth. Continue reading

Kring kring kring ada sepeda

Hari ini banyak keprihatinan. Dari ulah DPR – DPRD (menyerobot jalur busway, kasus slankers, suap, selingkuh, timbunan senjata), ribut partai dan calon partai hingga gembok celana. Pasti sudah banyak komentar.
Tulisan ini tidak ke sana, hanya ungkapan kekecewaan atas keputusan Pemerintah untuk membangun lagi jalan tol-dalam-kota.

Disebut-sebut bahwa setiap hari beraktivitas di Jakarta asekitar 3.500.000 kendaraan bermotor. Dalam kemacetan, kendaraan rodaempat menghabiskan sekitar 5 liter BBM, sedangkan rodadua 1 liter. Misal dari 3,5juta itu dua juta rodaempat dan 1,5 juta rodadua, maka kendaraan Jakarta menghabiskan 2×5 + 1,5×2 = 13 juta liter BBM. Setiap hari…

Misal lagi, 1/3 dari mereka beralih ke sepeda, maka kita akan menghemat lebih 4 juta liter BBM. Setiap hari…
Belum dihitung penghematan yang dicapai oleh duapertiga pengendara sisanya, karena untuk setiap pengurangan kemacetan ada pengurangan pemborosan bahanbakar.

Ada kelebihan lain dari sepeda, karena tidak menggunakan bahan bakar, maka sepeda tidak mengemisikan gas beracun dan gas yang mengakibatkan pemanasan global. Polusi berkurang, kita menghirup udara yang agak lebih bersih.
Maka sepeda memberi kontribusi pada kesehatan kota dan individu. Ini dipertegas lagi dengan manfaat dari pergerakan tubuh, olahraga.

Ketiga kelebihan yang tak terbantahkan itu disebut oleh Presiden saat mengantar rombongan Bicycle for Earth Goes to Bali pada 11 November 2007.

Kelebihan lainnya lagi: siapa saja —kaya miskin, pria wanita, tua muda— bisa bersepeda. Tersedia beragam jenis sepeda untuk semua, dari harga ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah. Buat yang kuatir, jika bersepeda digolongkan sebagai orang tak mampu, gunakan saja sepeda yang harganya 30juta. Terlalu mahal? Coba di pasar Rumput. Bukan, bukan untuk membeli rumput untuk bahanbakar kuda tunggangan. Tapi di sana ada ratusan, bahkan bisa jadi ada seribu-duaribu sepeda bekas, jika mujur bisa dapat sepeda murah dengan kondisi 90% baru. Continue reading