Category Archives: lingkungan

Jakarta mengabaikan sepeda

Meski wacana perlunya jalur sepeda di Jakarta belum juga dilontarkan pemerintah ke publik, mengapa para pengamat tidak memulai sendiri saja dulu. Kalau tidak dibahas publik, bisa saja kebijakan yang dikeluarkan akan mengundang protes banyak pihak, atau malah tak ada yang protes karena tidak tahu mudaratnya. Nanti begitu mulai dibangun, baru deh protes kiri kanan, pengelola dan pemerintah pun pusing seperti yang terjadi pada kasus busway, persis setahun lalu.

Continue reading Jakarta mengabaikan sepeda
Advertisements

Merdesa atau Mati

Jika pekik “MERDEKA” pernah begitu menggetarkan di jalanan Jakarta pada tahun-tahun pertama kemerdekaan, maka imaji apa yang mencuat dari grafiti bertuliskan kata “MERDESA” yang muncul di beberapa dinding di tepian jalanan Jakarta?

Pada salah satu malam flaneur saya di jalanan Jakarta, grafiti itu saya jumpai di sebuah kolong jembatan kereta api di sebelah utara kota tua yang menuju arah Pelabuhan Sunda Kelapa. Di sana tertulis: “MERDESA ATAU MATI”.

Continue reading Merdesa atau Mati

Krisis Air Minum nih wahai para politisi…


Sulit mendapatkan galon air minum pada hari-hari terakhir ini di Jakarta.
Ini mengingatkan pada peringatan yang berulang kali didengungkan oleh berbagai pihak sejak dekade lalu, bahwa dunia di ambang krisis akan air, bahwa bisa terjadi peperangan yang disebabkan oleh air, bahkan pada dasarnya kebanyakan perang memang terjadi karena perebutan wilayah yang kaya akan air. Bukan karena minyak.

Continue reading Krisis Air Minum nih wahai para politisi…

Mari berpakaian organik

Ada satu jenis pohon yang secara tradisi dari dulu selalu dimanfaatkan, tapi sangat diabaikan Indonesia modern. Padahal dunia di sekitar kita justru sudah meliriknya sebagai salah satu solusi bagi masalah perubahan iklim.

Ia kini bisa menjadi pakaian organik, pakaian yang dibuat dari bahan-bahan non-kimiawi. Ia pohon yang tumbuh paling cepat di muka bumi. Dalam satu jam bisa tumbuh lima sentimeter. Untuk itu ia hanya butuh tetesan air hujan —sekurangnya 75 cm, hingga hujan deras 600 cm per tahun.

Ada sekitar 1.500 jenis dari 75 marga tumbuh di semua benua. Di Indonesia tumbuh 37 jenis dari 9 marga, tercatat di Departemen Kehutanan.

Jika pohon komersil lain butuh 25-70 tahun untuk dipetik manfaatnya, maka ia perlu 2-5 tahun saja, sekali lagi, hanya dari tetesan air hujan. Di Costa Rica seribu rumah dibangun dari 60 hektar pohon ini, untuk jumlah rumah yang sama dengan kayu biasa akan butuh 500an hektar pohon. Lebih kuat dari jati. Jika disapu lapisan tertentu, ia bisa lebih kuat dari baja. Mampu menahan beban hingga 4.000 kg/cm2.
Jika masih berupa tunas, lumayan sedap untuk dimasak.

 

Continue reading Mari berpakaian organik

Blue Energy, sang BBM sintetik

9 Januri 2008, ada sebuah komentar menanggapi tulisan Blue Energy – Mimpi masa depan yang sudah terasa di Indonesia ! :

baca soal energi alternatif ini, saya malah ngeri dengan keselamatan tim yang membuatnya.
anggaplah semua ini benar dan benar2 ada, benar2 berjalan. apa disangka tidak ada satupun orang dari perusahaan minyak yg mengamati ini?
kuatnya lobi perusahaan minyak udah bukan rahasia lagi.
saya malah takut orang2 yg ada di balik tim ini bakal menghilang misterius sebelum sempat mengembangkan jerih payahnya..
mudah2an sikap diam yg diambil oleh teman2 tim blue energy ini salah satunya untuk keamanan tsb, mudah2an jg pihak pemerintah sudah membaca akan perlunya perlindungan atas keselamatan mereka2 ini.
semoga ini memang jalan keluar untuk semua masalah bangsa ini. semoga. | Komentar oleh beq

Ini mengingatkan pada kisah Tesla. Di halaman Fakultas Tehnik Beograd, Serbia, dan di pembangkit listrik Niagara, Amerika, berdiri patung Nikola Tesla. Ia penemu listrik yang sebenarnya, juga ratusan inovasi lainnya yang tercatat di kantor patent. Setelah berbulan-bulan mengamati dan mengkalkulasi perilaku petir di alam, ia menceritakan bahwa suatu saat nanti listrik akan bisa diperoleh dengan cuma-cuma. Hanya dengan antena dan dekoder, orang bisa menangkap dan menggunakan energi dari alam semesta.

Tidak lama kemudian rumah dan seluruh berkas penelitiannya musnah dibakar orang. Tidak diketahui siapa pelakunya, namun orang bisa mengira bahwa para industrialis pasti terlibat.

Heboh “menghilangnya” Joko Suprapto, inovator Blue Energy, mengingatkan kembali bahwa bangsa ini sebetulnya memiliki potensi luarbiasa. Siapa tahu ada yang mampu melanjutkan penelitian Nikola Tesla. Sayangnya infrastruktur —baik yang lahir mau pun yang bathin— tidak mendorong dan memupuk agar setiap potensi yang ada bisa tumbuh dengan leluasa.

Continue reading Blue Energy, sang BBM sintetik

Hari Bumi yang mengusik kenyamanan…

Judulnya meminjam istilah Al Gore, An Inconvenient Truth. Jika ada yang belum menonton, sempatkanlah menyaksikannya lewat HBO dan CineMax malam ini, disajikan untuk menyambut Hari Bumi.

Keputusan untuk mengusir delman dari Taman Monumen Nasional terasa mengusik-usik hati, bertentangan dengan cita-cita Kartini dan konsep berwawasan lingkungan. Tetapi tetap ditahan untuk tidak menuliskannya, demi menghormati dan menghargai wanita pertama yang menjadi walikota Jakarta. Juga karena Gubernur telah menganjurkan agar segera dicarikan solusi mengatasi masalah kotoran kuda dan mengizinkan delman kembali beroperasi.

Lihatlah betapa hal-hal yang alami kini sudah dianggap mengusik kenyamanan. Padahal ia diciptakan untuk menjaga keseimbangan ekologi. Kotoran kuda pasti bermanfaat bagi tumbuhan dan mahluk-mahluk mikro yang membuat bumi ini layak dihuni manusia.

Menjadi tuan rumah Konperensi Pemanasan Global ternyata berpengaruh positif terhadap kesadaran publik. Hari Bumi tahun ini lebih terasa dibanding sebelumnya. Anak-anak hingga orangtua, para pejalan kaki hingga media massa, semakin sadar dan semakin kritis.

Kini tinggal para bapak-bapak dan ibu-ibu di pemerintahan dan parlemen, untuk mengaplikasikan dalam peraturan dan pelaksanaan di segala bidang. Agar publik bisa dengan leluasa menerapkan apa yang dianjurkan dalam An Inconvenient Truth. Continue reading Hari Bumi yang mengusik kenyamanan…

Kring kring kring ada sepeda

Hari ini banyak keprihatinan. Dari ulah DPR – DPRD (menyerobot jalur busway, kasus slankers, suap, selingkuh, timbunan senjata), ribut partai dan calon partai hingga gembok celana. Pasti sudah banyak komentar.
Tulisan ini tidak ke sana, hanya ungkapan kekecewaan atas keputusan Pemerintah untuk membangun lagi jalan tol-dalam-kota.

Disebut-sebut bahwa setiap hari beraktivitas di Jakarta asekitar 3.500.000 kendaraan bermotor. Dalam kemacetan, kendaraan rodaempat menghabiskan sekitar 5 liter BBM, sedangkan rodadua 1 liter. Misal dari 3,5juta itu dua juta rodaempat dan 1,5 juta rodadua, maka kendaraan Jakarta menghabiskan 2×5 + 1,5×2 = 13 juta liter BBM. Setiap hari…

Misal lagi, 1/3 dari mereka beralih ke sepeda, maka kita akan menghemat lebih 4 juta liter BBM. Setiap hari…
Belum dihitung penghematan yang dicapai oleh duapertiga pengendara sisanya, karena untuk setiap pengurangan kemacetan ada pengurangan pemborosan bahanbakar.

Ada kelebihan lain dari sepeda, karena tidak menggunakan bahan bakar, maka sepeda tidak mengemisikan gas beracun dan gas yang mengakibatkan pemanasan global. Polusi berkurang, kita menghirup udara yang agak lebih bersih.
Maka sepeda memberi kontribusi pada kesehatan kota dan individu. Ini dipertegas lagi dengan manfaat dari pergerakan tubuh, olahraga.

Ketiga kelebihan yang tak terbantahkan itu disebut oleh Presiden saat mengantar rombongan Bicycle for Earth Goes to Bali pada 11 November 2007.

Kelebihan lainnya lagi: siapa saja —kaya miskin, pria wanita, tua muda— bisa bersepeda. Tersedia beragam jenis sepeda untuk semua, dari harga ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah. Buat yang kuatir, jika bersepeda digolongkan sebagai orang tak mampu, gunakan saja sepeda yang harganya 30juta. Terlalu mahal? Coba di pasar Rumput. Bukan, bukan untuk membeli rumput untuk bahanbakar kuda tunggangan. Tapi di sana ada ratusan, bahkan bisa jadi ada seribu-duaribu sepeda bekas, jika mujur bisa dapat sepeda murah dengan kondisi 90% baru. Continue reading Kring kring kring ada sepeda