Category Archives: monas

Merdesa atau Mati

Jika pekik “MERDEKA” pernah begitu menggetarkan di jalanan Jakarta pada tahun-tahun pertama kemerdekaan, maka imaji apa yang mencuat dari grafiti bertuliskan kata “MERDESA” yang muncul di beberapa dinding di tepian jalanan Jakarta?

Pada salah satu malam flaneur saya di jalanan Jakarta, grafiti itu saya jumpai di sebuah kolong jembatan kereta api di sebelah utara kota tua yang menuju arah Pelabuhan Sunda Kelapa. Di sana tertulis: “MERDESA ATAU MATI”.

Continue reading Merdesa atau Mati
Advertisements

Monas semakin cantik

Menjelang HUT Kemerdekaan ke 62, Monumen Nasional sudah mulai berhias sejak beberapa bulan belakangan ini. Taman di seputar kaki tugu setinggi 137m ini ditata ulang. Jauh lebih cantik dari sebelumnya. Bunga-bunga bangkai imitasi tampak menonjol. Beberapa pot raksasa diukir indah.

Berjalan mengelilingi kaki tugu terasa sedap di mata dan di hati. Terutama di pagi dan sore hari. Tim kebersihan patut dipuji, sampah yang ditinggalkan atau dibuang oleh pengunjung yang tak tahu diri, kurang dari semenit sudah disapu bersih.

Tugu Monumen Nasional mulai dibangun pada 1959, dan diresmikan pada 17 Agustus 1961. Semula ada 35kg emas melapisi perunggu berbentuk api di puncaknya, sejak 1995 dilengkapi menjadi 50 kg — menyambut 50 tahun Proklamasi RI. Anda bisa naik hingga ke puncak hanya dengan Rp.7.500. Dari puncak keindahan taman semakin menonjol. Meski harus agak susah payah untuk memanjangkan leher, dari sudut pandang eye-bird ini bisa kita nikmati keindahan taman-taman yang didesain membentuk ornamen ornamen khas beberapa propinsi kita.

Jika hanya sampai cawan, lebih murah lagi: Rp.2.500. Sedangkan di bagian bawah kaki tugu ada Museum Monumen Nasional dengan diorama-diorama yang menggambarkan perjalanan sejarah bangsa, di sini juga bisa didengar rekaman suara Bung Karno membacakan Proklamasi. Bendera Pusaka sedang diupayakan untuk disimpan di Museum ini. Continue reading Monas semakin cantik

Jejak-jejak para pemimpin

Diilhami oleh trotoar Walk of Fame-nya Hollywood, sejak 15 Agustus 2003 jejak kaki presiden-presiden RI dipasang di trotoar Monumen Nasional di Jalan Medan Merdeka Utara dalam bentuk lempeng perunggu berukuran 70 x 70 cm.

Sebetulnya tak perlu melongok ke Amerika sana, karena tradisi ini sudah dilakukan lebih dulu oleh nenek moyang kita. Raja Purnawarman saja meninggalkan dua jejak: di prasasti Ciaruteun yang disimpan di Museum Sejarah Jakarta, dan di prasasti batu tulis Jambu yang dirawat di puncak bukit Koleangkak, desa Pasir Gintung, Leuwiliang, Bogor.

Ini dia jejak-jejak para pemimpin beserta teks yang mendampinginya:

tapak0.jpg

shriman data kertajnyo narapatir – asamo yah pura tarumayam nama shri purnnavarmma pracurarupucara fedyavikyatavammo tasyedam – pada­vim­­badavyam ar­na­ga­rotsadane nityadksham bhak­tanam yang­dri­pa­nam – bhavati sukhahakaram shalya­bhu­tam ripunam.
Continue reading Jejak-jejak para pemimpin