Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin

Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B Jassin merupakan suatu lembaga nirlaba yang salah satu tugasnya adalah mendokumentasikan hasil cipta sastra bangsa Indonesia.

Berlokasi di dalam Taman Ismail Marzuki (TIM), gedung di lantai dua itu terletak di belakang Planetarium. Setiap hari dikunjungi sekitar 30 orang, yang sebagian besar adalah pelajar SMA, selain mahasiswa yang sedang menyelesaikan skripsi atau peneliti sastra Indonesia dari dalam dan luar negeri.

Menjelang sore hari, beberapa penyair dan pengarang berkumpul untuk berdiskusi atau mendampingi Endo Senggono, Kepala Perpustakaan PDS H.B Jassin yang kerap menerima rombongan siswa dan mahasiswa dari beberapa daerah di Indonesia yang melakukan studi banding dan jumpa dengan
sastrawan. Setiap tahun PDS H.B Jassin menerima sekitar 30 rombongan. Setiap rombongan terdiri dari 50-200 orang. Continue reading

Advertisements

Buku mewah museum tertua di Asia

Menyambut dibukanya Pameran Majapahit hari ini, sekaligus peresmian sayap gedung baru Museum Nasional, berikut ini artikel dari edisi 3 Bataviase Nouvelles.

Museum Nasional Jakarta adalah museum tertua dan terbesar di Asia. Sungguh fakta yang jarang disebut dan boleh jadi karenanya kurang disadari oleh warga Jakarta sendiri. Koleksi-koleksinya mencakup jutaan tahun sejarah alam dan manusia berikut budaya-budaya di beribu pulau yang terbentang diantara Samudera Hindia dan Pasifik.
Koleksi museum ini ada yang berumur lebih dari 900 tahun. Koleksi juga menunjukkan betapa ternyata di era-era lampau kerajaan-kerajaan nusantara telah membina hubungan baik dengan pusat pusat istana di Cina, India dan Eropa. Saling pertukaran cindera mata atau barang-barang mewah terjadi. Continue reading

Jejak-jejak para pemimpin

Diilhami oleh trotoar Walk of Fame-nya Hollywood, sejak 15 Agustus 2003 jejak kaki presiden-presiden RI dipasang di trotoar Monumen Nasional di Jalan Medan Merdeka Utara dalam bentuk lempeng perunggu berukuran 70 x 70 cm.

Sebetulnya tak perlu melongok ke Amerika sana, karena tradisi ini sudah dilakukan lebih dulu oleh nenek moyang kita. Raja Purnawarman saja meninggalkan dua jejak: di prasasti Ciaruteun yang disimpan di Museum Sejarah Jakarta, dan di prasasti batu tulis Jambu yang dirawat di puncak bukit Koleangkak, desa Pasir Gintung, Leuwiliang, Bogor.

Ini dia jejak-jejak para pemimpin beserta teks yang mendampinginya:

tapak0.jpg

shriman data kertajnyo narapatir – asamo yah pura tarumayam nama shri purnnavarmma pracurarupucara fedyavikyatavammo tasyedam – pada­vim­­badavyam ar­na­ga­rotsadane nityadksham bhak­tanam yang­dri­pa­nam – bhavati sukhahakaram shalya­bhu­tam ripunam.
Continue reading