Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin

Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B Jassin merupakan suatu lembaga nirlaba yang salah satu tugasnya adalah mendokumentasikan hasil cipta sastra bangsa Indonesia.

Berlokasi di dalam Taman Ismail Marzuki (TIM), gedung di lantai dua itu terletak di belakang Planetarium. Setiap hari dikunjungi sekitar 30 orang, yang sebagian besar adalah pelajar SMA, selain mahasiswa yang sedang menyelesaikan skripsi atau peneliti sastra Indonesia dari dalam dan luar negeri.

Menjelang sore hari, beberapa penyair dan pengarang berkumpul untuk berdiskusi atau mendampingi Endo Senggono, Kepala Perpustakaan PDS H.B Jassin yang kerap menerima rombongan siswa dan mahasiswa dari beberapa daerah di Indonesia yang melakukan studi banding dan jumpa dengan
sastrawan. Setiap tahun PDS H.B Jassin menerima sekitar 30 rombongan. Setiap rombongan terdiri dari 50-200 orang. Continue reading

Hari ini 28 tahun lalu…

Jumat 14 Maret 1980. Salah seorang founding fathers kita menghembuskan nafas terakhirnya pada pukul 18.45.
Bung Hatta
wafat, dikelilingi ketiga puterinya, Meutia, Gemala dan Halida serta sang isteri, Ibu Rachmi Hatta, dan sekretaris Almarhum sejak tahun 1942, bernama Wangsa.

Kerumah Bung Hatta di jalan Diponegoro, selain Presiden Soeharto, Ibu Fatmawati, Buya Hamka dan tokoh-tokoh lainnya, juga melayat para abang becak, tukang sayur, penjaja makanan keliling, untuk kali terakhir menatap wajah Sang Proklamator dan memberi penghormatan terakhir.

DR. Roeslan Abdulgani menyebut Bung Hatta sebagai ‘The Guardian of National Conscience’, penjaga hati nurani nasional bangsa Indonesia, yang sampai sekarang ini belum ada duanya. Bung Hatta berani menggugat siapapun kalau ia merasakan bahwa ada penyimpangan. Continue reading

Penggeli hati 1920

Sekali peristiwa Djohan Boediman pergi berjalan-jalan dengan tiada membawa uang seduitpun jua. Maka sampailah ia pada sebuah sungai yang amat lebar. Barang siapa yang hendak menyeberang sungai itu, harus diseberangkan oleh tukang perahu dengan bayaran 25 sen.
Kata Djohan Boediman kepada tukang perahu itu: “Saya tiada membawa uang; tetapi ada sebuah nasihat yang lebih nilainya dari pada emas. Seberangkanlah nanti saya berikan nasihat itu kepadamu!”
Oleh karena tukang perahu itu ingin hendak mengetahui ,,nasihat” itu lalu Djohan Boediman diseberangkannya.
Ketika Djohan Boediman turun kedarat, maka tanya tukang perahu itu kepadanya: ,,Apa nasihatmu itu?”
Sahut Djohan Boediman sambil menggoyang-goyangkan telunjuknya dekat hidung tukang perahu itu: ..Orang yang tiada membayar lebih dahulu, jangan sekali-kali diseberangkan!” [dari Sri Poestaka 1920]

Polemik Pers Kebangsaan

Seabad Pers Kebangsaan ternyata menimbulkan polemik antara Andreas Harsono dari Yayasan Pantau dengan Zen R. Soegito dan Muhidn M. Dahlan dari Indexpress. Berikut ini klipingnya.

Guna memudahkan pembaca, semua tulisan disalin ulang tanpa perubahan teks, hanya dibubuhi BOLD, ITALIC, BLOCK QUOTE dan kosmetika lainnya. Ada link ke tulisan aslinya. Triggernya pada 6 Juni 2007 berada di akhir posting ini, tulisan dan tanggapan berikutnya ditambahkan di atasnya —urutan terbalik, dari terbaru hingga awal polemik.

Banyak manfaat yang bisa diperoleh dari suatu polemik. Silahkan menyimak.

———

Tuesday, November 27, 2007
“Ngobrol” dengan Mas Tirto dan Pramoedya

:: tanggapan terakhir untuk andreas harsono dari yayasan pantau

Tadi malam saya menggelar ritus jelangkung. Saya merapal mantra dalam sebuah genisa al-kitabiah: “Jelangkung jalangse… datang tak dijemput pulang tak diantar. Hwarkadalah Hoooo…..”

Dengan kemurahan hati, mereka kini mau keluar dari pendiangan mereka masing-masing. Ada tiga yang segera meloncat di meja bulat-tidak persegi-juga-tidak setelah namanya saya sebut tiga kali: “Mas Tirto” (Tirtoadisoerjo), Bung Pram (Pramoedya Ananta Toer) dan Gus Durrahman (Abdurrachman Surjomihardjo).

Saya pun langsung keluarkan secarik surat terakhir dari Andreas Harsono (selanjutnya ditulis “Kritikus Kita“): “Pers, Sejarah dan Rasialisme by Andreas Harsono”.

“Mas Tirto, Bung Pram, Gus Durrahman kenal penulisnya?” tanya saya. Mas Tirto melihat kertas itu dan menggeleng. Bung Pram hanya merogoh kantong dan menyalakan sebatang kretek. Adapun Gus Durrahman malah mendongakkan kepala. Continue reading

Indonesia jelang tahun baru 1920

1 hari jelang tahun baru, tahun 1919 digantikan tahun 1920, surat kabar Tjaja Soematra menurunkan sajak berkepala “Lahirlah Tahoen 1920 !!!”. Kebaikan dan keselamatan jadi harapan di masa depan. Hari-hari yang bikin kalut dan sengsara di tahun 1919 diharap tak terulang di tahun baru,1920.

Sajak ini menebar impian akan republik dan kemerdekaan, juga mengabarkan kelaparan dan pandemi influenza yang dasyat. Tak sedikit rakyat di Djawa dan Soematra, seluruh tanah Hindia menjadi korban epidemi flu Spanyol. Semoga di tahun 2007 dan tahun-tahun selanjutnya rakyat tak didera lapar dan flu burung.
“Tahoen 1919 njatalah silam/menggojangkan pendoedoek pendjoeroe alam/ hai 1920 djanganlah moeram/ pantjarkanlah tjahajamoe seloeroeh ‘alam.”

Surat kabar Tjaja Soematra adalah surat kabar Melayu, diterbitkan pertama kali tahun 1896 di Padang oleh K. Baumer, dibawah perusahaan Winkel Maatschappij v.h. P. Baumner & co. Padang. Salah satu redaktur pimpinan redaksinya adalah Sampono Radja. Terbit setiap hari Selasa, Kemis, Saptoe, kecuali hari besar. Penduduk Hindia yang ingin berlangganan membayar f 9.- untuk 1 tahun, f 4.50 dapat 6 bulan, dan 3 bulan membayar f 2.25.

Sekarang penduduk Batavia tak lagi bisa berlangganan karena korannya sudah almarhum. Tapi pembaca akan suka hati membaca artikelnya soal detik-detik menjelang tahun baru di tanah hindia periode awal abad 20. Semoga kekalutan tahun 1919 itu tak terjadi di antero penduduk Indonesia di tahun baru 2007.
“Lahirlah tahoen 1920!!!”, lahirlah tahun 2007!!! [Basil]

Lahirlah tahoen 1920!!!

Tahoen 1919 lenjaplah njata
pergi mendapatkan doenia yang baka
seloeroeh doenia ta’kan loepa
pengaroeh 1919 poerak poranda.

Pendoedoek doenia tentoelah sedar
baik didoesoen atau dibandar
dimana mana terdengar kabar
pantjaroeba mengedari doenia jang lebar.

Perhatikanlah wahai tolan dan handai
kedjadian ditahoen 1919 boekan sebagai
laksana permata djatoeh berderai
djadi peringatan bagi sipandai.

Pendoedoek doenia tentoelah insjaf
tahoen 1919 seoempama wakaf
menggerakkan sekalian oerat saraf
mendjadi adjaran bagi jang kilaf.

Teroetama bagi pendoedoek Europa
baik diselatan atau oetara
bagi peringatan semata mata
tergambar diotaknja sebagai peta.

Betapakah tidak wahai djauhari
oleh pendoedoek Europa jang ta’ pani
besar sjoekoernja pada illahi
karena terlepas dari pada bahaja negeri.

Tahoen 1919 selaloe diotak
sendjata peperangan moelai terletak
perkakas menghabiskan doesoen teratak
Toehanlah djoega jang empoenja kehendak.

Selesai dari pada meangkat sendjata
kaoem Belejewik datang menggoda
mengantjam segenap djadjahan Europa
goena mentjapai kata merdeka.

Kaoem bangsawan diminta hapoesi
menindis rai’at jang berlebih lebihi
keradjaan republiek akan ditjari
mereka pemimpin berhaloean democratie.

Wahai pembatja toean dan engkoe
kedjadian ditahoen ’19 boekan soeatoe
Influenza dan lapar datang mengganggoe
semoeanja takdir Toehan jang satoe.

Penjakit Spanjol datang berdjangkit
sematjam penjakit jang baharoe terbit
keadaanja gadjil sertanja soelit
mendjadikan korban boekan sedikit.

Di beberapa tempat sangat hebatnja
baik di Djawa atau di Soemetera
pendeknja diseloeroeh poela Hindia
Influenza mengamoek dengan perkasa.

Influenza berdjangkit boekan boeatan
disatoe satoe negeri sangat mengerikan
seperti di Naras district Pariaman
Influenza nan sangat habis memoenahkan.

Oleh Goebernemen ta’ diboeat loepa
selaloe ditolong rai’at jang sengsara
menjahkan bala dari moeka doenia
patoetlah dioetjapkan akan kasihnja.

Tahoen 1919 berbintang kelam
tanah Hindia akan diantjam
bahaja lapar datang mendendam
kaoem miskin banjaklah karam.

Kaoem miskin hatinja ta’ sedap
kalau diantaranja ta’beriman tetap
tentoelah matanja mendjadi gelap
melanggar oendang akan diharap.

Melihat sianak doedoek meroetoe
karena ta’ makan barang soeatoe
tentoelah anggota djadinja lesoe
sjetan menggoda pastilah tentoe.

Dalam zaman begitoe soekar
pemerintah berpemandangan lebar
mentjegah godaan penjakit lapar
soepaja rai’at djangan terhantar.

Berkat oesaha pemerintah sini
pemoeka rai’at poen tiadalah soeni
keadaan rai’at amat diselidiki
setiap waktoe tiadalah ditinggali.

Jang dipertoean Radja Moeda
memegang tampoek tanah Hindia
selaloe membimbing pergerakan rai’atnja
Allah membalas akan djasanja.

Tahoen 1919 njatalah silam
menggojangkan pendoedoek pendjoeroe alam
hai 1920 djanganlah moeram
pantjarkanlah tjahajamoe seloeroeh ‘alam.

Bawalah gobahan oentoek Hindia
pengobah manoesia jang bersengsara
soepaja rai’at bersoeka raja
djanganlah sebagai sa’at biasa.

Achir kalam kita oetjapkan
moedahan 1920 membawa perobahan
seloeroeh Hindia hendaknja aman
mara bahaja Allah lindoengkan.

R. v

Koran Ekstremis bermata bisnis

Inilah salah satu koran lama di Sumatra 1920-an, yang radikal, berani mengkritik kebijakan pemerintah Hindia Belanda. Memiliki korespoden di Eropa, Tiongkok dan Rusia. Dan laku di masyarakat luas. Kali pertama Pertja Selatan terbit tertanggal 1 Juli 1926 di bawah bendera N.V. “Peroesahaan Boemipoetra” Palembang.

Pada masthead tercantum KM. Adjir sebagai direktur dan administrateur (administrasi) Kiagoes Mas’oed. Lalu sebagai redacteur (redaktur) atau penanggung jawab redaksi adalah Raden Mas Ario (R.M.A) Tjondrokoesoemo.

Di tahun pertama, Pertja Selatan menyapa pembacanya seminggu 2 kali saban hari Senin dan Kamis. Harga eceran 15 sen dan sekali terbit 2 lembar, 4 halaman serta dicetak 1000 eksemplar. Edisi proefnummer (nomer perkenalan) dikeluarkan pada 17 Juni 1926 yang dibagibagikan secara gratis kepada para Pasirah (kepala marga) – Pasirah Bond, sekolahsekolah Islam. Pasirah Bond adalah sebuah organisasi perkumpulan Pasirah atau kepala marga di seluruh tanah adat Marga di berbagai daerah Sumatera Selatan yang meliputi Bengkulu, Lampung, Jambi, dan Palembang.
RMA. Tjondrokoesoemo adalah orang pertama yang mengemudikan Pertja Selatan. Tjondrokoesomo atau yang lebih dikenal Tj.K. sebelumnya memimpin surat kabar Tjahaja Palembang [1925-1928]. Namun hanya bertahan setahun. Pada 1926, Kiagoes Moehamad Adjir, directeur Pertja Selatan mengangkatnya sebagai hoofdredacteur (pemimpin redaksi).
Menurut KM. Adjir, Tjondrokoesoemo adalah orang yang dikenal reputasi baik dalam dunia jurnalisme, baik di Sumatra maupun di Jawa. Selain itu ia pun cukup dikenal dan dekat dengan kalangan pergerakan nasional di Sumatra Selatan.

Pada 1927 Tjondrokoesoemo terpaksa tinggalkan meja redaksi karena 2 kemungkinan. Karena usianya sudah uzur dan karena Pemerintah Hindia Belanda memblacklistnya menggerakkan pemberontakan komunis 1925-1926.
Mundurnya Tjondrokoesoemo dikabarkan dalam Pertja Selatan no. 40, 22 November 1926. Direksi mengabarkan kemundurannya karena kesehatan dan tidak diketahui sampai kapan.

Posisi redacteur langsung ditempati Mas Arga. Kehadiran Mas Arga pun juga tidak dijelaskankan. Direksi hanya menegaskan haluan Pertja Selatan tidak berubah. Kabar yang dimuat dalam “kabar direksi” itu disiarkan sedikitnya 5 kali.

Mas Arga adalah mantan korektor harian Bintang Timoer, surat kabar Batavia yang dikemudikan oleh Parada Harahap. Di tangannya, Pertja Selatan tetap memunculkan kritik-kritik pedas terhadap pemerintah. Arga sering menurunkan tulisan seputar gejolak pemberontakan komunis 1926/1927. Karena itu Mas Arga dikenal jurnalis radikal dan berani, sehingga ia “menggondol” dua delik, saat keluar dari redaksi (1 Mei 1927) delik yang satu sedang diparket (diproses) dan satunya masih di tangan polisi kolonial.

Tahun 1926-1927 Pertja Selatan menorehkan sejarah sekaligus berada dalam ujian berat. Pasalnya, pemerintah kolonial memberikan tekanan dan tindakan keras terhadap politikus dan surat kabar Melayu bumiputra. “Bogem hitam” itu yang menjadi alat pemukul mematikan adalah pasal 153 bis dan ter dari Buku Hukum Siksa Hindia Belanda atau Wetboek van Straftrecht (W.v.S.). Pemerintah menyebut mereka kaum “ekstremis” yang sangat garang dan brutal.

Seorang koresponden Pertja Selatan di daerah Uluan menjadi korban bogem hitam itu. Ia terkena pasal 153 bis dan ter karena satu artikel dalam Pertja Selatan 20 Juli 1932, yang judulnya “B.B. Matjan”. M. Noer, sang koresponden itu diadukan oleh controleur (pengawas) setempat. Tulisannya dianggap telah menyinggung perilaku seorang pejabat BB (Binnelandsch Bestuur) Muara Dua. Lalu M. Noer dihadapkan ke sidang Landraad dan dijatuhi hukuman 2 bulan penjara.

Kasus lainnya juga menimpa Paman Lengser redaktur yang menulis di rubrik “Roembah Lalap”. Paman Lengser merupakan nama samaran dari Noengtjik.
Ia beberapa kali dipanggil Dinas Intelijen Belanda (P.I.D), salah satunya dimintai keterangan perihal tulisan resensi sebuah buku berisi tentang peperangan, yang dinilai sebagai buku terlarang, “bacaan liar”. Noengtjik bergerak cukup licin. Ia hanya merasa letih karena sering diinterogasi, yang tanpa berujung di terali besi penjara.
Pada 1938 Noengtjik kembali berurusan dengan polisi kolonial. Ia telah melindungi seorang jurnalis yang tulisannya dianggap mencemarkan nama baik Tan Shio Sak, seorang reserse staatpolitie Palembang. Ia dimintai keterangan dan membuka identitas penulis kabaran bernada menghina reserse itu. Noengtjik menolaknya dan melindungi penulis tersebut, akibatnya Landraad menjatuhkan hukuman denda f. 25 (forin = gulden, rupiah Belanda).
Perkara ini bertambah panjang karena melibatkan direktur KM. Adjir dalam membongkar kedok penulis itu. Adjir menegaskan tanggungjawab redaksi ada pada Noengtjik dan menolak membuka kedok sang penulisnya.

Peristiwa ini menjadi polemik berbulan-bulan di antero jurnalis Nusantara karena baru kali pertama perkara tulisan yang menjadi tanggungan redaksi dikenakan juga oleh seorang direktur, yang bertanggung jawab memimpin dan menjalankan perusahaan penerbitan, padahal tanggungjawab redaksi sepenuhnya pada hoofdredacteur.
Tuntutan itu berakhir (1939) dengan hukuman denda f.10.

Meskipun redaksi Pertja Selatan sering dikenai hukuman, bisnis surat kabarnya mengalami kemajuan. Pada 1929 oplah surat kabar dinaikkan ke angka 2500 eksemplar. Jumlah halaman saban terbit ditambah antara 2 ½ sampai 3 lembar penuh (10-12 halaman). Saat itu sebuah firma besar Eropa terikat kontrak advertensi dengan Pertja Selatan. Belanja penerbit atau percetakan juga bertambah, dari f. 5000 menjadi sekitar f. 7500.

Pada 1939 Pertja Selatan berhasil didagblaadkan, jadi harian, setelah terbit 3 kali 1 minggu, yaitu hari Selasa, Kamis, dan Saptu. [Basil ]

Koran Nasional Pertama Lahir di Bandung

logo-pr.jpg


Oleh SYAFIK UMAR

SETIAP kali saya menyatakan, koran nasional pertama itu terbit di Bandung, tidak banyak yang bereaksi. Soalnya, ceritanya akan menembus waktu 100 tahun. Refleksi satu abad seperti itu tentu memerlukan banyak catatan dari banyak sumber pula termasuk dari Perpustakaan Nasional. Rasanya cukup tepat kalau catatan langka seperti ini kita ungkap di tengah-tengah berlangsungnya peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2006 Februari ini di Bandung.

Surat kabar yang menyandang predikat nasional “tulen” itu pernah dinyatakan lahir di Bandung satu abad lalu. Namanya “Medan Prijaji”. Jadi, pelaksanaan HPN di Bandung Februari 2006 ini bisa berarti pula memperingati satu abad terbitnya surat kabar nasional “tulen” itu. Mengapa “Medan Prijaji”? Hal ini juga pernah diperdebatkan pada saat berlangsungnya kegiatan Kongres X Serikat Penerbit Surat kabar (SPS) Indonesia di Tawangmangu, Surakarta, Desember 1958.

Tiga koran tertua

Dalam sejarah pers di Indonesia, surat kabar “Bataviase Nouvelles” yang terbit 7 Agustus 1744 disebutkan sebagai surat kabar pertama di Indonesia, terbit atas kebaikan hati Gubernur Jenderal Van Imhoff. Izin terbitnya diberikan kepada Adjunct-Secretaris-General Jorden. Izin terbit enam bulan, kemudian diperpanjang menjadi tiga tahun. Pada tanggal 5 Agustus 1810 terbit “De Bataviasche Koloniale Courant”. Itu zaman Daendels-Inggris. Tanggal 29 Februari 1812 terbit “The Java Gouvernment Gazette” (Java Gazette). Bulan Maret 1836 lahir surat kabar usaha partikulir asli yang pertama Indonesia di Surabaya yaitu “Soerabaijas Advertentie-Blad”. Tahun 1853 berganti nama menjadi “Soerabaijas Nieuws & Advertentie Blad”. Boleh memuat warta berita tetapi diawasi ketat oleh Belanda. Jadi bukan Batavia, tetapi Soerabaija, kota cikal bakal terbitnya surat kabar Indonesia. Namun, semuanya bukanlah bacaan yang diperuntukkan bagi anak negeri karena memang tidak diperuntukkan bagi anak negeri. Pada tahun 1854 terjadi kelonggaran kebijakan Belanda terhadap penerbitan surat kabar di Indonesia. Maka terbitlah di Surakarta “Mingguan Bromartani” tiap hari Kamis. “Bromartani” nama ke-Indonesiaan sekaligus ke-Jawaan. Tenaga dan para pemikirnya orang Indonesia. Tetapi modalnya tetap asing, sebuah usaha kongsi Belanda Harteveldt & Co. Karena itu sangat sulit untuk dimasukkan ke dalam kategori pers Indonesia. Berbahasa Djawa dan Melajoe, tenaga teknis, Indonesia, “Bromartani” sudah cenderung menjadi pelopor ke arah perkembangan pers nasional Indonesia.

Kini jatuh pilihan kepada “Medan Prijaji”, mingguan yang terbit di Bandung tahun 1907, sebagai surat kabar nasional pertama yang menyandang predikat tulen. Pengasuhnya Raden Mas Tirtohadisoerjo dengan nama kecil Djokomono. Sebelum menerbitkan “Medan Prijaji”, Januari 1904 Djokomono mendirikan dulu badan hukum N.V. Javaansche Boekhandel en Drukkerij en handel in schrijfbehoeften “Medan Prijaji” beralamat di Djalan Naripan Bandoeng yaitu di Gedung Kebudayaan (sekarang Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan-YPK).

Di hadapan Notaris Simon Bandung, konon ia ingin segera menerbitkan “Medan Prijaji” tahun itu juga. Dia persiapkan dulu percetakannya, menyiapkan sarana surat kabarnya dan kelengkapan wartawannya. Belakangan Djokomono disebut pula sebagai perintis persuratkabaran dan kewartawanan nasional Indonesia. Karena itu “Medan Prijaji” paling tepat disebut sebagai koran pertama Indonesia tulen, sebab mulai dari pengasuhnya, percetakan, penerbitan dan wartawannya adalah pribumi Indonesia asli. Djokomono sendiri disebut-sebut pula sebagai perintis persuratkabaran dan Kewartawanan Nasional Indonesia. Konon pada waktu itu sudah lahir organisasi wartawan PDI (Persatoean Djoernalis Indonesia). Ketika pertama kali terbit di Bandung, “Medan Prijaji” mencantumkan moto di bawah nama “Medan Prijaji” sbb: “Ja’ni swara bagai sekalijan Radja2. Bangsawan Asali dan fikiran dan saoedagar2 Anaknegri. Lid2 Gemeente dan Gewestelijke Raden dan saoedagar bangsa jang terperentah lainnja”.

Dibuang ke Bacan

Pada tahun 1910 di Jakarta (Djakarta waktu itu masuk wilayah Djawa Barat), “Medan Prijaji” berhasil terbit tiap hari kecuali hari Djoemahat dan Minggoe dan Riaja (hari-hari besar). Nomor 1 terbit pada hari Rebo 5 Oktober 1910 tahun. Nomor terakhir terbit hari Selasa 3 Djanuari 1912 tahun VI. Ketika pertama kali terbit menjadi harian tetap, mengambil tahun IV karena tahun I, II, dan III masih mingguan yang terbit di Bandung. Ini sekaligus merupakan pernyataan tegas bahwa untuk pertama kali “Medan Prijaji” terbit di Bandung. Di bawah judul surat kabar harian “Medan Prijaji” itu tertulis moto: “Orgaan boeat bangsa jang terperentah di H.O. Tempat akan memboeka swaranya Anak-Hindia“. Di zaman itu, merupakan keberanian luar biasa menulis moto seperti itu. Dialah yang pertama menggunakan surat kabar sebagai pembentuk pendapat umum. Berani pula menulis kecaman-kecaman pedas terhadap pemerintahan kolonial Belanda pada masa itu. Kecaman hebat dan pedas yang pernah dilontarkannya terhadap tindakan-tindakan kontroler. Risikonya Mas Tirtohadisoerjo disingkirkan dari Pulau Jawa dan dibuang ke Pulau Bacan, dekat Halmahera (Provinsi Maluku Utara). Mas Tirtohadisoerjo dalam mengasuh “Medan Prijaji”, telah meletakkan dasar-dasar jurnalistik modern. Secara profesional dilakukannya pembaruan dalam mengolah isi surat kabar. Pemuatan berita, karangan-karangan, pengumuman, pemberitahuan, iklan dan lainnya disusun secara baru, sehingga terlihat sebagai surat kabar yang segar dan menarik pada zamannya. Pada saat itu sudah dirasakan peran perwajahan surat kabar menjadi sangat penting.

Cara pengelolaan surat kabar dan keberaniannya melawan penjajahan Belanda mempengaruhi pula kalangan penerbitan di Bandung dan Jawa Barat umumnya. Di Jawa Barat terbit silih berganti mingguan, berkala, harian yang menyebar ke seluruh Jawa Barat, baik berbahasa Sunda maupun berbahasa Indonesia.

Perkembangan pers di Jawa Barat, sejak awal menjadi catatan penting dan strategis dalam sejarah media cetak di Indonesia. Di beberapa daerah di Jawa Barat, baik di Bandung, Bogor, Tasikmalaya, Cirebon, Sukabumi, dan Banten, silih berganti kaum nasionalis menerbitkan surat kabar. Pengelolaan media secara profesional dikembangkan. Idealisme kejuangan mewarnai konten dari media. Media massa, khususnya surat kabar pada masa itu oleh kaum nasionalis digunakan dan dimanfaatkan sebagai alat perjuangan dalam menentang penjajahan Belanda. Karena itulah surat kabar sering berumur tidak panjang dan pimpinannya sering pula berurusan dengan polisi rahasia yang senantiasa mengawasi dan memata-matai kaum pergerakan nasional. Sangat terkenal waktu itu Polisi Rahasia Belanda, PID (Politieke Inlichtingen Dienst). Segala laporan PID menjadi dasar bagi Belanda untuk melakukan tindakan pelarangan penerbitan koran dan memenjarakan orang-orang surat kabar.

Penerbitan surat kabar yang berbahasa Indonesia/Melayu dan surat kabar berbahasa daerah Sunda secara kuantitatif berimbang jumlahnya. Surat kabar berbahasa Sunda tampaknya lebih akrab dengan masyarakat Jawa Barat terutama di daerah Priangan. Asas kedekatan komunitas tampaknya berpengaruh. Ada pula surat kabar yang berbahasa Belanda dan Tionghoa.

Jauh sebelum “Medan Prijaji” terbit, di Cirebon sudah ada surat kabar “Tjiremai” (1890) dalam bahasa Belanda. Di Sukabumi terbit “Li Po” (1901), merupakan surat kabar keturunan Tionghoa. Di Bogor juga terbit surat kabar Mingguan Tionghoa “Wie Sin Ho” (1905).

Dalam kurun waktu 1914-1935 di sekitar Bandung terbit surat kabar berbahasa Indonesia/Melayu seperti “Padjadjaran” (1921). Koran “Kaoem Moeda” (1922) di Bandung dipimpin A.H. Wignjadisastra dan Abdoel Moeis. Sebelumnya “Kaoem Kita” (1921) terbit atas inisiatif Abdoel Moeis. Selanjutnya tercatat koran “Perbincangan”, “Perasaan Kita”, “Harian Fadjar” (1925) dalam bahasa Melayu dan Belanda.

Setelah “Kaoem Merah”

Ada catatan yang tersisa dari perkembangan pers Jawa Barat di zaman pergerakan itu. Setelah terjadinya pemberontakan “Kaoem Merah” November 1926, sejumlah surat kabar baru, terbit di beberapa kota Jawa Barat, khususnya di Kota Bandung. Tercatat di Bandung terbit koran “Indonesia Moeda”. Terbit pula “Fikiran Ra’jat” yang sangat terkenal dengan tulisan Bung Karno, Indonesia Menggoegat. Pemikiran dan tulisan Bung Karno yang dimuat di “Fikiran Ra’jat” itulah yang membawanya ke sidang pengadilan dan divonis penjara. Di Rangkasbitung, Banten terbit “Bidjaksana” dipimpin O.K. Yaman yang kemudian pindah ke Tasikmalaya. “Bidjaksana” dikelola Pagoejoeban Pasoendan dan saat pindah ke Bandung dipimpin Moh. Koerdie. Pada waktu itu di Tasikmalaya juga tercatat ada dua mingguan yaitu “Galih Pakoean” dan “Kesatrya” dipimpin A.S. Tanoewiredja dan Soejitno. Terbit pula Mingguan “Pertimbangan” dan “Kawan Kita”, masing-masing dipimpin Tengku Makmun dan Mangoenatmodjo. Pada saat hampir bersamaan di Bandung terbit “Sinar Pasoendan” yang diasuh oleh Ali Ratman. Imbi Djajakoesoema bersama O.K. Yaman dan Iding Wangsawidjaja (terakhir Sekretaris Bung Hatta). Di Cirebon tercatat “Poesaka Cirebon” pimpinan Darma Atmadja, “Warta Tjirebon” dan “Soeloeh Ra’jat” pimpinan Anwar Djarkasih. Tahun 1932 tercatat “Soeara Poeblik” (Bandung) pimpinan Soejitno dan Liem Koen Hian.

Pada tahun 1935 di Bandung tercatat penerbitan koran “Nicork – Express”, koran stensilan pertama di Bandung kemudian menjadi harian dengan Pemimpin Umum/ Pemimpin Redaksi Bratanata. Jajaran redaksinya Djamal Ali dan Ahmad Zainun Soetan Palindih. Selanjutnya terbit “Berita Priangan” dipimpin Ali Ratman dengan Pemred O.K. Yaman dan Bakri Soera Atmadja. Ada pula “Sepakat” dipimpin A. Hamid. Koran Indonesia dipimpin Moh. Koerdie dan Rochdi. “Berita Oemoem” lahir sebagai kelanjutan dari “Berita Priangan” dipimpin Soenarjo Gondokoesoemo dan Ali Tirto Soewirjo.

Koran bahasa Sunda

Ramainya penerbitan koran berbahasa Melayu/Indonesia di Jawa Barat, pada waktu bersamaan diikuti oleh penerbitan berbahasa Sunda. Penerbitan media cetak berbahasa Sunda di kala itu tidak dapat dipisahkan dari pergerakan kaum nasionalis di wilayah Jawa Barat.

Menurut catatan, surat kabar berbahasa Sunda pertama yang diterbitkan di Bandung adalah “Sora-Merdika” pimpinan Moh. Sanoesi. Tahun I No. 3 terbit pada tanggal 1 Mei 1920. Ada pula yang menyatakan, surat kabar pertama berbahasa Sunda itu adalah Soenda Berita, tetapi belum jelas kapan terbitnya. Di masa itu terbit pula “Mingguan Soenda Soemanget” diasuh Tunggono. Mingguan bahasa “Sunda Padjadjaran” dipimpin Haris Soema Amidjaja dan “Siliwangi” diasuh Ema Brata Koesoema. Tercatat pula data terbitnya “Pendawa”, pimpinan Gatot. Terbit pula berkala berbahasa Sunda, “Masa Baroe”, “Sapoedjagad”, “Simpaj” dan “Isteri Merdeka”. Ada pula penerbitan koran “Panglima” di Tasikmalaya.

“Sipatahoenan” yang pernah menjadi harian di bawah pimpinan A.S. Tanoewiredja selanjutnya dipimpin Bakri Soera Atmadja dan Moh. Koerdie. “Sipatahoenan” sempat pula terbit di Tasikmalaya. Pada masa itu pula terbit “Sinar Pasoendan” dipimpin Ali Ratman dengan Pemimpin Redaksinya Imbi Djajakoesoema dan wakilnya O.K. Yaman. Redaktur Harian adalah Moh. A. Afandi dan Iding Wangsawidjaja. Di Tasikmalaya lahir “Tawekal” pimpinan Harsono, “Galoeh” di Ciamis pimpinan Arsim Karma Winata, Balaka pimpinan Ikik Wiradikarta.

Di zaman pendudukan Jepang semua surat kabar yang ada di Bandung dan Jawa Barat ditutup. Semuanya disatukan menjadi satu penerbitan yaitu surat kabar “Tjahaja” di bawah pengawasan Sendenbu. Pimpinan “Tjahaja” pada waktu itu ditunjuk Oto Iskandar Di Nata dan Bratanata.

Penghentian penerbitan seluruh surat kabar di Bandung dan sekitarnya oleh Jepang, kemudian dilebur menjadi surat kabar “Tjahaja”, merupakan bagian dari usaha Jepang untuk mengawasi penerbitan surat kabar secara ketat.

Setelah pendudukan Jepang berakhir, di Bandung tercatat ada penerbitan surat kabar “Soeara Merdeka” yang dipimpin oleh Boerhanoeddin. Begitu Belanda masuk membonceng Sekutu, “Soeara Merdeka” mengungsi ke Tasikmalaya. Pada tanggal 24 Maret 1946 terjadi peristiwa Bandung Lautan Api (BLA) yang membuat masyarakat Bandung mengungsi ke Bandung Selatan, bahkan sempat ke Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis. Koran “Soeara Merdeka” pun diungsikan ke Tasikmalaya untuk melanjutkan perjuangannya.

Ketentuan 25 Maret

Setelah merdeka, berbagai koran berbahasa Sunda mulai bermunculan di beberapa daerah di Jawa Barat seperti “Sinar Majalengka” (1948) di Majalengka, “Warga” (1954) yang dipimpin oleh Eeng di Bogor, “Kalawarta Kudjang” (1956) di Bandung.

“Sipatahoenan” yang sempat terhenti penerbitannya, akhirnya bangkit kembali tetapi pada tahun 1985 menghentikan penerbitannya. Pada awal tahun 1960-an Ajip Rosidi juga menerbitkan majalah Sunda. Media cetak yang cukup populer dan kini masih terbit adalah “Mangle”. Untuk pertama kali “Mangle” terbit di Bogor pada tahun 1957 dengan pendirinya RH. Oeton Muchtar dan Ny. RHE. Rochimika Sudarmika. Pada akhir tahun 1962 “Mangle” pindah ke Bandung dan kini terbit mingguan. Selain itu terbit pula “Giwangkara”, “Gondewa”, “Kalawarta Kudjang” dan “Galura”. Yang terakhir ini (Galura) tergabung dalam Grup Pikiran Rakyat sejak tahun 1975.

Setelah proklamasi kemerdekaan, di masa “Negara Pasoendan” diterbitkan “Harian Persatoean” yang terakhir dikelola Djawatan Penerangan pada waktu itu. Selanjutnya pada tahun 1950-an terbit “Harian Pikiran Rakjat” yang dirintis Djamal Ali bersama AZ. Sutan Palindih dkk. Pikiran Rakjat ini berhenti terbit setelah pada tanggal 25 Maret 1965 pemerintah mengeluarkan peraturan yang menentukan semua media cetak harus “menggandul” atau berafiliasi dengan partai politik. Pihak Redaksi “Pikiran Rakjat” yang pada waktu itu diwakili Sakti Alamsyah dan Atang Ruswita serta kawan-kawan ditawari Panglima Siliwangi Mayor Jenderal Ibrahim Adjie untuk bergabung dan berafiliasi dengan surat kabar Angkatan Bersendjata. Pada tanggal 24 Maret 1966 bertepatan dengan peringatan Bandung Lautan Api terbitlah “Harian Angkatan Bersenjata Edisi Jawa Barat/Pikiran Rakyat”. Judul “Pikiran Rakyat”-nya tercantum kecil di sudut kiri atas kop “Angkata Bersenjata” Edisi Jawa Barat. Setahun kemudian baru diperkenankan memakai kop “Pikiran Rakyat” (besar) sedangkan kop “Angkatan Bersenjata”-nya bertukar tempat menjadi huruf kecil di kiri atas halaman pertama. Pada tahun 1967 koran ini resmi menjadi “Harian Umum Pikiran Rakyat” hingga sekarang. ***

Penulis, wartawan senior “PR”.