Chaplin

Di luar, salju turun tebal. Dingin menusuk. Tak ada makanan. Persediaan kayu bakar di bangunan kayu itu makin menipis. Chaplin menggigil. Temannya yang bernama Big Jim sudah hampir kaku. Hanya mereka berdua di pondok itu.
Big Jim berbadan tambun, bercambang, terkesan kuat. Tapi daya tahannya lemah. Ia mengalami halusinasi. Tiba-tiba di matanya tubuh Chaplin berubah menjadi ayam besar. Menantang untuk dimasak. Big Jim meraih pisau, hendak menyerang Chaplin. Begitu pisau terangkat, matanya kembali normal. Big Jim bingung. Melihat gelagat itu, Chaplin lalu menjauhkan pisau.
Halusinasi muncul lagi. Big Jim mengambil senapan. Tapi Big Jim masih ragu-ragu. Ia mengucek-ucek matanya. Chaplin langsung merebut senapan itu dan menimbunnya di salju. Terakhir Big Jim mengambil kapak. “Ayam atau bukan, aku lapar,” kata Big Jim. Lalu terjadi pergumulan antara Chaplin dan si brewok itu. Tanpa disadari seekor beruang masuk. Ikut bergumul dengan mereka. Chaplin menembak beruang itu. Jadilah mereka memiliki daging bakar lezat.

Gold Rush di atas bukan film terbaik Chaplin. Film itu tak sekaliber Modern Times atau Great Dictator yang penuh satir. Tapi masih saja komedinya cerdas. Kita dapat tertawa karena kekonyolannya yang manusiawi. Tapi yang menjadi istimewa, film bisu Chaplin ini di Jiffest (Jakarta International Film Festival) Desember lalu, ditayangkan dengan diiringi permainan musik musisi-musisi kita. Pada Jiffest sebelumnya pernah film-film bisu Jerman dari Fritz Lang atau F Murnau dibuat acara .
Continue reading

Mengenang pedestrian Eropa untuk Kota Tua

Menggembirakan sekali mendengar ekskavasi arkeologi jalan trem di Kota Tua akan segera selesai September nanti. Ini mengingatkan pada harapan-harapan di edisi 3 yang belum sempat diblogkan :


Datanglah ke Marienplatz [plaza Maria – foto atas] Muenchen, Jerman. Tidak jauh dari Hauptbahnhof, stasiun kota. Jika cuaca bagus, dipastikan kawasan ini dipenuhi pejalan kaki. Di satu sudut kita bisa menjumpai anak-anak muda bermain band, unplugged. Di sudut lain, kadang kita jumpai pengamen-pengamen dengan biola dan bas betot melantunkan Blue Danube, komposisi klasik Johan Strauss. Mereka dikerubungi penonton, tapi juga sering bermain sendirian. Tak jadi soal.
Continue reading

Pemprov DKI Siap Siaga

banjir-header.jpg

Tampaknya Pemerintah Provinsi DKI sudah siap menghadapi banjir seburuk 2002 lalu. Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta menjamin banjir akan dapat diatasi bila semua pompa dan saluran air dapat berfungsi. Situasi terburuk —yaitu terjadinya hujan lokal; luapan air sungai dari Jawa Barat; dan air laut pasang dalam saat bersamaan, akan dapat ditangani.

23 Pompa baru di enam lokasi Jakarta Utara ditargetkan selesai 15 Desember 2006. Rp 500 miliar dialokasikan. Drainase, situ-situ dan sungai diperbaiki.
Juga pembuatan sodetan, perbaikan pompa air, perbaikan turap, pembuatan tanggul Muara Angke, dan penyaring sampah sungai.
Pengerukan lumpur dan sampah sungai antara lain dilakukan dari Jalan I Gusti Ngurah Rai hingga pintu air Pulogadung dan sepanjang Banjir Kanal Barat.
Waduk Pluit disiagakan dengan 11 pompa untuk menyedot Sungai Cideng mengendalikan 26 km2 wilayah Menteng, Cendana, dan Jalan MH Thamrin. Waduk Melati dikeruk untuk menambah daya tampung.

Di bidang non struktur, dilakukan pelatihan yang melibatkan masyarakat. 7.400 personel siaga 24 jam, juga empat helikopter, 440 kendaraan roda empat, 300 perahu karet, 134 ambulan, 240 dapur umum, 160 tenda dan 323 lokasi pengungsian, 324 puskesmas.

Koordinasi dilakukan dengan Dinas Kesehatan, Palang Merah Indonesia, TNI serta Polri yang menyiagakan lebih dari 30.000 personil.

Siaga I akan diberlakukan saat permukaan air di Nendung Katulampa Bogor di atas 310 cm, Pintu Air Manggarai di atas 950 cm, dan Pintu Air Depok di atas 350 cm.
Puncak musim hujan dengan curah 500 mm diperkirakan pada 10 hari terakhir Januari dan awal Februari 2007.

Tampaknya Pemprov DKI dan masyarakat sudah siap. Semoga juga sudah diantisipasi masalah yang juga dialami pada 2002 lalu : pompa tak bisa difungsikan karena PLN harus mematikan listrik. [sumber: Satkorlak dan Berita Jakarta]

Artikel terkait:

Pemprov DKI Siap Siaga
Banjir Jakarta Punya Siklus Lima Tahunan?
Jakarta banjir: Alam dan manusianya
Pengendalian banjir Jakarta, dulu dan kini
Tips Mengemudi Saat Banjir
Sistem Kendali Banjir Batavia
Belanda dan pengalamannya yang seribu tahun
Bendungan Baja Inggris
Banjir 2002, Jerman Rugi 175 triliun.

Pengendalian banjir Jakarta, dulu dan kini

prasasti.jpg

Pengendalian banjir mulai hadir di Jakarta agaknya sejak 1500 tahun lalu. Prasasti Tugu mengabarkannya :

Beberapa waktu lalu kanal Candrabhaga digali oleh Yang Mulia Raja Purnawarman yang memiliki lengan berotot kencang dan kuat agar air –yang masuk ke istana kerajaan yang termasyhur– bisa mengalir ke laut .
Sekarang, dalam tahun ke duapuluh dua pemerintahan, Yang Mulia Raja Purnawarman, dengan kepandaian dan kebijaksanaannya, sang pemimpin para raja, memerintahkan pembuatan kanal yang indah dan bersih airnya, dinamakan Gomati. Kanal yang mengalir melalui tengah-tengah kompleks istana resi kakek-nda Purnawarman.
Pekerjaan dimulai di hari baik, hari ke delapan bulan purnama bulan Phalguna dan diselesaikan di hari ke 13 bulan purnama Caitra, hanya 21, panjang galian adalah 6.122 busur. Acara selamatan dilaksanakan bersama para resi dengan persembahan 1.000 ekor sapi.
(sumber: www.londoh.com).

Zaman VOC di abad 17 catatannya lebih banyak. Banjir besar di Batavia terjadi pada 1671, 1699, 1711, 1714 dan 1854. Sistem pengendalian dilakukan dengan membuat sudetan sungai. Van Breen menggagas pembuatan kanal di bagian barat pintu air Manggarai sampai Muara Angke. Perubahan tata lahan kebun teh di kawasan Puncak diantisipasi dengan mengubah area persawahan menjadi situ-situ.

Di era kemerdekaan, dibentuk lembaga Kopro Banjir pada 1965 yang pada 1966 membangun Waduk Pluit serta rehabilitasi sungai di sekitarnya untuk mengendalikan luapan kali Cideng Bawah, Krukut Bawah, dan Duri.
Saluran pengendali di Grogol dibangun pada 1968 dengan membuat kali Grogol.
Pada 1969 dibangun Waduk Setia Budi yang menampung luapan kali Cideng; Waduk Melati yang mengamankan Jalan Thamrin dan sekitarnya; serta Waduk Tomang untuk menerima luapan kali Sekretaris. Bayangkan, dalam tiga tahun empat waduk.

1972, Kopro Banjir diubah menjadi Proyek Pengendalian Banjir Jakarta Raya. Lalu diperluas menjadi Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi. Kini ditangani oleh Satuan Koordinasi Pelaksana Pengendalian Banjir.

Prinsip dasar pengendalian banjir yang dilakukan adalah dengan mengalirkan air sungai yang masuk ke Jakarta, ditampung dan dikendalikan debit serta arahnya agar tidak memasuki wilayah tengah kota. Air di tengah dialirkan melalui Banjir Kanal Barat, di barat melalui Cengkareng Drain dan di timur melalui Cakung Drain.

Di daerah tinggi dibuat drainase yang menyalurkan air secara gravitasi, dengan sendirinya.
Di daerah rendah, menggunakan sistem polder: ditampung kemudian dipompa ke saluran pengendali.g [sumber: Satkorlak PBP DKI dan Depkes RI]

Artikel terkait:

Banjir Jakarta Punya Siklus Lima Tahunan?

Ketika BMG berulang kali menyatakan bahwa banjir tidak mempunyai siklus lima tahunan, para pejabat dan media tetap saja mengumbar istilah itu. Coba kita tengok faktanya:

1996: 90an titik genangan

banjir3a.jpg

6-9 Januari 1996, Jakarta terendam setelah hujan dua hari.
Sebulan kemudian, 9-13 Februari 1996, tiga hari hujan lebat dengan curah lima kali lipat di atas normal, merendam Jakarta setinggi 7 m. melimpas tanggul sepanjang 2,5 km. 529 rumah hanyut, 398 rusak. Korban 20 jiwa, 30.000 pengungsi. Nilai kerusakan 435 juta dollar. [sumber: Satkorlak PBP DKI dan Dartmouth Flood Observatory].

2002: 159 titik genangan

banjir3b.jpg

Curah hujan besar bersiklus 350 tahun mengguyur hampir seluruh Indonesia.
15-26 Januari 2002, Kapuk, Kebon Bawang dan jalan toll bandara terendam karena waduk jebol.
29 Januari-15 Februari 2002, 40.000 rumah terendam setinggi 3-9 meter karena hujan dan pasang laut. 380.00 pengungsi, korban 75 jiwa.
22 Februari 2002, hujan lagi. 15.000 rumah terendam lagi. [berbagai sumber]

2005 : 72 genangan

banjir3c.jpg

Sejak 18 Januari hingga 7 Maret 2005, ribuan rumah bolak-balik terendam. Di kawasan Kampung Melayu dan Bukit Duri ada yang mengaku sampai 7 kali mengungsi.

Kadang-kadang kita sering menyederhanakan istilah, mengabaikan pesan-pesan para pakar, tanpa menyadari bahwa hal itu merupakan salah satu bentuk pembodohan masyarakat.[]

Artikel terkait:

Pemprov DKI Siap Siaga
Banjir Jakarta Punya Siklus Lima Tahunan?
Jakarta banjir: Alam dan manusianya
Pengendalian banjir Jakarta, dulu dan kini
Tips Mengemudi Saat Banjir
Sistem Kendali Banjir Batavia
Belanda dan pengalamannya yang seribu tahun
Bendungan Baja Inggris
Banjir 2002, Jerman Rugi 175 triliun.

 

Jakarta banjir: Alam dan manusianya

banjir2.jpg

Jakarta sangat sensitif terhadap banjir. Di utara merupakan pantai landai dan dataran rendah, di selatan daerah perbukitan dan pegunungan. Dari sekitar 650 km2 luas Jakarta, 240 km2 merupakan dataran banjir dengan ketinggian 1 meter di bawah permukaan pasang air laut.
Ada tiga belas sungai yang malang melintang, mengalir dari daerah ketinggian Jakarta dan Jawa Barat menuju Teluk Jakarta.
Curah hujan di Jakarta pun termasuk tinggi, 2.000-4.000 mm/tahun, bahkan pada 1996 tercatat sampai 231 mm/hari.

Tanpa intervensi manusia, Jakarta sudah pasti terendam. Air tiba di dataran rendah amat lamban mengalir ke teluk jika mengikuti hukum gravitasi, keadaan akan semakin parah jika air laut pasang, mengalahkan lemahnya arus sungai. Berbagai upaya telah dilakukan sejak Raja Purnawarman memerintahkan pembuatan saluran air 1.500 tahun lalu, dan Belanda membangun kanal-kanal pertamanya 360 tahun lalu, hingga BKT yang dijadwalkan selesai tiga tahun lagi.

Namun upaya-upaya yang sudah sulit dan mahal mengendalikan alam itu semakin sulit dan mahal karena “alam” manusia Jakarta. Merokok berhasil dilarang, anehnya membuang sampah di sungai, bermukim di daerah penguasaan sungai, atau menimbun situ-situ tidak bisa dihentikan. Padahal jumlah pelakunya jauh lebih sedikit dari jumlah perokok.

Lebar sungai Ciliwung contohnya, semula 65 meter kini hanya 10-20 meter, atau lebih sempit lagi sekarang. Itu data tahun 2003. Tanah Jakarta pun semakin turun karena pengambilan air tanah yang berlebihan. Evaluasi DKI 1978-1989 menunjukkan penurunan antara 40-80 cm. Hasil penelitian BPPT 2000-2005 antara 28-72 cm.

Apakah kita hanya berpikir bagaimana mengalirkan air ke laut ?
Mungkin Alam berniat mengisi kembali air tanah di bumi Jakarta sehingga bolak-balik dibanjirinya.
[data angka: Satkorlak PBP DKI dan BPPT].

Artikel terkait:

Pemprov DKI Siap Siaga
Banjir Jakarta Punya Siklus Lima Tahunan?
Jakarta banjir: Alam dan manusianya
Pengendalian banjir Jakarta, dulu dan kini
Tips Mengemudi Saat Banjir
Sistem Kendali Banjir Batavia
Belanda dan pengalamannya yang seribu tahun
Bendungan Baja Inggris
Banjir 2002, Jerman Rugi 175 triliun.

Musik, Vespa, dan Wanita

IIC

Perkenalkan Ostelio Remi. Dengan mengendarai Vespa, direktur-atase kebudayaan Istituto Italiano di Cultura ini menyusuri jalan-jalan di Jakarta bertemu dengan orang-orang penting, dari pengusaha, bankir, akademisi, seniman hingga siswa-siswa dari beberapa sekolah di Jakarta yang ingin mengetahui kebudayaan Italia lebih dekat.

“Dengan vespa saya bisa pergi ke mana saja dengan cepat dan berurusan dengan orang yang VVVIP (Very-very-very Important Person-ed) seperti Miranda Goeltom, dengan vespa saya masih dapat berpenampilan elegan,” ujar Ostelio Remi sambil menebar senyumnya yang hangat.

Di lingkungan kerja Istituto Italiano di Cultura (IIC)Jakarta, para staff menyapa Ostelio Remi sebagai Profesor dengan rasa hormat yang dalam. Pria energetik kelahiran Urbino, Italia, ini telah empat tahun bertugas di Jakarta. Sang Profesor telah melanglang dunia bertugas sebagai direktur-atase kebudayaan IIC di beberapa kota seperti Beirut-Lebanon, Melbourne-Australia, Vilnius-Lithuania. Ia banyak menulis di jurnal ilmiah dan katalog pameran senirupa, terlibat merancang festival seni dan mengajar. Sebagian besar hidupnya didedikasikan pada dunia pendidikan dan kebudayaan. Profesor Ostelio Remi mempunyai keyakinan yang kuat bahwa dengan program seni dan budaya yang disuguhkan kepada publik dapat menciptakan saling pengertian, toleransi dan mencerahkan pikiran.

Selama empat tahun Sang Profesor memperkenalkan kesenian Italia di Indonesia, mengundang seniman Italia bekerjasama dengan seniman Indonesia dan mengundang para perupa Indonesia berpameran di Italia. Ia memberi apresiasi yang tinggi pada karya seni Indonesia seperti lukisan dan instalasi Made Wianta, patung Dolorosa Sinaga dan film karya sineas Nia Di Nata yang diperkenalkan lewat ajang festival film di Roma. Masyarakat Italia memberi acungan jempol bahwa seni modern Indonesia sama baiknya dengan karya seni tradisional dan kerajinan tangan Indonesia.

Selama ini untuk mengenal kebudayaan Indonesia, sang profesor langsung terjun ke beberapa daerah, mengamati dan melakukan dialog dengan para seniman. “Sayang sekali tidak banyak buku-buku tentang kebudayaan Indonesia dalam bahasa Inggris, Perancis dan Italia”, kata sang profesor yang menyiapkan dan menulis sebuah artikel untuk katalog pameran senilukis bertajuk “Rediscovering Indonesia” oleh Agustino De Romanis yang diterbitkan oleh L’erma di Bretschneider Publishing House (2004), dengan kata pengantar oleh Vittorio Sgarbi.

Disamping itu ia banyak menulis tentang kebudayaan Italia di banyak jurnal ilmiah. Salah satu tulisannya diterbitkan Jurnal Kajian Wilayah Eropa (Universitas Indonesia) bertajuk Italy – A Step Closer.

Program kesenian yang menjadi prioritas IIC Jakarta untuk tahun 2007, antara lain, memasyarakatkan musik klasik pada publik Indonesia, dan mengundang musisi klasik kelas wahid untuk bekerjasama dengan Orkes Simfoni Nusantara, di samping membuat pagelaran musik klasik dalam skala kecil seperti ensamble. “Seperti kita mengenal dalam sejarah seni, kontribusi Italia dalam musik klasik cukup besar. Bukankah istilah-istilah dalam notasi musik klasik berasal dari bahasa Italia?” cetus Ostelio Remi.

Disamping itu, IIC Jakarta merancang pameran 60 tahun Ferari pada bulan Mei, yang bekerjasama dengan para pecinta automotif di Indonesia. Program pameran yang berkaitan dengan seni, industri dan teknologi menjadi prioritas IIC karena animo masyarakat cukup tinggi ketika IIC menggelar pameran fashion karya Georgio Armani, Valentino, dll. Paling tidak, generasi muda Indonesia yang berbakat tinggi dengan keterampilan yang mumpuni dapat terpacu melihat seluk-beluk industri fashion Italia yang merajai dunia.

Selama tahun 2003 sampai tahun 2005, Profesor Ostelio Remi telah merekomendasikan puluhan beasiswa bagi mahasiswa dan akademisi untuk belajar di Italia. “Perlu lebih banyak lagi orang Indonesia yang belajar di universitas-universitas Italia yang telah mempunyai tradisi pendidikan yang ratusan tahun. Segala pengetahuan yang didapat dapat dipraktikan di Indonesia. Agar masyarakat lebih kreatif dan dinamis. Banyak sekali orang yang berbakat di sini yang perlu melihat perkembangan kebudayaan di Italia yang memberi kontribusi besar dalam kebudayaan Eropa,” tutur Profesor Ostelio Remi dengan bersemangat.

Selama bertugas empat tahun di IIC Jakarta, Estelio Remi telah jatuh hati pada kebudayaan Indonesia. Pelbagai festival seni yang digelar di Jakarta dan di beberapa daerah didatanginya, tidak peduli ia menjadi satu-satunya expatriat yang hadir dan harus berkomunikasi dalam bahasa Indonesia yang belum dipahaminya. Tapi ada gestur yang menarik dan membuatnya terus ingin memahami kebudayaan Indonesia.
“Bayangkan, saya satu-satunya expat dalam pameran keris di Galeri Nasional. Tapi saya cukup nyaman dengan semua ini. Saya mencintai kebudayaan Indonesia, saya mencintai wanita Indonesia yang begitu cantik… Secara tulus dengan mendalam, bukan hanya karena saya seorang pria,” imbuh sang Profesor. [Helmi Y. Haska]