Masjid Angke. Campuran Cina, Jawa dan Eropa

Arsitektural Masjid Angke memperlihatkan perpaduan unik antara Jawa, Belanda, Bali, dan Cina.
Sisi-sisi arsitektur Jawa dapat ditelusuri dari denah bangunan persegi, bentuk atap tumpang, dan sistem struktur saka guru yang menopang atap dari adonan material beton dan bata pada kolomnya. Untuk Cina, kita bisa menunjuk detail konstruksi pada skur atap bangunan yang bertumpuk macam klenteng.
Ujung-ujung atap bangunannya pun memperlihatkan langgam sama, meski ada pendapat lain
bahwa itu seperti puggel—seni bangunan Bali.

Pada Eropa dapat kita amati pintu yang berukuran tinggitinggi dan besar serta berdaun ganda. Ini berlaku sama dengan jendelanya yang besar dan lebar-lebar. Sementara jeruji kayu ulir di kolom jendela lebih dekat dengan jendela khas rumah tradisional Betawi— umumnya dipakai pada masjidmasjid kuno di Jakarta yang dibangun sekira abad ke-18.

Untuk menunjukkan khas dan uniknya Masjid Angke ini, lihatlah pada elemen mimbar khutbah. Berbentuk ceruk yang lebih mirip seni sculpture, mimbar itu menjadi aksen penting di dalam ruang shalat.
Hiasannya di kedua pinggir cerukan sangat serasi dengan tangga-tangga melingkar dari marmer merah di mulut mimbar. Pola hiasan ini tampak sama terlebih pada pengapit pintu masuk utama di sisi timur dengan gapura berbentuk tertutup.

Elemen lainnya adalah ragam hias macam detail cukilan kayu bercorak fl oral natural dan kaligrafi pada kusen atau pintu utama. Corak itu terdapat juga pada anak-anak tangga pintu masuk utama yang terbuat dari batu-batu candi warna merah. Pun hiasan di pinggir cerukan mimbar dan pipit gantil pada setiap ujung atap bangunan masjid. Kesannya seperti ornamen “emprit gantil” pada rumah-rumah adat Jawa tapi jika detailnya dilihat lebih saksama ia menunjukkan sentuhan Cina.

Masjid Angke juga memiliki mezanin di bawah atap tumpukan. Mezanin ini bisa dicapai dari anak tangga di sebelah selatan pintu masuk sayap timur. Haji Ahmad mengatakan pada saya bahwa ia dulu sering adzan di situ sebelum ada alat pengeras suara dan lampu, bahkan untuk Subuh sekalipun.

Baca juga: Masjid Angke

Advertisements

Tonggak-tonggak Stadschouwburg

Awal abad 19. Belanda dalam cengkeraman Napoleon Bonaparte. Inggris mengambilalih negeri-negeri jajahan Belanda termasuk Jawa. Thomas Stamford Raffles tiba ke sini sebagai Letnan Gubernur Jawa pada 1811.

Meski kekuasaan Inggris berumur 5 tahun, Raffles telah mengusahakan banyak hal. Selain dikenal membikin kebijakan yang memihak kaum pribumi, Raffles juga memenuhi keinginan para opsir pasukannya dengan membuat panggung pentas di Weltevreden (sekarang Lapangan Banteng) yang terbuat dari bambu. Kapasitasnya 250 penonton. Walaupun sebagian penduduk Eropa mencibir teater bambu, namun Raffles tidak menggugah minatnya untuk tetap menonton pertunjukan sandiwara.

Pada 1816 Belanda menghela kekuasaan Inggris. Kepemilikan teater bambu jatuh ke tangan kelompok sandiwara amatir yang tenar saat itu bernama Ut desint. Setelah sukses mementaskan beberapa sandiwara, muncul bermacam pendapat yang menginginkan agar teater bambu dihilangkan, diganti dengan gedung kesenian baru yang dibuat batu. Sebagian warga Batavia setuju untuk menyumbang uang, sedangkan sisanya didapat dari pinjaman.

Pembangunan gedung pentas dimulai pada 1820 mengambil lokasi di Noordwijk (sekarang Jl. Ir. H Djuanda). Arsiteknya bernama Lie Atjiet dan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda saat itu Baron van der Capellen. Setahun kemudian, 7 Desember 1821, resmi dibuka, diberi nama Stadschouwburg atawa Gedung Sandiwara Kota.

Karena letaknya tepat di mulut sebelah selatan Pasar Baru, ia juga dikenal sebagai Gedung Kesenian Pasar Baru. Waktu itu tata ruangnya masih agak suram, para pria dan wanita harus duduk terpisah. Setelah mengalami beberapa kali renovasi, Schouwburg dibuka secara permanen pada 1831.

Dimulai 1833, Schouwburg hiruk dengan kedatangan rombongan sandiwara dari Prancis.
Pertunjukan berlangsung 2 bulan penuh. Pada 1835 rombongan sandiwara dari luarnegeri mulai berdatangan ke Batavia. Diperkenalkan pertunjukkan yang melibatkan aktor perempuan.

Pelan tapi pasti Schouwburg mulai dikenal di Eropa. Ia menjadi pusat persinggahan kelompok kesenian dari berbagai belahan dunia, dari Prancis, Jerman, Rusia hingga Italia. Schouwburg pun menjadi tempat eksklusif agenda pilihan kesenian warga kota Batavia.

Ketika perkumpulan sandiwara orang Belanda mengalami kelemahan akting dan kesulitan membayar pemain, Residen van Rees mengambil alih pengelolaan Schouwburg pada 1846. Sistim manajemen diperbaiki dan utang yang menumpuk kepada pihak swasta pun dibayar.

Pada 1894 didirikanlah kelompok Opera Batavia sebagai tuanrumah Schouwburg. Pimpinannya adalah Isidore von Kinsbergen, seorang penyanyi opera dan pelukis dekor. Oleh Residen ia diberi tanggungjawab mengontrak perkumpulan sandiwara Eropa. Pada 1875 bersama wartawan Conrad Busken Huet, Isidore menerbitkan majalah ‘La Lorgnette, journal artistique et litterair, francohollandais’ untuk pengunjung Schouwburg.
Setelah undang-undang baru pembaharuan kota Batavia pada 1905, pemerintah kotapraja mengambilalih manajemen Schouwburg.

Jepang menggantikan kekuasaan Belanda pada 1942, yang berdampak juga pada nasib Schouwburg. Mulanya ia diganti nama menjadi Kiritsu Gekitzyoo, seiring itu ia pun beralih fungsi, dijadikan sebagai markas tentara.

Pada masa kemerdekaan difungsikan sebagai ruang kuliah mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Hukum Universitas Indonesia. Sempat dinamakan Municipal Theatre atau lebih populer ”Gedung Komidi”. Juga pernah disewa pengusaha Tionghoa dijadikan bioskop bernama Dana yang memutar film-film kungfu. Pernah juga dinamai City Theatre.

Setelah mengalami pasang-surut yang begitu cepat akibat revolusi dan dibiarkan terlunta hampir 42 tahun pada masa kemerdekaan, 5 September 1987 adalah fase awal yang menjanjikan. Setelah direnovasi ia dikembalikan sebagaimana bentuk awalnya menjadi gedung teater, diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta ke-9 R. Soeprapto, bernama Gedung Kesenian Jakarta.

Tanggal itu dijadikan sebagai hari ulangtahun GKJ dan momen Festival Schouwburg. Diretas kali pertama pada 1993, mengambil tema “Napak tilas perjalanan sejarah Gedung Kesenian Jakarta sejak jaman kolonial Belanda hingga kini”. Kali keduanya pada 1996, lalu terhenti akibat krisis moneter.

Mulai bergeliat lagi pada 2003, mengetengahkan pergelaran seni klasik dan tradisi. Sejak itu digelar saban tahun. Hingga 2006 ini pada ulangtahunnya yang ke-19, sudah enam kali festival ini digelar.
”Festival ini,” ucap Direktur GKJ Marusya Nainggolan, ”merupakan salah satu wujud peran nyata GKJ dalam kesenian.”

Kesahajaan Masjid Angke Al-Anwar

Datanglah ke Masjid Al-Anwar atau biasa disebut juga Masjid Angke.
Dipastikan, Anda akan merasakan kebersahajaan yang lembut di sini. Damai. Menenangkan.
Terletak di selatan Jalan Pangeran Tubagus Angke, beberapa meter setelah melewati jalur kereta api, kita bisa menemukan masjid tersebut. Ini dipermudah dengan papan keterangan masjid yang dipasang di kepala atap gapura di mulut gang. Ada juga satu gantungan papan di belakangnya yang berisi keterangan sebuah situs makam di komplek Masjid Angke.

Sejarawan dari Belanda Dr de Haan dalam bukunya Oud Batavia menyebut Masjid Al-Anwar ini didirikan pada Kamis, 26 Sya’ban 1174 H atau bertepatan 2 April 1761 M. Ia didirikan oleh seorang wanita keturunan Cina Muslim kaya dari Tartar yang menikah dengan pangeran dari Banten.Sementara kampung masjid tersebut dulunya bernama Kampung Goesti yang dihuni orang Bali di bawah pimpinan Kapten Goesti Ketut Badudu.

Dalam Historical Sights of Jakarta, sejarawan asal Jerman Heuken menulis bahwa kampung itu didirikan pada 1709. Banyak orang Bali tinggal di Batavia. Tenaga mereka dijual sebagai budak, yang lain masuk dinas militer karena begitu mahir menggunakan tombak, dan sisanya lagi datang dengan sukarela untuk bercocok padi.
”Selama puluhan tahun,” tulis Heuken, ”orang-orang Bali ini menjadi kelompok terbesar kedua di antara penduduk Batavia.”

Sekarang Masjid Angke berada di tengahtengah perkampungan Rawa Bebek yang padat. Ia terletak persis di sisi barat ujung gang. Menurut Haji Ahmad Supriyatna, kepala pengurus masjid ini, luas tanah Masjid Angke sekarang sekitar 930 meter persegi. Luas lahan ini untuk keseluruhanbangunan masjid setelah mengalami pelebaran. Sementara luas bangunan induknya yang asli 13×13 meter persegi.

Meski kini sudah mengalami pelebaran, tetap saja ia tampak mungil jika dibandingkan dengan masjid-masjid modern di Ibukota ini. Toh, meskipun begitu, kemungilan bukan berarti kerdil.
Masjid ini telah menyejarah. Bersama masjid-masjid tua yang bersebaran di Jakarta Utara dan Barat, Masjid Angke adalah sebuah situs ibadah yang khas dan unik sekaligus tempat ziarah perjuangan bagi orang-orang jaman dulu.

Makam-makam tua adalah buktinya. Di halaman belakang masjid, nisan-nisan itu terbaring secara berkelompok maupun sendiri-sendiri. Ada yang tak semuanya dikenal. Yang mencolok di antaranya sebuah makam yang dipagar besi, diberi atap dan ditutupi kelambu hijau. Sebuah papan di atasnya bertulis Syekh Ja’far.

Menurut Haji Ahmad, ia masih keturunan kesultanan Banten. Ada juga petunjuk papan makam Sarifah Mariyam dan Pangeran Tubagus Anjani. Entah siapa mereka ini. Pun sebuah makam seorang wanita keturunan Cina yang telah masuk Islam.

Yang paling terkenal adalah tempat pembaringan penghabisan Syekh Syarif Hamid Al Qadri yang berada di luar pagar depan masjid yang dibatasi jalan kampung. Nisan inilah yang dirujuk pada papan keterangan di gapura di mulut gang. Syekh Syarif ini adalah putra Sultan Pontianak Pangeran Hamid Al-Qadri.
Pada sekitar 1800-an ia mengadakan pemberontakan melawan pemerintah Hindia Belanda. Ia ditangkap dan dibuang ke Batavia. Sebelum mangkat ia berpesan bahwa jasadnya disemayamkan dekat Masjid Angke. Jasadnya itu kemudian dikubur dengan makam dari batu pualam.

Kini makam tersebut dilapisi marmer putih dan ditutup kain kuning serta dikelilingi pagar. Epigraf arab latin di sudut makam menuliskan keterangan mangkatnya: 64 tahun lebih 35 hari tahun 1854.
Sewaktu saya menghampirinya, di suatu malam Jumat selepas Maghrib, beberapa orang tengah khidmat bersila di sekitar makamnya. Halaman Al-quran yang sudah lapuk dibuka lembar demi lembar. Tak ada suara dari mulut mereka. Rasanya, ada halhal tertentu yang tak bisa kita jelaskan. Tak semuanya dalam hidup bisa kita terangkan dengan gampang. Tak semudah kita membalikkan telapak tangan.

Itu adalah malam Jumat setelah kemarin perayaan ulangtahun masjid yang ke-253 tahun Hijriah. Saya datang sebelum mengetahuinya. Ada kebetulan yang tak terduga yang bikin saya kecewa. Tapi setelah berkenalan dengan Haji Ahmad, semuanya lenyap dan berganti dengan keakraban, percakapan yang hangat, juga kesederhanaan.

Haji Ahmad ini sosok yang menyenangkan. Kita mungkin tak mengira bahwa usianya sudah 71 tahun. Anaknya delapan. Cucunya 21. Dan satu cucunya telah memberinya satu cicit. ”Itu semua,” katanya pada saya sambil tersenyum, ”adalah karunia.”

”Ini,” kata Ahmad sembari tangannya menunjuk dada. ”Ini obatnya. Hati. Jangan pernah menyakiti orang lain.” Nada suaranya penuh tekanan tapi akrab. Tertawa.
Ahmad lahir bukan di sekitar Kampung Rawa Bebek. Ia asli Banten, tepatnya di Kampung Baros, sekitar 14 kilometer dari kota Serang. Perkenalannya dengan Masjid Angke dimulai ketika ia berusia muda.

Ia mengingatnya saat itu tahun 1958, mengajar Sekolah Rakyat di sekitar sini, dan menikah dengan salah satu muridnya. Istrinya adalah anak Muhammad Ali. Sang mertua rupanya pemimpin imam Masjid Angke ini. Ahmad yang kemudian meneruskan tongkat estafet kepemimpinan. Jadilah sekarang ia generasi kelima dari kepala pengurus masjid ini.

”Saya sudah menyiapkannya dari sekarang,” kata Ahmad merujuk siapa nanti yang memimpin Masjid Angke.
”Salah satu anak bapak?”
”Bukan. Saya tak mau. Saya bukan orang seperti itu. Ada beberapa dari pengurus masjid ini. Saya sudah tua…,” Ahmad terkekeh.

Masjid tua, kepala pengurusnya pun sudah tua.
Bagaimana Anda menjelaskan ini? Meski Masjid Angke ini termasuk salah satu cagar budaya yang dilindungi Undang-Undang, saya kira tanpa Haji Ahmad dan orang-orang kampung di sekitarnya, ia bisa-bisa lapuk dan lumat. Setidak-tidaknya mereka telah semampunya menyemarakkan kehidupan masjid dari usia tua yang rawan.

Maka, datanglah dulu ke sini. Anda resapkan sendiri. Merasakan geletar hubungan-hubungan yang rapat dan akrab antara masjid dan jemaahnya. Atau dalam kata-kata Haji Ahmad sebelum saya pamit, datanglah kapan-kapan. Berbuka puasa di sini. Ramai. Banyak orang… [FAHRI]

Buka Puasa di Jalan Kramat Raya Senen

02b-kramat.jpg

Menjelang bedug Maghrib, Jalan Kramat Raya di Senen, Jakarta Pusat ini selalu riuh dan ramai. Ada “pasar kaget” yang tersohor sejak puluhan tahun lalu. Lemang, makanan khas daerah Minang untuk berbuka puasa, menjadi menu utama. Aneka masakan Padang atau masakah khas Kampung Kapau, Bukittinggi, yang paling enak di Jakarta bisa diperoleh di sini.

Area seputarnya boleh berubah dan berganti wujud, namun tenda-tenda yang dicintai para penikmat masakan Padang ini sejak 1970-an tetap hadir dengan kekhasannya sendiri. Puluhan pedagang –-mungkin ada seratus-– beberapa di antaranya baru mulai berjualan sejak 1980-an, berjejer di pinggir jalan sempit ini menjual aneka makanan dan kudapan yang benar-benar khas.

Nama makananan bergantungan merangsang fantasi yang khas Minang: Gulai Itiak Cabai Hijau, Randang Bebek Hitam, Ayam Pop, Gulai Tunjang dan lain-lain. Meja dan kursi makan ditata rapi dihiasi aneka krupuk, kripik, dan sambal. Rak-rak dipenuhi aneka makanan yang menerbitkan air liur: rendang, balado, gulai kepala ikan, sambal goreng udang, ayam panggang, bawal panggang, ikan kembung panggang hingga petai rebus, bakar, serta mentah. Bagi pembeli yang belum mengenal betul menu khas Kapau dipastikan menjadi terbingung-bingung. Semuanya begitu menggiurkan dan segera saja mengundang rasa lapar yang hebat.

Sejak jam empat sore mereka sudah mulai berjualan, masingmasing dengan makanan andalannya sendiri, melayani para pembeli yang ingin membawa pulang ke rumah makanan-makanan lezat tersebut dan berbuka puasa bersama keluarganya. Semakin mendekati menitmenit bedug magrib, jumlah pengunjung semakin ramai. Perhatikanlah, jika Anda memesan makanan lima menit sebelum bedug berkumandang, maka lima menit setelah adzan maghrib belum tentu Anda sudah menyantapnya. Begitulah riuhnya saat berbuka puasa.

Dimulai dengan makanan manis khas bulan puasa, seperti kolak, lemang (lontong ketan putih dimakan bersama bubur ketan hitam), bubur kampiun (kombinasi bubur candil, bubur sumsum, bubur srikaya, kolak pisang, kolang kaling). Usai keriuhan berbuka puasa, para pedagang di Jalan Kramat Raya ini tetap berjualan hingga watu Sahur. Jika Anda sesekali hendak makan Sahur di luar rumah, cobalah di Jalan Kramat Raya ini. Makanan khas dengan suasana yang tidak ada duanya.

Selamat berbuka puasa dan sahur bersama… | Kamilia – Indra |

Ramadhan di Bataviase Nouvelles

Cover edisi 2

Edisi kedua Bataviase Nouvelles terbit pada Ramadhan 1427h. Ramadhan dan Lebaran tak semata menandakan pergiliran waktu matahari, melainkan juga telah menjadi peta laku sosial, ekonomi dan kultural umat muslim Indonesia. Betapa keduanya mampu mengubah pedalaman tersembunyi manusia sekaligus mengatur jadwal rencana agenda kita.

Ramadhan dan Lebaran mampu menggerakkan jutaan manusia dalam perasaan sama. Ia membawa kita pada rutinitas yang berbeda dengan hari-hari biasa. Lingkungan tempat kita tinggal terasa lain. Jam-jam kantor berubah. Aktivitas tak lagi sama dengan bulanbulan sebelumnya.

Maka, sebagai media yang memancang lembar-lembar halamannya berisi agenda pilihan warga, kami rasa tepat jika Ramadhan dan Lebaran menjadi sajian utama yang diperlakukan khusus dalam edisi ini. Kami mencoba semampunya untuk menampilkan senarai aktivitas yang berhubungan dengan kedua perayaan keagaaman itu.

Rubrik-rubrik dalam Bataviase kali ini sebisa mungkin lebih banyak menonjolkan sisi-sisi khasanah Ramadhan dan Lebaran. Simak misalnya, kolumnis Seno Joko Suyono mengupas dimensi musik Timur sebagai pesan spiritual yang menghunjam begitu dalam sekaligus antitesis perayaan Ramadhan di kita, terutama pada layar televisi, yang hanya menyentuh riak-riak permukaan. Dalam rubrik Kotatua, kami menampilkan salah satu masjid tua di Batavia beserta kesan-kesannya. Untuk halaman kuliner, ada satu tempat jajanan menarik yang bisa Anda kunjungi untuk berbuka puasa bersama.

Simak pula tampilan bermacam agenda yang bertautan dengan kegiatan Ramadhan dan Lebaran. Kami juga memakai kesempatan ini untuk memohon maaf jika edisi sebelumnya masih banyak kekurangan dan kekeliruan. Kami berterimakasih atas saran, kritik dan apresiasi yang cukup lumayan dari para pembaca dan mitra media serta berbagai tempat yang telah menjalin relasi sebagai pick up point Batavise Nouvelles.

Akhirnya, kami mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa dan mohonmaaf lahir dan batin…

Salam Bataviase!