Dardanella. Opera Melayu

Di Usmar Ismail Hall pada 29 Mei lalu digelar La Serva Padrona oleh Indonesia Opera Society bersama Istituto Italiano di Cultura. Sebuah pementasan yang mendapat standing ovation panjang. Bintang utamanyya Massimo di Stefano dan Linda Sitinjak, keduanya pemain opera nomor satu di Italia dan di Indonesia.

Meski tidak ada kaitannya, peristiwa budaya Ini membangunkan ingatan pada Opera Melayu dan Dardanella. Dari hasil pencarian, laporan pers mencatat baru pada 1934 Dardanella mementaskan lakon-lakonnya di Jakarta, di gedung Thalia —di era 1940an Thalia yang berlokasi di jalan Hayam Wuruk dikenal sebagai bioskop.

Pementasan Dardanella setiap malam —kecuali malam Jumat— membuat Thalia penuh sesak. Sebelumnya warga Betawi hanya bisa mendengar atau membaca tentang Dardanella dan tonil gaya barunya.
Kelompok opera Melayu yang didirikan di Surabaya pada 1926 ini sebelumya manggung mengelilingi kepulauan Indonesia. Dardanella selalu mendapat sambutan luarbiasa, di setiap persinggahan, pentas digelar selama berbulan-bulan. Performansi mereka selalu menarik, selain sebagai hiburan dengan pendekatan baru, juga karena kisah-kisah yang ditampilkan selalu mengandung moral cerita yang pantas dijadikan “tjermin perbandingan bagi jang telah berpengalaman dan tjontoh-teladan bagi jang maslh moeda belia, jang beloem banjak mengetjap garam penghidoepan.”

Primadona Dardanella saat itu adalah Miss Dja [gambar atas, repro dari Pandji Poestaka]. Kecantikan dan keahliannya menjalani berbagai jenis peran bisa disandingkan dengan bintang-bintang dari Barat. Mis Dja pun kemudian dijuluki Bintang Timoer.

Suasana gedung Thalia akan menjadi hening, sunyi senyap, saat menyaksikan adegan-adegan mengharukan yang diperankan Miss Dja. Tetes airmata yang mengalir di pipinya ikut membuat penonton mengucurkan airmata. Dan ketika layar turun menutup pentas, tepuk tangan riuh membahana menyadarkan penonton lain yang terkesima, bahwa mereka bukan berada “dalam boeajan ‘seriboe satoe malam’, tetapi hanja sekadar dikagoemkan oleh Miss Dja di atas panggoeng.”

Dalam lakon cerita “Fatimma”, Miss Dja menampilkan keahliannya menari Bali. Agaknya saat itu masyarakat Betawi juga baru pertama kali menyaksikan tari Bali, ini terungkap dalam komentar Pandji Poestaka: “biarpoen kami beloem pernah menjaksikan tari Bali sedjati, akan tetapi dalam mata kami Miss Dja telah mempertoendjoekkan tari jang gilang-gemilang hasilnja.”

Miss Dja juga menampilkan keluwesan gerak tubuh dan kelincahan jemarinya saat menyajikan tari Burma dalam kisah “Maharani.” Dalam “Tjang”, Miss Dja tampil sangat meyakinkan sebagai nenek tua yang bongkok dan buta. Ia kemudian hari dikenal di dunia internasional sebagai Dewi Dja atau Devi Dja, salah satu diva pertama Indonesia yang melanglang buana.

Di Betawi, Astaman adalah lawan main yang setimpal bagi Miss Dja. Ia bisa tampil sebagai pemuda gagah, atau pun sebagai kakek-kakek. “Romannja, gerak-gerik toeboehnja, betoel tjotjok dengan jang dikehendaki rolnja”

Lakon “Fatimma” dan “Maharani” merupakan pertunjukan paling disukai, beberapa kali dipertunjukkan ulang atas permintaan pengunjung. Kisah-kisah dan skenarionya merupakan buah karya Andjar Asmara. Anjar Asmara kemudian hijrah ke perfilman, menulis dan menyutradarai Kartinah (1940), Noesa Penida (1941), Anggrek Boelan (1948), Djaoeh Dimata (1948), dan Gadis Desa (1949), juga menjadi ketua juri Festival Film Indonesia pertama (1955). Andjar Asmara diakui sebagai inspirator oleh Usmar Ismail, Bapak Film Indonesia, yang membantu Andjar dalam penyutradaraan Gadis Desa.

Tata cahaya dan tata panggung Dardanella ditangani oleh Pedro, direktur dan pendiri Dardanella. Pedro adalah seorang imigran asal Rusia, nama aslinya Pyotr Litmonov. Secara harfiah Pedro adalah Peter dalam bahasa Portugis atau Spanyol, sedangkan dalam bahasa Rusia ditulis Pyotr atau Piotr.

Mula-mula Pedro bekerja di kelompok teater ternama di Surabaya, Komedi Stamboel, yang didirikan oleh August Mahieu pada 1891. Saking populernya orang indo-prancis ini dijuluki Gus Mahieu. Di kelompok teater ini, yang direkrut sebagai artis awalnya hanya orang-orang Indo. Sebelum mulai, masing-masing memperkenalkan tokoh yang diperani kepada penonton. Adegan diselingi dengan musik, tari atau lawak, yang tak ada kaitannya dengan jalan cerita. Dialog dalam komedi bangsawan merupakan keahlian para aktor dalam berimprovisasi. Kedatangan pengunjung akan disambut musik orkes, yang kemudian disebut Orkes Stambul. Itulah karakteristik utama teater bangsawan.

Dari catatan sejarah sirkus, pada 1905 di Rusia seni drama mulai berkembang pesat dan mengambil alih sebagian peran sirkus sebagai hiburan paling populer. Beberapa gedung sirkus berubah fungsi menjadi gedung pertunjukan drama. Boleh jadi karena ingin memasukkan elemen-elemen yang menjadi karakteristik drama yang dikenalnya di Rusia, pada 1926 Pedro mendirikan Dardanella, The Malay Opera. Pemilihan nama Dardanella bisa jadi dipengaruh kisah 1001 malam juga. Dardanella adalah nama sebuah selat di Turki, dekat kota Troy yang masyhur dengan kisah Troyan Horse-nya.

Pedro banyak memasukkan unsur baru dan menghilangkan banyak tradisi komedi dalam Dardanella. Tari, musik, atau humor menjadi bagian dari cerita, bukan sekedar selingan antar adegan. Ada penulis cerita dan dialog, para aktor diarahkan untuk berkonsentrasi pada penerjemahan gerak dan mimik yang lebih dramatis. Agaknya akting di film-film yang sudah hadir sejak 1900an juga banyak memberi ide pada karakter performansi Dardanella.
Primadona, sri panggung, aktris cantik yang memegang peran utama dalam setiap lakon, merupakan senjata pamungkas Pedro dalam pemasarannya.

Jadilah Dardanella sebuah tonil gaya baru yang cepat meraih popularitas. Ia lebih membumi dari teater bangsawan, lebih hidup dan berwarna dari film bisu hitamputih. Dardanella merajai dunia hiburan Indonesia, menjadi tolok ukur setiap kelompok teater yang dibentuk setelahnya, seperti Tjahaja Timoer, Orion, Opera Batak dan sebagainya.

Dardanella bubar pada 1940an seiring dengan tumbuhnya perfilman Indonesia. Aktornya yang paling terkenal dan terus berakting hingga akhir hayatnya pada 1985 adalah Tan Tjeng Bok. Mengenai Pedro, Tan Tjeng Bok mengatakan, “karena dialah saya dulu pandai main anggar. Sukses dalam karir saya, sampai dijuluki “Douglas Fairbanks van Java.
Douglas Fairbanks adalah aktor Hollywood yang sering tampil sebagai pahlawan berpedang, seperti The Mark of Zorro, Ben Hur, dan 50 film lainnya.

Sekelumit kisah tentang Dardanella pernah dipentaskan oleh Teater Koma pada 1988 dan 2000, berjudul Opera Primadona dengan sedikit diplesetkan (Gardanella, Petro).

Dari Pandji Poestaka 1934:

sebagai penutup pemandangan ini, kami berani tuturkan, bahwa di kepulauan kita sekarang belum ada tandingnja Dardanella dalam mentjapai tingkat tonil jang sedjati.

Baca juga:
Andjar Asmara. Inspirator Usmar Ismail.
Dewi Dja menembus Hollywood

One Response

  1. Saya sangat tertarik dengan kisah Dewi Dja beserta Teater Dardanellanya. Jika ada yang mempunyai informasi tentang buku roman biografi berjudul “Gelombang Hidupku; Dewi Dja dari Dardanella” karangan Ramadhan KH (1982), mohon informasinya. Terima kasih…!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: