Apel Akbar di Hari Pancasila

Demo dibumbui kekerasan, fisik mau pun verbal, oleh pendemo mau pun dari pihak aparat, menunjukkan tipisnya kesadaran bernegara. Satu pihak dengan alasan menyampaikan aspirasi memaksakan kehendaknya dengan beramai-ramai mencacimaki aparat, mendobrak pagar, membakar ban, melempar batu bahkan bom molotov seakan yang dihadapinya adalah penjajah. Sementara pihak penjaga ketertiban — yang seharusnya sudah terlatih mampu menahan emosi— ternyata menghadapi mereka membabi buta bagai terhadap para pemberontak.

Perilaku semacam ini juga sering muncul pada kasus lain semisal penertiban oleh Polisi Pamong Praja yang kurang sadar hukum, atau oleh kelompok-kelompok organisasi yang merasa berhak menertibkan.

Tidak sepatutnya kita mendukung atau membela siapa pun dari mereka yang mempergunakan kekerasan dalam menyampaikan aspirasinya, apa pun alasannya.

Negara Indonesia bukan satu negara untuk satu orang, bukan satu negara untuk satu golongan, walaupun golongan kaya. Tetapi kita mendirikan negara “semua buat semua”, “satu buat semua, semua buat satu”. Saya yakin, bahwa syarat yang mutlak untuk kuatnya negara Indonesia ialah permusyawaratan, perwakilan.

Untuk pihak Islam, inilah tempat yang terbaik untuk memelihara agama.
Kita, saya pun, adalah orang Islam —maaf beribu-ribu maaf, keislaman saya jauh belum sempurna— tetapi kalau Saudara-saudara membuka saya punya dada, dan melihat saya punya hati, Tuan-tuan akan dapati tidak lain tidak bukan hati Islam. Dan hati Islam Bung Karno ini, ingin membela Islam dalam mufakat, dalam permusyawaratan.

Dengan cara mufakat, kita perbaiki segala hal, juga keselamatan agama, yaitu dengan jalan pembicaraan atau permusyawaratan di dalam Badan Perwakilan Rakyat. Apa-apa yang belum memuaskan, kita bicarakan di dalam permusyawaratan. Badan perwakilan, inilah tempat kita untuk mengemukakan tuntutan-tuntutan Islam. Di sinilah kita usulkan kepada pemimpinpemimpin rakyat, apa-apa yang kita rasa perlu bagi perbaikan.

Jikalau memang kita rakyat Islam, marilah kita bekerja sehebathebatnya, agar supaya sebagian yang terbesar daripada kursi-kursi badan perwakilan rakyat yang kita adakan, diduduki oleh utusanutusan Islam.
Jikalau memang rakyat Indonesia rakyat yang bagian besarnya rakyat Islam, dan jikalau memang Islam di sini agama yang hidup berkobar-kobar di dalam kalangan rakyat, marilah kita pemimpin-pemimpin menggerakkan segenap rakyat itu, agar supaya mengerahkan sebanyak mungkin utusan-utusan Islam ke dalam badan perwakilan ini.

Ibaratnya badan perwakilan rakyat 100 orang anggotanya, marilah kita bekerja, bekerja sekeras-kerasnya, agar supaya 60, 70, 80, 90 utusan yang duduk dalam perwakilan rakyat ini orang Islam, pemuka-pemuka Islam. Dengan sendirinya hukum-hukum yang keluar dari badan perwakilan rakyat itu, hukum Islam pula.

Malahan saya yakin, jikalau hal yang demikian itu nyata terjadi, barulah boleh dikatakan bahwa agama Islam benar-benar hidup di dalam jiwa rakyat, sehingga 60%, 70%, 80%, 90% utusan adalah orang Islam, pemuka-pemuka Islam, ulama-ulama Islam.
Maka saya berkata, baru jikalau demikian, baru jikalau demikian, hiduplah Islam Indonesia, dan bukan Islam yang hanya di atas bibir saja.
Kita berkata, 90% daripada kita beragama Islam, tetapi lihatlah di dalam sidang ini berapa % yang memberikan suaranya kepada Islam?

Maaf seribu maaf, saya tanya hal itu!
Bagi saya hal itu adalah satu bukti, bahwa Islam belum hidup sehidup-hidupnya di dalam kalangan rakyat. Oleh karena itu, saya minta kepada Saudara-saudara sekalian —baik yang bukan Islam, maupun terutama yang Islam— setujuilah prinsip nomor 3 ini, yaitu prinsip permusyawaratan, perwakilan.

Dalam perwakilan nanti ada perjuangan sehebat-hebatnya.
Tidak ada satu staat yang hidup betul-betul hidup, jikalau di dalam badan perwakilannya tidak seakan-akan bergolak mendidih kawah Candradimuka, kalau tidak ada perjuangan paham di dalamnya. Baik di dalam staat Islam, maupun di dalam staat Kristen, perjuangan selamanya ada.

Terimalah prinsip nomor 3, prinsip mufakat, prinsip perwakilan rakyat! Di dalam perwakilan rakyat, Saudara-saudara Islam dan Saudara-saudara Kristen bekerjalah sehebat-hebatnya.
Kalau misalnya orang Kristen ingin bahwa tiap-tiap letter di dalam peraturan-peraturan negara Indonesia harus menurut Injil, bekerjalah mati-matian, agar supaya sebagian besar dari utusan-utusan yang masuk badan perwakilan Indonesia ialah orang Kristen.
Itu adil, fair play!

Tidak ada satu negara boleh dikatakan negara hidup, kalau tidak ada perjuangan di dalamnya. Jangan kira di Turki tidak ada perjuangan. Jangan kira dalam negara Nippon tidak ada pergeseran pikiran.
Allah subhanahu wa ta’ala memberi pikiran kepada kita, agar supaya dalam pergaulan kita sehari-hari, kita selalu bergosok, seakan-akan menumbuk membersihkan gabah, supaya keluar daripadanya beras, dan beras itu akan menjadi nasi Indonesia yang sebaik-baiknya.

Terimalah Saudara-saudara prinsip nomor 3, yaitu prinsip permusyawaratan!

Cuplikan pidato Bung Karno 1 Juni 1945 di depan Sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

Hari Minggu besok, 1 Juni 2008, —menurut iklan— pada jam 13:00-16:00 di Taman Monas akan diselenggarakan Apel Akbar untuk mengingatkan kembali bangsa Indonesia pada Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Disebut-sebut penggagasnya adalah Adnan Buyung Nasution, Gus Dur, WS Rendra dan puluhan tokoh lainnya.

Semoga apel akbar ini bisa terjaga tetap pada tujuannya, untuk mengingatkan bangsa pada anugerah keragaman.
Semoga apel akbar ini bisa menjadi teladan bagaimana menyampaikan aspirasi tanpa berbuat kekerasan, tanpa membangkitkan emosi pihak mana pun.
Semoga apel akbar ini juga menghormati perbedaan apa saja, termasuk terhadap permasalahan yang menjadi alasan utama penyelenggaraannya.

Baca juga:
Kumpulan artikel lahirnya Pancasila
Hari Lahir Pancasila
Pancasila {M. Yamin) – buku online

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: