Emansipasi atas nama para ayah

Besok Hari Kartini. Ketika sebagian kalangan bangsa ini mempermasalahkannya, bangsa lain malah menjadikan Kartini sebagai inspirasi untuk hari ini dan hari-hari mendatang.
Ketika tahun lalu pemerintah kota Den Haag menganugerahi Kartini Prize kepada Rahma El Hamdaoui, dan The Royal Holland Society of Sciences menganugerahi Kayin Leung dengan Raden Ajeng Kartini Prize, di Indonesia tak ada yang tergugah akan refleksi yang terpantulkan.

Yang membaca surat-surat ibu Kartini sudah pasti memahami fenomena langka yang dimiliki bangsa kita (dianggap oleh Watson CW sebagai salah satu pemicu terbangunnya identitas nasional – Of Self and Nation: Autobiography and the Representation of Modern Indonesia – 2000) 6 tahun sebelum Kebangkitan Nasional. Sayangnya tidak dikembangkan untuk membekali generasi-generasi berikutnya.

Seperti umumnya hari-hari besar nasional lainnya, dari tahun ke tahun rutinitas yang sama membuat makna semakin hari makin lemah dan pudar. Berkebaya di hari Kartini pun sudah menjadi makna yang berbeda, lebih dilihat pada sisi negatifnya. Generasi masa kini memang sulit memahami kondisi wanita di masa lalu.

Bagaimana bisa. Mereka sering sekali diajak untuk mengobrak-abrik, mempertanyakan, dan kalau bisa, menganulir masa lalu melalui kacamata masa kini. Dan media memperkuatnya dengan mengekspos secara berlebihan, berulang-ulang, tanpa menyadari bahwa itu adalah cara yang sama yang dilakukan para diktator untuk menanamkan ideologinya. Barangkali itu salah satu alasan jika ada yang mengatakan bahwa kita kini dikuasai oleh para ‘diktator pasar’.

Menengok dan mengapresiasi peristiwa dan heroisme masa lalu dianggap bukan berita, cukup dengan sesekali ditayangkan, toh semua orang sudah bosan mendengarnya di sekolah.
Jika ditaruh dalam neraca, maka tidaklah mengherankan jika apresiasi terhadap bangsa sendiri semakin merosot. Padahal penggalian dan pengembangan terhadap nilai-nilai tinggi dari setiap elemen masa lalu —juga nilai-nilai tradisi— tak akan pernah tuntas meski dilakukan setiap hari, setiap jam.

Tengoklah bagaimana di Den Haag terjadi fenomena yang lain lagi: Kartini Prize 2008 diberikan kepada para lelaki. Tepatnya pada drama teater In de Naam van de Vaders” (In the Name of the Fathers) yang diperani oleh 13 lelaki dari usia 27 hingga 70 tahun. Dan makin fenomenal lagi: mereka semua terdiri dari tujuh bangsa dengan basis kultur yang berbeda.

Dilema-dilema menyakitkan para lelaki, para ayah dan anak-anak lelaki, yang bertumbukan dengan para wanita, para ibu, adik dan kakak, hal-hal yang tabu dibicarakan di sebagian kultur, menjadi kekuatan drama ini yang ternyata membuka inisiatif-inisiatif baru berkaitan dengan emansipasi dan pemahaman lintas kultur.
Tujuh bangsa lagi kini mengenal Kartini. Bagaimana dengan kita?

Wanita Indonesia kini sudah bisa menjadi presiden, mari sekarang kita melihat emansipasi lebih luas lagi. Masih banyak dari kita yang belum menghargai hak sesama warga Indonesia dengan pantas.
Introspeksi bagaimana perhatian kita terhadap kesejahteraan para pekerja kecil, buruh, kuli, tenaga honorer. Pekerjaan yang sama di tetangga dihargai lebih tinggi.
Dan kita diam saja ketika TKI diperas dari sejak pengiriman hingga saat mereka menjejakkan kaki pulang di bandara dan pelabuhan. Jika kita membiarkan orang memeras, menipu, memperlakukan TKI dengan tidak pantas, bagaimana kita bisa menuntut bangsa lain untuk menghargai mereka?

Buku-buku.
Tulisan terkait: Nobel… eh, Kartini Prize untuk wanita Maroko

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: