Mata Hari. Mata-mata atau penari?

Kisah hidupnya berubah-ubah sepanjang 100 tahun.

Matahari pagi itu muncul jam 06.11.
Semua yang hadir mengenakan mantel tebal,
menahan dinginnya pagi Oktober 1917.

“Ce n’est pas nécessaire“ tolaknya dengan nada dan gaya seorang Lady,
saat sang komandan regu menawarkan penutup mata.

Jam 06.15 duabelas tembakan mengelegar.
Mata Hari tak ada lagi.

Duabelas tahun sebelumnya, 13 Maret 1905, ia dikerumuni penggemar dan wartawan. Performansi tarinya di Museum Guimet, Paris, merupakan inovasi yang menghebohkan kalangan elite Paris. Berlatar patung Dewa Shiwa, terbalut dalam kostum mirip wayang, ia menari setengah telanjang.
Sang penari bercerita bahwa namanya Mata Hari, dari bahasa Sansekerta diterjemahkan sebagai “the eye of the dawn”. Bahwa dirinya berasal dari India Selatan, dari keluarga kasta Brahma, bahwa sejak kecil dirinya dididik untuk menari di candi Shiwa. Bahwa tari-tarian yang tak pernah dipertunjukkan di luar candi adalah keahliannya.

Mata Hari segera menjadi buah bibir. Berbagai pose fotonya dalam kostum tari beredar luas hingga diproduksi menjadi kartu pos. Ia kebanjiran pesanan untuk menari dari salon ke salon. Adalah trend bagi para aristokrat waktu itu untuk menyediakan salon sebagai tempat menjamu kalangan elite, memamerkan koleksi senirupa, minum-minum, membaca bersama, atau menyaksikan performansi eksklusif.

Mata Hari sangat populer di antara para Duta Besar dan kalangan aristokrat Eropa. Ia pun tampil di pentas besar Olympia Theatre Paris, disusul dengan pertunjukan di berbagai kota di Spanyol, Monako, Austria, Italia, Mesir. Eksotisme Asia yang ditonjolkannya menjadi daya tarik tersendiri. Sedangkan tariannya yang erotis, selendang transparan yang sesekali menyingkap di antara gerak tarinya, membuat penasaran banyak lelaki.

Mata Hari —di luar pentas ia adalah Lady McLeod, seorang janda— dengan mudah memilih lelaki yang diingininya. Dikabarkan banyak tokoh penting pernah menjadi kekasihnya, di antaranya Jules Cambron – Menteri Luarnegeri Prancis; Adolphe-Pierre Messimy – Menteri Perang Prancis, Putra Mahkota Jerman; Van der Linden – Perdana Menteri Belanda; Duke of Brunswick; Von Jagow – Menteri Luarnegeri Jerman, Baron Henri de Rothschild; komposer Giacomo Puccini; komposer Jules Massenet.

Gaya hidup Mata Hari berkelebihan mewah. Ia pun dianggap orang sebagai seorang courtesan, pacar atau gundik dari seorang bangsawan, atau sebagai femme fatale, wanita yang memiliki daya pikat mematikan sebagaimana Delilah atau Cleopatra. Gambaran itu begitu kuat, sampai ada yang menyatakan “hingga tahun-tahun pertama Perang Dunia I, Mata Hari menari di antara hati dan dompet para pejabat militer dan negarawan yang peta politis dan geografisnya beragam.”
Imitator Mata Hari pun bermunculan. Moulin Rouge di daerah lampu merah Paris sejak 1907 mulai menampilkan striptease. (Moulin Rouge dikenal dengan tingkah para wanita bergaya vulgar, cikal bakal gaya tari can-can.)

Pada 1908 boleh dibilang setiap elite Eropa sudah pernah menyaksikan performansi Mata Hari. Pertengahan 1910 ia berhenti menari, tinggal di sebuah kastil besar di Chateau de la Doree atas biaya Russeau, seorang bankir. Ia kembali ke pentas pada 1912 ada dua performansi ballet di La Scala, Milano, Italia. Kemudian tinggal di sebuah villa di pinggiran Paris, di tamannya menyelenggarakan performansi bersama Inayat Khan, seorang sufi yang berdakwah keliling dunia melalui musiknya.

Mata Hari berada di Berlin sejak awal 1914, bersama Alfred Kiepert, petinggi militer Jerman, bulan Mei dikabarkan berhubungan dengan Von Jagow, Menteri Luarnegeri Jerman.
Sebulan kemudian seluruh Eropa terguncang: Putra Mahkota Austria dan isterinya pada 28 Juni ditembak mati di Sarajewo (Bosnia). Ketika Austria menuduhnya sebagai pelaku dan memberi ultimatum, Serbia meminta bantuan Rusia. Jerman pun menyokong Austria. 4 Agustus Jerman menduduki Belgia yang berada dalam perlindungan Inggris, pecahlah Perang Dunia I. Jerman-Austria di satu sisi, Inggris dibantu Rusia dan Prancis di sisi lain.

Mata Hari pindah ke Amsterdam, menyewa rumah dibiayai Baron van de Cappellen, seorang kolonel kavaleri Belanda. Dalam beberapa kesempatan ia berhasil mondari mandir antara Belanda dan Perancis untuk mengambil barang-barangnya. Saat itu ia bertemu dan jatuh cinta pada seorang tentara Rusia, Vladimir Masloff.

Vladimir terluka di medan perang dan dirawat di rumahsakit. Saat mengurus surat izin agar bisa mengunjungi Vladimir, Mata Hari berurusan dengan Kapten George Ladoux. Kepala biro urusan spionase itu membujuknya agar bersedia memata-matai Jerman dengan imbalan uang. Beberapa hari kemudian tawaran itu diterima Mata Hari.

Nopember 1916 Mata Hari ditugasi mendekati Jenderal Moritz Ferdinand von Bissing yang berada di Belgia. Situasi perang membuat perjalanan ke Belgia yang berbatasan dengan Prancis harus memutar melalui Inggris. Saat itu Inggris sedang mengincar seorang mata-mata Jerman yang hanya diketahui bernama Clara Benedict. Setiap wanita asing diawasi ketat, saat Mata Hari menaiki kapal yang akan berangkat ke Belgia, intelijen Inggris menangkapnya. Usai interogasi, Mata Hari ditugaskan ke Spanyol.

Setiba di Madrid pada Desember 1916, Mata Hari pun mendekati Mayor Arnold von Kalle, Atase Militer Jerman. Ia mendulang informasi dan meneruskannya ke intelijen Prancis, kepada Kalle diberinya informasi tentang Prancis. Mata Hari kembali ke Paris awal Januari 1917.

Sementara itu, intelijen Prancis menangkap pesan rahasia yang dikirim Kalle ke Berlin tentang informasi dari agen berkode H21. Isi informasi itu tidak membahayakan Prancis, namun tercantumnya kode H21 membawa pada kesimpulan bahwa Mata Hari adalah agen Jerman.

13 Pebruari 1917, Mata Hari ditangkap. Setelah menjalani interogasi dan mendekam selama enam bulan, ia disidangkan pada 24 Juli dan divonis bersalah. Hukuman mati dilaksanakan pada 15 Oktober 1917.

Berita eksekusi Mata Hari tersebar ke seluruh dunia. Situasi perang dan kasus mata-mata ganda menyebabkan semua detil tentang Mata Hari tertutup rapat. Juga mereka yang pernah mengenalnya belum tentu berani atau mau menceritakan kejadian sebenarnya.

Kisah Mata Hari yang dimulai oleh Mata Hari sendiri dengan berbagai fantasi yang berkaitan dengan asal-usulnya, terus berlanjut hingga kini. Kisah hidupnya penuh fantasi dan asumsi. Mata Hari menjadi sinonim dari mata-mata wanita. Ia menjadi mitos.

Ada ratusan biografi Mata Hari —berbagai versi, fiksi, non-fiksi atau kombinasinya berupa buku, film, teater— secara berkala muncul bergantian sejak 1920. Menyusuri kebenaran kisah hidupnya menjadi sangat sulit. Karenanya novelis Judith Rossner, sutradara Robert Altman, dan mungkin masih ada lagi yang lain, mengurungkan niat membuat biografi Mata Hari yang diniatkan sesuai dengan keadaan sebenarnya.

Russell Warren Howe dalam bukunya Mata Hari: The True Story (1986) melukiskan Mata Hari menarikan gerakan bermain cinta dengan patung Shiva berukuran besar. Namun foto bercerita lain, patung “Dancing Shiva” itu tak lebih tinggi dari lututnya.

Bersinar terus sampai nanti
Kematian itu membuatnya hidup seratus tahun lagi

Musim panas kemarin Mata Hari bersinar di Paris. Sebuah musikal karya Herman van Veen, sorang penulis dan sutradara yang kerap memperoleh penghargaan di berbagai festival film internasional.
Herman dalam karyanya ini —disebutnya sebagai chapeau (topi)— mengisahkan Badan Intelijen Prancis menemukan surat dalam bentuk sandi, tersembunyi, dijahit dalam lipatan sebuah gaunmalam warna merah. Gaunmalam itu berasal dari koper Mata Hari. Mata Hari ditangkap dan dijatuhi hukuman mati.

Anna Lintjes, sahabat Mata Hari, tahu betul bahwa gaun itu merupakan hadiah dari Vladimir Masloff, keponakan kaisar Rusia yang berpetualang cinta dengan Mata Hari. Dengan monolog yang mengharukan, Anna berusaha meyakinkan aparat Prancis bahwa Mata Hari tidak bersalah.

Ada elemen-elemen kesenian Indonesia yang menjadi inspirasi koreografi Mata Hari. Herman van Veen adalah artist serba bisa. Menelorkan 130 album CD yang total terjual lebih 10juta keping. Selain tersohor di kampungnya, Belanda, juga dikenal di Belgia, Jerman, Austria, Amerika dan Jepang. Musim panas 2007-2008 ini ia mengadakan tur chapeau keliling Prancis. Lebih jauh tentang dirinya dan karya-karyanya, bisa dilihat di http://www.hermanvanveen.com.

90 tahun sudah berlalu sejak Mata Hari dieksekusi mati. Kematian justru membuatnya dikenal seluruh dunia melampaui ketenarannya semasa hidup. Kisah yang tragis, ketabahan menjalani hidup dan menghadapi kematian, petualangan di antara kaum elite internasional, serta isu kegiatan matamatanya yang tak jelas, melahirkan berbagai versi fakta, mitos dan legenda.

Setiap yang mengenal Perang Dunia I, sedikit banyak tahu akan Mata Hari. Jika Clara Benedix, matamata Jerman masa itu, tidak mengundang perhatian, Mata Hari malah menjadi sumber inspirasi kelahiran berbagai karya tutur, tulis dan performansi, dari puisi, buku, musik, tari, teater hingga film.

Sejak 1996 drama kontemporer mati suri di Rusia, kebangkitannya diawali Mata Hari yang tampil reguler sejak 2004 di Strelkov Teatr. Sebuah melodrama yang diungkap melalui tari, bayang-bayang, puisi dan musik tentang cinta dan kematian seorag matamata, karya Garold Strelkov. [www.strelkov.ru]

Pada Oktober 2007 drama The True-Life Fiction of Mata Hari karya Diane Samuel digelar di London. di mana 25 tahun sebelumnya, penyanyi Lene Lovich menyajikan karya musikal Mata Hari.
Di Amerika, penari solo Nejla Y. Yatkin tampil memukau dalam De/Reconstructing Mata Hari. Ia menari dalam balutan bermeter-meter kain sutera, masuk dalam kelompok “25 to Watch.” Pada 2005 berkeliling Amerika, berakhir di Dresden, Jerman Nopember 2006.
40 tahun lalu Mata Hari karya Vincente Minnelli, muncul di Broadway pada 1967, kemudian diolah kembali oleh Martin Charnin pada 1996.

Sedangkan dunia film sangat kaya akan Mata Hari, baik berupa kisah hidup, karakter, atau sosok lain yang merefer ke Mata Hari. Ada Indiana Jones kehilangan keperjakaannya oleh Mata Hari, atau James Bond mempunyai putri hasil hubungannya dengan Mata Hari dalam Casino Royale.
Matamata (Die Spionin) dibintangi Asta Nielsen tercatat sebagai film pertama tentang Mata Hari, disusul Mata Hari, Die Rote Tänzerin (1927) dengan Magda Sonja. Keduanya produk Jerman.
Barangkali yang membuat kisah hidup Mata Hari semakin menarik dan dikenal di seluruh dunia adalah Mata Hari (1931) produk Holywood yang dianggap sebagai salah satu penampilan terbaik Greta Garbo,
Prancis juga membuat Mata Hari. Agent H-21 (1964) dibintangi Jeanne Moreau, dan Mata Hari (1985) berbumbu erotisme diperani oleh Sylvia Kristel, yang sedang tenar dengan sederet film softcore seri Emanuelle.

Kisah Mata Hari dalam bentuk dokumenter diluncurkan pada 1996, dibintangi Mata Hari sendiri dalam klip-klip video berdurasi 50 menit. Lalu Mata Hari: The Legend and the True Story of a Spy dokumenter karya Françoise Levie yang pada New York Film Festival 1999 memperoleh Bronze Award .

Film terbaru Mata Hari

Martha Fiennes (42), penulis dan sutradara film Inggris, sedang mengolah film biografi Mata Hari. yang akan diperani oleh Dita von Teese, peragawati yang sering menjadi model di Playboy. Tentang Mata Hari dan filmnya, sutradara terbaik di Tokyo International Film Festival 1999 ini berbicara banyak di harian Independent London. Berikut ini ringkasannya :

Semua tahu Mata Hari, tapi tak ada yang mengenalnya. Saya tertarik padanya karena ia menciptakan sendiri identitas dan brandingnya. Cerita-cerita yang ia tuturkan adalah bagian dari konsep pemasaran, advertiser’s dream. Dan ia makin mempesona setelah mati. Suatu fenomena yang dialami oleh para “wanita terpuruk” dari Maria Magdalena, Joan d’Arc, hingga Princess Diana.

Untuk bangkit dari keterpurukan, dari sedikit alternatiif yang ada, ia memilih kehidupan terhormat kalangan borjuis, memanfaatkan sexual sense, mendahului jamannya, semacam Madonna dulu. Ia tampil nyaris telanjang di pentas-pentas Eropa, menyelubungi tubuhnya, dan dirinya, dengan berlapis-lapis kisah fantasi: sebagai princess dari Jawa, lahir di India, sejak kecil diajari tarian sakral. Performansinya berdimensi seksual dan kuasi-religius.

Ia miliki apa yang kini disebut high skill set baik di pentas atau saat menghadapi lelaki. Tujuh bahasa ia kuasai, menjadi courtesan sejumlah petualang cinta, termasuk para petinggi militer. Mereka biayai hidupnya, yang kemudian menjadi gaya hidup yang berkelebihan mewahnya. Di kalangan fin-de-siècle Paris pra-1914 ia adalah selebritis.

Skenario saya berdasarkan biografi karya Julie Wheelwright—menurut saya yang terbaik dari sekian banyak yang ada. Ia menyorot lebih dalam, mengidentifikasi sosok wanita yang luarbiasa kuat dan sosok yang terkadang mitologis ini, untuk menangkap imajinasi publik.

Sesuatu yang tadinya biasa saja, tiba-tiba bisa berubah menjadi sesuatu yang lain saat pecah perang. Gaya hidupnya, kebebasannya, kemampuannya jalan sendiri ke berbagai negara, segala yang dilakukan untuk kebutuhannya, semua jadi mencurigakan.

Letnan Mornet, salah seorang jaksa penuntut, mendeskripsi sebagai “wanita internasional yang menjadi sangat berbahaya sejak timbul perselisihan [karena] mudahnya berekspresi dalam beberapa bahasa, terutama Prancis, relasinya yang banyak, kecerdikannya, kemandiriannya, integritasnya, moralitasnya…”

Menteri Pertahanan Prancis di awal perang pernah berpetualang cinta dengannya, bisa saja ia kuatir bahwa hal-hal yang diketahui Mata Hari tentang dirinya menjadi informasi berharga bagi musuh. Jika anda tidur dengan para lelaki lintas-Eropa di masa damai, maka anda menjadi sangat berbahaya di masa perang.

Mudah untuk memahami kesediaannya menjadi matamata Prancis. Secara naif dianggapnya itu permainan baru, menarik, bahkan lucu, tapi kemudian menjadi tragedi. Ketika info-info bisa diperoleh dengan sangat mudah, ia pun dicurigai sebagai agen ganda, ditangkap, dihukum mati.

Mitos juga muncul di seputar kematiannya. Ada kisah dia meniup ciuman ke regu penembak; atau melepas mantel bulunya, memamerkan ketelanjangan agar tembakan meleset. Bagi saya yang menggetarkan justru gambaran seorang wanita yang kurang makan di sel lembab penuh tikus, sangat kontras dengan gayahidupnya, seseorang yang sadar akan dihukum mati, seseorang yang merana ditinggal kekasih.

Skenario saya bukan untuk memujanya. Ia bukan pahlawan. Ia sosok penuh kontradiksi, kadang sosok yang tak disukai. Ia terjebak dalam sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Tidak terlatih sebagai matamata, malah terkesan arogan. Tapi ia lewati semua itu dengan anggun—suatu hal yang diam-diam sangat saya kagumi.

Saya ingin merefleksikan suasana pengadilan yang hanya sandiwara, ia jauh-jauh hari sudah dibungkus untuk mati. Prancis butuh kambing hitam atas kekalahannya di medan perang.

Juga ada atraksi besar visualisasi kecantikan dan kegairahan wanita yang ditampilkan Dita Von Teese. Dita sering disebut sebagai seorang burlesque, artis striptis. Mata Hari sering mengatakan “stripping is my art form.” Melepas pakaian di depan audiens pasti suatu seni tersendiri, Mata Hari melakukannya dengan sangat baik. Demikian juga Dita.

Elemen mempersona lainnya bagi saya adalah betapa ia bisa bertahan begitu lama. Semua tahu namanya. Dari 10 wanita dan 300 pria yang dieksekusi mati oleh Prancis selama Perang Dunia, cuma satu nama yang diingat orang.

Legenda Mata Hari merefleksikan kebutuhan kita akan kisah-kisah moralitas. Berbagai versi buku dan film secara reguler hadir sejak kematiannya. Semua kisah fantasi ini muncul karena kisah yang sebenarnya masih terkunci rapat. Kisah hidupnya bermutasi dan berubah menjadi kisah yang lain.

Baru pada 1960an muncul gambaran yang sangat berbeda. Biografi karya Sam Waagenaar pada 1964 ditulis berdasarkan arsip-arsip dirinya. Lalu pada 2000an penerbit Prancis mempublikasi berkas-berkasnya, dokumen MI5 mengatakan bahwa Inggris tidak dapat menemukan bukti bahwa ia adalah matamata.
Dalam film, saya akan luruskan kisahnya dan menguak alasan-alasan terdalam dan tergelap, yang membuatnya selalu bersama kita selama ini.

Lima tahun di Indonesia
Mata Hari anak Adam

Mata Hari terlahir dengan nama Margaretha Geertruida Zelle, semasa kecil dipanggil dengan nama Grietje. Ia lahir di Leeuwarden, Friesian, Belanda, pada 7 Agustus 1876, saat ayahnya, Adam Zelle, berusia 36 dan ibunya, Antje Johannes van der Meulen, berusia 34.
Grietje mempunyai tiga adik, Johannes Henderikus (1878) dan si kembar Cornelis Coenraad, Arie Anne (1881).

Adam Zelle adalah seorang pengusaha dan pembuat topi. Di zaman di mana semua orang, baik pria mau pun wanita menggunakan topi, bisnisnya lumayan sukses membuat Adam hidup lebih dari berkecukupan. Sekali waktu ia dipilih sebagai salah satu pengawal kehormatan saat raja Willem III berkunjung pada 1873. Kehormatan itu dirayakan dengan meminta pelukis A. Martin membuat portret dirinya dalam kostum kebesaran itu. Agaknya lukisan ini berperan besar dalam hidup Grietje, dalam perjalanan hidupnya ia lebih memilih lelaki beruniform dibanding yang lain.

Mengenai Antje, ibunya, tidak ada keterangan lebih banyak. Beberapa biografer menyatakan ibunya berasal dari Jawa, namun jika dilihat dari akte kelahiran dan silsilahnya tidak ada nama-nama Jawa, atau yang lahir di Jawa. Saat Grietje berusia 6 tahun, mereka sekeluarga pindah ke area perumahan besar dan tertua di Leeuwarden.

Setelah 5 tahun masa-masa menyenangkan di sana, bisnis Adam kemudian mulai menurun. Kesulitan finansial makin sering dialami, dan akhirnya dinyatakan bangkrut pada 1889. Ia titipkan anak isterinya tinggal bersama ibu dan ketiga adiknya di sebuah rumah susun. Tak lama mereka pun bercerai. Delapan bulan kemudian, 10 Mei 1891, ibunya meninggal dunia, saat Grietje berusia 14 tahun.

Grietje kemudian mengikuti sebuah kursus guru taman kanak-kanak. Usai kursus ia bekerja di Leiden. Tapi tidak lama kemudian ia dikeluarkan, karena memadu kasih dengan kepala sekolah. Grietje lalu tinggal bersama pamannya di Den Haag.

Akhir Pebruari 1895, sebuah iklan di koran menarik perhatiannya: “Seorang perwira yang sedang pulang cuti dari Hindia Belanda ingin berkenalan dengan wanita berkarakter menyenangkan —untuk dinikahi.” Iklan tersebut dipasang oleh teman Rudolph MacLeod tanpa sepengetahuannya. Singkat cerita, Grietje, 19 tahun, menikah dengan Rudolph, 38 tahun, pada 11 Juli 1895. Setahun kemudian lahir Norman John, pada 30 Januari 1897.

1 Mei 1897 keluarga baru ini bertolak ke pulau Jawa. Mereka ditempatkan di Ambawara, Jawa Tengah, kemudian Tumpung, Jawa Timur di mana pada 2 Mei 1898 Grietje melahirkan Jeanne Louise yang lebih dikenal dengan nama Non, panggilan orang-orang lokal terhadapnya.

Setahun kemudian mereka dipindah ke Medan. Sebagai komandan garnisun, Rudolph mendapat rumah yang luas. Gaya hidup Grietje mulai disesuaikan dengan posisi suaminya, pakaian-pakaian mode terakhir yang dikirim dari Amsterdam; fasih berbahasa Jerman, Prancis, Inggris, Melayu; bermain piano; berdansa dan menari…

27 Juni 1899 datang kemalangan. Ketika tiba di rumah, Grietje mendapati kedua anaknya menjerit-jerit kesakitan. Tubuh mereka melintir-lintir di tempat tidur. Rudolph berlari memanggil dokter. Norman kecil yang baru berusia 2 tahun sudah meninggal dunia ketika dokter tiba. Non berhasil diselamatkan. Kedua anak itu diracun, entah oleh siapa. Diperkirakan oleh orang lokal yang sakit hati terhadap Rudolph.
Mereka tenggelam dalam kesedihan, penyesalan, dan saling menyalahkan. Rudolph ditarik kembali ke Jawa.

Kehidupan perkawinan mereka goyah. Rudolph bermabuk-mabukan, Grietje mengusir kesedihan dengan membaca kisah-kisah Hindu. Pada 1902 Rudolph memutuskan untuk kembali ke Belanda. Di Amsterdam mereka bercerai, Non diasuh oleh ayahnya.

Grietje kini sendiri. Tanpa uang, tanpa pekerjaan. Oktober 1903, ia mencoba peruntungan dengan pergi ke Paris, kota paling gemerlap bagai lilin menarik perhatian laron-laron. Pekerjaan yang dicobanya adalah menjadi model. Namun takada yang tertarik untuk melukis wajahnya, mereka menginginkan model lukisan telanjang.

Kehabisan uang, ia pun kembali ke Amsterdam. Bukan putus asa. Medannya sudah ia amati, dan agaknya ia melihat ada peluang di sana. Segera ia kembali ke Paris. Ia menjadi model pelukis Octave Guillonnet, setengah telanjang. Grietje tak pernah mau memperlihatkan buah dadanya, Octave mendesain kostum khusus untuknya. Grietje pun melansir kisah bahwa ia adalah korban dari suami yang pencemburu, putingnya digigit suami agar tidak menarik lagi bagi orang lain.

Ia juga memulai karir sebagai penari. Debutnya sebagai Lady MacLeod, the oriental dancer, diawali di salon Madame Kireevsky yang ternyata kemudian membawanya pada kemasyhuran dan kematian yang legendaris. [dari berbagai sumber]

Kunjungi Mata Hari Lounge di jalan Veteran I no.32, Gambir, Jakarta. +6221 344-7288

6 Responses

  1. Sangat menarik kisah matahari. Saya tinggal di salatiga, istri kelahiran ambarawa. Kisah tentang matahari hanya dpt kita temukan diartikel cetak/elektronik. Sedang bagi masyarakat ambarawa dan sekitarnya hanya merupakan ‘dongeng’ belaka.
    Izinkan saya mengutip artikel ini untuk bahan tulisan di web-blog saya. thanks

    Izin diberikan, mas Son.
    Semoga bermanfaat.

  2. Menarik! Saya orang salatiga aja menganggap Matahari sbg cerita ‘dongeng’, jujur hanya segelintir orang2 di salatiga – ambarawa yg betul2 mengerti kisah/sejarah Matahari.

    Saya minta izin untuk mengutipnya sbg bahan tulisan di Blog saya,
    tx u.

  3. Matahari Adalah Legenda Nyata Wanita Keturunan Indonesia,
    Hiduplah Indonesia Raya .

  4. Mas TR, saya sedang merancang PORTAL MERDEKA yang lebih menggunakan poit of view BUDAYA.

    Apakah saya boleh mengupload artikel tentang Matahari secara berseri di PORTAL MERDEKA?

    Thanks.

  5. Check out my website! With a link to yours.

  6. Ballet kaki nya bagaimana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: