Jakarta 100 tahun lalu

Dari Singapura ke Batavia membutuhkan waktu sekitar 40 jam perjalanan. Lautnya relatif tenang, kecuali pada masa perubahan musim; saat itu laut menjadi sangat bergelombang.

Setelah meninggalkan Singapura, kapal uap berlayar menyusuri kepulauan Rhio, pantainya sangat indah dengan titik-titik pulau-pulau kecil di sekitarnya. Kapal melampaui ekuator pada malam hari, di hari kedua melewati selat Banka, sebuah selat di antara pulau Banka dan pulau Sumatra. Kedua pantainya dijejeri pepohonan kelapa. Kapal berada begitu dekat dengan kedua pantai itu sehingga bendera kecil di atas menara di pulau Banka dapat terlihat dengan jelas.

Tapi semua ini tiba-tiba berubah. Sekonyong-konyong hujan turun, dan guyuran airnya yang tajam memukuli papan dek bagai panah-panah perak. Awan tebal mengembang di atas pantai, dan permukaan air yang semula tenang mulai bergerak dengan riak-riaknya. Warnanya yang hijau pirus berubah menjadi abu-abu keperakan. Keseluruhan atmosfirnya menyegarkan, tapi lebih segar lagi ketika semua ini berlalu.

Sebagaimana ia datang, begitu juga perginya. Hujan tiba-tiba saja berhenti. Tak lama kemudian diikuti terbenamnya matahari, dengan warna-warninya yang indah berpantulan di permukaan air dan pulau. Cepatnya perubahan memang merupakan karakteristik senja tropis.

Pulau Banka, bersama pulau Billiton di sisi timurnya, dikenal dengan produksi timahnya. Para penambangnya orang-orang Cina. Populasinya sekitar 115.000, kebanyakan orang Malay asal Sumatra.

Di pagi hari ketiga kapal uap memasuki Tandjong Priok. Sebagai pintu gerbang “Paradise of the East” ia agak kurang atraktif, tapi para pengunjung cukup puas dengan jaminan bahwa ini adalah ambang pintu yang tidak dipoles, menuju istana kecantikan alami yang amat luas.

Tandjong Priok. Pelabuhan kota Batavia. Di sini, di atas dermaga, begitu kapal merapat, para wisatawan disambut para pesuruh dari berbagai hotel. Kepada mereka barang-barang diserahkan (30 sen per parcel, biasanya akan dicantumkan dalam tagihan hotel). Juga ada porter resmi, yang akan membawa bagasi ke stasiun kereta api dengan biaya 10 sen per buah.

Pembangunan Tandjong Priok dilakukan antara 1877-1886, terdiri dari Pelabuhan Luar dan Pelabuhan Dalam. Pelabuhan Luar dengan kedalaman 26 kaki dilindungi oleh dua tanggul panjang masing-masing sepanjang 6.000 kaki. Pelabuhan Dalam panjangnya 3.500 kaki dan lebar 565 kaki, dengan dua dermaga, salah satunya memiliki tempat pengisian batubara. Biaya pembangunannya sebesar fl.2.200.000. Kini sedang diupayakan agar segera dilakukan perluasan.

1910-st-tandjong-priokStasiun Kereta Api. Disebut Stasiun Tandjong Priok, berdampingan dengan kantor pabean. Di halamannya terdapat tempat penukaran uang (tempat menukar uang asing dengan uang yang berlaku di kepulauan) dan kantor pos (memiliki hubungan komunikasi telepon dengan hotel-hotel di Weltevreden). Dengan kereta api jarak ke Batavia sekitar 10 km, atau 16-17 menit, berangkat setiap 30 menit, kecuali hari Minggu dan hari-hari libur, saat itu kereta api tidak bekerja.

Ada tiga jalur rel kereta yang mengarah ke tiga kawasan kota yang berbeda. Wisatawan dianjurkan untuk memilih kereta yang sesuai dengan tujuan mereka.
Yang ingin ke kawasan perhotelan sebaiknya mengambil kereta SS Line hingga ke Kemajoran, atau NIS Line untuk ke Noordwijk atau Koningsplein, —ini adalah tiga stasiun yang berada di Weltevreden.
Jika ingin ke Batavia yang asli, naik kereta NIS Line ke Batavia N, atau kereta SS Line ke Batavia Z. Perlu diingat bahwa ada kereta SS Line yang tidak berhenti di Batavia Z, tapi langsung ke Kemajoran.

Tarif kelas 1 dan kelas 2 :
ke Batavia SS dan Batavia NIS 50 sen, 20 sen
ke Weltevreden SS (Kemajoran) 40 sen, 25 sen
ke Weltevreden NIS (Nordwijk) 50 sen, 30 sen
ke Weltevreden NIS (Koningsplein) 60 sen, 35 sen
bagasi 10 sen per 1/10 m3

Kereta dan otomobil. dos-a-dos (disingkat menjadi sado), adalah kereta pribumi di mana penumpang dan kusir duduk saling membelakangi, 15 sen per 1/4 jam.
Hotel-hotel memiliki kereta eropa dan otomobil yang akan menunggu di stasiun jika sebelumnya diberitahu melalui telepon.

Pemandu wisata. Di semua hotel kelas satu disediakan pemandu wisata yang berbahasa Inggris, fl.2,5 hingga fL.3 per hari di luar makanan dan biaya perjalanan. Tapi wisatawan biasa tidak memerlukan pemandu wisata profesional, karena semua orang Belanda bisa berbicara Inggris, Prancis, dan Jerman; sementara orang pribumi berbahasa Malayu, bahasa yang konstruksinya sederhana dan mudah dipelajari. Para porter hotel (mandoer dalam bahasa Malayu), umumnya bisa berbahasa Inggris, bisa dipercaya untuk membeli tiket, mengurus bagasi, dll.

Official Tourist Bureau terletak di Rijswijk 17 (di sudut Utara gang Pool), Weltevreden. Buka tiap hari jam 08:00-12:00 dan 17:00-19:00. Di sini para wisatawan bisa memperoleh informasi cuma-cuma mengenai perjalanan di Java atau wilayah lain di Hindia Belanda (biasanya mereka sudah mempunyai itinerary plan), dan berbagai pamflet berisikan informasi wisata. Buku-buku panduan juga dijual di sini.

1910-desindes Hotel. Umumnya berada di Weltevreden.
Hotel des Indes, 130 kamar di Molenvliet West, fl.7 hingga fl.15
Hotel der Nederlanden, 135 kamar fl.7-12, Grand Hotel de Java, Hotel de France, ketiganya di Rijswijk.
Central Hotel, di seberang Hotel des Indes di Molenvliet East
Hotel Tramzicht di Molenvliet East
Hotel-hotel ini umumnya satu lantai, dengan kamar-kamar yang dikelilingi beranda besar, dilengkapi meja kursi dan pot-pot tumbuhan. Bangunannya dikelilingi taman-taman yang ditanami pohon asam, beringin dan pohon-pohon lain yang juga tinggi dan mewah. Dalam satu kalimat, hotel-hotel kelas satu di Java melampaui segala pujian dan dilengkapi dengan semua kenyamanan yang bisa diperoleh oleh wisatawan di negeri tropis.

Restoran. GW Versteegh di Nordwijk memiliki ruang besar untuk pesta, dan bar di Waterlooplein; Stam & Weijins, Rikers, dan Eesrte Bataviasche Bierhalle —ketiganya di Noordwijk; Eerste Nederlandsche Bierbrouwerij di Goenoeng Sari; Breakfast-hall Hotel der Nederlanden di Rijswijk.

Pension (boarding house). Wisatawan yang berniat tinggal lama di Batavia lebih memilih penginapan ini daripada hotel yang mahal. Beberapa penginapan mensyaratkan minimal tinggal selama sebulan. Tarifnya bermacam-macam, perlu ditanyakan sebelum melakukan pesanan. Rumah-rumah ini umumnya memiliki satu atau dua pavilyun yang bisa disewa, dan dengan menyewa pembantu (fl.10-15 per bulan), orang bisa memiliki privacy yang lebih besar dibanding di kamar dalam rumah.

Kota. Penduduk Batavia pada sensus 1912 berjumlah 162.000 terdiri dari 15.000 orang Eropa, 114.000 pribumi, 30.000 Cina, 1.800 Arab dan 1.200 non-pribumi lainnya.
Kota Batavia terbagi dalam dua distrik: Batavia dan Weltevreden, dengan kota satelitnya Meester Cornelis.

Batavia adalah kota lama, didiami oleh orang pribumi, Cina dan Arab. Tampilan umum dan aktivitas di jalan-jalan tidak bisa dibandingkan dengan distrik serupa di kota-kota besar koloni Inggris di Timur. Letaknya di tepi laut, menempati area bekas rawa-rawa, sangat padat penduduknya dan sangat tidak sehat.
Namun di sini adalah pusat bisnis, di sini terdapat bank-bank, perusahaan pelayaran, perusahaan asuransi, dan banyak kantor lain yang dimiliki orang Eropa. Jam kerjanya dari jam 9 hingga jam 16 atau 17.
Di Batavia jalan paling sibuk adalah Kali Besar, di mana terdapat bank dan kantor-kantor perusahaan besar, Pintoe Besar, Pintoe Ketjil, dan Pasar Baroe, di mana berkembang toko-toko Cina.

Weltevreden adalah kawasan perumahan, di mana tinggal orang Belanda, Inggris, dan orang asing lainnya yang memiliki usaha di kota lama. Jalan-jalannya lebar dan terbuka luas, rumah-rumah terbuka, yang dalam beberapa tahun terakhir sudah dilengkapi dengan instalasi air bersih dan perlengkapan sanitasi lainnya.

1914-laundry Wilayah kota di lintasi oleh sungai Tjiliwoeng, dengan beberapa kanal yang menembus ke berbagai arah kota. Tepi-tepi sungai dilindungi tanggul, dengan tangga di beberapa tempat. Airnya yang berwarna hijau kecoklatan merupakan sumber kegiatan pribumi. Pria, wanita, anak-anak, mandi di situ, mencuci pakaian (kadang juga alat-alat makannya), dan anak-anak bermain dengan gembiranya.

Di pusat Weltevreden ada dua taman —Waterlooplein, dengan monumen Waterloo, dan Koningsplein.
Noordwijk dan Rijswijk, dua jalan berdampingan yang terpisah oleh sungai sangatlah menarik, terutama di sore hari, ketika orang-orang berada berkendara di sana.
Selain itu, Molenvliet, Kramat, Tanah Abang, dan Kebon Sirih, merupakan jalan-jalan terpenting di Weltevreden.

Meski Batavia merupakan ibukota Hindia Belanda, secara komersil ia berada di urutan ketiga setelah Soerabaja dan Semarang.

1910-concordia2Club.
Harmonie Club, Rijswijk
Concordia Club, Waterlooplein East
Deutsche Turnverein, Gang Thibault
English Sporting Club, Koningsplein

Harmonie dan Concordia merupakan club terbesar. Harmonie memiliki ruangan yang indah dan perpustakaan yang lumayan. Setiap hari Minggu malam, jam 18-20 ada performansi band. Concordia diutamakan untuk kalangan militer, memiliki taman yang atraktif. Band tampil setiap Rabu mulai jam 18:00 dan Sabtu pagi.

Theatre.
Theatre Komedi, Schoolweg, di sudut tempat tram berputar. Khusus untuk performansi para prajurit Eropa (Belanda, Inggris, Prancis).
Thalia Theatre, di sudut Molenviliet dan Prinsenlaan, khusus performansi kaum pribumi.
Wajang Malaju, Molenvliet
Komedi Stambul, Molenvliet

Tempat-tempat menarik.
Museum (Roemah Gadja). Museum dan Perpustakaan Batavia Society of Arts and Sciences, termasyhur di dunia sains, berada di sisi Barat Koningsplein. Bangunannya bergaya Grecian. Di depan pintu masuk terdapat patung gajah, hadiah dari raja pertama Siam, sebagai kenangan atas kunjungannya ke Java pada 1871. Di kiri kanan patung gajah terdapat meriam besar, hasil tangkapan dari kesultanan Bandjermasin di Borneo Selatan.

Di dalam, mengelilingi central court, terdapat barang-barang antik Java, karya seni, senjata, perisai, ornamen, kostum, topeng, tekstil, anyaman, alat musik, model-model kapal dan rumah, contoh-contoh kerajinan metal dan semua industri orang Java.

Coco de Mer 47 A Di ruang Treasure terdapat benda-benda emas berupa perisai, helm, mahkota, kotak payung, baki, perlengkapan tembakau dan sirih, badik berhiaskan permata, keris dengan bilah terbaik, dihiasi urat-urat aneh, disamping berbagai kerajinan emas lainnya dari para sultan dan pangeran pribumi.
Di ruang ini juga terdapat coco-de-mer besar (buah kelapa kembar yang legendaris, konon hanya tumbuh di sebuah pulau misterius milik dewa laut), ditopang penyangga dari emas. Juga ada beberapa perhiasan emas dan perak seperti kalung, anting, tusuk konde, cap, piring, dan patung-patung, hasil penggalian di reruntuhan candi-candi di kota-kota Java.

Di ruang lain terdapat barang-barang dari perunggu, perlengkapan prosesi kaum Buddhist. Di central hall juga terdapat relief dan patung-patung dari reruntuhan candi Buddhist dan Hindu, yang menampakkan adanya pengaruh Yunani.
Perpustakaannya terdiri dari berbagai publikasi sains dan kesenian dari seluruh dunia yang diperoleh melalui pertukaran.
Di ruang council juga terdapat kursi-kursi kerajaaan pribumi, lukisan dan suvenir dari para eksplorer dan navigator dunia yang mengunjungi Jawa pada abad 18 dan awal abad 19.

Setiap hari Minggu, Rabu dan Sabtu banyak kaum pribumi yang datang mengunjungi museum. Merupakan kesempatan bagi wisatawan untuk melihat mereka dan anak isterinya dalam kostum-kostum yang menarik.

1288-Batavia-Noord-en-Rijswijk-(Weltevreden) Noordwijk (Kota Utara), secara administratif berada di Manggabesar, Batavia, namun popularitasnya membuat orang mengira sebagai bagian wilayah Weltevreden. Noordwijk merupakan bagian yang paling pesat berkembang, paralel dengan Rijswijk yang berada di sisi Selatan. Jalan ini ditanami dengan pohon-pohon asam yang sangat lux dan tinggi besar. Di belakangnya terdapat deretan toko-toko dan kantor orang Eropa, juga beberapa restoran.

rijswijkRijswijk (Kota Beras), merupakan jalan paling populer, paralel dengan Noordwijk menyambung dengan jalan Tanah Abang. Di sudut terdapat Harmonie CLub. Sepanjang jalan dipayungi pohon-pohon asam yang indah. Rumah-rumah umumnya dikelilingi taman yang ditanami pohon-pohon rindang. Di tepi kanal terbentang jalur trem uap.
Di sudut jalan yang berpotongan dengan Gang Pool terletak Official Tourist Bureau, di sebelah Timurnya berdiri Departemen Keadilan, di belakang kediaman resmi Gubernur Jenderal. Di jalan ini juga terdapat Hotel der Nederlander, Departemen Administrasi Kolonial, dan Grand Hotel de Java.

1910-weltevredenKoningsplein (Gambir). Terletak di pusat kota, luasnya sekitar satu km2. Butuh satu jam untuk jalan berkeliling. Bagi para pendatang baru ia merupakan ruang terbuka berbentuk trapesium yang sangat tidak atraktif, hanya ada beberapa pohon dan sedikit rerumputan. Bagi orang Batavia, ketelanjangan ini justru merupakan daya tarik. “Angin segar bertiup tanpa halangan, dan ketidak hadiran tumbuhan menjamin keringnya udara.” Di sini pada sore hari berkumpul para orang kaya dan orang-orang paling bergaya di Weltevreden, di atas kuda atau di dalam kereta kuda.

Koningsplein dikelilingi oleh deretan residence dan gedung pemerintahan. Di Utara terdapat Dutch Sporting Club dan residence resmi Gubernur Jenderal (tempat tinggalnya jika berkunjung sebulan sekali. Sehari-hari ia tingal di Buitenzorg).

Di Barat ada Museum dan Konsulat Jerman dan Rusia.
Di Selatan, Royal Natural History Society, dan di sebelahnya kediaman Resident Batavia. Di antara Koningsplein Selatan dan Utara berdiri gedung Intercommunal Telephone Co, di belakangnya English Sporting Club. Di Timur ada sekolah tinggi khusus wanita (dibuka sejak 1882) dan gereja Protestan Willemskerk. Di seberangnya adalah Stasiun Koningsplein, di belakang stasiun terdapat arena balap Batavia-Buitenzorg Race Club, di mana balapan diselenggarakan dua kali setahun.

Hertogspark. Sebuah taman indah terletak diantyara Koningsplein Timur dan perumahan pejabat milter. Kediaman resmi Commander-in-Chief berada di dalam taman ini.

1910-monumenWaterlooplein. Lapangan seluas 350 m2, terhubung dengan Koningsplein melalui jalan Willemslaan. Di tengahnya berdiri tegak kolom “Lion of Waterloo”, didirikan pada 1825 oleh Komisaris Jenderal Du Bus de Gisignies, untuk memperingati Perang Waterloo.

Di sisi timurnya berdiri megah istana yang dibangun oleh Gubernur Jenderal Daendels yang tak pernah digunakan sebagai istana. sekarang digunakan oleh beberapa kantor Pemerintahan. Memasuki pintu gerbang utara istana, menaiki tangga di sisi kanan, akan tiba di hall besar tempat pertemuan para council Hindia Belanda. Koleksi lukisan ukuran life-size para gubernur jenderal didisplay di sini.

Di depan istana berdiri patung perunggu Gubernur JP Coen, didirikan dalam rangka peringatan 250 tahun berdirinya Batavia. Concordia Club yang dikelilingi taman luas berada di sisi selatan istana.

Perumahan pejabat berada di selatan lapangan, di sisi baratnya jalan Willemsplaan yang dipayungi pohon-pohon tinggi besar. Di ujung jalan berdiri monumen General Michiel yang tewas pada 1849 dalam ekspedisi di Bali.

Gereja Katolik Roma berada di sisi utara lapangan, mudah dikenali dengan dua menaranya yang merupakan konstruksi terbuka. Eksterior dan interiornya tidak menampilkan karakteristik yang biasa terdapat di gereja katolik di Eropa.

Pertandingan sepakbola dan pegelaran musik band sering diselenggarakan di lapangan Waterlooplein ini.

Wilhelmina-Park-(Oude-Fort) Wilhelmina Park. Di akhir jalan Willemslaan terdapat taman kecil yang sangat indah, dinamakan sama dengan nama ratu Belanda kini. Taman ini berada di antara dua cabang sungai Tjiliwoeng dan terbebaskan dari kebisingan kota. Di tengah-tengahnya adalah benteng Prins Hendrik, yang diputus dari Batavia pada masa Daendels dan kini digunakan sebagai gudang senjata. Hanya pedestrian yang diizinkan melalui taman ini. [bersambung…]

[Teks dari An Official Guide to Eastern Asia. Trans-Continental Connections between Europe and Asia. Vol.V. East Indies. Prepared by The Department of Railways. Tokyo. Japan. Second Edition 1920 – collected from 1908 and 1915. Foto dari berbagai sumber]

5 Responses

  1. Jaman segitoe apa soeda ada mesjid dan moesola?

  2. Hehehe pastinya ada dong mas kopdang, jaman itu kaum muslim disebutnya kaum mohammedan. mesjid dan mushola saya kira adanya cuma di kampong-kampong (ada banyak mesjid tua di Jakarta) karena pemerintah dan para bule belum ada yang muslim… (barangkali). Sementara buku itu hanya panduan wisata yang memuat hal-hal yang mereka anggap menarik untuk wisatawan jaman itu…

  3. bung,

    artikel ini menarik sekali seperti plesiren tempo dulu. bagaimana caranya saya mendapatkan referensi tentang jakarta tempo dulu seperti yang bung miliki?

    thx

  4. ‘bung google’ punya pustaka gratis yang berlimpah. umur kita ga akan cukup untuk membacanya :).
    mampirlah ke http://books.google.com, ketikkan ‘batavia’ plus kata kunci yang sesuai interes anda…. voila!
    betapa beruntungnya anak-anak masa kini, sudah sepantasnya untuk bisa bangjkit lagi.
    selamat berjuang…

  5. Pak kayanya aku nemu klapa yang persis : Di ruang ini juga terdapat coco-de-mer besar (buah kelapa kembar yang legendaris, konon hanya tumbuh di sebuah pulau misterius milik dewa laut),kl masih ada nanti aku liat dulu aku timbun tanah aku pikir klapa biasa,,,,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: