Kekuasaan yang Mengelak

Untuk menguatkan dan mendukung himbauan dan pesan yang terkandung, kami tampilkan editorial Kompas hari ini. Semoga kekuatan putih berhasil mengalahkan dominasi kekuatan hitam.

Terungkapnya kasus penyuapan aparat kejaksaan dan anggota DPR, pengalihan rumah negara jadi rumah pribadi, contoh fenomena krisis moralitas negeri ini.

Absurd! Kasus-kasus terjadi justru ketika pemerintah sedang aktif memberantas korupsi. Ada kesan sengaja melecehkan. Ada kesan nekat! Sebaliknya fenomena itu merupakan justifikasi kesan makin tak adanya sikap ksatria, keteladanan, dan berpihak kepada rakyat.

Fenomena ini bersangkut paut dengan kekuasaan. Kekuasaan dan nafsu berkuasa tanpa nurani berurat akar pada nafsu serakah. Hubungan intrinsik antara kekuasaan dan keadilan—sisi pertama sebagai sarana menyelenggarakan kebaikan umum, sisi kedua merangsang nafsu serakah—menawarkan beragam kesempatan.

Ketika lingkungan tidak kondusif untuk penegakan hukum, sisi kedua kekuasaan dominan tampil. Agar kondusif untuk sisi pertama tercipta, penegakan hukum yang tegas dan adil perlu dilakukan tanpa kecuali.

Penahanan Gubernur BI Burhanuddin Abdullah hendaknya menjadi impuls terus mengembangkan lingkungan yang kondusif untuk penegakan hukum lewat institusi semacam KPK. Wacana yang dikembangkan jangan direcoki pernyataan yang melemahkan proses penegakan hukum yang tegas dan adil.

Kekuasaan yang mengelak. Itu istilah tepat untuk menggambarkan fenomena keserakahan sekitar kita saat ini; istilah yang muncul spontan, terinspirasi dari ”filsafat yang mengelak” temuan Prof Jo Verhaar SJ (alm) sekitar tahun 1980.

Menurut filsuf Indonesia kelahiran Belanda itu, mengelak tidak berkonotasi negasi atau penyangkalan, tetapi temuan baru, pengembangan baru dari apa yang sudah ada, serta hasil proses sikap kritis dan serba menggugat yang menjadi jati diri kemanusiaan.

Dalam konteks kekuasaan, mengelak berarti sudah ditinggalkannya etik moral. Dalam filsafat, mengelak berarti menemukan. Dalam konteks kekuasaan, mengelak berarti berkembang liarnya nafsu berkuasa. Kekuasaan mengelakkan diri dari keberpihakannya kepada rakyat banyak.

Di tengah maraknya keserakahan, perlu diingatkan kebajikan melik nggendong lali (hasrat menggendong lupa). Kekuasaan membawa nikmat sekaligus tanggung jawab keberpihakannya kepada rakyat banyak. Keserakahan membuat keluhuran kekuasaan dilecehkan.

Ketika rakyat menjerit harga barang-barang tidak terjangkau, ketika upaya pemberantasan korupsi diramaikan dengan korupsi baru, ketika tak ada lagi pemegang kuasa dan pemimpin berpihak kepada rakyat, lengkap sudah keprihatinan kita.

Kekuasaan yang mengelak perlu ditekuk, dibelokkan pada makna luhur kekuasaan, yakni berpihak kepada kepentingan rakyat banyak. Tinggalkan slogan greed is good (keserakahan itu bagus) yang diserukan Michael Douglas, pemeran Gordon Gekko dalam film laris AS, Wall Street. [Kompas]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: