Televisi menebar kerusuhan dan perilaku negatif

Judul yang provokatif memang. Maaf, ini karena rasa prihatin dan was-was yang sudah memuncak. Beberapa hari belakangan ini di layar kaca semakin sering ditonjolkan aksi-aksi demo kekerasan, dan seperti biasa: lengkap, sangat detil, dan berulangkali ditayangkan. Seakan mengajarkan pada masyarakat ala buku panduan yang berembel-embel HOW TO.

Meski tidak mampu membuktikan, hati kecil yakin sekali bahwa aksi demo dibumbui kekerasan di negeri ini merupakan kontribusi televisi. Juga kekerasan-kekerasan lain di luar demo. Ditayangkan tanpa pandang waktu atau siapa yang menyaksikan. Menyerahkan pada orang rumah untuk menyensor apa yang dilihat anak? Di tengah kesibukan dan stress akibat macet? Di tengah mahalnya hiburan di luar televisi?
Sungguh tidak mungkin. Hanya mereka yang punya uang akan punya peluang untuk memilih kemana moral anak-anaknya diarahkan.

Sadarkah anda bahwa kebebasan informasi sebetulnya hanya dinikmati oleh berita-berita negatif. Berita-berita baik —bahkan panduan moral yang dirindukan jutaan orang— bisa ditenggelamkan oleh infotainment.
Ironis sekali.
Kebebasan informasi membuat orang tidak bisa berbicara hal-hal baik, karena akan langsung tertutup dengan berbagai sanggahan dan kritik seenaknya dan semaunya. Semakin buruk gaya sanggahannya, semakin sering diulang dan dibahas.

Kita semakin jauh dari kebaikan dan keteladanan.
Adakah televisi yang menayangkan sosok yang patut diteladani? Jika ada, mungkin hanya sesaat. Tidak lama akan disusul tayangan tentang mereka yang menentang, mengritik, membongkar keburukannya. Itupun berulang-ulang, jauuuh lebih banyak dari berita baik yang menjadi pencetusnya
Tak ada manusia yang sempurna, mari kita cari kelemahannya. Kalau cara pandangnya dibalik, maka menayangkan sosok baik malah bisa dianggap promosi. Iklan. Anda harus bayar.
Jika anda berbuat tak senonoh, hahaha… gratis ditayangkan berbulan-bulan oleh seluruh media.

Demokrasi bagai menjadi ajang pesta murah-meriah bagi promosi perilaku negatif. Setiap hari kita disuguhi tayangan perilaku dan komentar negatif yang diulang-ulang. Tanpa disadari ia dilihat dan tertanam sejak usia dini. Akan dianggap sebagai perilaku lumrah, karena tidak ada yang berani mengatakan atau menayangkan bahwa itu salah. Karena perilaku yang perlu diteladani tidak ditayangkan sebagai perbandingan. Anak-anak yang belum pernah mengenal perilaku baik, tidak akan pernah mengenalnya. Bukan tidak mungkin perilaku negatif akan berkembang menjadi karakter bangsa.

Dari spot iklan sinetron untuk anak saja, yang ditonjolkan justru sikap, cara bicara dan emosi buruk anak-anak. Diulang puluhan kali sehingga benear-benar tertanam di benak anak. Bahwa dalam ceritanya mungkin ada suatu kebaikan, hanya sedikit yang tahu. Bukankah lebih banyak yang melihat iklannya daripada benar-benar menonton hingga tuntas ceritanya?

[Titip protes pada para sutradara: mbok jangan cepat puas dengan akting yang sekenanya saja. Nama anda kan taruhannya. Banyak yang pintar berakting kalau marah, maki-maki, atau dialog kasar. Tapi untuk berakting celingak celinguk saja ga meyakinkan. Coba selidiki, orang-orang yang berada di bawah kaliber anda saja tidak mau menonton karya anda lho.]

Saya yakin sekali bahwa televisi tidak berniat buruk, mereka hanya terlena dalam upaya menarik pemirsa, terseret arus perebutan peringkat. Porsi iklan. Duit.
Adalah kewajiban Pemerintah, DPR, masyarakat —melalui tokoh-tokoh dan lembaga swadayanya, untuk bersepakat menyusun rambu-rambu agar televisi memberi peran yang lebih konstruktif.

Barangkali perlu disediakan ruang atau mekanisme bagi masyarakat untuk menyampaikan usulannya tanpa harus berbondong-bondong melakukan demo. Adanya demo, menunjukkan bahwa masyarakat tidak tahu —atau memang tidak ada— cara lain untuk menyampaikan aspirasi. Semakin banyak demo, semakin menunjukkan adanya keburukan dalam birokrasi, apakah kurang informatif, kurang sosialisasi, tidak memperhatikan semua elemen masyarakat… dsb.

Rambu-rambu janganlah dilihat sebagai sensor. Seperti rambu lalulintas, jika merah hentikanlah tayangan itu. Tidak ada yang melarang anda lewat, tapi motor anda jangan lewat trotoar atau lajur busway dong. Anda tahu anda salah, kok ditegur marah: “sensor, ya? informasi adalah hak masyarakat!”

Informasi yang mana, bung? Jangan samakan hak individu dengan hak masyarakat. Anda bebas minum apa saja, makan apa saja, menghisap rokok atau shabu, tapi tetap ada yang tidak bebas untuk disampaikan, disebarkan dan diajarkan ke orang lain. Yang boleh pun masih perlu dipilah…

Selain hak, bukankah juga ada kwajiban dan tanggungjawab yang bisa dituntut. Membebaskan informasi sepenuhnya bagaikan mengosongkan jalan dari rambu-rambu lalulintas, atau membebaskan perdagangan narkoba. Bahwa pasar yang menginginkan dan menentukan, bisakah dijadikan pembenaran?

One Response

  1. > Artikel di blog ini sangat menarik & bagus. Untuk lebih mempopulerkan artikel (berita/video/ foto) ini, Anda bisa mempromosikan di infoGue.com yang akan berguna bagi semua pembaca di tanah air. Telah tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!

    http://www.infogue.com
    http://www.infogue.com/tv/televisi_menebar_kerusuhan_dan_perilaku_negatif/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: