Car free day. Mengapa sepi?

30 Maret lusa ada kegiatan rutin menutup Jalan MH Thamrin dan Jalan Sudirman pada rentang jam 06:00-14:00. Semoga nanti tidak sesepi ini.
Program Car Free Day juga akan diperluas ke kota madya, seperti di Jalan Wijaya untuk Jakarta Selatan, Jalan Danau Sunter di Jakarta Utara dan di kawasan Kota Tua untuk Jakarta Barat.

Budirama Natakusumah, Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah DKI Jakarta, menyampaikan bahwa pada 2006 terselenggara 45 hari bersih, 2007 ada 73 hari, dan 2008 ditargetkan 100 hari bebas polusi.
Dari sisi pengurangan polusi udara, kegiatan Car Free Day dianggap sukses. Tapi manfaat yang jauh lebih dalam dan lebih luas, belum digali dan dinikmati oleh warga Jakarta. Car Free Day di Jakarta bagai batu hitam tergeletak sia-sia, padahal jika digosok dengan benar ia akan menjadi intan yang tak terukur nilainya.

Car Free Days seharusnya menjadi hari-hari berharga bagi warga Jakarta yang sehari-harinya mengalami berbagai macam tekanan. Car Free Day merupakan peluang untuk interaksi informal yang positif antar sesama setelah lama tenggelam dalam individualisme kemacetan.

Mengapa moment serupa di Ciclovia bisa menarik jutaan orang —bersepeda, main sepatu roda, road skating, aerobik, jalan-jalan, atau sekedar mejeng, menonton atau ditonton orang— dan semua tersenyum bahagia, juga para petugasnya meski mereka kelelahan.

Agaknya Jakarta hanya kekurangan visi. Hanya melihat Car Free Day dari satu sisi: udara bersih.
Padahal, jika kita teliti benar, ternyata sebetulnya ia bisa membei efek berantai yang sungguh positif: menggalang kebersamaan; memupuk naluri gotong royong; menumbuhkan kepercayaan antar sesama warga, bahkan antar warga dengan aparat pemerintah; bibir yang semula berkerut ke depan tertarik ke samping membentuk senyum lebar.

Dan kita tahu bahwa sebuah senyum tulus juga memiliki efek berantai yang jauh lebih positif lagi. Seperti sedekah, menurut Nabi. Kita juga tahu bahwa di Jakarta yang lebih sering terjadi adalah kerusuhan. Sama persis seperti mereka, sebelum ada Ciclovia.
Apa resepnya?

Hanya biaya operasional, kemauan politik, tim layanan publik dan keterlibatan masyarakat, kata Guillermo Peñalosa, organisator Ciclovia.
Ethan menulis pengamatannya di streetsblog: “sungguh mengejutkan. Berada di jalanan bersama orang-orang lain ternyata bisa membuat ribuan orang itu begitu bahagia dan bersahabat.“

kegiatan dan fasilitas dalam ciclovia

“Yang pertama tergambar dalam benak saya jika mengenang Ciclovia adalah senyum spontan di setiap wajah yang saya temui. Tua-muda, kaya-miskin, pejalan kaki atau pesepeda, semua mencintai Ciclovia” kenang Clarence Eckerson produser StreetFilms, sebuah organisasi nirlaba di New York yang peduli pada masalah ruang publik, pedestrian, sepeda, dan kenyamanan di jalanan.

Gil menyatakan banyak kisah-kisah cinta dan perkawinan terlahir di Ciclovia sejak diadakan tahun 2000. Komentar para warganya:
“Tidak perlu biaya banyak untuk rekreasi di Ciclovia.”
“Ciclovia memberi peluang bagi kami untuk menikmati kota.”
“Sejak hadirnya Ciclovia kami jadi lebih sering berkumpul dan bermain bersama keluarga”
“Ciclovia adalah hal paling indah yang diberikan oleh kota pada warganya.”

Jangan lewatkan makna mendalam dari setiap komentar warga itu. Pemerintah memang banyak memberi di Ciclovia, warga pun berduyun-duyun menikmatinya. Beberapa lokasi dijadikan pusat kegiatan, instruktor disediakan untuk aerobik, sepatu roda, skating. Kios makan-minum gratis tersebar di mana-mana. Tidak punya sepeda? Ada banyak sepeda di taman-taman, gratis digunakan meski hanya di seputar taman saja. Ada puluhan taman seluas Monas, bahkan ada yang lebih luas lagi.

1.500 muda-mudi pilihan, semua gagah dan cantik, mengawasi Ciclovia dilengkapi sepeda, tas PPPK dan alat komunikasi yang terhubung ke pusat komando. Misi yang diemban: menanamkan rasa aman dan nyaman pada peserta Ciclovia; menumbuhkan keyakinan bahwa tidak akan terjadi hal-hal buruk saat mereka bebas beraktivitas, berjalan-jalan, bersepeda, skating dan sebagainya.

Warga benar-benar merasakan kemewahan itu, sekecil apa pun masalahnya, segera muncul petugas, cekatan membantu mereka memompa ban, misalnya. Persis seperti petugas baywatch, karena itu mereka dijuluki bikewatch.


Para angota bikewatch saat briefing dan saat in action

“Tugasnya menyenangkan. Selain merupakan olahraga, juga karena ada kontak langsung dengan orang-orang. Memberi anak-anak suatu permainan atau aktivitas. Membantu seorang anak mengatasi kesulitannya. Dan ketika si anak tersenyum, berterimakasih, luarbiasa rasa bahagia yang saya rasakan,” ujar seorang bikewatch girl ketika ditanya kesan-kesannya oleh StreetFilms.

Rekan prianya mengatakan: “Menyenangkan. Semua orang tersenyum pada saya. Saat seorang anak yang tersesat berhasil saya pertemukan dengan ayahnya, bukan main bahagianya saya.”

Bagi warganya, Ciclovia menjadi alasan terbaik untuk de-stress, keluar rumah menikmati udara segar, berolahraga, bertemu orang-orang. Menurut Gil, hal terpenting dalam Ciclovia adalah terwujudnya integrasi sosial, Ciclovia membuat warga bersatu, dan menyatu dengan kotanya. Ciclovia membuat hidup lebih berkualitas. Warga menjadi lebih toleran, mereka menjadi lebih sadar akan tindakan-tindakannya, dan lebih bahagia.

Sebuah contoh sederhana, di Jakarta sangat jarang pengemudi mau menghentikan atau memperlambat kendaraan untuk memberi kesempatan bagi pejalan kaki menyeberang. Bukan tidak mungkin bahwa kasus tersambarnya pejalan kaki oleh bus TransJakarta sebenarnya karena tidak diberi kesempatan untuk menyeberang oleh pengemudi kendaraan lain. Ia terjebak di antara jalur busway dan jalan raya, tak seorang pengemudi yang peduli.

Seandainya, 118 Car Free Days selama 2006-2007 lalu benar-benar dirayakan seperti Ciclovia, maka sejuta dua juta warga Jakarta pasti pernah saling senyum saling sapa, tak pandang status, usia atau gender.
Ketika di saat lain salah satu mengemudi, yang lainnya ingin menyeberang, dan mereka pernah bersua di Car Free Day, tentu kelanjutannya akan jauh berbeda bukan?

Di Bogota, selain Ciclovia juga ada program Dia Sin Carro, Hari Tanpa Mobil, setiap 1 Februari. Yang ini lebih radikal: mobil pribadi sama sekali tidak boleh bergerak di seluruh kota.
Di Jakarta, Hari Tanpa Kendaraan Bermotor sukses bagi Pemerintah, tapi bagi warganya?

Birokrat sebaiknya merancang program dengan lebih cermat dan sosialisasi yang lebih persuasif, jangan hanya berupa siaran pers, atau dikemas ala propaganda politik. Sebagus apa pun programnya tidak akan diabaikan masyarakat yang sudah makin alergi pada jargon politik.
Gubernur Sutiyoso memperkuat kesan itu ketika pada September 2007 datang menunggang mobil dikawal sepeda motor untuk meresmikan Hari Bebas Kendaraan Bermotor.
Coba tanya pada rumput yang bergoyang…

One Response

  1. sekedar curhat, pd car free day 30 maret kemaren boleh dibilang tidak nyaman khususnya di seputaran bundaran HI, bayangkan…. ada 2 panggung musik yg diadakan oleh dua panitia yg berbeda yg saling beradu “kekuatan” sehingga menimbulkan kebisingan yg lumayan mengganggu…. :(

    secara keseluruhan lumayan meriah. ya, mungkin sebaiknya jangan ada kegiatan tontonan, tapi lebih bersifat interaktif. jualan perlengkapan sepeda juga bagus kalau ditata, dilengkapi informasi dan kampanye jalur sepeda, misalnya. Sepertinya perlu juga bikewatch, ya? atau barangkali ada yang berani dan kreatif, ajukan proposal untuk mengelola event-nya. tapi usahakan jangan komersil, bahkan banyak yang gratisan. jadikan ini ajang murah meriah untuk kegiatan keluarga. nanti kalau sukses menarik sejuta orang, akan menjadi prestasi hebat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: