Sulistyo Tirtokusumo dan hak asasi penganut Kepercayaan

Pengikut organisasi penghayat kepercayaan pada masa pasca orde baru ternyata bertambah besar. Sulistyo Tirtokusumo, Direktur Direktorat Kepercayaan, berusaha memperjuangkan hak asasi mereka

Tak banyak yang tahu penari dan koreografer kenamamaan Indonesia, Sulistyo Tirtokusumo kini menjabat sebagai Direktur Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (TYME).

Sulistyo yang baru sukses mementaskan karya tarinya: Panji Sepuh bersama Goenawan Mohammad di Singapura itu kini sibuk mendata persoalan-persoalan yang dihadapi para penghayat . Ia mencatat sampai tahun 2006 pengikut kepercayaan di Indonesia berjumlah sekitar 8.5 juta.
Menurutnya penghayat kepercayaan di Indonesia terdiri 3 jenis. Pertama penghayat kepercayaan yang beragama dan menjalankan syariat agama secara lengkap.. Kedua, penghayat yang di dalam KTPnya memeluk satu agama tapi perilaku sehari-harinya melakukan penghayatan menurut ajaran masing-masing. Ketiga, penghayat murni, yang tidak memeluk agama tertentu dan hanya berpegang pada organisasi penghayat.

Dari ketiga kelompok penghayat kepercayaan itu yang mendapat perlakuan diskriminatif menurut Sulistyo adalah golongan “penghayat murni”. Sejak tahun 1990-an para kelompok penghayat kepercayaan itu tidak mendapatkan hak-hak sipilnya dari pemerintah. “Jadi mereka menikah tidak tercatat di catatan sipil dan anaknya tidak mendapat akta kelahiran”, kata Sulistyo Tirtokusumo yang ditemui Bataviase Nouvelles pada minggu pertama Maret 2007, di kantornya Jalan Sudirman, Depdiknas Gedung E lantai 10.

“Sebagai contoh, ada 140 pasangan di Cilacap dan mereka sudah menikah dengan adat Jawa.
Kantor catatan sipil tidak mencatat dengan alasan perkawinan itu di luar Islam atau tidak menginduk pada agama,”
kata Sulistyo. Disamping itu mereka mempersoalkan KTP (Kartu Tanda Penduduk) dari ratusan pasangan yang tidak memeluk salah satu agama. Diskriminasi berlaku untuk semua anggota keluarga.

Maman Suryaman, warga Tasikmalaya menurut Sulistyo adalah satu diantaranya. Anaknya yang duduk di bangku SLTPN Cipayong, Tasikmalaya dilarang untuk melanjutkan sekolah karena orang tuanya seorang penghayat murni. Sekolah menyodori formulir agar wali murid memilih salah satu agama yang ada, bila tidak diisi oleh orang tua si anak tidak boleh melajutkan sekolah lagi.

Para korban diskriminasi terus membawa kasusnya ke pengadilan dan mengalami jalan buntu di meja catatan sipil. Paeman dan Sinarwi anggota organisasi Sapta Dharma, Kabupaten Pati ditolak oleh kantor catatan sipil padahal Pengadilan Negeri Pati telah memerintahkan Pegawai luar biasa kantor Catatan Sipil Pati untuk mencatat akta perkawinan pasangan Paeman dan Sinarwi.

“Ini sebagian kecil. Sebetulnya saya sudah angkat topi pada mereka yang mau berkorban demi kepercayaan,” kata Sulistyo.
Korban diskriminasi pengikut penghayat murni itu masih terjadi sampai hari ini. Mereka lebih banyak diam daripada bereaksi. Mereka lebih banyak membawa ke perenungan batin sesuai dengan ajaran organisasinya, yang mengedepankan budi pekerti luhur. “Persoalan itu mereka bawa ke perilaku spritual dengan olah batin, jiwa, dan rohani pada kesadaran cipta, rasa, dan karsa pada yang Maha Esa,” kata Sulistyo..

Sulistyo menjadi Direktur Direktorat Kepercayaan sejak bulan bulan Agustus 2006.
Sejak itu ia terlibat dalam perdebatan panjang di DPR guna memperjuangkan nasib komunitas penghayat kepercayaan pada rancangan undang-undang administrasi kependudukan.
Hingga DPR mengundangkannya pada 29 Desember 2006, yaitu Undang-undang No. 23 tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan.

“Dalam waktu paling lambat enam bulan sejak diundangkannya Undang-Undang ini, Pemerintah wajib menerbitkan Peraturan Pemerintah yang mengatur tentang penetapan persyaratan dan tata cara perkawinan bagi para penghayat kepercayaan sebagai dasar diperolehnya kutipan akta perkawinan dan pelayanan pencatatan peristiwa penting.”
Beberapa bulan ini maka ia dibantu beberapa ahli sibuk menyiapkan perumusan peraturan pemerintah soal pelayanan hak-hak sipil terhadap para penghayat murni.

“Nantinya dengan peraturan pemerintah tersebut penghayat kepercayaan yang kebetulan tidak memeluk agama tertentu tetap dilayani hak-hak asasinya”, jelas Sulistyo. [BASIL – foto: Prayitno]

Tulisan terkait: Organisasi Himpunan Penghayat Kepercayaan

13 Responses

  1. Mau tanya, bagaimana dengan pembatas pengakuan negara terhadap kepercayaan?? apa perbedaan agama dan kepercayaan?? dan dalam KTP kenapa harus ada kolom agama?? bukannya agama itu adalah sebuah hak individu?

  2. Duh mas febri, ini di luar jangkauan. PPnya sudah terbit belum ya. Perdebatannya pasti lumayan alot, dan kita ga bisa liat dari sudut pandang sendiri, barangkali pertanyaan mas febri ada jawabannya dalam PP itu.

  3. Da yg bilang klo aliran kepercayaan itu adalah sinkretisme dari agama2 yg da… bgmn pendapat anda??? dan juga banyak pendapat bahwa orang2 kepercayaan itu adalah org2 yg dl mendukung gerakan G 30 S, benar kah itu??

  4. aku pikir masalah ini gak perlu diperuncing dengan berbagai kacamata yang gak bisa ketemu, kata kunci untuk masalah ini adalah apakah sudah terjadi sekularisasi dalam negara ini, kalo ya maka kewajiban negara untuk mengakui kebebasan dalam kegiatan spirituil harus bisa dituangkan dalam perangkat hukum dan Undang-undang untuk mengaturnya dengan benar sesuai asas HAM, jadi gak usah repot-repot, jadi report sebenarnya krn masalah spirituil digunakan untuk kepentingan politis, lembaga spiritui jadi grogi kehilangan massa, kayak partai yang sekarang tetap ngotot walaupun ditinggal pendukung & kader.

  5. Bapak saya Tri dari penghayat Satu Jati pusat salatiga. yang dulu pernah nderekke di pantaran Guo Lelo! selamat berjuan, untuk semua penganut penghayat kepercayaan. kami siap untuk membawa nama baik organisasi penghayat.

  6. Agama agama di dunia hanya di dominasi pengaruh agama timur tengah (islam,kristen,yahudi) yang cenderung sebagai agama politik.. kekuasaan dan rebutan pengaruh,bagaimana nasib agama agama timur kedepan sebagai agama moral (hindu,budha,tao,konghucu,kejawen dll) buka http://www.kejawenmaneges.blogspot.com

  7. Makanya kita harus bangkit dari tidur panjang ini dan benar2 kita nanti menjadi panutan yang luar biasa kita kembalikan tuan rumah jangan mau di jajah terus.

  8. halo
    aku asli jowo
    knalan yuk?
    asli seputaran
    pantaran ampel byll

  9. selamat bapak, maju terus pantang mundur. janji bangsa sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945 akan memangku seluruh warga negara yang berketuhanan tidak pandang bulu apakah dari kelompok agama maupun yang non agama harus diwujudkan, sadar atau tidak penghayat itu asli milik bangsa kita agama yang ada adalah produk impor, dan bangsa ini sudah menempatkan selayaknya, kog malah sekarang malah mau diusir dari negeri sendiri, apa tidak sadar mereka????

  10. prjuangkan benar benar hak asasi HPK.
    kami dari cilacap sangat menunggu prkembanganya

  11. Trimakasih tak terhingga untuk “sedulur2″yg terus berjuang demi lestarinya ajaran “asli” kepercayaan terhadap TUHAN YME.Kepada semua sedulur penghayat kepercayaan salam kenal..rahayu

  12. Emang negare kite nih negare aneh bin ajaib
    Kalo disebut negare agame (cos:hanya mengakui enam agama “impor” saja), ntar ada yang marah-marah, Kalo disebut negare sekuler, marah juga.
    Jadi negare ape dong?????
    Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler, jadi Negara Bukan-bukan.

    Udalah, negare nggak perlu ikut ngatur sual keyakinan seseorang.

    Ade Departemen Agama, kerjanye cuma lebih ngurusin satu agama tertentu saja. Buktiin sendiri aja.
    Ade Departemen Agama yang dimaksud supaya orang-oranmya bermoral, nggak taunye banyak nyang amoral. Gimane tuh

  13. ya ginilah jadinya
    kalo agamannya impor, bukannya menggunakan agamanya sendiri
    agama itu bahasa kita sansekerta, dahulu orang tdak mengaku-aku
    agamanya tp yg penting perilakunya tingkah laku lampah
    eeh malah dipinjam buat bungkus kepercayaan dari timur tengah, jdnya dipakai sampai sekarang ( agama …..)
    yg aslii kita dipakaiin bhs arab jdnya kebathinan, yg dpt berkonotasi jelek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: