Sunsilk pamer ketidakpedulian

Sebuah berita di Warta Kota pagi ini mengiris perasaan: seorang pelajar usia 16 tahun mencuri karena ingin sekolah. Dua bulan sudah uang sekolahnya tak terbayarkan.

Ketika giliran membuka lembaran-lembaran Kompas: tampil menyolok dua halaman bernilai ratusan juta rupiah yang dibeli Sunsilk hanya untuk memamerkan wajah-wajah wanita terkenal dengan tag: mereka tak pernah menunggu memberi makna pada hidupnya.

Dunia bisnis semakin tak peduli.
Masyarakat miskin malah dibebani dengan produk termahalnya. Shampoo dalam sachet yang sekilas tampak murah, sebenarnya lebih mahal ‘kan? Seperti sebatang rokok lebih mahal dari sebungkus.
Anda bisa punya rumah mewah, mobil mewah, gadget mutakhir, dari mana oom?

Kembalikanlah sebagian keuntungan kalian pada mereka. Milyaran rupiah dana promosi bisa digunakan tanpa harus begitu sombong dipamerkan. Di sekitar kita begitu banyak derita orang tak mampu yang butuh inovasi dalam pengelolaannya. Berilah makna pada produk anda. Bekerjalah ke arah sana, produk anda malah akan semakin dicintai. Mereka akan mencintai dan loyal karena merasa dibantu, meski sebetulnya diporoti juga. [foto by rahmat]

2 Responses

  1. Begitulah hidup, bagai dua sisi mata uang, tidak bertemu namun saling melengkapi. Ada anggaran untuk amal ada juga anggaran untuk promosi yang mungkin peruntukannya tidak dapat diutak-atik se-enak-nya. Mungkin ada konsekuensi-konsekuensi tertentu yang kita tidak paham atau tidak tahu.
    Kira-kira seperti kitalah, kalau sudah punya anggaran untuk ke warnet buat nge-blog, ditengah jalan ketemu pengemis yang minta-minta pun kita hanya bisa senyum saja. Uang pas-pas’an dan blog butuh update. Hehehehe…..

    iya juga. tks mas djeblog atas pencerahannya..
    cuma rada trenyuh, di sana sini laporan media tentang kurang gizi dan mati kelaparan
    kenapa reaksinya membantah atau berusaha bela diri,
    padahal sebetulnya masyarakat dan birokratnya kurang sosialisasi
    sementara sosialisi gede-gedean untuk belanja segala macam terasa makin memuakkan
    adakah cara untuk menyeimbangkannya?

  2. itulah bsinis semakin meyakinkan orang semakin mengusik mata. ky gw si nemu barang limited dikit di ambil mw mahal juga gw coba beli. tapi kalo bsinis yah bisnis ajalah ga usah pamer dengan slogan menyakitkan. orang terbaik yang berbisnis adalah orang yg tau akan guna dari hasil yg di perlohenya… gitu aj…

    tks mas giant. saya jadi ingat rekan yang melontarkan istilah “diktator pasar”. kita mengira sudah bebas, sudah benar-benar demokratis hampir di segala bidang, tapi ternyata malah berkembang diktator-diktator jenis baru.
    kita sebetulnya kaya akan orang-orang luhur, mereka ada di berbagai kalangan —tua, muda, kaya, miskin, perempuan, lelaki. Prinsip-prinsip yang mereka pegang ada juga di lubuk terdalam setiap orang, seharusnya bisa dengan mudah dibangkitkan. Sayangnya kebebasan informasi lebih pada keleluasaan pada hal-hal buruk untuk menyebarluas. Seakan kita lebih kaya akan kekerasan, korupsi, selingkuh, konspirasi. Semoga cepat berlalu
    .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: