Akhirnya Bogor bisa menarik nafas lega

Meski bukan orang Bogor, saya selalu sakit hati kalau dengar/baca istilah banjir kiriman. Bukan karena merasa dituduh mengirim banjir, tapi lebih karena pembodohan masyarakat yang dilakukan oleh para pejabat dan media massa dengan berulang-ulang mengunakan istilah itu.
Kini, saat Jakarta lumpuh dilanda banjir, di Bogor ternyata tidak hujan. Tanya kenapa.

Juga soal banjir yang bersiklus lima tahunan, BMG dan para pakar sudah membantah adanya siklus lima tahunan, tapi tetap saja —secara sadar atau tidak, masyarakat terus disodori siklus yang sebenarnya tidak ada.

Tuhan menciptakan banjir untuk memelihara kelangsungan hidup alam semesta. Jika banjir yang dulu merupakan rahmat kini berubah menjadi musibah, tentu manusianya yang bandel.

Sudah ribuan tahun diberi tahu dan diajari; bahkan tiap tahun rutin diberi peringatan, diberi contoh bagaimana mengendalikannya, lha kok ya cuma jadi komoditas kampanye… hingga presiden terpaksa datang menjenguk. Andai ruangannya kotor mungkin beliau juga akan menyapu sendiri.

Menurut Prof Dr Otto Soemarwoto, masalah air Jakarta —banjir atau kekurangan air— adalah sindrom bahwa daya dukung lingkungan sudah terlampaui. Belajarlah pada ahlinya…

Ketika sedang dirundung kelumpuhan begini, sebuah radio mengingatkan hasil survey: indeks kebahagian warga Jakarta berada di urutan ke-lima. Orang Semarang termasuk yang paling bahagia. Jangan percaya. Jakarta mungkin ada diurutan ke-100.

Bagaimana mereka mengukur kebahagiaan? Padahal menurut John Helliwell, profesor University of British Columbia, Kanada, kebahagiaan masyarakat bisa diukur dengan tingkat kepercayaan: “Seberapa percaya mereka pada orang tak dikenal? Seberapa percayanya pada tetangga? Berapa besar kepercayaan pada polisi?” Semakin besar kepercayaannya, semakin bahagialah kota itu.

Anda tahu sendiri, seberapa besar kepercayaan orang Jakarta, dan anda bisa merasakan sendiri seberapa besar bahagianya anda…
Ya, trus kenapa. Buat apa indeks kebahagiaan itu untuk kehidupan nyata.
Sebetulnya untuk para perancang kota dan pengambil keputusan. Karena, jika benar kebahagiaan warga kota bisa tumbuh paralel dengan tingkat kepercayaan, maka wajib hukumnya bagi pemerintah kota DKI untuk berupaya menaikkan tingkat kepercayaan warganya.

Masih menurut Helliwell, untuk meningkatkan kepercayaan kuncinya adalah sesering mungkin ada interaksi yang positif antar warga. Ruang-ruang publik yang bisa menggiring warga Jakarta untuk saling berinteraksi, akan melahirkan individu-individu yang jauh lebih bahagia dari mereka yang sehari-hari berkutat dengan kemacetan, misalnya.

Bukti atas teorinya itu bisa disimak di Ciclovia, ketika jutaan manusia saling sapa, saling senyum, saling canda, saling jatuhcinta di jalanan bebas kendaraan bermotor (10 tahun lalu dikenal sebagai kota paling jorok dan kota mafia). Bandingkan dengan Hari Bebas Kendaraan Bermotor di Jakarta yang sepi karena tidak serius dikelola, padahal potensinya sungguh luarbiasa.

Lalu apa hubungannya dengan banjir?
Agak jauh memang. Tingkat kebahagiaan warga akan berpengaruh pada rasa memiliki. Sehingga mereka akan berpikir panjang sebelum membuang sampah yang bisa menyumbat drainase dan sungai. Atau membiarkan orang membangun di bantaran kali. Kasus pejalan kaki tersambar busway juga akan berkurang, karena pengemudi mobil akan memberi kesempatan pada pejalan kaki —yang minggu lalu pernah bersepeda bareng di jalan Thamrin— untuk segera menyeberang menjauhi jalur busway.
Kualitas hidup bertambah. Kriminalitas berkurang.

Sadarkah anda bahwa Jakarta sejak lahirnya hingga kini adalah kota imigran? Punya konsep untuk menumbuhkan saling percaya, saling peduli, saling melindungi di antara mereka? Mereka yang datang dari berbagai penjuru dunia dan berbagai penjuru Indonesia. Mereka yang bangga dengan kota kelahirannya, bercerita hal-hal bagus tentang kampungnya. Mereka yang ketika mudik, begitu tertib membuang sampah di kotanya, yang dengan senyum menghentikan mobilnya kalau ada pejalan kaki ingin menyeberang. Mereka yang malu untuk bersikap masabodoh pada kota kelahirannya.

Kembali ke Jakarta, mereka kembali membuang sampah seenaknya. Kembali tidak mau berhenti, bahkan mempercepat laju kendaraan jika ada yang ingin menyeberang.
Tanya kenapa mereka tidak punya rasa memiliki atau kepedulian. Mereka, kaum pejalan kaki, pesepeda, pengguna bus, KRL, mobil, motor, yang masing-masing punya komunitas sendiri; yang bisa merasa senasib dan bisa saling peduli di komunitasnya; yang terkadang meremehkan komunitas lainnya padahal pacarnya, adiknya, atau anaknya tergabung di komunitas itu…

Kenapa ya. Pilihlah salah satu jawaban atau pilih semuanya atau tambahkan lagi dengan butir-butir baru:

  • Barangkali Pemerintah Kota DKI (Gubernuran dan DPRD-an) kurang banyak memberi pada warganya.
  • Barangkali Pemerintah (Gubernuran dan DPRD-an) terlalu banyak mengambil, menuntut, memerintah (menyuruh) dan menghimbau.
  • Barangkali Pemerintah (Gubernuran dan DPRD-an) terlalu tidak peduli kalau separator busway, kompor gas bersubsidi, dan kebijakan lainnya membahayakan nyawa warganya.
  • Barangkali Pemerintah (Gubernuran dan DPRD-an) kurang sering mengajak warga membahas atau mendengar rekomendasi atas permasalahan kotanya.
  • Barangkali Pemerintah (Gubernuran dan DPRD-an) terlalu tertutup pada rencana-rencana penataan dan pengembangan kotanya.
  • Barangkali Pemerintah (Gubernuran dan DPRD-an) terlalu sering membohongi dan membodohi warganya.

Singkat kata, Pemerintah Kota (Gubernuran dan DPRD-an) masabodoh terhadap warganya.
Dan warga pun bolehlah masabodoh terhadap kotanya.

2 Responses

  1. Boekan barangkali lagih itoe poen, soeda temtoe !

    hahaha kok jij ga tambahin sih? barangkali jij poenja pengamatan lebih djeli lagi….

  2. Sebagai orang Bogor, saya benci istilah “banjir kiriman”. Apalagi kalo ngedengar mas-mas atau mbak-mbak yang jadi reporter menyiarkan sekilas berita tentang banjir. “banjir kiriman” kerap terdengar… uh. Oh ya salam kenal….

    bung puellaz, tks dan salam kenal kembali.
    sampai semalam mereka masih menyebut ‘banjir kiriman dari bogor’. mereka sebetulnya tidak sadar kalau bodoh atau dibodohi. sering-seringlah mengingatkan atau unjuk protes pada siapa saja yang hadir saat terdengar istilah ‘banjir kiriman,’ lama kelamaan mereka akan malu sendiri menunjukkan kebodohannya ke seluruh negeri…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: