Pluit, Pondok Indah, kinerja Pemerintah Daerah

Warga Pluit protes karena tersiksa oleh pembangunan jalur koridor 9. Warga Pondok Indah mulai memasang portal-portal untuk mencegah rumahnya dilewati kendaraan asing. Dan atas nama kepentingan umum, Pemerintah bagaikan kafilah tetap berlalu dan warga bagaikan anjing terus mengonggong.
Sementara para pengguna busway sabar mengantri dan berdesakan sebentar untuk kemudian menikmati privilege melaju mendahului kemacetan.

Ketika bus melenggang di jalur busway yang kosong melompong, tentu para pengendara kendaraan bermotor —yang stress di tengah kemacetan— bersungutsungut iri. Kasus penyerobotan jalur oleh sepeda motor dan mobil pun terjadi. Petugas yang sering kewalahan mengelola arus kadang membiarkan bahkan menyilahkan mereka menggunakan jalur busway. Di satu kasus ia bisa membantu memecahkan keruwetan lalulintas, di kasus lain ia mengakibatkan terhambatnya jadwal busway yang mengakibatkan penumpukan penumpang. Dan merembet menjadi ketidaknyamanan hingga membatalkan niat warga untuk menggunakan busway.

Dari kacamata pengendara kendaraan bermotor, hak mereka yang hanya sedikit ini bagai dirampas busway. Bisa dimaklumi jika warga Pluit memaki-maki sepanjang perjalanan dan mengajukan protes. Siapapun tak rela kenyamanan —tepatnya ketidaknyamanan— sehariharinya kini menjadi penyiksaan panjang. Mereka melihat fakta bahwa jalur busway sepanjang hari lebih banyak “menganggur” kosong, kini pemandangan itu akan hadir mengusik terus setiap hari. Entah bagaimana sikap mereka pagi hari setiba di tempat kerja, atau di rumah malam hari sepulang kerja. Kualitas hidup semakin merosot.

Dari sudut pengguna busway, kendaraan bermotor selama ini sudah terlalu banyak diberi fasilitas yang membuat kota semakin tidak nyaman dan tidak menghargai manusia. Jelas bahwa busway sangat bermanfaat dan diterima baik oleh sebagian besar mereka yang pernah menggunakannya — apa adanya, dengan segala kekurangannya. Tak kenal maka tak sayang. Antrian panjang, berhimpitan, belum lagi jika pramudinya kurang handal—membuat penumpang seperti dibantingbanting. Halte dan jembatan yang tidak pernah dirawat. Jika satu lempengan menganga membahayakan pengguna —belum tentu ada yang memperbaiki. Tak soal, bagi mereka busway bukan lagi moda alternatif. Terlanjur sayangkah ataukah the best from the worst?

Kekhawatiran warga Pondok Indah dengan aksi pembuatan portalportalnya juga bisa dipahami. Keamanan dan kenyamanan yang telah dibayar mahal kini terancam hilang. Bisa saja Pondok Indah suatu saat akan bernasib seperti Kebayoran Baru dan Blok M. Namun Pondok Indah tidak hanya diisi oleh mereka. Jauh lebih banyak jumlah mereka yang bekerja di kawasan itu ditambah jumlah pengunjung ruang publik dari kawasan lain. Kaum pekerja dan para pengunjung ini sedikit banyak memberi benefit bagi mereka, semoga saja dengan hadirnya busway benefit itu akan semakin sering dan semakin besar.

Agaknya ada sesuatu yang salah dengan kinerja Pemerintah Daerah jika busway berkualitas buruk dan menuai protes dan caci maki warga. Ketika belajar di Bogota mungkin ada yang lupa untuk dipelajari: bagaimana memberi informasi kepada masyarakat, bagaimana berkoordinasi dengan institusi terkait, bagaimana merawat aset, bagaimana mengemudi bus, bagaimana menyiapkan sdm dan infrastruktur… dan banyaklagi yang sebetulnya bisa dikelola baik dengan menerapkan project management.

Mungkin langkah Ernawati Sugondo, anggota DPRD —yang setiap hari menggunakan busway— perlu dicontoh oleh semua pejabat yang menangani transportasi. Setidaknya mereka akan mengenali betul permasalahan dan prioritasnya.

Sepertinya informasi tidak dianggap penting. Sosialisasi hanya berupa mata anggaran. Informasi yang ala kadarnya disebar hanya di lingkup kecil, sementara dampaknya diderita oleh lebih sepuluh juta jiwa. Misalnya, setelah bertahuntahun denah busway baru disebarluaskan, itu pun bukan inisiatif Pemerintah. Warga dan para petugas dibiarkan menemukan sendiri caracara terbaik dalam mencari atau memberi informasi, menggunakan busway, etika mengantri dsb. Informasi penting disampaikan dengan teriakan, tulisan tangan atau printout sekedarnya, sementara informasi lain tampil mewah dengan led, animasi dan audio visual. Koran gratis setiap harinya selalu habis, meski muatannya tidak banyak berbeda dengan koran umum.
Milis suaratransjakarta penuh dengan saran dan kritik, dari yang halus hingga cacimaki. Sayangnya pendekatan yang sudah tepat ini tidak dilanjutkan dengan komunikasi dan tanggapan. Padahal setiap atensi terhadap pertanyaan, saran, komentar, keluhan, masukan akan menumbuhkan kebersamaan dan rasa memiliki.

Lain lagi jika membangun jalurjalur, selalu digunakan pendekatan EGP (emang gue pikirin). Kemacetan sering terjadi karena tidak ada koordinasi dengan otoritas lalulintas (Kompas), tidak ada informasi, tidak diberi solusi untuk menghindari kemacetan. Setelah selesai, maka secara reguler akan ada kerusakan dan perbaikan yang mengulang kembali adegan kemacetan, seakan tidak ada spesifikasi tehnis yang menjadi garansi dayatahannya.

Jika benar konsep busway Jakarta sudah dilontarkan sejak 1989, seharusnya sudah sangat matang jika diolah oleh para visioner. Nyatanya pendekatan trial and error sejak awal dilanjutkan terus hingga kini. Bagai tidak ada yang ditugasi mengumpulkan dan mengelola segala trial dan semua error untuk bisa dirumuskan dalam bentuk prosedur tetap dan petunjuk pelaksanaan.

Agak mengherankan jika memaksakan penyelesaian semua koridor, sementara koridor yang ada belum dimaksimalkan. Banyak mudharatnya jika dananya digunakan untuk pengadaan bus. Setiap jalur tidak akan tampak kosong, misalnya setiap menit ada bus melintas, pasti kendaraan bermotor tidak akan mencoba untuk menyerobot. Penyeberang jalan pun akan jauh lebih berhatihati. Penumpang takkan berdesakan atau mengantri. Kenyamanan busway seperti di masa awal peluncurannya mungkin bisa kembali tercipta. Protes warga Pluit dan Pondok Indah mungkin tidak akan ada.

Tentu juga ada yang patut diacungi jempol. Fasilitas Park and Ride di Ragunan dan Kalideres amat sangat memberi kemudahan bagi warga untuk menggunakan busway. Pengembangan wacana jalur sepeda juga merupakan keputusan politik yang luarbiasa.

Post Scriptum. Mohon maaf lahir dan batin pada semua pembaca. Selamat menjalani ibadah puasa, semoga diterima oleh Yang Maha Pengasih. Amin. [foto dari berbagai situs – maaf tidak tercatat mengunduh dari mana]

One Response

  1. sutiyoso pura2 peduli sm rakyat kecil karna mau jadi presiden aja…padahal dia sendiri kaya nya gak ketulungan byk duit dari proyek2 kkn,bayangan suharto muncul lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: