Langkah walikota ketika negaranya bandel

141 negara menyetujui Protokol Kyoto pada Februari 2005 untuk mengurangi emisi gas – efek rumahkaca hingga 2012. Amerika Serikat tidak ikut menandatanganinya.

Namun Greg Nickels, walikota Seattle, sudah merasakan sendiri dampak pemanasan global mulai menggoyang kotanya. Tahun itu salju tidak turun sebanyak biasanya. Cadangan air yang berasal dari lelehan salju menjadi berkurang. Demikian juga dengan suplai listrik tenaga airnya.
Tak ayal ia pun berpikir keras untuk menyelamatkan masa depan kotanya.

Disusunlah draft perjanjian yang dinamakannya US Mayor Climate Protection, mengacu pada Protokol Kyoto. Bersama delapan walikota lain yang sefaham, mereka mempresentasikannya di depan US Conference of Mayors pada Maret 2005. Sasarannya: dalam setahun bisa mengumpulkan tandatangan 141 walikota, sebanding dengan jumlah negara yang menyetujui Protokol Kyoto.
Ternyata dalam dua tahun ini sudah 648 walikota menandatangani, baik Republik maupun Demokrat, yang jika dihitung-hitung mewakili 72 juta lebih penduduk Amerika.

Karena sudah melebihi batas 500 walikota, maka dibentuklah lembaga Climate Protection Centre untuk mengelola data dan mengawasi penerapan perjanjian itu. Maka mereka pun tidak bisa hanya sekedar tandatangan. 648 kota itu langsung menjalankan programnya. Salah satunya yang paling mudah kita tengok adalah penghematan energinya :

Kota-kota di Amerika Serikat kini sedang sibuk mengganti lampu merah dengan jenis baru yang menggunakan LED (light emiting diode).
Lampu lalulintas ini terbuat dari LED, lampu-lampu elektronik kecil yang sangat hemat energi dan berusia sangat panjang. Setiap LED tidak lebih besar dari karet penghapus yang ada di pangkal pensil, sehingga untuk mengganti lampu model lama (halogen) diperlukan ratusan LED.
Ada tiga besar kelebihan lampu lalulintas LED:

  • Lebih terang. LED memiliki daya pancar yang sama, sehingga seluruh permukaan yang dipenuhi LED akan tampak lebih terang.
  • Lebih tahan lama, tahunan. Lampu halogen usianya hanya dalam hitungan bulan. Setiap kali pergantian lampu berarti pengeluaran biaya (untuk lampu baru, tenaga dan kendaraan), juga menghambat lalulintas. Semakin jarang diganti, semakin kurang biaya yang dikeluarkan.
  • Lebih hemat energi. Penghematannya sangat besar. Misal lampu lalulintas menggunakan lampu halogen 100 watt, maka dalam satu hari: 24 jam x 100 watt = 2,4 kwh, sekitar Rp. 4.700 per hari atau Rp. 1,7 juta per tahun. Jika menggunakan tiga warna, menjadi Rp. 5,1 juta. Dalam perempatan umumnya ada 4 lampu merah, sehingga setiap perempatan biayanya sekitar Rp. 20 juta per tahun. Andaikan Jakarta memiliki seribu perempatan, maka biayanya menjadi Rp.20 miliar. Itu belum dihitung biaya penggantian lampu. Sedang lampu merah LED hanya membutuhkan energi 15 atau 20 watt, lima atau enam kali lebih hemat. Setahun hanya Rp.4 miliar. Penghematan lumayan besar, Rp.16 miliar.

Belum lagi jika menggunakan lampu merah tenaga matahari (foto kiri) di perempatan tanpa instalasi listrik.
Perkembangan desain juga memungkinkan satu lampu lalulintas LED bisa bergantian memberi tiga warna. Penghematan energi tiga kali lipat lagi.

Kembali ke Amerika. Robert Cluck, Walikota Arlington menjerit ketika mendapati biaya penggantian lampu merah mencapai 1,3 juta dollar. Tapi ketika dihitung penghematan energi mencapai 80% dan 6 hingga 10 kali lebih tahan lama, maka dalam beberapa tahun akan diperoleh 250.000 dollar per tahun. Itu hanya dari penghematan lampu lalulintas.

Lain lagi dengan Austin. Kota ini memiliki prestasi tersendiri. Diproyeksikan bahwa Austin akan memerlukan pembangkit tenaga listrik (PTL) baru berkapasitas 500 MW pada tahun 2000. Sejak tahun 90an Austin pun melaksanakan program konservasi energi, yang ternyata begitu berhasilnya sehingga tidak perlu lagi membangun PTL baru. Penghematan yang luarbiasa.

Austin kemudian memilih program yang lebih ambisius: Rumah Zero Energy Capable pada 2015. Berarti tahun 2015 rumah tak perlu listrik kah? Yang dimaksud adalah rumah-rumah yang didesain dan dibangun agar hemat energi hingga 65%. Energi yang akan dibutuhkan begitu kecilnya, cukup diatasi dengan panel-panel solar di atap rumah. “Tehnologi masa kini memungkinkan untuk membangun rumah seperti itu,” kata Roger Duncan, pejabat Austin Energy.
Pada 2004 diselenggarakanlah lomba desain rumah Zero Energy Capable. 100 rumah pertama akan dibangun di area yang incomenya rendah.

Itu baru dilihat dari sisi penghematan energi, itu pun hanya lampu lalulintas…

3 Responses

  1. moral kisah ini:
    1. kalo pemerintah salah ga perlu galang demo, impeachment, black campaign segala lah. banyak cara lain yang lebih langsung ke sasaran dan bermanfaat bagi banyak orang

    2. sosialisasi! sosialisasi! di beberapa tempat di jakarta kayanya udah ada yang pake LED malah pake time count down tapi ga ada sosialisasinya.

    3. jakarta 2015, 2020, 2030…. pada kemana ya para visioner… atw ga disosialisasi juga?

    setuju sekali, tks tukang kompor. terutama butir tiga… iya, pada kemana ya? kalo urusan gosip politik gesitnya bukan main.

  2. Berita-berita yang mencerdaskan dan memberi inspirasi ini seharus diangkat menjadi topik2 hangat di televis2 kita. Biar pemimpin dan rakyatnya tambah cerdas.

    Tapi televisi kita lebih kebanyakan mengekspos dunia antah berantah di sinetron2 kita dan gosip2 hangat ibu2 kita di dapur.

    Jangan bicara bagaimana penghematan2 dilakukan di negeri ini. Penguasa2 negara miskin ini malah doyan menghamburkan uang yang seharusnya bisa mensejahterakan rakyat utk refreshing ke luar negeri.

    Saya jadi tersenyum ketika mbaca spanduk “Sekali Merdeka Tambah Sengsara…” di Jalan Bulungan.

    duh, pasti senyum pahit sekali ya… thanks baginda atas komentarnya.
    iya tuh, udah segitu banyak yang protes soal sinetron sd/smp tapi mereka kok bisa ga peduli ya? dari yg nulis script, pimpinan tv, yg pasang iklan, badan sensor sampe dpr ya masabodo aja… padahal di tetangga, ada aturannya film di bawah umur harus menjunjung nilainilai persahabatan, budi pekerti, pengenalan alam, berkompetisi seni, olahraga, kreativitas dsb… lah di sini malah diajarain memfitnah, pacaran, berkelahi, omong kasar…
    soal hemat energi —juga di banyak program lain— sepertinya masih pake ilmu tambal sulam, ga pakai manajemen proyek. padahal ahlinya banyak, riset dan ujicoba banyak. contoh: kompor gas untuk rakyat. dirancang ga sosialisasi, quality control, network dll? semoga cuma sementara

  3. Dimoelain van diih sendirih, dimoelain van iang ketjil…dimoelain darih sekarang !
    koeaing!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: