People’s oriented city

Para calon gubernur mengusung konsepnya masing-masing dengan tag-line Jakarta untuk semua dan Ayo benahi Jakarta. Sayang di dalamnya tidak ada konsep baru untuk mengatasi kemacetan, polusi, dan stres yang diderita warga setiap hari.

Ada solusi murah untuk itu semua, bahkan jika dirancang dengan cerdas, dalam setengah jam setiap orang bisa menuju tempat kerja sejauh 7km tanpa biaya. Video di atas menyajikan penerapannya di Belanda, Denmark dan Kolumbia. Wajah-wajah happy —sangat jarang kita temui di jalan-jalan Jakarta— bersliweran di kota-kota itu. Tua muda, kaya miskin, selebriti atau anonim, berbaur. Itulah kota-kota yang dikembangkan berlandaskan kepentingan manusianya.

Sisihkanlah 15 menit waktu anda untuk video yang skenarionya dibuat Enrique Peñalosa ini. Ada banyak hal yang membuka hati dan pikiran. Jika anda tergabung dalam tim sukses, daripada terseret untuk membicarakan orang, coba deh mulai membicarakan konsep dan visi yang mirip seperti ini… Tim anda pasti menang.

Terjemahan bebas sebagian transkripnya :

[Seorang ibu. Anaknya sedang bermain sepeda di jalanan] “Kita di Belanda, saat ini di Amsterdam. Saya tinggal di sini, nama saya Eva. Ini adalah jalan khusus. Mobil dilarang masuk. Anak-anak bebas bermain di sini, bersepeda, main bola, apa saja.”

[John Gehl, arsitek] “Jika anda datang ke sebuah kota di mana banyak orang jalan-jalan, duduk, bersantai, bermain, itu karena tempatnya nyaman, orang tidak akan melakukannya kalau tidak nyaman.”

Kota-kota yang berorientasi pada manusia akan memberi ruang publik yang bersahabat terhadap semua orang. Mereka lebih mengutamakan manusia daripada otomobil.

[John Gehl] “Kota dari dulu adalah tempat orang berkumpul. Tempat anda bertemu dengan teman, tetangga, tempat anda bergerak ke segala penjuru —tanpa membayar, tanpa diundang. Untuk melihat apa yang terjadi, melihat gadis-gadis, atau untuk apa pun yang ingin anda lihat. Itu salah satu yang paling disukai orang: bertemu orang lain. Dan kota yang beorientasi pada manusia menawarkan atraksi itu: ORANG-ORANG.”

Kopenhagen, ibukota Denmark, adalah contoh kota yang berorientasi pada manusia. Dalam 40 tahun terakhir, Kopenhagen telah mentransformasi ruang-ruang publiknya. Secara bertahap jalan utama Kopenhagen dan jalan-jalan di pusat kota bersejarah tertutup untuk mobil. Bersamaan dengan itu, dikembangkan infrastruktur untuk penggunaan sepeda seluas-luasnya.

[Kristine, mahasiswi] “Kebijakan yang bagus, karena mengutamakan orang yang tidak punya mobil”

[John Gehl] “Di Kopenhagen kita lihat setiap tahun semakin banyak orang menggunakan sepeda ke kantor atau lainnya.”

Denmark adalah negara dengan temperatur sangat rendah di kala musim dingin. Tak jadi soal. Dari tiap tiga orang ada satu yang menggunakan sepeda untuk kegiatan sehari-harinya.

[Kristine,] “Saya biasa bersepeda setiap pagi. Karena inilah yang paling murah dan paling cepat. Infrastrukturnya dirancang khusus untuk sepeda, sudah demikian bertahun-tahun.”

[John Gehl] “Sekarang kita telah memiliki sebuah sistem yang luas, sistem transportasi. Dari satu sisi ke sisi lain menembus kota, cukup dengan bersepeda.”

Di negara yang pendapatan per capitanya lebih tinggi dari Amerika Serikat ini, banyak warga memilih sepeda sebagai alat transportasinya. Karena begitulah hidup mereka.

Di Amsterdam, ibukota Belanda, sepeda juga menjadi bagian dari keseharian mereka. Sepanjang tahun 70an, pemerintahan Amsterdam dan kota-kota lain di Belanda, memutuskan bahwa untuk mengatasi masalah kemacetan dipilih penggunaan sepeda. Kini Amsterdam menjadi kota dengan sepeda terbanyak di dunia.
Di Belanda, sepeda adalah suatu keharusan. Ia adalah sistem transportasi. Dan gaya hidup.

[Andre Peltinga, konsultan] “Yang senang dilakukan orang Belanda adalah jalan-jalan, bersepeda, naik trem, kereta, mobil, melihat-lihat keindahan. Yang mengejutkan adalah sepeda. Semua punya sepeda.”

[Ineke Spape, konsultan] “Tidak pandang, apakah anda direktur atau pelajar. Apapun profesinya, orang selalu bersepeda. Tidak tergantung pada statusnya.”

[Andre Peltinga] “Kami negara bermotor. Negara modern. Tapi kami menggunakan sepeda.”

Meski pertumbuhan standar ekonominya sangat tinggi, orang Belanda memilih sepeda sebagai kendaraan favoritnya.

“Saya tinggal di sini. Lima menit naik sepeda, saya sudah berada di pusat kota. Jadi saya tidak pernah memakai mobil di dalam kota.”

Sepeda sebagai alat mobilitas di dalam kota, di jalan datar, rata-rata orang akan menempuh 7km dalam setengah jam.

“Pada dasarnya, sebagai mahasiswi, saya melakukan apa pun dengan sepeda. Belanja, kuliah, ke pub di malam hari, semuanya pakai sepeda”

“Bersepeda sangatlah sehat. Mengejutkan apa yang bisa anda lihat di alam, begitu indah. Terasa sangat menyenangkan.”

Di usia dini, anak-anak di sekolah diajarkan ketrampilan dasar bagaimana bersikap dalam berbagai situasi lalulintas saat bersepeda.

Dalam tiga minggu, kita ajarkan anak-anak bagaimana bereaksi dalam lalulintas. Bagaimana etikanya, bagaimana menjaga jarak, membaca tanda lalulintas. Itulah yang anda lihat di sini.” ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: