Bajaj, kancil, becak, dan taxi genjot

Belasan tahun lalu, di pusat informasi turis di Jakarta Theater, seorang Jerman menggeleng-geleng melihat bajaj melintas: “itu kendaraan beracun kenapa diizinkan? Tahu gak, asapnya itu bikin bodoh otak anak-anak.
Ketika akhir tahun lalu muncul berita ratusan bajaj dimusnahkan, terbersit rasa lega, ikon Jakarta yang jelek ini bakal hilang.

Tapi rasa lega itu cepat sirna ketika lanjutan beritanya mengatakan bajaj diganti oleh kancil. Lalu ada bajaj BBG, meski lebih ramah lingkungan, tetap saja masih ada ganjalan di hati.

Sebuah berita, juga belasan tahun lalu: Belanda mengimpor becak untuk kendaraan wisata di area pedestriannya. Sekarang, becak-becak di pinggiran Jakarta berkucing-kucingan dengan petugas ketenteraman dan ketertiban. Salah satu ikon Jakarta sebentar lagi musnah.

Dan kemarin, ketika meng-google untuk bahan tulisan mengenai jalur sepeda, sebuah gambar menyentak hati. Mungkinkah becak kembali masuk kota?

Ini gambar velotaxi, dari kata latin velox [sepeda] yang biasanya digunakan untuk kata velodrome —sirkuit sepeda. Terinspirasi oleh becak, velotaxi mulai diproduksi masal pada 2001. Idenya muncul di Berlin, Jerman, pada 1997 dan pertama kali digunakan untuk umum saat Expo 2000 di Hannover, Jerman. Kini sudah luas digunakan 42 kota di 17 negara termasuk Jepang dan Korea.

Di seluruh Jerman ada seribu lebih supir taxi genjot ini, asalnya dari berbagai negara, usia antara 20-30. Lebih separuhnya mahasiswa, sisanya ada musisi, pengrajin bahkan para computer profesional yang senang bekerja sambilan saat libur musim panas.
Menurut salah satu dari mereka saat diinterview oleh Die Zeit: “menyenangkan. Seperti sedang fitness, tapi dibayar.

Panjang velotaxi 3m, tinggi 1,5m dan berat 140kg. Ada mekanisme khusus yang memungkinkannya berputar dalam radius kecil. Kapasitas hanya untuk dua penumpang di belakang dan satu pengemudi di depan. Persneling 21 gigi untuk memperoleh daya genjot yang optimal. Ada mesin bertenaga listrik untuk bantuan di saat start; di tanjakan; atau jika beban terlalu berat. Kecepatannya 25km/jam maksimal.

Velotaxi menjadi pilihan bagi kota-kota yang sadar lingkungan, namun velotaxi ternyata bukan sekedar alat transportasi. Dengan nama CityCruiser, ia digunakan untuk mengusung konsep yang benar-benar original, unik, dan berani: mobility at zero cost.
Ini berarti CityCruiser bisa dinaiki secara cuma-cuma oleh siapa saja untuk mengantar belanja, ke halte, stasiun, berputar-putar di pusat-pusat rekreasi dsb!

Velotaxi seharga 13.500 US dollar ini sehari-harinya akan bisa hidup dari iklan. Bentuknya yang atraktif; kemampuannya bergerak ke pelosok yang takbisa dicapai oleh mobil dan bus; bergerak santai; memang menjadi media yang efektif untuk iklan.

Tapi tunggu dulu. Angan-angan itu berhasil hanya di lingkup kecil, seperti di Expo, atau di kompleks pemerintahan: dengan Velo-Shuttle bisa mondar mandir ke kantor Kanselir dan gedung-gedung kementeriannya.

Di Berlin, setiap musim panas ada setengah juta orang menumpang velotaxi yang jumlahnya hanya 80, sopirnya ada 250 orang. Konsep pun diubah menjadi: advertising in motion. Pengemudinya dilengkapi handphone dan pakaian seragam. Setorannya 5-10 euro (60-125ribu rupiah) per hari. Padahal tarif ke penumpang —meski boleh tawar-menawar seperti becak— biasanya 5 euro untuk kilometer pertama, setiap kilometer berikutnya: 2 euro. Hanya dengan satu tarikan, setoran bisa terbayar, sopir taxi genjot bisa kipas-kipas… Tapi pemilik juga bisa ber-AC ria, pendapatan dari iklan jauh lebih banyak. Tak ada ekploitasi, semua untung.

Di Belanda hitungan tarifnya lain lagi, 1 euro per menit per orang. Di Barcelona 6 euro untuk 15 menit. Sedang di Jepang 300 yen flat (Rp.20.000). Di Korea dikemas dalam paket wisata City Bike, keliling kota selama dua jam dengan harga 60.000 won (Rp.540.000).

Kalau becak Jakarta sistemnya begini, enyahlah kau kemiskinan…

One Response

  1. Jika pemerintah mempunyai kebijakan untuk mengganti becak, bajaj dan kancil dengan taxi genjot, polusi akan semakin berkurang. Saran saya sih pemerintah buat pabriknya di indonesia

    tks razes, mudah-mudahan juga pemerintah mengakomodasi dan memberi insentif agar ide-ide yang mendukung konsep zero-carbon bisa berkembang dan diaplikasikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: