SIM dan kultur lalulintas

Akhir-akhir ini banyak penumpang yang mengeluh akan gaya mengemudi para pramudi di busway, baik pramudi pria mau pun wanita. Perilaku buruk para sopir itu kalau dipikir-pikir tidak lepas dari buruknya sistem pemberian Surat Izin Mengemudi (SIM). Cobalah tanyakan pada diri sendiri, lalu tanyakan juga kepada sembilan orang di sekitar anda: bagaimana prosesnya mendapatkan SIM.

Meski sudah bisa mengemudi sebelum memiliki SIM, dulu saya mengikuti sekolah mengemudi. Di sana tidak langsung diberi pelajaran mengemudi. Teori dan tanda lalulintas harus dikuasai lebih dulu, setelah lulus test baru bisa mengikuti praktek mengemudi. Seingat saya dalam test yang berlembar-lembar itu ada 100 soal. Sebagian besar berupa gambar tanda lalulintas dan diagram situasi seperti contoh ini. Jawaban dipilih antara 5 hingga 10 kemungkinan yang dicantumkan. Untuk gambar-gambar situasi, dijawab dengan menyusun pilihan-pilihan itu dalam urutan yang benar: kendaraan mana yang memiliki proritas untuk jalan lebih dulu.

Sebetulnya keseluruhan soal-soal itu relatif mudah karena merupakan refleksi kultur sehari-hari, situasinya sebagian besar pasti pernah dialami setiap orang baik sebagai pejalan kaki, penumpang, pengendara sepeda…

Tapi “tidak boleh ada yang salah. Kendaraan yang anda kemudikan bisa menjadi senjata pembunuh.” Kata-kata instruktur itu sampai sekarang masih teringat. Dua kali saya harus menjalani test hingga berhasil menjawab seluruh soal tanpa kesalahan dan boleh menjalani praktek.

Banyak tambahan ilmu yang diperoleh dalam praktek, seperti berhenti di tanjakan, parkir mundur, mengatur kecepatan agar di perempatan bisa selalu mendapat lampu hijau, dan banyak lagi. Setiap tanda, warna, garis di jalan-jalan menjadi semakin dipahami makna dan fungsinya bagi keselamatan dan kelancaran. Setelah lengkap menjalani praktek mengemudi —saya lupa totalnya berapa jam mengemudi yang harus dijalani— tibalah saatnya diuji oleh dua orang polisi.

Di mobil yang biasa saya pakai untuk berlatih, satu polisi duduk di depan, di sebelah kemudi, yang satu lagi duduk di belakang. Dengan penuh antusias dan dengan degup jantung yang terasa lebih cepat dan lebih keras, saya duduk di belakang kemudi. Memasang sabuk pengaman, menetralkan persneling, dan menyalakan mesin. Setelah menginjak rem dan melepas rem tangan, persneling pun dimasukkan ke gigi satu dan mobil mulai dijalankan.

Mungkin belum sampai dua meter, polisi yang duduk di belakang tiba-tiba memerintahkan untuk berhenti. Dalam keheranan dan keyakinan bahwa tidak membuat kesalahan, saya menghentikan mobil dan bertanya: “Ada yang ketinggalan, pak?”

Sang polisi tersenyum sambil mengajak ke luar mobil dan menulis di bukunya: “Anda harus menjalani lima jam praktek lagi. Jadwal ujiannya bulan depan.” Duh, kepala menjadi terasa gatal, saya garuk-garuk sambil manggut-manggut seakan mengerti.
Lalu sang polisi memarahi instruktur saya, yang setengah berlari datang menghampiri kami: “Gimana kamu mengajari dia!? Sekejap pun dia gak pernah melihat ke kaca spion!”
Bodoh. Goblok. Tolol. Otomatis saya memaki diri sendiri. Barulah teringat pesan instruktur untuk selalu melihat ke semua arah sebelum bergerak.

Itu pengalaman yang benar-benar unik di daratan Eropa dulu.
Ah, seandainya SIM dikeluarkan sesuai aturan, mungkin para pengemudi kita akan lebih manusiawi karena memahami hakikat setiap tanda dan peraturannya.

3 Responses

  1. setuju… ;)

  2. wong-cilik, gimana klo dengan rekan-rekan “senasib” mulai ngebahas kemungkinan bikeway eh jalur khusus sepeda?

  3. di cirebon ada tuh kursus mengemudi yang selain praktek juga memberikan materi lalu lintas, etika dan teknik keselamatan berkendaraan.namanya eka jaya berrindo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: