Tunjukkanlah bahwa kita mampu

Dalam 14 hari ke depan, besok hingga 4 Agustus mendatang, adalah masa pertarungan merebut simpati warga Jakarta. Dimulai di depan sidang paripurna wakil rakyat dengan cara menyampaikan visi dan misi masing-masing pasangan calon pemimpin Jakarta.

Sebelum masa kampanye ini, media massa sudah banyak memberitakan kasus “curi start,” tindakan anarkis, upaya kecurangan, juga prediksi-prediksi yang agak pesimis mengenai kualitas pemilihan Kepala Daerah ini.

Tentu kita semua berharap segalanya berjalan tertib, aman, lancar. Sangatlah absurd jika ada yang menginginkan terjadi kerusuhan dan anarkisme. Dalam minggu-minggu pemanasan yang lalu, masing-masing pihak yang berkepentingan barangkali sudah menganalisis besar kecilnya dan di mana saja berada potensi-potensi yang akan menurunkan kualitas pemilihan.

Semoga sudah disadari, bahwa setiap tindakan negatif para pendukungnya berarti juga mencoreng nama baik sang pasangan; bahwa inilah yang akan dimainkan oleh para kriminal (it is a crime, not a political act) untuk menjatuhkan nama orang-orang yang dianggap menghambat kepentingannya; bahwa para kriminal ini bisa berada di mana saja, di dalam tim sendiri, atau tim kompetitor, atau bahkan diluar sistem yang mengaku-aku sebagai ini dan itu.

Situasi mungkin akan lebih menggairahkan —bukannya mengkhawatirkan— jika kampanye tidak menjadi ajang mempertontonkan kuantitas massa pendukung. Bisa menjadi sangat menarik kalau pasangan saling bertarung menunjukkan kualitas memimpin, mengelola dan mengendalikan massa untuk bersikap sportif; mampu menangani provokasi dengan cara-cara elegan; mengekspresikan dukungan secara kreatif dan inovatif namun tetap simpatik. Berkonsentrasi pada citra dan kualitas diri, tidak begitu peduli terhadap apa yang dilakukan oleh tim kompetitor apalagi menjelek-jelekkannya. Bukankah mereka juga warga yang bisa diajak untuk menjadi oposan yang kritis demi kebaikan bersama di atas kepentingan golongannya.

Ketika kita setiap hari disuguhi berita-berita negatif dan berbagai perilaku tak pantas oleh para penganut bad news is a good news, maka kita —apalagi remaja— semakin jauh dan semakin tidak kenal akan keteladanan. (Kalau tidak salah, terakhir kita mempunyai hero adalah pada tahun 2000 saat si kecil Opik menemukan granat di rel kereta api).

Kita rindu sangat akan sesuatu yang bisa diteladani dan dibanggakan sehingga komentar senegatif apa pun akan rontok dengan sendirinya. Kerinduan ini begitu besar sehingga mampu mewujudkan semangat luarbiasa dan kebersamaan yang indah di arena Asian Cup. Meski hanya sekejap mata, tapi cukuplah menunjukkan potensi kita yang sebenarnya apabila dikelola dengan baik.

Mari tunjukkan kualitas kepemimpinan, sehingga yang berniat untuk bersikap abstain pun menjadi terdorong untuk memilih Anda. Kita rebut simpati mereka (63% ?) dengan tidak melarang hak mereka untuk tidak bersuara.
Selamat bertarung.

One Response

  1. saya pilih………….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: