Chaplin

Di luar, salju turun tebal. Dingin menusuk. Tak ada makanan. Persediaan kayu bakar di bangunan kayu itu makin menipis. Chaplin menggigil. Temannya yang bernama Big Jim sudah hampir kaku. Hanya mereka berdua di pondok itu.
Big Jim berbadan tambun, bercambang, terkesan kuat. Tapi daya tahannya lemah. Ia mengalami halusinasi. Tiba-tiba di matanya tubuh Chaplin berubah menjadi ayam besar. Menantang untuk dimasak. Big Jim meraih pisau, hendak menyerang Chaplin. Begitu pisau terangkat, matanya kembali normal. Big Jim bingung. Melihat gelagat itu, Chaplin lalu menjauhkan pisau.
Halusinasi muncul lagi. Big Jim mengambil senapan. Tapi Big Jim masih ragu-ragu. Ia mengucek-ucek matanya. Chaplin langsung merebut senapan itu dan menimbunnya di salju. Terakhir Big Jim mengambil kapak. “Ayam atau bukan, aku lapar,” kata Big Jim. Lalu terjadi pergumulan antara Chaplin dan si brewok itu. Tanpa disadari seekor beruang masuk. Ikut bergumul dengan mereka. Chaplin menembak beruang itu. Jadilah mereka memiliki daging bakar lezat.

Gold Rush di atas bukan film terbaik Chaplin. Film itu tak sekaliber Modern Times atau Great Dictator yang penuh satir. Tapi masih saja komedinya cerdas. Kita dapat tertawa karena kekonyolannya yang manusiawi. Tapi yang menjadi istimewa, film bisu Chaplin ini di Jiffest (Jakarta International Film Festival) Desember lalu, ditayangkan dengan diiringi permainan musik musisi-musisi kita. Pada Jiffest sebelumnya pernah film-film bisu Jerman dari Fritz Lang atau F Murnau dibuat acara .

Dan sekarang giliran Chaplin.
Sore itu Thoersi Argeswara menghadapi keyboard. Seorang rekannya membantu menggebuk drum. Lalu ia merespon adegan-adegan kocak Chaplin. Saya mulanya agak kecewa. Saya pikir Thoersi menampilkan sebuah komposisi yang serius untuk mengiringi film bisu Chaplin. Ternyata ia banyak mengambil bahan dengan menggabung-gabungkan lagu-lagu anak-anak Indonesia. Topi Saya Bundar, Geylang Sepatu Geylang, Ayo Mama, Nina Bobok dsb.
Didengar-dengar tapi eh, lagu itu klop juga. Justru karena melihat film Chaplin dengan iringan melodi-melodi kita, saya tiba-tiba teringat tulisan-tulisan yang mewartakan Chaplin pernah ke Indonesia. Juru kunci Bandung, almarhum Haryoto Kunto pernah menulis Chaplin pernah dua kali ke Bandung.

Kunjungan kali pertama adalah tahun 1927. Chaplin ditemani artis cantik Mary Pickford. Dari Bandung Chaplin tamasya ke Garut. Ia mengunjungi daerah Ngemplang yang asri , rimbun. Dan dari ketinggiannya dapat melihat panorama kota Garut. Nama Garut didengar Chaplin karena saat itu banyak maskapai pelayaran Belanda dalam brosur-brosur menyebutkan Garut salah satu tujuan tetirah yang mempesonakan di Hindia Belanda.
Ihwal kedatangan Chaplin ke Bandung itu , jauh hari telah mendapat publisitas luas. Hotel Homann yang bakal menjadi tempat penginapan Chaplin melakukan promosi besar-besaran bagi Hotel Homann. Menurut Haryoto Kunto seharian penuh warga Bandung berjubel di depan Homann. Kota Bandung heboh. Bayangkan Chaplin datang!. Ribuan warga berdesakan di depan hotel sembari berteriak: Chaplin! Chaplin! Chaplin!. Mereka mengharap Chaplin keluar, bertemu dengan mereka.

Buat menenangkan massa, tutur Kunto seregu polisi kolonial terpaksa harus dikerahkan. Namun polisi-polisi itu kewalahan. Sebab lebih banyak fans Chaplin daripada mereka. Sekompi polisi itu tak berdaya, ketika warga Bandung terus masuk merangsek. Sambil berteriak Chaplin! Chaplin! Chaplin! Tumpah ruahnya massa itu membuat Chaplin kesulitan untuk meninggalkan Bandung. Perjalanan ke Garut bisa gagal.

Akhirnya menurut Kunto diam-diam Chaplin kabur lewat pintu belakang. Mereka mengelabui massa. Caranya adalah, Chaplin meminta aktor-aktor tonil dari Jalan Braga untuk menyamar sebagai dirinya dan Mary Pickford.
Lalu Chaplin dan Mary Pickford palsu itu mengendarai sedan Plymouth, keluar melalui pintu gerbang hotel. Sedan mereka dikawal ketat polisi-polisi bermotor. Di bawah terik matahari warga berdiri di sepanjang jalan Groote Postweg (kini jalan Asia Afrika-A. Yani) bersiap melambai-lambaikan tangan ke arah Chaplin. Sementara Chaplin dan Mary Pickford asli diantar menuju stasiun Bandung . Stop di Cibatu. Di sana mereka dijemput kendaraan untuk dibawa menuju Garut.

Kunjungan kedua Chaplin ke Bandung adalah pada tahun 1935 . Kedatangannya kali ini bersama artis Paulette Godard yang masih berumur 25 tahun. Pada waktu itu hubungan Chaplin dan Paulette kontroversial. Mereka hidup bersama dan itu mendapat sorotan pers Amerika. Pauline seperti diketahui kemudian menjadi aktris pendamping Chaplin dalam film Chaplin tersohor, yang mengkritisi dunia modern: Modern Times (1936) dan Great Dictator (1940). Setelah kunjungannya ke Indonesia itu, mereka kawin di Cina tahun 1937. Tapi kemudian hubungan Chaplin-Goddard putus. Pada tahun 1944 Paulette Goddard kawin dengan aktor Burgess Meredith dan pada tahun 1958 ia menikah dengan pengarang Erich Remarque.

Entah perjalanan ke “timur” dengan Paulette Godard bagi Chaplin lebih romantis atau tidak . Tapi yang jelas Indonesia agaknya memiliki daya tarik tersendiri bagi badut ini. Sebab kemudian tahun 1962 datang lagi ke sini Umurnya saat itu sudah 73 tahun. Chaplin telah tua. Mungkin kenangan-kenangan indah bersama mantan istrinya masih melekat ketika pada usia uzur itu ia datang lagi ke sini. Atau mungkin justru kenangan-kenangan yang “memerihkan”. Sebab tak terdengar kabar ia ke Bandung atau ke Garut lagi. Kali ini ia secara khusus ia datang ke Jogja. Ia ingin menikmati pegelaran sendratari Ramayana di Prambanan.

Menonton sendratari Ramayana di panggung terbuka Prambanan kala itu mungkin menggetarkan. Tepat bulan Purnama, bulan yang bundar bulat itu seolah menjadi backdop dari pertunjukan. Angin yang semilir akan membelai penonton. Membuat bulu kuduk meremang. Dan kala itu tentunya jalan dari Jogja menuju Prambanan sangat permai. Sawah-sawah yang menghampar. Barisan pohon-pohon yang teduh. Tak banyak bangunan seperti sekarang.

Dan Chaplin terkesima dengan sendratari kolosal itu. Sebuah pertunjukan di seberang candi yang usianya berabad-abad dengan iringan langsung gending yang menyuarakan perasaan halus sampai akbar— adalah dunia magis yang menyerapnya. Penari-penari yang sekarang kita kenal seperti Sardono W Kusumo, Retno Maruti, Sentot, Tri Sapto kala itu – masa remajanya adalah bagian dari Sendratari Ramayana di Prambanan. Tata gending digarap maestro gamelan: Tjokrowasito bersama Martopangrawit dari Solo. Gending yang mereka garap tidak hanya sebuah ilustrasi bagi pertunjukan tapi energi yang menuntun penari. Sebagaimana kendang menuntun jiwa dan langkah-langkah kaki-kaki penari.

Perasaan Chaplin tersentuh oleh bunyi gending dan ekpresi tariannya. Menonton pertunjukan tersebut, Chaplin yang telah beranjak tua itu tiba-tiba berbicara tentang kematian. Sebuah kematian yang indah. Seperti dikutip harian Indonesian Observer 31 Juli 1961 ia mengatakan: “…Tarian Kijang Kencana misalnya tak ada bandingannya.. Saya tak butuh penjelasan tentang tari itu, Saya benci penjelasan, Saya bisa menangkap segalanya…Saya benar-benar tergerak oleh keindahan…. Mati pada saat itu tak berarti apa-apa bagi saya… kecuali kebahagiaan”

Chaplin baru meninggal di tahun 1977, dalam usia 88 tahun. Menghibur orang, membuat orang terpingkal-pingkal dan sekaligus terharu agaknya membuat usianya panjang. Tapi Chaplin sejatinya tak pernah mati.

Maka dari itulah setelah Thoersi, giliran Jaya Suprana, tukang jamu yang riang itu, melentikkan jari jemarinya di tuts piano, mengiringi film Chaplin lain: City Light[Seno]

2 Responses

  1. hebat juga promosi wisata jaman dulu, aktor dr belahan dunia laen sampe tau ada yg indah2 di endonesia ini… mantap…

  2. Saat Cahplin berkunjung ke Bandung pada saat itu bisa dibayangkan bahwa Bandung saat itu juga sudah dikenal secara global,tentunya saran infrastrukturnyapun menunjang,sehingga seorang legend seperti Chaplin dan Mary Pickword bisa berkunjung kesana..How Art U To Day Bandung??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: