Ciclovia, pesta sepeda di Bogota

Infrastrukturnya ada. Tidak membutuhkan investasi modal, tidak perlu membangun kompleks olahraga. Hanya diperlukan biaya operasional, kemauan politik, staf sektor publik yang doers —mencari solusi untuk masalah bukannya mencari masalah dalam solusi— dan keterlibatan masyarakat. [Guillermo Peñalosa, organisator Ciclovia)

Ciclovia adalah semacam pesta sepeda, dilaksanakan setiap hari minggu dan hari libur di Bogota, Kolumbia. Seratus kilometer lebih jalan raya ditutup untuk kendaraan bermotor, sekitar 1,5 hinga 2 juta orang memanfaatkannya untuk aneka kegiatan. Hasil survey menunjukkan bukan 1,5 juta orang yang sama setiap minggunya, sekurangnya ada empat juta orang berpartisipasi dalam waktu yang berbeda. Rata-rata menghabiskan waktu 4 jam lebih dalam Ciclovia.

“Mereka naik sepeda, skating, aerobik atau jalan-jalan… dan melihat orang, suatu aktivitas yang paling disukai manusia,” ujar Gil, panggilan untuk Guillermo Peñalosa. Ethan dari streetsblog lebih dari sekedar setuju: “sangat mengejutkan, betapa kesempatan untuk berada di jalan bersama orang-orang lain seperti membuat ribuan orang yang saya lihat itu begitu bahagia dan bersahabat.

Ada sekitar 8 juta mobil pribadi di Bogota, belum termasuk taxi dan bus. Tidak hanya setiap hari minggu dan hari libur, setiap 1 Februari mobil pribadi dilarang berjalan di seluruh kota. Sejak 2000, 1 Februari dinyatakan sebagai Dia Sin Carro, Hari Tanpa Mobil di Bogota.

“Ini adalah learning experiment! Kita menjadi sadar bahwa kita bisa hidup tanpa mobil!” seru Enrique Peñalosa, kakak Gil, walikota Bogota 1998-2001, pencetus Hari Tanpa Mobil itu. Ia berhenti menjadi walikota karena undang-undang melarang seseorang menjabat secara berurutan. Kini Enrique bersiap menyalonkan diri kembali untuk memimpin kota yang dulu dikenal sebagai sarang narkoba dan kini menjadi model bagi para urban planner itu.

Bukan wawasan lingkungan yang menjadi dasar berbagai kebijakan Enrique, tapi dilandasi niatnya yang mengarah ke hedonics, suatu falsafah ekonomi yang berfokus bukan pada pertumbuhan ekonomi melainkan pada kebahagiaan manusia. (tentang Happiness Economics ada seminal Happiness: Lessons from a New Science oleh Richard Layard, profesor London School of Economics, penasehat ekonomi Tony Blair)

Pertengahan 1990an Bogota dikenal sebagai enfierno, neraka. Pada 1995 saja ada 3.363 pembunuhan dan 1400 kematian karena kecelakaan lalulintas. Ia merupakan akumulasi dampak perang saudara, ledakan populasi serta kelalaian tatakota.
Orang-orang kaya memagari taman-taman publik di areanya. Mobil-mobil mengambil alih trotoar sebagai tempat parkir. Polusi udara bersaing dengan Mexico City. Karyawan dari selatan setiap hari menghabiskan waktu empat jam untuk menuju tempat kerjanya di utara.

Perubahan besar terjadi ketika Enrique Peñalosa terpilih pada 1998. Ia mengumumkan: “Sebuah kota bisa ramah pada manusia atau bisa ramah pada mobil. Tapi tidak bisa kedua-duanya.”
Dinaikkannya pajak BBM dan melarang mobil pribadi berjalan di jam sibuk lebih dari tiga kali dalam seminggu. Jalan-jalan arteri utama ditetapkan untuk Transmilenio, buswaynya Bogota. Popularitas Peñalosa menanjak. Para pelaku bisnis teramat berang. Impeachment terhadapnya nyaris terjadi.

Perolehan dana dari peraturan kendaraan pribadi berhasil dimanfaatkan untuk pembangunan TransMilenio, pendidikan (lebih 200.000 anak disekolahkan, memperbaiki 150 sekolah, membangun 50 sekolah baru, 3 perpustakaan besar, pembagian 14.000 komputer sekolah yang terhubung ke internet dan perpustakaan); pembangunan 1.200 taman dengan lebih 100.000 pohon; membangun dan merekonstruksi ratusan kilometer trotoar; lebih 300 kilometer jalur sepeda; dan menyalurkan air ke ratusan ribu penduduk miskin.
Semua itu hanya dalam tiga tahun masa jabatannya.

Enrique adalah anak seorang politikus dan pebisnis. Ia belajar ekonomi di Duke University, Carolina Utara, AS. Menulis buku Capitalism: The Best Option, yang semakin hari semakin diragukannya sendiri.

“Jika mengukur kesuksesan hanya dengan income per capita, maka kita terpaksa harus menerima menjadi masyarakat kelas dua atau kelas tiga. Ini tidak menggairahkan bagi generasi muda. Jadi kita harus mencari ukuran lain.
Saya pikir ukuran sukses yang pantas dipakai adalah kebahagiaan.”

Mengenai ukuran kebahagiaan, John Helliwell, profesor University of British Columbia, Kanada, menyatakan: “Seberapa besar kepercayaan mereka terhadap orang asing? Bagaimana kepercayaan mereka pada tetangga? Kepercayaan pada polisi?
Semakin positif jawabannya, semakin bahagialah mereka.”

Untuk meningkatkan kepercayaan, tambahnya, kuncinya adalah sesering mungkin ada interaksi yang positif. Ruang publik yang bisa menggiring orang untuk saling interaksi akan melahirkan individu-individu yang jauh lebih bahagia dari mereka yang sehari-hari berkutat dengan kemacetan, misalnya.

Dengan mengaitkan happiness economics ke desain urban, Enrique tampaknya berhasil membuat warga Bogota lebih happy. Di masa tugasnya tingkat pembunuhan turun drastis hingga 40%, dan semakin hari semakin turun. Lalulintas di jam sibuk kini bergerak tiga kali lebih cepat.

Perubahan ini bisa berhasil tidak hanya karena Enrique saja. Walikota sebelumnya, Antanus Mockus, juga mempunyai andil dalam mengubah kultur warganya. Mantan profesor filosofi ini membagi-bagi ribuan kartu merah. Setiap orang yang melihat pengemudi ugal-ugalan atau melakukan kesalahan, bisa mengacungkan kartu merah seperti wasit sepak bola. Antanus meyakinkan para warganya adalah tugas mereka untuk saling peduli.

Keberhasilan lainnya: Terinspirasi oleh kampanye anti korupsi yang dilancarkan Antanus, 63.000 keluarga secara sukarela membayar pajak propertinya 10% lebih besar. Pendapatan pajak pun meningkat tiga kali lipat pada akhir masa jabatannya. Antanus telah menyiapkan warga Bogota untuk perubahan infrastruktur Enrique yang membutuhkan pengorbanan individu untuk kepentingan bersama. [sumber streetblog.org, pps.org, planetizen.com. Foto: streetblog.org]

6 Responses

  1. […] kita meniru jurus walikota Bogota dan kartumerahnya dalam mendidik warganya yang terbukti ampuh mengubah kota mafia dan narkoba menjadi kota […]

  2. Sungguh tulisan yang bagus. Gw boleh link ya blognya..?

  3. Baginda, it’s my pleasure. Terimakasih, silakan.

  4. ide tulisan bagus oke

    tks pak yedi,
    idenya diulangi di “akhirnya Bogor bisa menarik nafas lega”
    karena di jakarta sebulan bisa 6 kali bebas kendaraan bermotor tapi ga bunyi….

  5. […] 2 pekan saya lebih tertarik pada idealisme orang-orang bersepeda. Bagaimana konsep pengembangan kota di negara maju yang ternyata sangat mengistimewakan sepeda dengan membangun jalur-jalur sepeda. […]

  6. waktu kami tanyakan tentang jalur sepeda di kota solo, langsung kepada walikota solo. sungguh membuat kami bertanya-tanya, kemana lagi mesti bertanya. kurang lebih begini jawabnya.
    “akan kami usahakan. karena jalan di kota solo termasuk jalur lambat tidak milik kota solo sepenuhnya, ada jalan propinsi, jalan kota, jalan dll…
    di sinilah sangat kentara ke”tidak-klop”an program yang dimiliki pemerintah indonesia….
    aduh biyung……… sudahlah…. yang penting kita naik sepeda dulu…sambil kita tetep usahakan sejauh kita bisa…tentunya sesuai kekuatan kita…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: