Betawi buaye darat?

Oops… nyak babe ncang ncing abang none, jangan terprovokasi oleh judul tulisan yee
Siapa bilang buaye darat jelek? Di Ragunan dikagumi dari anak sampai kakek-nenek. Juga, konon buaya adalah pasangan paling setia, makanya roti buaya jadi salah satu syarat di adat perkawinan Betawi.

Tulisan ini untuk menyambut ulangtahun Jakarta, sekaligus juga membantu para calon mantu Betawi yang sering bingung (emangnya gue lelaki buaye darat, pikirnya sambil melantun lagunya Ratu) …

Roti buaya adalah salah satu hantaran wajib dalam adat perkawinan Betawi. Ia roti tawar yang berbentuk buaya. Panjangnya bisa mencapai setengah meter, lumayan repot untuk menghantarnya di atas nampan. Belakangan ini ekor yang semula lurus kini mulai dibuat melengkung, sehingga memperpendek sekitar 25% panjangnya.
Di Museum Rekor Indonesia, tercatat roti buaya terpanjang berukuran 120 x 530 cm yang dibuat pada ulangtahun Jakarta ke 477 tahun 2004.
Roti buaya bisa dipesan di berbagai toko roti dan bakery. Pembuatannya bisa memakan waktu hingga 3 jam.

Selain sebagai simbol kesetiaan, buaya dalam tradisi Betawi ternyata memiliki arti yang berwawasan lingkungan. Menurut pengamat budaya Betawi Ridwan Saidi, dalam tradisi Betawi diyakini bahwa sungai-sungai dikuasai sepasang buaya putih. Siapa yang melanggar pantangan, seperti mengotori, membuang sampah ke sungai, akan menjadi mangsa buaya putih. Juga ada tradisi “nyugu” ke sungai dengan sajian bunga tujuh rupa, telur ayam, bekakak dan nasi kuning.

Lalu kenapa sekarang sungai di Jakarta tidak ada yang bersih, kemanakah sang buaya putih itu?
Sebelumnya roti buaya terbuat dari singkong, warna putih masih mendominasi. Tapi sejak kedatangan Belanda, singkong diganti dengan adonan roti. Warna putihnya pun luntur. Berangsur pendatang makin banyak, tidak mengenal dan menghormati buaya putih, mungkin karenanya tradisi pun ikut luntur dan sepasang buaya putih kabur ke sungai yang lebih asri…
Tetapi adat Betawi agaknya masih tetap berwawasan lingkungan. Srengseng, cagar budaya Betawi, adalah hutan kota satu-satunya yang tersisa. Tengok juga Kampung Banjarsari, Cilandak, Jakarta Selatan, mereka memperoleh penghargaan dari Departemen Pertanian, juga Kalpataru bahkan dari Unesco, sebagai kampung konservasi alam tanpa sampah.

Beberapa alamat roti buaya

Roti Lauw
Jl. Srikaya 10-11 Jakarta T 3226 6700
Jl. RS Famawati 40, Jakarta Selatan T 739 8290

Soes Merdeka
Jl. Mampang Prapatan Raya No. 101C
Jl. Balai Pustaka Timur No. 11 Rawamangun T 475 7603
Jl. Margonda Raya No. 395 T 787 0068

Anekarasa Via Bakery
Gg Miun III Rt 03/07 No 14, Sukmajaya, Depok, T 7782 0180

Domine Bakery & Cake
Jalan Raya Pekayon No.43 A-B, Bekasi 17148. T 824-13917 824-13916

Buana Bakery Condet
Jl Condet Raya no.22 Jakarta T 801 3029

Resep roti buaya bisa dilihat di Bogasari [Foto Kompas]

5 Responses

  1. Betawi ngambil icon buaya adalah buaya yang di air karena setia. Tapi yang di darat, hmmm banyak belangnya :D

  2. lelaki buaya darat…tapi kebanyakan wanita penyuka binatang kan ? :D :D

  3. Buaya bagi masyarakat Betawi memang lambang kesetiaan. Selain itu adalah tanggungjawab. Karena buaya laki-laki aadlah buaya yang bekerja mencari makan untuk keluarganya. Begitu konon ceritanya. (Secara aku aye nikah pake adat ebtawi)

  4. Bataviase, terima kasih sudah mencantumkan alamat Domine Cake & Bakery di postingan Anda :)

    Kami sekarang juga sudah punya toko online, tapi sayangnya roti buaya-nya belum dijual online… peminatnya kira2 banyak nggak ya? He3x..

    Thanks again.

  5. ane orang betawi tapi malah ga tau cerita betawi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: