Pabrik Opium van Salemba

Pengantar:
Batavia dulu adalah sorga bagi para pecinta opium. Ada sebuah pabrik opium besar, yang produksinya sampai diimport ke koloni-koloni Belanda. Rumah-rumah madat pun bertebaran di Batavia. Para pengisap itu, ternyata banyak orang tua yang telah sakit-sakitan. Mereka menganggap mengisap opium sebagai terapi umur panjang. Dimana saja lokasinya kini? Bataviase Nouvelles berusaha menggali ingatan orang-orang yang masa kecilnya berada di dekat lokasi pabrik dan rumah-rumah madat itu

opium.jpg

Pabrik opium Batavia itu dahulu pusatnya di kawasan kampus Kedokteran UI Salemba Raya. Produksinya dipasok ke Glodok, sekitar Jakarta hingga keluar ke Jawa. Pabrik mulai hidup dari jam 07.00 sampai 17.00. Pada jam 07.00 cerobong pabrik opium dibunyikan. “Ngguuunng…nggunnggg…bunyinya keras sekali, seperti kapal laut. Bertanda pabrik mulai beroperasi,” kata Abdillah Gani. Ia kelahiran Kwitang, Jakarta Pusat, Mei 1936.

Dalam sehari suara itu dibunyikan tiga kali. Pagi, siang, dan sore. Pagi saat mulai kerja, jam 12.00 saat istirahat atau makan siang, dan sore pada jam 17.00 untuk menandai jam kerja selesai. Masa kanak-kanak Abdillah Gani di habiskan di rumah kakeknya di sekitar Salemba, tepatnya di Jalan Kenari, hingga ia ingat bangunan besar yang memproduksi ribuan butir opium di Batavia itu..

“Bentuk pabriknya beratap seng memanjang. Berdinding tembok,” katanya.. “Lokasi pabrik ada di belakang fakultas kedokteran Salemba. Dari depan kampus sekarang memanjang ke Belakang. Di bagian belakang terdapat mess karyawannya,” . Menurutnya, hampir separoh pegawai pabrik tinggal di mess yang disediakan oleh perusahaan di belakang pabrik opium itu, sekarang Kenari 3. Di sisi kanan pabrik, yang sekarang jalan Kenari II, tumbuh pohon besar-besar.

Di sekitarnya juga terdapat lapangan, yang suka dipakai main anak-anak. Meski pabrik opium itu besar, situasi di sekitarnya tidak ramai, sepi. “Kalau udah jam 2 siang suasana di sekitar pabrik sepi. Suram, kayak di kuburan. Suasananya seram, apalagi ketika hujan atau mendung. Anak-anak nggak berani ke situ,” kata Gani yang waktu itu suka bermain bersama anak-anak kampung Kenari di sekitar pabrik.

Saat itu tak ada penjagaan yang ketat di sekitar pabrik, sehingga anak-anak bisa bermain bebas di lapangan dekat pabrik. Abdillah Gani dan kawan-kawannya juga bisa melihat gedungnya dari luar karena pekarangannya hanya dibatasi dengan pagar kawat saja. “Karyawannya banyak. Sebagian besar didatangkan dari daerah Jawa,” kata Gani. Orang-orang di sekitar pabrik, kampung Kenari, menolak bekerja di pabrik yang dimiliki oleh Belanda.

Kampung ini dihuni oleh penduduk Betawi yang sebagian besar bekerja sebagai kusir delman. “Di sini orang-orangnya anti penjajah. Maka orang-orang di sini dianggap komunis oleh Belanda,” ucap Gani. Pabrik yang beroperasi pada 1900-an itu memproduksi ribuan butir opium. Dan pabrik ini dikenal besar dan menjadi pusat produksi opium bukan saja di wilayah Batavia tapi untuk daerah koloni-koloni jajahan Belanda. Di Batavia, opium terlebih dulu didistribusikan ke Glodok, sebagai pusat distributor opium Batavia. “Di sana siapa saja boleh beli. Di sana juga disediakan rumah-rumah ngisep opium. Di Glodok, namanya Petak Sembilan,” kata Gani.

Kakeknya, Haji Saleh yang bekerja sebagai kusir pernah diminta mengantarkan pembeli opium di kawasan Glodok. Pabrik Opium Batavia ini mengalirkan keuntungan jutaan gulden terhadap pemerintah Belanda. Produksi opium dari pabrik Batavia itu juga diekspor ke negara-negara Eropa dan menjadi pemasok utama ke seluruh wilayah Hindia Belanda, Netherlands East Indies.

Siddarth Chandra dari University of Pittsburgh menulis pada tahun 1928 merupakan titik puncak kejayaan Pemerintah kolonial Belanda karena meraup keuntungan tertinggi dari opium sebesar 34.6 juta gulden, dan mendapat masukan dari total pajak penjualan opium sebesar 835.9 juta gulden.
Satu papernya berjudul Economic Histories of the Opium Trade mengungkapkan pada pertengahan tahun 1928 adalah titik tertinggi dari penjualan opium di Hindia Belanda, yaitu sebesar 60.000 kilogram.
Dan setahun kemudian, pada 1929 hingga tahun 1936 merupakan masa dimulainya periode kejatuhan kronis penjualan opium Hindia Belanda. Chandra menulis masa itu sebagai masa Great Depression. [Basil]

Artikel terkait:

3 Responses

  1. sip makin makin beragam adja ini web, pendek kata kasih doea djempol boeat ini web

  2. trimakasi tjamboek berdoeri
    web jij ik kasi tiga djempol deh… :)

  3. saoedara pemilik site ini, bolehkah kiranja saja memakai bahan toelisan saudara sebagai materie oentoek program televisi jang saja kerdjakan? djika diperbolehkan juga saja hendak berdiskoesi dengan saoedara mengenai lokasi – lokasi bersedjarah doenia per-madatan di batavia doeloe…
    terimakasih

    Dijan Soerja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: