Kesaksian tentang Gang Keselamatan

Dua gang sebelum gedung Arsip Nasional kini terdapat gang bernama Keselamatan. Anda bisa melihat nama itu dituliskan dalam seng berukuran kecil di mulut jalan. Lebar gang itu sekitar 3 meter dan panjangnya sekitar 1.5 kilometer. Di kanan kiri berdiri bangunan rumah yang padat. Sebagian rumah itu bertingkat dua, sebagian lagi rumah penduduk pada umumnya.
Dahulu orang mengenal gang itu sebagai Gang Madat Besar. Nama jalan Keselamatanmulai dikenal saat pemerintah tahun 1950-an merubah nama-nama jalan di daerah kota menjadi gang-gang bernama seperti: Kejayaan, Kesejahteraan, Keselamatan, Kerajinan, Kematian.

Muntoha, warga asli setempat yang lahir tahun 1938 ingat di tahun 1930, rumah penduduk sebagian besar berukuran kecil dan tak luas. Jumlahnya masih sedikit. Dihuni oleh mayoritas orang-orang Betawi, lalu orang Arab dan Cina. Ada juga orang Jawa yang merantau ke Batavia. “Di situ ada rumah madat ,” kata Muntoha sambil tangan kanannya menunjuk ke arah sekitar 500 meter dari mulut jalan.

Sampai pada usia 69 tahun, pergerakan pemuda Betawi ini ia tetap segar mengingat kembali apa yang ia saksikan di rumah yang terletak di jalan Keselamatan Dalam. Rumah itu lebarnya sekitar 4 meter dan memanjang kurang lebih seratus meter. Atapnya seng, berdinding papan, dan menghadap ke Selatan. Di halaman rumah terdapat gerobak bakmi. Suasananya tenang dan sepi. Rumah ini menjadi awal nama gang Madat. “Di sana orang-orang Cina melakukan pemadatan,” katanya.

Mereka yang menghisap opium atau candu seingatnya hanya orang-orang Cina saja. Warga betawi tak berani mengikuti empek-empek itu. Empek-empek adalah sebutan orang cina tua kala itu. “Orang-orang di sini tigak berani ikut-ikutan menghisap karena takut penyakit berbahaya,” kata Muntoha.

Orang-orang menghisap opium dengan bumbung bambu di emperan rumah itu. “Mereka badannya kurus-kurus, tak sehat. Bajunya terbuka. Ada yang separoh badannya telanjang tak berbaju. Pakaiannya tak karuan, lecek. Mereka sambil tiduran menghisap opium itu.” Muntoha coba menggambarkan empat orang yang dilihatnya saat ngisap opium. Selain itu ia juga melihat si tukang bakmi yang berjualan sambil menghisap opium yang dicampur dalam tembakau rokoknya.

“Orang itu mendorong gerobak bakmi, keliling kampung sambil menghisap candu.” Kepulan asap opium dari bumbung bambu berlangsung siang hari sampai malam. “Mereka pada duduk, bergeletak (rebahan), di depan pekarangan rumah itu,” kata Muntoha yang meraba ingatan masa kecilnya.

Sekitar tahun 1948,ia melihat pemandangan yang menakutjan. . “Saya melihat mereka menggotong-gotong orang yang mati,” kata Muntoha. Rupanya beberapa orang yang madat itu mati. “Saya tidak tahu siapa namanya. Yang saya lihat orang-orang itu digotong-gotong keluar.” Sejak itu rumah bertambah sepi.

Zaman mulai berubah. Para penghisap madat itu dianggap membuat lingkungan tak sehat. Mereka dijauhkan dari warga. “Warga sudah tidak mau tahu.” Si Iping, orang Arab yang kemudian membeli rumah itu melarang rumahnya dipakai untuk madat. “Pekarangan itu kumuh sekali, tak terawat. Atapnya seng sudah tak karuan, rusak.”
Di sinilah Gang Madat menurutnya berakhir. [Basil]

Artikel terkait:

2 Responses

  1. Babe saye asli orang jalan Keselamatan juga.
    Tapi Jl. Keselamatan Dalam. Disane banyak orang arab dulu nye. Sekarang berganti jadi banyak orang cina.

  2. Gedung Arsip Nasional yg mana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: