Kesaksian tentang Gang Kali Mati

Gang kecil itu sekarang bernama Pancoran V. Lebarnya sekitar 2 meter Lokasinya dekat Petak 9, Jakarta barat. Di gang kecil itu banyak pedagang emperan menjajakan barang kelontong.Termasuk segala makanan ringan khas Cina.

Di zaman tempoe doeloe warga Batavia mengenalnya dengan sebutan: Gang Kali Mati. Sebuah gang tempat berdirinyaan sejumlah rumah-rumah opium. “Dulu di Gang Kali Mati ada 2 atau 3 rumah tempat ngisep opium,” kata Akey, warga asli setempat



Dan bertuturlah lelaki tua ini. Akey adalah cina peranakan yang lahir di Jalan Petak 9, Pancoran pada tahun 1932. Dulu menurutnya rumah madat itu dapat izin dari Pemerintah Belanda. Sebagaimana disaksikannya –di tahun 40-an anak-anak muda tak terlihat ikut-ikutan ngisep opium di rumah-rumah madat itu. Pelanggannya menurutnya banyak orang-orang tua.

Terutama orang-orang tua yang tubuhnya kurus-kurus, yang sakit-sakitan terkena penyakit TBC dan kusta. Mereka mengisap opium agar umurnya tambah panjang. . “Maksudnya nyawanya bisa tambah panjang. Madat kan juga obat. Ngisep itu bisa tambah panjang umur,” kata Akey. “Kebanyakan yang ngisep kurus, yang jalannya sudah tidak kuat, yang oleh dokter tidak bisa diobatin lagi,” tuturnya lagi .

Siapapun menurut Akey bisa masuk ke rumah-rumah madat. Rumah madat itu tidak dijaga polisi. Dibiarkan terbuka karena telah diijinkan pemerintah kolonial Belanda.”Rumahnya terbuka. Siapa yang masuk, bayar,” kata Johannes, warga lain. Menurutnya pada tahun 60-an, pamor rumah madat itu sudah surut dan hilang karena pungutan liar atau tak ada pasokan barangnya. “Tahun 1960-an sudah habis,” katanya. “Sejak morpin ada, opium sudah habis,” Akey menambahkan.

Johannes sempat menyaksikan asap opium yang mengepul di rumah madat di Gang Kali Mati itu. Ia terlahir di kawasan itu pada tahun 1947. “Bentuknya kayak biji jagung, buletnya ye. Di bakar, di situ ada pelitanya,” kata Boy. Sebutir opium sebesar biji jagung berwarna hitam itu diletakkan pada alat pengisep. Sedang pelita dipakai untuk menyulut batang pengisep opium.

Para pengisep itu membayar per biji opium. Semakin banyak mengisip butiran opium, uang yang dikeluarkannya pun samakin banyak. “Kalau harganya kita nggak tahu. Kayak rokok, 1 bungkus ada 20 batang. Satu bungkus harganya berapa?,” kata Akey. Ia tidak tahu berapa rupiah harga opium di rumah madat itu. Ia mengaku tak pernah ikut-ikutan ngisep opium. (Basil)

Artikel terkait:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: