Membaca di balik bangunan

Mudji Sutrisno

Melihat dengan mata fi sik, bangunan di jalan pusat Taman Fatahillah itu bernama Museum Wayang. Namun melihat dengan budi dan membaca dengan mata budi, tahulah kita, bangunan ini penuh riwayat sejarah. Pada jaman V.O.C. sampai akhir pemerintahan Hindia Belanda, bangunan ini untuk gereja kristen Protestan yang merupakan agama resmi kekuasaan Belanda dan petinggipetingginya.

Jangan lupa sejarah mencatat sesama agama kristiani yaitu Katolik dilarang pula untuk berkembang dipemerintahan petinggi kolonial Belanda yang mayoritas Protestan baru boleh membuat sekolah dan menjalankan ibadat 3 dekade sebelum R.I. merdeka itu pun karena terjadi pergeseran dan perubahan politik di Belanda.

Dari sepotong sejarah ini pula, berlaku “adagium” agama raja atau kaisar akan menjadi agama rakyat. Ini semua di jaman sebelum kesadaran kebebasan beragama dan menghayati iman dan keyakinan menurut agamanya masing-masing menjadi deklarasi hak azasi manusia sedunia.

Karena itu logika penalaran memberi simpulan mata budi untuk memahami mengapa di museum wayang yang sekarang ini dimakamkan Gubernur Jendral Jan Pieter Zoon Coen pendiri Batavia; van Imhof pendiri akademi maritim, pusat-pusat belanja dan gedung seni Batavia. Mengapa?

Karena gereja dalam tradisi Kristen Eropa abad tengah sekaligus rumah ibadah dan makam “petinggi” atau mereka yan dihormati semasa hidupnya.

Namun kita akan berhenti sejenak ke makam gubernur van Imhoff karena dia-lah pemberi ijin terbit surat kabar pertama di Batavia atas permintaan keperluan kabar lelang, informasi kota maupun pendapat dalam Bataviase Nouvelles 1744 dan hanya hidup tidak sampai 2 tahun lalu dibreidel karena kekuasaan di Belanda khawatir pada perkembangan sebuah koran di tanah jajahan yang cepat lambat akan mengorek keburukan praktek dagang monopoli V.O.C. dan keburukan penguasaan lain.

Mata hati berkat pengetahuan budi dengan mata budi berguman, bila majalah ini setelah 200 tahun mati, lalu kini dihidupkan lagi dan sedang Anda baca maka sebuah proses melihat di balik bangunan kuno dan membaca dengan mata budi dan hati dimulai terus dan menerus sebagai proses “menghidupkan yang mati dari kuburan atau makam” untuk diberi roh hidup demi peradaban cinta hidup daripada budaya mati, budaya kuburan.

Apalagi budaya memberi roh hidup pada bangunan gereja dan kuburan kini “diberi roh baru” yaitu museum wayang di sana.

Mengapa Wayang?

Wayang sebagai media komunikasi pada jamannya adalah sekaligus memuat visualisasi bayang dan raga boneka dari kulit yang memberi ajaran kebijaksanaan hidup lewat drama puncak yang baik mengalahkan yang angkara jahat: Pandawa mengalahkan para Kurawa, itu satu tanghapan pemahaman mata budi dan mata hati.

Namun sang dalang yang memainkannya juga menempatkan diri sebagai “story teller” dan menjadi pelaku dari puluhan watak penokohan dengan cerita yang bermakna disesuaikan dengan ritual mohon selamat, mohon berkah dan mohon tata tenteram jagat dari bencana. Jadi bila pandangan mengenai kebijaksanaan hidup (wisdom of life) dalam falsafah Jawa memiliki 3 lapisannya mulai dari lapisan pandangan asal mula manusia dalam perjalanan lingkar siklus jagat atau “Sangkan Paraning Dumadi”, sebagai lapis pertama, lewat wayang orang belajar mencari tuntunan hidupnya, maknanya dengan menonton wayang kulit.

Tempat duduk anak-anak sampai remaja dan mereka yang dewasa dan sepuh tua dibedakan. Yang di depan layar, yang melihat keindahan warna merah raksasa, warna putih ksatria dan keindahan ukiran tatah kulit berseni tataplah untuk mata indra para anak-anak yang menyukai yang eksotis dari warna-i wayang kulit di layar depan.

Sementara di layar belakang tepatnya di balik lampu minyak bergetar, jejeran para dewasa dan sepuh duduk melihat bayangbayang yang dipantulkan layar dalam tampilan hitam-putih bayangan, “wayang yang dibaca dengan mata hati sebagai roh sejatinya manusia atau jatinya jati manusia hanyalah bayangan sukma bila ia sudah mampu mengendalikan dengan mati raga, laku tapa disiplin raganya, ya badan fi siknya.

Di sinilah perubahan melihat dengan indra fisik untuk mau melihat dengan mata hati makna bayang sukma manusia yang belajar tidak terikat pada dunia fi sik untuk rela nanti menjadi bayang sukma kembali ke asal mula dunia roh, diwujudkan dalam seluruh pertunjukkan wayang.

Lapis kedua falsafah Jawa yang memuat acuan laku bijaksana dan laku jahat ditradisikan dalam ajaran memetik buah tindakan atau perilaku manusia (“ngundhuh wohing prakarti”). Dalam siklus semalaman pertunjukkan wayang kulit untuk ajaran ethos ini ditaruh tepat setelah tengah malam ketika perang batin memilih laku bijak atau baik awalnya selalu hanya “perang semu” (perang kembang) godaan rayuan akan harta, kuasa, nikmat antara ksatria dan para raksasa diwakili raksasa Cakil melawan Arjuna di belantara hutan saat ksatria mencari “ilmu kebijaksanaan hidup: jatinya kidung” dalam samadi.

Perang sesungguhnya terjadi setelah perang kembang sehari-hari dengan puncak dibunuhnya kejahatan oleh ksatria hingga kebaikan menang dan huru-hara atau “goro-goro”: kacau lucu, bergoyangnya tata harmoni kembali di tata dan keselarasan alam pulih kembali.

Lapisan ketiga falsafat Jawa merupakan jalan hening lawatan menziarahi kebahagiaan hidup yang dikenyam dihayati bila hamba atau “kawula” sudah menyatu dengan Gusti-nya (“manunggaling kawula Gusti”).

Proses ini ditempuh dengan mata hati, tidak lagi jalan mati raga mati indra, tidak lagi lewat pengetahuan mengenai hidup dengan logika mata budi, tetapi intuisi mata hati mengiyakan, menghayati, kesatuan dengan asal mula dan tujuan hidup yang populer dengan jalan kebatinan.

Dari museum wayang, yang Anda lihat di sana mata indra akan menangkap seni ukir wayang dan asal wayang-wayang kulit yang sudah dimaknai lukis-lukis warna budaya dari Jawa, Melayu, India, Vietnam, Kamboja, Malaysia bahkan negara-negara lain ketika budaya wayang melintasi pulau-pulau.

Di museum wayang ini, Anda akan mengenali betapa seni lukis wayang bebe atau layar merupakan lanjutan dari cara mengajar tuntunan dalam bentuk “layar terbeber (terbentang)”.

Persoalan menghidupi lagi hurufhuruf mati ukiran kulit wayang menjadi hidup untuk generasi muda yang canggih berbahasa dan budaya tontonan “flash-flash” audio visual memang menjadi tantangan agar mata baca kita tak hanya fisik tetapi ke hati pula. Museum wayang punya program untuk anak-anak remaja sekolah dari SD sampai SMA. Ada program pula untuk semakin mencintai wayang. Namun guruguru biasa yang menjadi jembatan-jembatan ntuk itu sedang dicari dan semakin engecil oleh desakan layar-layar teve yang lebih eksotis bagi yang muda.

Lawatan sejarah melihat di balik bangunan menjadi tantangan kita semua! []

One Response

  1. punya denah nya gak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: