Langit Selatan

sebuah kubah sisa mesjid zaman lalu
dan bukit teropong bintang –
puing kejayaan tak terjangkau…

langit.jpg

Sebuah ledakan aneh terjadi di langit kabupaten Ngada. Suaranya
menggelegar – memecah keheningan. Seperti ada dentuman. Membuat warga semburat. Melongok ke atas. Dan menyaksikan ada seperti percikan api di angkasa. Belum diketahui apa yang terjadi di langit Flores itu. Peristiwa alam apa. Apakah itu meteor atau satelit yang jatuh kita tak tahu.
Berita koran beberapa minggu lalu itu lenyap. Tenggelam oleh kejadian lain yang memiriskan: gempa di Bukit Tinggi – yang memboyakkan Ngarai Sianok.

Makin lama alam kita makin menampilkan perangai tak terduga. Kawasan-kawasan kita yang dikenal tenang, sekonyong-konyong tertiban bencana. Dan sepertinya kita tak akrab dengan alam karena selalu gagal memprediksi gejolaknya. Kita tak akrab dengan perairan kita. Kita tak akrab dengan langit kita. Tak ada kecintaan untuk memperhatikan karakter dan gelagatnya.

Semoga itu salah. Hari itu, saya menuju toko buku milik Jose Rizal Manua di pojok Taman Ismail Marzuki. Seperti biasa saya melewati planetarium. Hari itu banyak sekali anak-anak sekolah antri di pintu planetarium. Menyenangkan, melihat anak-anak ini tertarik untuk belajar mengetahui benda-benda langit. Beberapa kali di situ diadakan pekan astronom amatir, dengan peserta cukup banyak.

Dan ingatan kita bisa melayang bahwa pernah sekali waktu di tanah Priangan hidup seorang Tuan bernama Karel Albert Rudolf Boscha. Ia seorang juragan perkebunan yang memiliki minat terhadap astronomi dan berhasrat besar mengetahui benda-benda langit di kawasan langit selatan.

Hindia Belanda terletak di bawah langit selatan. Bila langit utara waktu itu telah banyak diamati oleh observatorium di Eropa, maka langit selatan masih sebuah terra incognita. Tergerak untuk penelitian langit selatan ia menghidupkan Nederlandsch Indische Sterrenkundige Vereeniging – Perkumpulan Astronom Hindia Belanda. Ia juga menghibahkan tanahnya di Lembang yang sejuk itu untuk pendirian observatorium.

Bukan itu saja, seperti pernah ditulis astronom senior kita Prof Bambang Hidayat, Boscha ikut mengeluarkan dana untuk pembelian teropong-teropong. Tahun 1921 ia keliling Eropa untuk konsultasi dengan astronom-astronom Eropa. Proses pembelian ini memakan waktu lama. Hampir tujuh tahun lamanya, bangunan observatoum yang sudah berdiri tegak di Lembang dan rancang arsiteknya dibuat Schoemaker itu – kosong belum terisi.

Dan hari itu tanggal 10 Januari 1928, kita bayangkan hati Boscha berdebar-debar ketika melihat kapal Kertosono milik Rotterdamsche Llyod merapat di pelabuhan Batavia. Kapal itulah yang membawa pesanan teropong dari Jerman.

Semua pihak di Hindia Belanda serasa bahu membahu. Di observatorium Jawatan Kereta api telah menyiapkan bantalan rel untuk tempat memutar teropong. Kiriman teleskop yang berada dalam 27 peti kemas berbobot 30 ton tersebut kemudian dinaikkan kereta api secara gratis ke Bandung. Sesampai di Bandung, peti kemas itu dijemput oleh batalyon zeni Hindia Belanda

Dari Lembanglah kemudian lengan galaksi Bima Sakti dapat dipantau. Misteri langit selatan sedikit terkuak. Tapi mungkin untuk kepulauan seluas ini memiliki hanya satu observatorium untuk pengamatan terasa kurang. Perlu ada observatorium-observatorium lain yang tersebar di titik-titik strategis. Di Flores, Sulawesi dan lainlain.

Jepang adalah sebuh contoh. Dari Jepang dapat diamati benda-benda langit di kawasan langit utara seperti: Cassiopea, Polaris, Ursa Mayor, Ursa minor. Dan yang menakjubkan, adalah Jepang tak hanya memiliki satu observatorium. Sebagaimana tiap kota di Jepang memiliki gedung-gedung teater, tiap kota juga memiliki observatorium atau planetarium. Jepang seolah sadar betul, bahwa mengamati langit seolah menginspeksi diri sendiri.

Saya teringat sajak Sitor Situmorang yang saya kutip di atas. Tahun 1968 Sitor diundang oleh Himpunan Pengarang Uzbezkistan, dan ia mengelana. Sampai di Samarkand ia terkesima menyaksikan bekas sebuah observatorium kuno. Meski tak terpakai lagi, observatorium itu tetap menyisakan jejak-jejak kecintaan menjelajah langit.

Carl Sagan, ahli astronomi Amerika mencatat bahwa memang banyak peradaban kuno terlihat gairah untuk meneliti langit . Ditarik jauh kebelakang melebihi Samarkand di Chaco Canyon Meksiko, tulisnya ada sebuah kuil besar dari abad 11 khusus untuk mengamati pergerakan matahari dan bulan. Langit adalah sebuah kalender raksasa. Memahami langit sama seperti memahami kehidupan dan kematian. Gairah itu juga ditampakkan oleh pola-pola batu-batu megalitik Stonehenge di Inggris atau Great Plains Amerika Utara.

Penelitian-penelitian arkeologi kita memang tak mencatat ada situs-situs purbakala kita yang berhubungan dengan astronomi. Tapi kita tahu nelayan-nelayan tradisional Bugis seperti juga nelayan-nelayan pulau Rote ratusan tahun melaut dengan tuntunan rasi bintang. Kita juga tahu para empu keris kita misalnya telah mafhum akan meteor sebagai komponen utama tosan aji. Mereka menyebutnya watu lintang atau batu bintang. Mereka tahu bahwa melewati atmosfer bumi, ada bagian tak terbakar, yang tahan panas (titanium) yang cocok untuk bahan keris.

Pada pertengahan abad 18 misalnya sebuah meteor jatuh di daerah Prambanan. Meteor itu pecah menjadi dua bagian. Membentuk lubang sedalam 3 meter. Oleh Sri Pakubuwono III, kedua pecahan itu disuruh dibawa ke keraton. Kedua meteor itu menjadi banyak bahan dasar pembuatan tosan aji keraton.

Saya ingat almarhum Prof Wisnuwardhana, seorang penari dan pelaku Kejawen, mengatakan bahwa kebudayaan Jawa memiliki khazanah palintangan –yang sangat tua. Jawa memiliki khazanah membaca langit secara teliti. Sebuah pengamatan empiris yang diverifi kasi selama ratusan tahun.

Beberapa waktu lalu, masih sore, tiba-tiba langit Jakarta dikuasai awan hitam. Langit begitu gelap. Belum pernah Jakarta segelap itu.
Seluruh langit hitam, hanya sebidang kecil terang. Suasana kontras dan dramatik. .Seorang teman berseloroh itu tak ada dalam definisi primbon Jawa. Di Jawa bila menjelang maghrib tiba-tiba senja muncul merah membara, itu berarti lampor–pasukan Nyi Roro kidul lewat.

Bila seorang menyaksikan ada pelangi terbalik (lintang bathang) maka itu sasmita seorang pemimpin bakal meninggal. Tapi seperti dapat kita saksikan dalam film dokumenter mengenai Al Gore dan pemanasan global : An Inconvenient Truth, A Global Warning, di era kini mungkin lebih banyak muncul gejala-gejala alam yang tak bisa ditengarai masa lalu karena begitu drastisnya perubahan iklim.

Boscha meninggal tanggal 26 November 1928 — hanya 10 bulan setelah teropong yang dibelinya tiba di Batavia. Ia tak sempat mengenyangkan hasratnya mengurai anatomi langit selatan secara ilmiah. Tak banyak yang kita tahu tentang kehidupan lelaki Belanda ini, karena sejarawan-sejarawan kita terasa kurang minat menelitinya. Yang kita tahu langit selatan kita ternyata masih menyimpan banyak teka-teki. [WIKANA]

2 Responses

  1. langit selatan memang menarik untuk dikaji . mungkinkah kehidupan lain itu ada ditemukan di tata surya lain.

  2. JASA PEMBUATAN IJAZAH
    ANDA BUTUH IJAZAH UNTUK MENCARI KERJA / MELANJUTKAN KULIAH / KENAIKAN JABATAN ?!?!
    KAMI JASA PEMBUATAN IJAZAH SIAP MEMBANTU ANDA UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN IJAZAH UNTUK BEKERJA ATAU MELANJUTKAN SEKOLAH / KULIAH.
    BERIKUT INI MERUPAKAN JASA YANG KAMI SEDIAKAN.

    -SMU:3.000.000
    -D3:6.000.000
    -S1:8.000.000

    * AMAN, LEGAL, TERDAFTAR DI UNIVERSITAS / KOPERTIS / DIKTI, BISA UNTUK MASUK(PNS, TNI, POLRI).

    JUGA MELAYANI PEMBUATAN SURAT SURAT PENTING SEPERTI:SIM, STNK, KTP, REKENING BANK, SURAT TANAH, AKTE KELAHIRAN.BPKB, N1, SURAT NIKAH, DLL.

    SYARAT:KTP/SIM,FOTO BERWARNA DAN HITAM PUTIH,UNIVERSITAS YANG DITUJU,IPK YANG DIMINTA(MAX 3,50),TAHUN KELULUSAN YANG DIMINTA,ALAMAT PENGIRIMAN YANG DIMINTA.KIRIM KE: pembuatanijazah@yahoo.co.id

    HUB: 085736927001.

    (HANYA UNTUK YANG SERIUS SAJA)

    Nb:Semua manusia berhak meiliki pekerjaan dan pendidikan yang layak,entah dari kalangan atas,menengah dan bawah.Maka dari itu kami ada untuk anda yang mebutuhkan ijazah atau surat-surat penting lainnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: