Air Jakarta

Sebuah sindrom terlampauinya daya dukung

Prof Dr Otto Soemarwoto

prof-otto.jpgSehari-harinya Jakarta kekurangan air. Dalam musim hujan Jakarta banjir. Dalam lima tahun terakhir Jakarta dilanda banjir besar dua kali.
Dalam tahun 2002 dan 2007.
Baik kekurangan air maupun banjir dianggap masalah air. Solusi yang dicari juga terbatas pada penanganan masalah air, seperti membuat bendungan dan banjir kanal. Padahal masalah air hanyalah sebuah gejala dalam sindrom terlampauinya daya dukung lingkungan hidup (LDD).

Sebuah sindrom adalah kumpulan gejala yang menengarai sebuah penyakit. Misalnya, AIDS adalah sebuah sindrom penyakit yang disebabkan oleh virus HIV dengan berbagai gejala, seperti kanker, mencret, infeksi paru-paru, dll.
Masing-masing gejala perlu diobati, tetapi pusat perhatian adalah menangani virus HIV tersebut. Seperti halnya pada AIDS, pusat perhatian penanganan Jakarta haruslah pada sindrom LDD. Jadi harus dicari penyebab sindrom LDD.

Untuk hidupnya makhluk hidup membutuhkan air, udara, pangan dan ruang hidup. Bagi manusia air tidak hanya untuk minum, melainkan juga untuk mandi, mencuci mobil dan produk si pangan, kertas, pakaian dll. Makin “modern” seseorang, makin besar kebutuhan airnya.

Di Jakarta air PAM tidak mencukupi. Air pun dipompa dari tanah.
Dan Jakarta mengalami ke amblesan tanah. Kelebihan air dalam musim hujan makin sulit untuk dibuang ke laut. Jakarta yang landai dan sebagian wilayahnya terletak di bawah permukaan laut, makin rentan terhadap banjir. Keamblesan tanah merusak riul Jakarta. Terjadilah pencemaran ai tanah. Air PAM pun tercemar.
Penggunaan air itu telah melampaui daya dukung.

Manusia hanya dapat hidup jika mendapat udara terus-menerus. Jika dalam beberapa menit saja tidak mendapat udara, manusia akan mati. Udara itupun harus memenuhi kualitas yang mencukupi. Oksigennya harus cukup dan tidak bo leh mengandung zat beracun. Beberapa zat merupakan racun yang mematikan, misalnya CO. Dalam kadar rendah banyak zat mempunyai efek peracunan kronik, misalnya NOx dan timbal.

Udara mempunyai kemampuan untuk membersihkan diri, misalnya penyebaran dengan angin, reaksi kimia tertentu dan penyerapan oleh tumbuhan. Tetapi jika laju produksi zat pencemar melampaui laju pembersihan diri, terjadilah akumulasi zat pencemar. Udara itu tidak lagi layak untuk pernafasan. Peracunan kronik terjadi pada penduduk Jakarta. Misalnya, meningkatnya penyakit ISPA dan asma oleh zat padat halus, NOx dan ozon serta menurunnya IQ balita kita oleh timbal. Kualitas sumber daya manusia turun.
Kerugian ekonominya ditaksir sebesar US$250 juta/tahun.

Pencemaran udara telah melampaui daya dukung pemulihannya.
Ruang hidup diperlukan oleh semua makhluk hidup. Jakarta mengalami pertumbuhan eksponensial. Jakarta penuh sesak. Bantaran sungai di penuhi perumahan. Sungai menyempit. Ruang hijau terbuka (RTH) makin berkurang. Produk si sampah meningkat. Sungai Jakarta tersumbat sampah dan eceng gondok yang tumbuh subur. Banjir meningkat. Limbah MCK juga merupakan sumber penyakit muntahberak.

airjkarta.jpg

Jalan-jalan macet. Jakarta tumbuh menjadi metropolitan Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi. Jarak ke tempat bekerja makin jauh. Berjam-berjam orang harus naik kendaraan pulang-pergi kerja. Setiap hari kerja sekitar 750.000 kendaraan keluar masuk Jakarta. Jalan pun macet, meskipun telah dibangun jalan tol.

Kemacetan meningkatkan pencemaran udara dengan segala dampak kesehatannya. Waktu per jalanan yang makin panjang sangat melelahkan dan menurunkan kinerja. Penduduk mengalami stres psikologik. Setiap akhir pekan dan hari libur orang berekreasi ke Ancol dan Puncak untuk melepaskan diri dari stres.

Tetapi kemacetan lalulintas bukannya membuat rileks, melainkan malah bertambah stres. Hidonisme, minum keras dan narkoba menjadi pula cara untuk mengurangi stres. Yang kaya membuat rumah peristirahatan di Puncak. Pembangunan Puncak menaikkan risiko banjir. Pertumbuhan Bodetabek memakan lahan pertanian subur dengan irigasi teknisnya. Petani tergusur.

Mubazir pulalah ratusan juta dolar investasi pembangunan Waduk Jatiluhur dan sarana irigasi Pantura. Luas panen turun. Dosis pupuk dan pestisida diperbesar untuk menaikkan produksi padi per hektar. Tapi nisbah produksi terhadap dosis pupuk dan pestisida turun. Untuk produksi setiap ton padi harus digunakan pupuk dan pestisida makin banyak. Rusaklah keseimbangan antara hama dan penyakit dengan musuh alami hama dan penyakit. Terjadilah ledakan hama dan penyakit secara periodik. Pencemaran tanah, air dan produk pertanian naik. Laju jumlah penduduk melampaui daya dukung ruang hidup.

Dari segi politik daya dukung Jakarta pun terlampaui.
Daerah iri hati pada Jakarta. Jakarta mengalami banjir besar. Tapi tak ada gaung di daerah untuk membantu Jakarta. Propinsi yang kaya minyak, batu bara dan mineral merasa dieksploitasi Jakarta. Sentimen separatisme merebak.

Nampaklah, banjir hanya salah satu gejala sindrom LDD.
Masalah ini hanya dapat diatasi dengan menurunkan tekanan pada daya dukung Jakarta. Marilah kita belajar dari negara lain. Di Amerika Serikat ibu kotanya bukanlah New York, sebuah kota bisnis utama.
Di negara bagian pun ibu kotanya bukanlah kota dagang besar. Ibu kota negara bagian New York bukanlah New York, melainkan Albany. Sebuah kota kecil.
Di California ibu kotanya bukan San Francisco atau Los Angeles,
melainkan Sacramento. Sebuah kota kecil pula. Kita tahu New York, Los Angeles dan San Fransisco. Tetapi berapa di antara kita yang kenal Albany dan Sacramento? Washington, DC, Albany, dan Sacramento adalah pusat pemerintahan dan politik.

Seyogyanya kita meniru sistem ini. Jakarta tetap ibu kota negara.
Ia pusat pemerintahan dan politik. Bukan pusat bisnis. Berdasar otonomi daerah dan konsep desentralisasi dipacu kegiatan ekonomi di seantero Indonesia, misalnya Biak, Makassar, Balikpapan, Medan dan Banda Aceh. Desentralisasi serupa dilakukan di propinsi.

Sebaliknya diberi disinsentif untuk investasi dagang di Jakarta, tetapi diberi insentif untuk investasi pendidikan, kesehatan dan litbang iptek. Pembangunan menyebar merata dan adil. Pemisahan antara pemerintahan dan bisnis mengurangi KKN. Transpor laut pun terpacu merajut seluruh kepulauan menjadi satu. Jakarta bukanlah Indonesia dan Indonesia bukanlah Jakarta. Arus migrasi ke Jakarta menurun. Pertumbuhan Jakarta terkendalikan dan keambrukannya terhindari. Penyedotan air turun. Laju keamblesan tanah turun. Pencemaran air juga berkurang. Penggunaan kendaraan berkurang.

Udara menjadi bersih. Jalan dapat dipersempit dan trotoar diperlebar. RTH bertambah. Kepadatan hunian berkurang. Kebutuhan membuat vila di Puncak berkurang. Risiko banjir turun. Bisnis berubah dari dagang ke bisnis apartemen, hotel, pendidikan dan litbang iptek, layanan kesehatan canggih serta pariwisata kebudayaan dan sejarah.

Berkurangnya lalulintas, bertambahnya RTH dan menurunnya kepadatan hunian menurunkan stres psikologik. Sindrom LDD teratasi. Jakarta menjadi hijau, indah, aman, nyaman dan sehat. Kualitas hidup naik. Daerah tidak iri, melainkan seluruh bangsa bangga pada Jakarta. Sentimen separatisme menurun.
NKRI makin kokoh?.[]

One Response

  1. […] – Prof. Otto Soemarwoto punya gagasan […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: