Hidup yang Jazzy

oleh: Danarto

Hidup tentu tidak punya patokan. Jika ada yang merasa punya patokan, itulah bukan hidup. Contohnya:
ketika kita bangun pagi, pekerjaan di kantor sudah menunggu meski di kantor sebenarnya tidak ada pekerjaan. Saking banyaknya PNS yang tidak punya pekerjaan di
kantor, ini berarti tidak sangkil dan mangkus, jutaan orang, Menteri PAN ingin mem-phk mereka. Sekitar 2 juta jiwa kalau nggak salah jumlahnya. Wah, jangan dong, Pak Menteri. Jangan pernah terjadi. Soalnya, mem-phk itu mudah, tapi beban sosialnya, berat betul. Mau ngirit seribu rupiah, akibatnya bisa rugi sepuluh ribu rupiah. Perhitungan phk bukan perhitungan untung rugi, melainkan: nyawa. Biar kita sama-sama miskin, asal sama-sama merasakannya.

Dahulu kala ada seorang raja yang merasa beban yang disangga kerajaannya begitu berat lalu melakukan pemecatan terhadap pegawainya. Jumlahnya sekitar dua juta orang.
Akibatnya, mengerikan. Banyak yang mati kelaparan. Ribuan. Lalu muncul seorang jawara yang suka mengutak-atik apa saja. Sang jawara lalu memproklamasikan berdirinya kerajaannya miliknya. Rakyatnya terdiri dari para phk-wan dan phk-wati itu. Luar biasa. Hasilnya: kerajaan sang jawara jauh lebih adil, makmur, dan benar, daripada kerajaan sang raja. Memang, orang yang suka mengutak-atik apa saja, jauh lebih banyak melihat kemungkinan.

Hidup tentu tidak punya patokan. Jika ada yang merasa punya patokan, itulah bukan hidup. Di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, orang menyadari benar bahwa hidup itu dapat ditafsirkan menjadi, katakanlah tujuh tafsir.
Ah, sebaiknya tak usah memakai angka. Multi tafsir, begitulah. Lalu, muncullah berbagai gaya hidup. Dari yang menyenangkan sampai yang menyenangkan sekali. Apa itu? Pokoknya, menyenangkan sekali. Sebut saja, hidup yang jazzy. Apa karena festival Java Jazz, berlangsung pada 2* 3*4* Maret 2007, lalu membawa-bawa nama jazz? Bukan. Itu gaya hidup yang hidup sudah beberapa waktu yang lalu..

Ini gaya hidup yang spiritual digabung dengan yang sekuler, katakanlah begitu. Ini gaya gabungan dari salat lima waktu, ngobrol di café, melakukan korupsi, dan berselingkuh.
Salat lima waktu merupakan kuwajiban. Sedang yang lainnya adalah hasil improvisasi. Lho, kok banyak betul improvisasinya? Lha orang namanya juga jazz!

Tentu saja itu gaya hidup yang sulit. Bagaimana mungkin, melaksanakan salat lima waktu tapi melakukan korupsi, mana ada. Ya, saya juga percaya kalau itu tidak mungkin.
Yang korupsi, pasti tidak salat. Agaknya itu teori yang kena. Lalu berselingkuh? Aduh, Mak. Itu hil yang mustahal, kata Asmuni (lho, hiya, baru ingat. Asmuni ke mana saja, ya?) Yang berselingkuh pasti tidak salat. Ya, saya percaya itu. Kok percaya terus, sih? Karena empat hal itu tidak mungkin hidup dalam satu tindakan seseorang, berarti gaya hidup yang jazzy itu tidak ada. Ya, saya percaya itu. Wah, payah, itu, percaya melulu!

Tapi, ingat, Bung! Ini Jakarta! Siapa suruh datang Jakarta! Banyak teori mendorong kita tidak usah repot-repot memikirkan begitu banyak improvisasi. Ini, jazz, Bung! Yang tidak banyak improvisasinya, bukan jazz.

Siapa pun yang ke café pasti merasakan akibat kemacetan lalu-lintas. Kehidupan rumahtangganya bagus tapi berimprovisasi juga, ya, karena lalu-lintas macet. Bukan apa-apa atau siapa-siapa, kemacetan lalu-lintaslah yang banyak maunya. Mula-mula tak suka bir. Begitu kenal café, jadi ketagihan bir. Lalu meningkat ke wine. Karena lalu-lintas macet, lahirlah gaya hidup yang jazzy itu. Agaknya inilah kesimpulan yang elok. [DANARTO]

3 Responses

  1. […] KOLOM – Danarto dan hidup yang Jazzy […]

  2. thanks y atas sarannya

  3. thanks for your informations^^
    i really need it!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: