Che Guevara dan Benyamin Ala Taring Babi

distro.jpg

Bisnis Distro (distribution) kini tak bisa dianggap enteng. Meski sistem penjualannya bisa dikatakan underground (bergerilya) – dan biasanya hanya menggunakan sebidang ruangan gudang atau pavilyun sebagai showroom, bisnis ini menjadi bisnis yang ternyata bisa mempengaruhi trend anak-anak muda.

Komunitas Taringbabi, dari Setu Babakan, Jakarta, misalnya, pada tahun 2000 membangkitkan kembali Benyamin S sebagai ikon. Namun Benyamin mereka gambar kembali memakai baret ala Che Guevara, tokoh revolusioner dari Amerika Latin. Kini, luar biasa desain ciptaan Bobi itu menjadi ikon Jakmania, penggila bola kesebelasan Persija, Jakarta.

Beberapa komunitas reggae Jakarta pun menyandingkan wajah Benyamin S dengan Bob Marley, raja reggae dari Jamaika, dengan teks: “Ben Marley”. Atau produk Bakung Vibration dari Joel Thaher, satu-satunya distro untuk komunitas reggae di Jakarta yang menawarkan desain-desain teranyar, dari kaos, topi, gelang, tas hingga pakaian dalam perempuan.

Distro di Jakarta kini mulai menggeser merek-merek lokal kebanyakan produksi clothing company besar yang sudah punya nama. Harga yang murah adalah keunggulan Distro. Sepotong kaos bisa seharga Rp.30.000. Desainnya banyak menampilkan simbol-simbol kebebasan kaum muda. Kata-kata segar seperti “Ngehe!”, “Mantraps!”, “Pang Nat Det” muncul di kaos, emblem dan pin. Tidak ada di kamus umum. Tak heran jika Distro, benar-benar lebih mampu merebut hati anak muda.

Letak distro menyebar di seantero Jabotabek, mengisi ruang publik, dan menggunakan paviliun rumah tinggal atau gudang. Selain sebagai tempat jual beli, distro-distro juga merupakan tempat bertukar informasi, aktivitas nonton film bareng, diskusi dan workshop. “Beberapa acara gig komunitas underground juga mendapat dukungan finansial dari distro-distro. Pokoknya, tetap berdikari, do it yourself!” kata Dodi Cahyadi, manager produksi komunitas Taringbabi mantap.[HASKA]

divider-00.jpg

Survei Membuktikan: Distro Paling Top


Selama ini boleh dikata belum ada riset komprehensif untuk menggambarkan ”anatomi” anak muda Indonesia yang kini populasinya sekitar 44 juta jiwa atau 20 persen populasi. Ogilvy Public Relations, Jakarta di tahun 2006, maka berusa melakukan pooling tentang kehidupan anak muda.
Riset digelar di Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Makassar, Medan, dan Yogyakarta. Total responden 385 pasang anak muda berusia 15-24 tahun. Mereka diwawancarai secara mendalam berkali-kali. Sebagian responden diikuti irama hidupnya secara intensif.
Hasilnya? Sebagian besar responden, 61 persen, menjalani hidup dengan gaya DIY [do it yourself]. Pendek kata, “gue banget, Jroot!” Semangat independen, antikemapanan, jadi tema utama anak muda.
Mayoritas responden, 92 persen bergerak, terutama pada komunitas bawah tanah (underground). Distro, yang menjamur beberapa tahun belakangan, salah satu patokannya. Toko khas anak muda ini tersebar sampai ke gang sempit, unjuk gigi di latar-latar urban. Filosofi do it yourself membuat anak-anak muda itu tak mudah terpikat oleh merek.[SKA]

5 Responses

  1. simple, padat tapi berbobot tapi coba ceck lahi kata penulisannya apakah sudah betul,

  2. Yoi..bener banget tuh,kayanya kaos2 yang nyeleneh dan penuh ide baru kudu dibanyakin,jangan terpengaruh oleh arus mainstream yang ada!
    Bravo PERSIJA FC!!!

  3. ok deh coba lo liat di http://palelo.wordpress. disana juga jual kaos khas jakarte Punye loh boleh liat

  4. DISTRO[SADIS TP KATRO]

  5. q ngefens bnget ma taring babi.hidup p adanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: