Tuhan menciptakan banjir…

banjir.jpg

Ya, Tuhan lah yang menciptakan banjir. Sebagai rutinitas untuk memelihara kelangsungan hidup alam. Jika itu menjadi bencana, maka itu karena ulah kita sendiri yang tidak memperhatikan hukum-hukum alam. Air selalu mengalir mengikuti hukum gravitasi, hukum alam, sunatullah. Hujan, sungai, laut… agaknya semua sudah tahu bahwa karakternya juga air, berlaku sifat-sifat dan hukum yang sama.

Ini catatan pribadi. Bukan artikel yang dimuat di Bataviase Nouvelles.

Meski saya orang Jakarta, tak urung selalu agak emosi jika istilah banjir kiriman digunakan. Bukan emosi karena merasa dikirimi, atau merasa punya andil mengirim banjir, tapi.. sadarkah anda bahwa istilah itu, dulu dilontarkan oleh orang yang terbiasa melemparkan kesalahan pada orang lain. Menutupi kelalaiannya dalam mengatur pengendalian banjir. Dengan kata lain, membodohi orang banyak dengan pengetahuannya.
Itu yang membuat emosi agak naik. Apalagi sekarang, ketika sekitar 60% Jakarta terendam, 200an ribu orang menjadi korban. Betapa banyak kerugian langsung, lahir dan batin masing-masing orang, perusahaan, kota dan negara. Belum lagi yang diderita di kota dan negara lain yang terkena dampak kelumpuhan Jakarta…

Sudah saatnya setiap orang menyadari, terutama masing-masing kita yang punya peran melayani atau terkait dengan kepentingan publik, sekecil apa pun perannya akan memiliki dampak luarbiasa terhadap masyarakat. Langsung, seketika, ataupun nanti sepuluh dua puluh tahun lagi…
Jika kita melaksanakannya dengan baik, tentu dampaknya pun nanti luarbiasa bagusnya. Andai kita tidak berkesempatan menikmatinya, masih ada anak, ponakan, cucu, yang tentu akan berterimakasih dan mendoakan segala yang terbaik bagi arwah kita…

Sebagian besar orang menuding ini akibat kelalaian pemerintah, terutama DKI dan jajarannya. Itulah salah satu kebiasaan kita yang buruk: menganggap kesalahan pasti ada di pihak lain. Kesalahan dan kelalaian memang ada dan banyak, tapi apakah kita sendiri tidak punya kesalahan?

Ingatlah ketika kita membuang sampah seenaknya; tidak pernah mau tahu kondisi selokan di depan rumah atau kantor; tidak membuat sumur resapan yang diwajibkan; meminta komisi proyek (sehingga materi dikurangi, dan kualitas ambur-adul); menerima uang yang tidak diketahui asal usulnya (setoran illegal para pengguna daerah kekuasaan sungai); membiarkan dan menertawakan kesalahan orang (akibatnya kita juga yang merasakan); dan banyak kelakuan lainnya yang nurani kita selalu (atau pernah?) memberitahu bahwa itu tindakan tidak terpuji.

Konsep sustainable development di mancanegara sudah mulai wajib diterapkan di setiap proyek dan produk undang-undang yang baru, di negeri tercinta ini sosialisasinya saja belum. Padahal inti konsep itu sejak dulu sudah diajarkan dan diterapkan sejak zaman Hindu, Budha hingga Islam: “Hai manusia, janganlah melakukan perusakan di muka bumi….”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: