Musik, Vespa, dan Wanita

IIC

Perkenalkan Ostelio Remi. Dengan mengendarai Vespa, direktur-atase kebudayaan Istituto Italiano di Cultura ini menyusuri jalan-jalan di Jakarta bertemu dengan orang-orang penting, dari pengusaha, bankir, akademisi, seniman hingga siswa-siswa dari beberapa sekolah di Jakarta yang ingin mengetahui kebudayaan Italia lebih dekat.

“Dengan vespa saya bisa pergi ke mana saja dengan cepat dan berurusan dengan orang yang VVVIP (Very-very-very Important Person-ed) seperti Miranda Goeltom, dengan vespa saya masih dapat berpenampilan elegan,” ujar Ostelio Remi sambil menebar senyumnya yang hangat.

Di lingkungan kerja Istituto Italiano di Cultura (IIC)Jakarta, para staff menyapa Ostelio Remi sebagai Profesor dengan rasa hormat yang dalam. Pria energetik kelahiran Urbino, Italia, ini telah empat tahun bertugas di Jakarta. Sang Profesor telah melanglang dunia bertugas sebagai direktur-atase kebudayaan IIC di beberapa kota seperti Beirut-Lebanon, Melbourne-Australia, Vilnius-Lithuania. Ia banyak menulis di jurnal ilmiah dan katalog pameran senirupa, terlibat merancang festival seni dan mengajar. Sebagian besar hidupnya didedikasikan pada dunia pendidikan dan kebudayaan. Profesor Ostelio Remi mempunyai keyakinan yang kuat bahwa dengan program seni dan budaya yang disuguhkan kepada publik dapat menciptakan saling pengertian, toleransi dan mencerahkan pikiran.

Selama empat tahun Sang Profesor memperkenalkan kesenian Italia di Indonesia, mengundang seniman Italia bekerjasama dengan seniman Indonesia dan mengundang para perupa Indonesia berpameran di Italia. Ia memberi apresiasi yang tinggi pada karya seni Indonesia seperti lukisan dan instalasi Made Wianta, patung Dolorosa Sinaga dan film karya sineas Nia Di Nata yang diperkenalkan lewat ajang festival film di Roma. Masyarakat Italia memberi acungan jempol bahwa seni modern Indonesia sama baiknya dengan karya seni tradisional dan kerajinan tangan Indonesia.

Selama ini untuk mengenal kebudayaan Indonesia, sang profesor langsung terjun ke beberapa daerah, mengamati dan melakukan dialog dengan para seniman. “Sayang sekali tidak banyak buku-buku tentang kebudayaan Indonesia dalam bahasa Inggris, Perancis dan Italia”, kata sang profesor yang menyiapkan dan menulis sebuah artikel untuk katalog pameran senilukis bertajuk “Rediscovering Indonesia” oleh Agustino De Romanis yang diterbitkan oleh L’erma di Bretschneider Publishing House (2004), dengan kata pengantar oleh Vittorio Sgarbi.

Disamping itu ia banyak menulis tentang kebudayaan Italia di banyak jurnal ilmiah. Salah satu tulisannya diterbitkan Jurnal Kajian Wilayah Eropa (Universitas Indonesia) bertajuk Italy – A Step Closer.

Program kesenian yang menjadi prioritas IIC Jakarta untuk tahun 2007, antara lain, memasyarakatkan musik klasik pada publik Indonesia, dan mengundang musisi klasik kelas wahid untuk bekerjasama dengan Orkes Simfoni Nusantara, di samping membuat pagelaran musik klasik dalam skala kecil seperti ensamble. “Seperti kita mengenal dalam sejarah seni, kontribusi Italia dalam musik klasik cukup besar. Bukankah istilah-istilah dalam notasi musik klasik berasal dari bahasa Italia?” cetus Ostelio Remi.

Disamping itu, IIC Jakarta merancang pameran 60 tahun Ferari pada bulan Mei, yang bekerjasama dengan para pecinta automotif di Indonesia. Program pameran yang berkaitan dengan seni, industri dan teknologi menjadi prioritas IIC karena animo masyarakat cukup tinggi ketika IIC menggelar pameran fashion karya Georgio Armani, Valentino, dll. Paling tidak, generasi muda Indonesia yang berbakat tinggi dengan keterampilan yang mumpuni dapat terpacu melihat seluk-beluk industri fashion Italia yang merajai dunia.

Selama tahun 2003 sampai tahun 2005, Profesor Ostelio Remi telah merekomendasikan puluhan beasiswa bagi mahasiswa dan akademisi untuk belajar di Italia. “Perlu lebih banyak lagi orang Indonesia yang belajar di universitas-universitas Italia yang telah mempunyai tradisi pendidikan yang ratusan tahun. Segala pengetahuan yang didapat dapat dipraktikan di Indonesia. Agar masyarakat lebih kreatif dan dinamis. Banyak sekali orang yang berbakat di sini yang perlu melihat perkembangan kebudayaan di Italia yang memberi kontribusi besar dalam kebudayaan Eropa,” tutur Profesor Ostelio Remi dengan bersemangat.

Selama bertugas empat tahun di IIC Jakarta, Estelio Remi telah jatuh hati pada kebudayaan Indonesia. Pelbagai festival seni yang digelar di Jakarta dan di beberapa daerah didatanginya, tidak peduli ia menjadi satu-satunya expatriat yang hadir dan harus berkomunikasi dalam bahasa Indonesia yang belum dipahaminya. Tapi ada gestur yang menarik dan membuatnya terus ingin memahami kebudayaan Indonesia.
“Bayangkan, saya satu-satunya expat dalam pameran keris di Galeri Nasional. Tapi saya cukup nyaman dengan semua ini. Saya mencintai kebudayaan Indonesia, saya mencintai wanita Indonesia yang begitu cantik… Secara tulus dengan mendalam, bukan hanya karena saya seorang pria,” imbuh sang Profesor. [Helmi Y. Haska]

6 Responses

  1. bisa sahadja inih sinjo italia…

  2. sama2 naik vespa sih… cuma bedanya dia buat efesiensi kalo gue karena terpaksa krn blom mampu beli yg lain :P

  3. ih profesor ganjen

  4. Yep, pria ini sebenarnya sangat aneh dan mengambil keuntungan pribadi dari profesinya.

    Goodness, saya sudah muak cuma kalau lihat vespa-nya parkir di halaman IIC. Menyenangkan rasanya dia sudah menyingkir dari negeri ini.

  5. Oh..jadi ostelio dah pindah dari jakarta ya…

  6. ada yg tau Prof pindah kemana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: