Urgensi tehnologi persampahan hanya 10%

Membenahi sampah berarti juga membenahi lima unsur yang akan memastikan prosesnya berjalan dan berkelanjutan, yaitu Hukum; Lembaga; Dana; Sosial; dan Tehnologi. Demikian menurut Sri Bebassari, yang duapuluh lima tahun lebih menekuni permasalahan sampah.

Upaya pembenahan unsur hukum terkatung-katung tiga tahun lebih. Kini draft Rancangan Undang-Undang mengenai penanganan sampah sudah di tangan Presiden. ”Tahun depan kita harap sudah punya pijakan untuk membangun sistem terpadu,” ujar Bebassari, ”tanpa UU semua upaya akan mengalami kendala.”

Selain payung hukum, diperlukan adanya kelembagaan dari tingkat Pusat berjenjang hingga ke Rukun Tetangga, dari lembaga think tank, penyusun strategi, laboratorium, komando sampai pelaksana di lapangan.
”Sekarang ini untuk membersihkan rumah,” ujarnya bertamsil, ”kita hanya menyediakan secuil dana, sedangkan desain program, peralatan, operator, semua dibebankan pada pelaksana pembersihan: Dinas Kebersihan Pemprov DKI. Di kota lain belum tentu ada, jika ada pun masih setingkat Seksi Kebersihan.”

Pendanaan adalah unsur berikutnya.
Dalam membangun rumah, dana untuk WC biasanya lebih besar dibanding untuk ruang tamu. ”Lihat Jakarta,” lanjut Direktur Eksekutif Dana Mitra Lingkungan ini, ”untuk ruang tamunya —Bandara Cengkareng— habis trilyunan, sedang TPA hanya didanai seratus juta.”
Pendanaan sampah ini sifatnya adalah jasa, juga merupakan investasi, namun harus dijadikan prioritas demi lingkungan. Dengan dana memadai, kota menjadi bersih dan asri, siapa pun akan senang berkunjung. Bebassari merujuk sebuah SPBU di luar kota. Diperoleh pendapatan besar dari WCnya, karena para penumpang bus antarkota menyukai kebersihannya.

Unsur yang paling sulit dan paling lamban prosesnya adalah sosial. Ketua Asosiasi Persampahan Indonesia ini merujuk kasus TPA Bojong sebagai akibat kurangnya sosialisasi. Perlu didesain khusus, dikemas sesuai situasi dan kebiasaan setempat, tak beda jauh dengan iklan. Juga dibutuhkan biaya yang sepadan.
Membangun kesadaran masyarakat adalah elemen penting. Akan mempermudah pelaksanaan peraturan, meringankan pekerjaan instansi terkait, menumbuhkan sistem pengawasan dan pemeliharaan semesta, apalagi jika ditanamkan sejak usia dini. ”Banyak hal kecil bisa dilakukan setiap individu untuk mengelola sampahnya sendiri.” tandas Bebassari, ”di dunia hanya satu persen yang memikirkan sampah, 99% lainnya memproduksi sampah tanpa memikirkannya sama sekali.”

Menurutnya, dari semua unsur pembenahan sampah, teknologi merupakan unsur termudah, nilai urgensinya pun hanya 10% dari kelima unsur di atas. Kita memiliki berbagai macam teknologi yang disesuaikan dengan kondisi setempat. Pelatihan dan proyek percontohan pun sudah dilakukan.
Tempat penampungan sampah seluas 400m3 di Rawasari sejak 2001 bisa mengolah 20m3 sampah per hari, setara dengan hasil sampah seribuduaribu kepala keluarga. Namun karena tidak dilengkapi oleh empat unsur lainnya, penerapannya mengalami hambatan.

”Teknologi harus dilihat utuh sebagai bagian dari sistem, setiap unit agar saling melengkapi kekurangan dan kelebihan masingmasing.” ujar mantan peneliti BPPT ini, ” membeli hasil teknologi mutakhir dari manapun tak akan optimal jika tidak sesuai dengan sistem dan infrastruktur lokal.”

Akhirnya, sambil mengambil sepotong Torama —tomat rasa kurma, penganan khas Kafe Bataviase Nouvelles— yang masih tersisa di piring, Sri Bebassari mengandaikan, “jika setiap orang menghabiskan makanan di piringnya, betapa banyak materi yang batal menjadi sampah”.

Artikel terkait:

Antara Sampah dan Pengangguran
Hidup dari Sampah
Sri Bebasari: Urgensi Tehnologi Sampah hanya 10%
Perjalanan Zero Waste

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: