Antara sampah dan pengangguran

Sampah merupakan masalah sangat krusial. Lokasi pembuangan semakin sulit dicari sementara sampah terus diproduksi. Pengangguran pun demikian. Setiap tahun muncul tenaga kerja baru, sebagian besar akan menambah jumlah pengangguran.
Kedua masalah ini meski tidak berkaitan langsung, ternyata bisa sekaligus ditangani oleh satu konsep: Zero Waste.

Zero Waste bisa berarti tidak memproduksi sampah. Alam adalah Zero Waste yang sempurna. Keseimbangan ekosistem. Limbah dari satu proses/mahluk menjadi makanan atau bahan baku bagi mahluk/proses lain. Tidak ada yang dibuang.

Jika masyarakat tidak terseret dampak revolusi industri, Zero Waste mungkin bisa mudah diraih. Dengan kondisi sekarang ini, Zero Waste tentu tidak mungkin dicapai.
“Zero” agaknya hanya istilah bagi suatu sasaran ideal yang ingin dicapai. Suatu kiat berkampanye, dengan target yang mustahil dicapai namun membangun semangat. Seperti zero emissions, zero mercury atau zero accident. Namun efektif, bisa mengubah industri dan masyarakat. Buktinya, standar industri mobil dan bahan bakar sudah berubah.

Kawasan bebas rokok tidak berarti kita terbebas dari rokok. Namun membuat masyarakat terbiasa, terlatih untuk tidak merokok atau mengurangi. Berhenti merokok menjadi mungkin.
Pun mendekati Zero Waste bukan tidak mungkin. Beberapa kota di Selandia Baru contohnya, kini sudah mencapai rekor dunia 20%.
Ini luarbiasa. Delapanpuluh persen limbah kota dibelokkan ke pemanfaatan. Dari pengangguran 7,5% pada Maret 1999 kini tinggal 3,6% (Sepember 2006).

Programnya dimulai secara lokal pada 1999. Ketika 2002 dicanangkan program nasional ”Zero Waste 2020,” 27 dari 74 council sudah lebih dulu menerapkannya. Dan September lalu sudah 72% Selandia Baru menerapkan Zero Waste.

Zero Waste bisa dicapai dengan memaksimalkan daurulang; meminimisasi pembuangan; mengurangi konsumsi; dan memastikan agar barang produksi bisa diperbaiki, dipakaiulang, didaurulang, atau dijadikan kompos.
Karenanya, sejumlah besar lapangan kerja akan tercipta begitu konsepnya dicanangkan. Tidak akan ada pemulung lagi, mereka menjadi pengusaha, karyawan, atau konsultan.
Penganggur pun tidak akan segan, karena bukan sampah yang digeluti, melainkan mencegatnya sebelum menjadi sampah.

Paul Hawken, Robin Murray dan tokoh sustainability lain sepakat bahwa Zero Waste adalah cara baru dalam menciptakan kesejahteraan ekonomi.
[berbagai sumber]

Artikel terkait:

Antara Sampah dan Pengangguran
Hidup dari Sampah
Sri Bebasari: Urgensi Tehnologi Sampah hanya 10%
Perjalanan Zero Waste

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: