Atang Ruswita & ”Persbreidel”

logo-pr.jpg

Jumat 31 Maret 2006 – OPINI Oleh SONI FARID MAULANAAPA arti kehadiran Atang Ruswita bagi masyarakat Jawa Barat khususnya, dan bagi rakyat Indonesia pada umumnya? Pertanyaan semacam ini penting diajukan, mengingat lahir dan tumbuhnya pers Indonesia, baik ketika rezim Orde Lama masih tegak berdiri maupun ketika rezim Orde Baru berkuasa, yang kemudian tumbang digilas gerakan reformasi, ternyata tidak lepas dari peran Atang Ruswita di dalamnya.

Rosihan Anwar, tokoh pers nasional yang gigih memperjuangkan kebebasan pers, dalam kunjungannya ke dapur H.U. Pikiran Rakyat beberapa waktu lalu, antara lain mengatakan, bahwa media massa yang dikelola oleh Atang Ruswita, dalam hal ini Pikiran Rakyat adalah media massa yang mampu membaca situasi sosial politik yang melingkupi zamannya.

“Ini tidak berarti bahwa media massa yang dikelolanya itu kehilangan daya kritisnya dalam mengamati situasi sosial politik yang terjadi di hadapan dirinya. Hal ini lebih dikarenakan sikap Atang Ruswita yang moderat,” ujarnya saat itu.

Sikap Atang Ruswita semacam itu, adalah sebuah sikap yang tegas dalam upaya menyelamatkan Pikiran Rakyat dari incaran pemberangusan media massa yang dilakukan oleh pihak penguasa, yang pada saat itu sangat antidikritik oleh siapa pun dalam bentuk apa pun. Bahkan sampai sekarang di Indonesia masih bisa kita temukan sisa-sisa perundang-undangan Belanda yang menekan pers. Pasal-pasal yang termasuk ke dalam kategori haatzaai artikelen itu adalah pasal-pasal yang menyatakan bahwa penyebaran kebencian, penghinaan, dan sikap permusuhan terhadap pihak yang berwenang, atau golongan-golongan penduduk tertentu dapat dihukum.

Jika pemerintah menilai ada sebuah pemberitaan bisa meresahkan umum, dan dinilai menyerang wibawa mereka maka tiada ampun lagi media massa tersebut dengan segera diberangus. Persbreidel begitu istilah Belandanya. Beberapa korbannya semasa rezim Orde Baru berkuasa antara lain Sinar Harapan, Tabloid Detik, dan majalah Tempo. Dalam sejarahnya, sejak pers tumbuh di Indonesia, yang pada waktu itu masih bernama Hindia Belanda, dan Indonesia belum merdeka seperti sekarang ini, persbreidel memang sudah berlaku. Yang lucu pada zaman itu, sebuah media massa bisa diberangus oleh penguasa bukan disebabkan oleh sebuah berita yang dimuatnya, yang dengan tajam menyoroti tindak represif yang dilakukan pihak penguasa terhadap pribumi, akan tetapi disebabkan atas sebuah iklan yang dimuatnya.

Guru Besar Sejarah pada Universitas Malaysia, Sabah, Prof. Dr. Ahmat Adam, Ph.D., dalam bukunya mengatakan, sebelum surat kabar pertama muncul, sebuah laporan berkala para saudagar dalam tulisan tangan, Memorie der Nouvelles, telah beredar. Laporan berkala ini sebenarnya merupakan kompilasi berita dan saripati surat-surat, semuanya menggunakan tulisan tangan. Dalam bentuk lembaran, laporan ini diedarkan dikalangan pegawai V.O.C. yang bertugas jauh di pelosok, yang sangat haus akan berita. Metode penyebaran berita seperti ini konon sudah ditempuh oleh Jan Pieterszoon Coen pada 1615.

Dilaporkan pula bahwa pada 1644 pemerintah Ambon menerima berita secara teratur dari Batavia dengan cara yang sama. Baru pada 1744, di bawah pemerintahan Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff surat kabar tercetak pertama lahir dari Percetakan Benteng. Nomor contoh surat kabar itu, Bataviase Nouvelles, muncul pada 8 Agustus 1744. Penerbitan ini dikelola oleh Jan Erdman Jordens, seorang saudagar muda dan kerani senior yang diperbantukan pada kantor VOC di Batavia. Menyadari potensi sukses surat kabar mingguan ini, Jordens mengajukan izin melanjutkan usaha. Dengan order yang diberikan pada 9 Februari 1745 penguasa menjamin dia kontrak tiga tahun untuk penerbitan surat kabarnya.

Bataviase Nouvelles, papar Ahmat Adam, hanya terdiri dari selembar kertas berukuran folio, yang ke dua halamannya masing-masing berisi dua kolom. Pembaca diberitahu bahwa mereka bisa mendapatkannya setiap Senin dari Jan Abel, perusahaan penjilidan milik kompeni di Benteng. Selain memuat maklumat pemerintah, surat kabar itu juga menyisipkan iklan yang biasanya berisi pengumuman lelang. Tetapi surat kabar yang berorientasi iklan ini tampaknya membuat khawatir para Direktur VOC di Belanda, jangan-jangan para pesaing Eropa akan memanfaatkan informasi tentang kondisi perdagangan Hindia Belanda. Demikianlah pada penghujung tahun 1746, Dewan Direktur VOC menulis surat kepada Gubernur Jenderal, meminta agar Gubernur Jenderal melarang penerbitan Bataviase Nouvelles, karena khawatir isinya bisa mengganggu monopoli kompeni di Belanda. Surat kabar itu akhirnya diberi petunjuk untuk menghentikan penerbitannya pada 20 Juni 1746.

Dari data semacam itu, bisa dibaca bahwa yang menghendaki diberangusnya media massa atas pemberitaan yang dinilainya bisa merugikan pihak lainnya, apa pun bentuk dari berita itu, ternyata bukan hanya penguasa saja. Tetapi juga kalangan konglomerat yang tergabung dalam sebuah perusahaan dagang semacam V.O.C. pun menghendakinya pula. Demikian juga di zaman sekarang, tak jarang ada pihak-pihak tertentu yang punya kuasa dan uang melakukan tindak kekerasan terhadap media massa, hingga diseret ke pengadilan untuk diproses secara hukum. Pemberangusan media massa yang terjadi pada zaman Orde Lama dan Orde Baru adalah fakta sejarah yang tidak bisa dibantah. Demikian juga dengan terjadinya tindak kekerasan terhadap media massa di zaman Orde Reformasi yang disesalkan banyak pihak, seperti meletusnya kasus majalah Tempo versus Tommy Winata, serta beberapa kasus lainnya.

Untuk itu almarhum Atang Ruswita yang berhak dimakamkan secara militer karena semasa hidupnya pernah menerima Bintang Mahaputra Utama dari Presiden RI, boleh dibilang bukan hanya dikenal sebagai tokoh pers yang mumpuni pada zamannya, tetapi juga seorang politikus yang pandai membaca zaman. Semasa hidupnya, ia selalu berwanti-wanti kepada jajaran anak buahnya untuk menyajikan pemberitaan di korannya secara hati-hati, berimbang, dan sebisa mungkin menghindar dari berbagai daerah rawan konflik yang bisa menyebabkan media massanya gulung tikar karena diberangus penguasa, atau dihancur-leburkan oleh preman suruhan orang-orang yang punya uang, yang merasa tersinggung dan dicemarkan nama baiknya oleh sebuah pemberitaan yang dimuat di korannya.

Dari sisi semacam ini tampak jelas bahwa mengelola sebuah media massa, baik koran, majalah, maupun elektronik tampaknya bukan perkara yang mudah. Kita rupanya harus menafsir kembali apa itu kritik, bila pada akhirnya kritik kelak ditafsir oleh mereka yang kuasa dan punya uang tidak lebih dan tidak kurang dari fitnah. Bila kenyataan semacam ini terus berjalan dalam kehidupan kita, itu artinya ada yang mandek dalam akal sehat dan nurani kita, semacam sakit jiwa. Diakui atau tidak dalam posisi yang demikian pers harus tiarap, sambil mendewasakan diri dalam membaca setiap konflik, isu, apa pun namanya yang kini terjadi sebelum turun jadi berita. Ini sekali lagi tidak berarti pers pengecut, surut ke belakang tirai. Hal-hal semacam inilah yang telah dilakukan oleh Atang Ruswita semasa hidupnya.

Berkaitan dengan itu tak aneh kalau dalam sebuah puisi yang ditulisnya dalam bahasa Sunda, Talatah (“PR”/04/1999), pada bait pertama dan kedua, Atang Ruswita berkata seperti ini: ”Aya talatah ka balarea/ Hey sakabeh pangeusi Tatar Sunda/ Sakeudeung deui urang rek pesta/ Anu disebut pemilu tea// Aya talatah ka Parpol di Tatar Sunda/ Der kadinyah kampanye, pabisa-bisa/ Tapi mangkade ulah parasea/ Matak goreng balukarna/ Persatuan jadi sirna/ Bangsa jadi pakia-kia/ Nagara jadi aya dina bahaya”.

Bila dicermati lebih lanjut, sesungguhnya pesan atau amanat yang diekspresikan Atang Ruswita dalam bentuk puisi tersebut bukan hanya ditujukan kepada para politikus belaka, tetapi juga kepada kita semua agar dalam membangun bangsa dan negara ini, termasuk dalam mengelola apa pun — tidak berada dalam situasi yang parasea alias bertengkar. Jika itu terjadi, maka yang hadir adalah suasana yang kacau, represif, jauh dari ketenangan hidup yang selama ini selalu bermimpi untuk senantiasa berada dalam suasana yang demokratis, jauh dari segala bentuk penindasan, baik dalam konteks politik, maupun dalam konteks kerja antara buruh dan majikan.

Pada titik semacam inilah demi menghidupi ratusan orang karyawan yang bekerja pada media massa yang dikelola bersama teman-teman seperjuangannya itu, Atang memilih sikap moderat dalam bertindak, agar korannya selamat dari incaran pemberangusan para penguasa, dan orang-orang berduit yang antidikritik itu. Boleh jadi hal ini dilakukan — bukan disebabkan oleh rasa takut atau pengecut, akan tetapi lebih disebabkan karena ia melihat ada sejumlah nyawa yang harus diselamatkannya.

Sejumlah nyawa tersebut adalah ratusan orang yang menjadi karyawan di perusahaannya itu. Sikap semacam itu baik dalam kacamata politik maupun tidak, bisa dilihat dalam baris-baris puisinya lebih lanjut yang berbunyi: Aya talatah ka balarea/ Hey sakabeh pangeusi Tatar Sunda/ Anu disebut demokrasi tea:/ ”Silih asih, silih asuh, jeung silih asah, filosofina:/ Toleransi salah sahiji modalna;/ Silih eledan pamadegan modal sejenna:/ Batu turun keusik naek, carana”.

Adapun kepekaannya terhadap rasa seni, tidak hanya ditunjukkan lewat penulisan puisi saja. Tetapi juga dinyatakannya dengan dibukanya ruang seni dan budaya di media massa yang dikelolanya, seperti hadirnya lembaran seni dan budaya Khazanah yang boleh dibilang merupakan suplemen seni dan budaya pertama yang hadir di media massa cetak (koran). Jauh sebelum Kompas menghadirkan lembaran seni dan budaya Bentara serta lembaran seni dan budaya Tifa di Media Indonesia.

Kepekaannya terhadap seni dan pentingnya lembaran seni dan budaya hadir dalam sebuah media massa, tentunya sudah dipikirkan oleh Atang Ruswita sejak jauh-jauh hari, ketika ia pada masa-masa awal kariernya di dunia jurnalistik dirintis lewat pengelolaan lembaran seni dan budaya Kuntum Mekar di Pikiran Rakyat periode awal. Di samping Atang Ruswita, tentu saja hadirnya Sakti Alamsyah; pada saat itu adalah bara api yang tidak bisa dihapus dari sejarah seni itu sendiri. H.B. Yassin dalam bukunya “Angkatan 45” mencatat Sakti Alamsyah sebagai salah seorang penyair yang puisi-puisinya menarik untuk diapresiasi. Sayangnya hingga kini, koleksi sejumlah puisi yang ditulis oleh Sakti Alamsyah hilang entah ke mana, seperti dikatakan salah seorang puteranya, Perdana Alamsyah.***

Penulis, penyair dan wartawan “PR”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: