Menghidupkan sejarah Kota Tua

Tiga puluh tahun lebih Kota Tua ditelantarkan. Ali Sadikin meletakkan tonggak kuat untuk melestarikan Kota Tua. Konsep dan perangkat hukum juga sudah dibuat. Studi dan penelitian banyak dilakukan. Namun, belum tuntas upaya revitalisasinya, masa jabatan berakhir. Setelah itu Kota Tua kembali muram, para penggantinya tak ada yang menyentuh, apalagi melanjutkan revitalisasi yang dirintisnya.

Pada 1972, Gubernur periode 1966-1977 ini mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 11 mengenai penetapan kawasan cagar budaya Kota Tua Jakarta. Blok taman Fatahillah, Pasar Ikan, dan Glodok ditetapkan sebagai zona konservasi. Arsip studi, penelitian, dokumentasi Kota Tua banyak dihasilkan dari berbagai lembaga riset, yang merekomendasikan strategi dan rencana revitalisasi kawasan Kota Tua.

Pemugaran Museum Fatahillah, Museum Wayang, Museum Keramik, trotoar Kali Besar, dan Jembatan gantung kota Intan adalah sebagian yang pernah dikerjakan oleh Ali Sadikin. Sedang konservasi lingkungan dan sosial ekonomi belum sempat dikerjakan karena masa jabatannya telah selesai.

Zona kawasan Kota Tua dimulai dari daerah Taman Fatahillah yang dinyatakan cagar budaya, dilindungi melalui Surat Keputusan KDKI Jakarta No. Cd.3./1/1/1970. Lalu daerah Jakarta Kota, Pasar Ikan Jakarta Barat dan Jakarta Utara dengan SK. Gubernur KDKI Jakarta Nomor D.III-b/11/4/54/1973. Tahun itu juga daerah Glodok, bangunan berarsitektur Cina ditetapkan.

Kawasan lain yang ditetapkan sebagai cagar budaya yang dilindungi dan dilestarikan adalah daerah Menteng, Desa Tugu, Kecamatan Koja Jakarta Utara, pulau-pulau tertentu di Kepulauan Seribu, dan daerah Kebayoran Baru.

Setelah Ali Sadikin, Tjokropranolo memimpin Jakarta hingga 1982. Selama 5 tahun, Tjokropranolo lebih banyak mengerjakan penataan pedagang kecil dan kesejahteraan buruh. Kebijakan dan upaya penyelamatan kawasan Kota Tua tak dilanjutkan sampai masa jabatannya berakhir, meski ia tahu soal rancangan penyelamatan kawasan Kota Tua karena satu tahun menjadi asisten gubernur Ali Sadikin.

R. Soeprapto (1982-1987), pengganti Tjokropranolo, pun demikian. Tak terlihat ada gerak-gerik pemugaran kawasan Kota Tua yang terlantar dan rusak. Pernah ia meresmikan Gedung Kesenian Jakarta sebagai arena pertunjukan kesenian Jakarta pada 5 september 1987. Gedung yang tak termasuk dalam kawasan Kota Tua ini berhasil diselamatkannya. Namun Kota Tua kembali terabaikan selama 5 tahun.
Pia Alisjahbana dari Ikatan Indonesia-Nederland, pada 2001 mengomentari jalannya revitalisasi kota tua yang terhenti sejak dirintis oleh Ali Sadikin. Pia menilai pengganti Ali Sadikin, dari R. Soeprapto, Wiyogo Admindarminto, Soerjadi Soedirja, sampai Sutiyoso hanya melakukan pencanangan simbolis. “Semua gubernur hanya sanggup sebatas pencanangan. Sepertinya sudah menjadi kebiasaan bahwa setiap ide hanya sampai pada pencanangan,” kata Pia.

Wiyogo Atmodarminto (1987-1992), lebih banyak mengurusi masalah perkotaan, seperti becak, tanah, sanitasi, dan masalah transportasi. Di masa kepemimpinannya dikenal pengelolaan kota metropolitan Jakarta dengan konsep BMW: Bersih, Manusiawi, dan Wibawa, namun revitalisasi Kota Tua ia lewatkan. Karena itu, semasa kepemimpinannya kawasan Kota Tua seperti kota mati. Bangunannya tak terawat, dan lingkungannya tidak sehat. Air di Kali Besar berwarna hitam, bau tak sedap, banyak mengalirkan sampah. “Siapa yang mau lihat sesuatu yang kotor dan tak menarik,” kata Pia Alisjahbana saat itu.
Ella Ubaidi
, aktivis Kota Tua, pada 2004 juga pernah berpendapat senada dengan Pia bahwa sejak dicanangkan pada 1971, kawasan cagar budaya di Kota Tua belum dapat perhatian serius. “Seorang pejabat Malaysia sampai geleng-geleng tatkala saya bawa ke kawasan old town. Menurut dia, Jakarta memiliki kawasan begitu bagus, kok tidak dirawat selayakanya. Di Kuala Lumpur, old town-nya tidak sebagus dan seluas Jakarta, katanya”.

Semasa Soerjadi Soedirja menjabat ada sedikit angin. Ia menata kawasan Kota Tua. Pemugaran fisik bangunan dilakukan. Ali Sadikin memberikan apresiasi baik terhadap langkah Soerjadi Soedirja pada 1997. “Kalau gubernur Jakarta sebelum dia, mana ada yang berpikir tentang rehabilitasi dan perbaikan Kota Tua. Sekarang dia memperbaiki kawasan situ menjadi indah kembali,” katanya waktu itu.
1993, Soerjadi Soedirja menetapkan gedung kantor berita Antara di Pasar Baru, Jakarta Pusat, termasuk bangunan cagar budaya yang dilindungi.

Kota Tua semasa Gubernur Sutiyoso (1997-2007), kondisinya tak banyak berubah. Tak sedikit bangunan semakin rusak, tak terurus. Kali Besar tetap berwarna hitam, berbau tak sedap. Bangunan di zona konservasi masih terlihat buram. Lingkungan kotor dan tak menarik. Padahal, decak kagum nampak setiap melihat kemegahan bangunan kolonial itu, terlebih bangunan itu menyimpan nilai sejarah perjalanan Jakarta.

Pada 2006, setahun sebelum jabatannya berakhir, revitalisasi Kota Tua digaungkan. Sutiyoso menerbitkan Peraturan Gubernur DKI Jakarta No. 34 tahun 2006 tertanggal 27 Maret mengenai penguasaan perencaan penataan Kota Tua.

Hasil sementara, Desember ini pedestrian yang dibangun di sekitar Taman Fatahillah, Jalan Pintu Utara Kali Besar akan selesai. “Pak Sutiyoso bikin gebrakan, seperti Ali Sadikin,” kata Aurora Tambunan, Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta, yang juga menjadi leading sector program revitalisasi Kota Tua, kepada Bataviase Nouvelles pada minggu akhir November 2006 [BASILIUS TRIHARYANTO].

Artikel terkait:
Menghidupkan sejarah Kota Tua
Ratu Timur kan bersolek
Bisakah Oud Batavia diselamatkan?
Pedestrian. Awal sebuah impian besar.
Belajar dari pedestrian Eropa
2007. Upaya menarik swasta ke Kota Tua
Adolf Heuken: Bila Meneruskan Rencana Ali Sadikin, Saya Percaya…
Adolf Heuken: Tak mau menjual dongeng

4 Responses

  1. saya selalu tertarik dengan artikel 2 bataviase nouvelles…tetapi saya kesulita mendapatkan edisi cetaknya…di TIM tidak ada distribusinya bagaimana dan dimana saja sebenarnya saya bisa mendapatkanya?

  2. NGAPAIN pusing pergi aja ke BELANDA. Mau lihat wayang dan keris KE MALAYSIA. Kuno mas kita kudu modern buang yang musyrikk buang yang imperialism bangun peradaban yang islamik

  3. Ini bangunan yg indah n menyimpan sejarah panjang yg patut dipelihara keberadaannya.sayang kl diterlantarkan.tolong segera benahi….yg qt lhat saat ini,jemuran yg tak layak dilihat, bergelantungan disana.tampak bgt kumuh dan kotor.di dlm gedung nampak penjual2 mie instant sprti warung2 gt…inikah yg disebut cagar budaya?…. .

  4. akan lebih indah jika diterapkan saat ini dan kota-kota yang lain tolong diperhatikan jangan jakarta saja, saya setuju 1000 % meletarikan bangunan sejarah, tinggal masyarakat indonesia’nya mau sadar apa gakkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: