Ustad Zakir Hussain

Tak peduli keringatnya menetes terus, Pandit Vikku Vinayakram selama dua jam penuh memukul ghatam dengan semangat. Instrumen perkusi tradisional India itu berbentuk seperti kendi. Ditabuh di leher dan bagian cembung perutnya. Suaranya nyaring, keras, menggigit, dinamik.

Malam itu termasuk salah satu tontonan yang paling mengesankan di Taman Ismail Marzuki. Terutama mungkin bagi pecinta jazz rock yang sempat hadir. Vikku dikenal seorang pioner musisi tradisional India yang mengharubirukan sejarah jazz rock dunia.
Ia adalah tokoh yang turut ambil bagian membangun genre yang sering disebut ‘ragas rock’.

Malam itu bersama keluarganya, termasuk putra sulungnya Mahesh Vinayakram, ia menghidangkan ansambel ghatam yang super energik. Melihat penampilannya, para penggemar musik pasti membayangkan bagaimana kehebatan Vikku saat masih muda bersama dengan maestro tabla Ustad Zakir Hussain, pemain biola Lakshminarayana Shankar, bergabung dengan gitaris grup jazz rock John Mclaughlin membentuk grup legendaris: Shakti.

Boleh disebut Shakti adalah band lintas batas. Dua orang Hindu. Seorang Islam. Seorang Katolik. Secara musikal pun banyak yang menganggap Shakti merupakan salah satu kolaborasi timur dan barat yang paling berhasil.

Ustad Zakir mewarisi tradisi musik sufistik yang panjang di India. Sejak umur 19 tahun ia pindah ke California dan menjadi arsitek gerakan ‘world music’. Selain dengan Mclaughin, ia pernah bekerjasama dengan drumer Billy Cobham atau basis Jack Bruce.
Tahun 1992, Planet Drum, sebuah album hasil kolaborasinya bersama Mickey Hart, mantan perkusionis band Amerika Grateful Dead, meraih Grammy untuk album World Music terbaik.

Ayah Zakir adalah Ustad Alla Rakha, seorang “raksasa” tabla tersohor asal Jammu. Ustad Alla bersama maestro sitar Ravi Shankar dan pemain sarod Ali Akbar Khan adalah generasi pertama musisi klasik India yang menembus dunia. Kita tahu, Shankar adalah guru George Harisson, anggota The Beatles.

Saya menemukan piringan hitam bekas di loakan jalan Surabaya yang berisi rekaman ketiganya bermain bareng di Philharmonic Hall, New York, Oktober 1972. Pertunjukan langka itu untuk mengenang Ustad Allaudin Khan, guru Shankar dan Akbar yang meninggal di desa kecil di India September 1972. Kedua tokoh itu menyebut Ustad Allaudin sebagai Baba (Ayah). Keduanya menyatakan mengikuti ajaran Baba bahwa musik adalah jalan menuju ilahi.

Memasuki Ramadhan ini, saya teringat bagaimana inovasi-inovasi para musisi India klasik tersebut bisa menjadi semangat spiritual universal. Sebab setiap Ramadhan tiba selama sebulan penuh televisi diserbu lagu-lagu religius, mulai dari Bimbo, nasyid, qasidah, sampai kelompok seperti Debu. Mendadak muncul dai-dai cilik sampai artis-artis yang dengan syahdu mendendangkan lagu-lagu menyiram ruhani. Eksprimentasi mungkin dihindari di situ. Takaran utama pada makna spiritual di situ kebanyakan diukur dengan materi lirik-lirik berunsur dakwah yang sangat menonjol. Tapi sesungguhnya ukuran “religiutas” sebuah musik bukan hanya terletak pada teksnya yang bertema ibadah.

Ismail Farukhi pernah menulis sejatinya ciri khas seni Islami adalah kualitas abstraknya. Desain-desain arabesk misalnya penuh dengan pola-pola rumit, kombinasi-kombinasi suksesif, kekayaan variasi struktur yang mengalir kontinyu.
Desain arabesk menurut Farukhi memburu infinitas yang tidak pernah bisa ditangkap dengan sebuah penglihatan tunggal. Ia harus ditangkap melalui serangkaian pengamatan secara serial. Meskipun ini untuk menerangkan pola senirupa, tapi agaknya bisa dipakai untuk penjelasan bagaimana mendengar komposisikomposisi Shakti.
Simak Happines is Being, Mind Ecology atau Peace Mind dari album Natural Elements.

Antara Mclaughlin, Vikku, Zakir menghasilkan sebuah komposisi instrumental yang tingkat variasi teksturnya demikian tinggi tapi mengalir. Atau sebuah instrumen berdurasi 29 menit dalam album live mereka berjudul What Need Have I For This? What Need Have I For That? I am Dancing at The Feet Of My Lord? All is Bliss-All is Bliss yang menyajikan diskusi rumit panjang antara tabla dan ghatam.

Tuhan tak berbentuk. Hazrat Innayat Khan, seorang sufi India memberi alasan mengapa makin abstrak sebuah karya seni, ia bisa memberi jalan jiwa menggayuh dimensi ilahi. Dan dibanding jenis karya seni lain yang paling mampu mengabstraksikan jiwa adalah musik. Sebab Hazrat melihat hakikat ruh sesungguhnya adalah bunyi.

Ia gemar mengutip kisah rakyat ini: saat Tuhan membentuk patung dari tanah liat menyerupai citra-Nya dan meminta ruh masuk, ruh menolak. Ruh tidak ingin terbelenggu dalam kurungan badan. Lalu Tuhan meminta malaikat memainkan musik. Mendengar musik itu ruh ekstase lalu memasuki tubuh….
Esensi ruh yang bernyanyi menggelorakan vitalitas cinta dan persahabatan lintas agama. Tak mengherankan apabila pukulan tabla Ustad Zakir bisa cocok menjadi soundtrack film Little Budha karya Bernado Bertolluci.

Atau ratapan suara almarhum Nusrat Fateh Ali Khan menjadi latar belakang film Last Temptation of Christ karya Martin Scorsese. Ketika Kristus disalib dalam film itu terdengar jeritan senandung menyayat. Tak banyak yang tahu itu suara Nusrat, biduan Qawali, musik Pakistan yang mengetengahkan lagu-lagu pujian bagi Muhammad.
Tak semua orang memang seperti mereka.

Di India kita tahu sampai kini tetap ada gelombang para fanatik. Novelis Amitav Gosh melihat para bigot itu sering menciptakan masa lalunya sendiri yang berbeda dengan kenyataan. Gosh banyak meneliti toleransi agama dalam sejarah India. Menurutnya banyak penguasa-penguasa Muslim yang memberi dukungan kepada budaya Hindu dan sebaliknya.

Bacalah esai Gosh tentang penguasa India pertama dari kalangan muslim Dinasti Mughal, Zahiruddin Mohamma Babar (1483-1530): Love and War in Afghanistan and Central Asia: The Life of the Emperor Babur. Babar terpesona pada Guru Nanak, seorang pendiri Sikh Hindu, dan bersimpuh dihadapannya. ”Di wajah faqir ini aku melihat wajah Tuhan,” tulisnya di otobiografinya, seperti dikutip Gosh.

Di kita pun terjadi hal yang sama. Toh, saya pernah mengikuti komponis Sutanto Mendut nglayap ke desa Warangan di Lereng Gunung Merbabu. Di situ ada tradisi musik truntung. Ini tambur kecil yang dipukul dengan stick dengan pentul di ujungnya. Truntung ramai dipegelarkan masal bila Saparan dan Tasakuran. Yang menarik para pemain truntung di situ bisa begitu terbuka, bersahabat dan bersemangat menerima tawaran kolaborasi manapun.

Sudah banyak komponis eksprimental dan musisi jazz manca yang “jam session” dengan mereka. “Sinkopasi ketukan truntung tinggi, tajam, mampu berasimilasi dengan jazz manapun,” kata Tanto. Terakhir, pianis jazz dan matematikawan Guerino Mazzola dan drumer Heinz Geisser dari Swiss berkolaborasi dengan mereka untuk keperluan film dokumentasi karya Garin Nugroho.

Ramadhan di Jakarta selalu semarak. Bedug ditabuh bertalu-talu. Macan-macan gambus Kemayoran keluar dari sarangnya. Hadrah Betawi tak lagi terkurung dalam pesta-pesta perkawinan. Tiba-tiba saya memikirkan musik di kala Ramadhan bisa menjadi cermin pencarian kebahagian spiritual bersama… [Wikana]

One Response

  1. bagus,,, hidup dangdut
    atau kunjungi http://www.barat4.multiply.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: